Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 24


__ADS_3

POV Aisyah


Aisyah Rahayu adalah nama yang di