
Jasmin tersenyum melihat sahabatnya merasa bersalah telah mengotori bajunya dengan tanah, basah karena air mata dan bau karen Aisyah habis berpeluh.
"Nggak papa kok, santai aja aku bisa mandi lagi lepas ini. Kamu nggak perlu merasa bersalah gitu, lucu tau lihat muka kamu yang udah kayak gado - gado....". Goda Jasmin supaya sahabatnya tertawa.
"Kamu ini apa - an sih. Nggak lucu tahu nggak". Aisyah memukul bahu Jasmin perlahan. "Bik lihat Jasmin nih ngele ngeledek aku". Adu Aisyah pada Bu Sukma..
"Udah - udah, sana bersihkan diri kalian! Sekarang giliran bibiku yang masak untuk kalian semua. Masak sayur mayur dulu nanti Titin dan istrinya pulang lanjut masak ikan hasil pancingan mereka, jika ada". Bu Sukma tidak menghiraukan mereka berdua dan malah meminta keduanya membersihkan diri.
"Tante, Bu Ah". Tiba - tiba Albar datang menghampiri Jasmin dan mengingat kan wanita itu dengan apa yang sebenarnya membawanya tadi ke dapur.
"Aduh, maaf yah sayang. Tante sampai lupa dengan kamu. Tapi jangan khawatir tante udah kupasih kok buah nya tinggal kamu nikmati aja di luar, ok". Jelas Jasmin baru teringat akan Albar. Ia memberikan semangkuk penuh dengan buah Naga yang siap di makan kepada Albar.
"Kasih Tate". Celoteh Albar imut membuat siapa saja yang melihatnya pasti tersenyum gemas.
"Anak mama mau makan apa sayang, kok enak banget. Mama minta dong". Imbuh Aisyah menggoda anak nya, mencoba mengambil sepotong buah dari mangkuk Albar tapi tidak berhasil.
"Mama beum mandi, kotol....". Balas Albar menarik mangkuk buahnya menjauh dari mama nya lalu berlari menghindari menuju ruang tamu tempat ia bermain tadi.
"Ha ha ha, anak kamu aja nggak mau dekat - dekat dengan kamu, jorok tahu nggak sana pergi mandi cepat!". Seru Bu Sukma sambil menutup hidung nya menggoda Aisyah yang masih bau keringat.
Jasmin hanya bisa menahan tawanya dengan adegan keluarga yang begitu hangat. Semenjak ia kecil ia sama sekali tidak pernah melihat adegan semacam ini, daddy nya selalu sibuk, jarang bertemu bahkan dalam seminggu hanya bertemu sekali itu pun karena ia tidak sekolah makanya bisa bertemu. Sedangkan mami nya pula sibuk dengan sosialitanya, kumpul dengan teman, liburan dan arisan, berbelanja setiap hari sampai tidak pernah ada waktu untuknya. Memang bertemu setiap hari tapi hanya untuk mengecup keningnya lalu pergi lagi.
__ADS_1
Hanya simbok dan babysister yang selalu memberinya kasih sayang. Tapi bukan karena kurangnya waktu bersama membuatnya minggat dari rumah dan memilih hilang dari jangkauan kelaurganya. Tapi karen ia tidak sanggup hidup dengan kekejaman keluarga. Daddy nya yang merupakan ketua klan membuatnya selalu di kelilingi dengan kegelapan kehidupan. Darah adalah hiburan bagi keluarganya sedangkan dia tidak seperti itu, dia sama sekai tidak menikmati semua yanh telah di berilakan keluarganya.
Merupakan seorang jaksa tapi sama sekali tidak mampu menjebloskan keluarganya ke dalam sel. Bukan karena benci tapi setidaknya bisa membuat keluarganya jerah dan keluar dari dunia hitam itu. Tapi semua nya sia - sia, ia malah semakin tertekan karena harus menyelesaikan permasahan keliarga orang lain sedangkan masalah sendiri tidak pernah akan menemukan jalan keluar.
Tidak terasa air matanya tiba - tiba menetes. Bu Sukma yang melihatnya langsung paham dan mencoba menghibur gadis muda itu. "Dari pada kamu disini berdiri saja, lebih baik ambil sayur ini dan bersihkan lalu hiris dengan cantik". Tegur Bu Sukma membuyarkan lamunan Jasmin.
Jasmin tahu sebenarnya bu Sukma hanya ingin ia lupa dengan kesedihannya. Ia tidak suka jika melihat siapa saja menangis sedih apalagi seorang anak yang menangisi kehidupan keluarganya. Ia juga pasti akan mengingat almarhum kedua orang tuanya yang sudah meninggal sejak ia usia lima tahun karena di terkam hewan buas.
"Baik bik..". Jasmin menghapus air matanya tidak ingin larut dalam kesedihan nya.
"Assalamualaikum". Sapa Titin da istrinya serentak baru saja pulang dari memancing ikan di sungai.
"Boro - boro banyak bu, seekor aja nggak ada". Jawab Tias kecewa. Wajahnya tampak cemberut kemudian meninggalkan suaminya yang bingung dengan sikap nya.
"Bagaimana mau dapat ikan, kalian aja ke sungai bukan untuk memancing kok. Pasti hanya bermesraan - mesraan. Ikan aja ogah makan umpan kalian yang ada muntah - muntah". Goda bu Sukma pada anak dan menantunya.
"Maksud bibiku apa? Apa yang mereka lakukan sampai ikan muntah - muntah ngelihat mereka? Palingan cuma berpelukan dan cium aja, itu mah udah biasa bik di kota itu sudah di jadikan budaya oleh kebanyakan remaja, apa lagi seperti mereke yang sudah menikah itu mah udah seharusnya bik". Imbuh Jasmin polos.
Ia memang memahami pergaulan remaja zaman sekarang jadi ia malah senang jika Titin dan Tias yang sudah sah menikah bermesra - mesraan dari pada mereka yang belum menikah malah lebih romantis dari yang sudah menikah.
"Kamu sih nggak paham, Min. Mereka ini baru saja bertemu setalah berpisah selama dua bulan lebih, jadi jika ada kesempatan maka di mana saja boleh untuk mereka me....". Bu Sukma ingin menjelaskan pada Jasmin sejelas - jelas nya tapi Titin segara menutup mulut ibunya mencegah ibu nya itu menyelesaikan perkataan aku nya.
__ADS_1
Mana kala Tias, istri Titin mengajak Jasmin ke belakang untuk ngobrol selama menunggu Aisyah keluar dari kamar mandi..
*
*
Dilan dan beberapa anak buah nya berada di lokasi hilangnya Zack. Jika piha polisi dan orang suruhan Panji sudah mengklan Zack sudah meninggalkan dan mayat nya hangus tidak tersisa akibat mobil yang di kendarai nya meledak beberapa saat setelah terjun ke jurang malam itu. Hanya Dilan dan anggotanya yang lain yang masih mencari bos nya itu. Setiap minggu mereka bergiliran mencari Zack di hutan sekitar jurang, pemukiman warga sekitar tapi sampai sekarang tidak ketemu.
"Saya yakin bos masih hidup, saya bisa memastikan itu". Ujat Dilan dengan sangat yakin.
"Tapi kita sudah mencari di sekitar jurang tapi sama sekali tidak ketemu keberadaan nya". Ujar rekan nya.
"Sampai kita menemukan bos hidup atau mati maka kita tidak boleh berhenti mencari, jika kalian nyerah dan mulai bosan mencari bos maka pulang aja, sekalian jangan pernah ngaku lagi jadi bagian klan. Sana pergi!". Usir Dilan mulai kesal dengan sebagian anak buahnya yang terlihat mulai tidak setia pada bos mereka.
"Bukan maksud kami seperti itu, bang Lan. Tapi usaha kita ini sia - sia. Coba kita cari di tempat lain, siapa tahu bos di bawa hanyut arus sungai yang berada di sekitar pedesaan. Kan arus nya deras tuh pada malam itu". Jelas rekan nya yang lain.
Dilan mulai berpikir keras, "Yang di katakan oleh si bodoh ini ada benarnya. Kadang dia juga ada gunanya yah". Batin Dilan.
"Mungkin bang Lan terlalu khawatir, banyak pikiran hingga tidak bisa berpikir lebih jernih. Maka nya selalu di sini aja nyarinya, padahal ada kemungkinan juga kan bos tidak berada di sekitar sini dan malah menunggu kita di tempat lain". Sambung nya lagi.
"Jangan banyak bacot kalian! Apa maksud kalian bilang begitu, hah? Aku masih waras tahu". Kesal Dilan lebih dulu melangkahkan kaki nya menuju keluar hutan. Ia akan mulai mencari di tempat lain, jauh atau dekat pasti akan ia terlusiri untuk menemukan malaikat penyelamat hidupnya.
__ADS_1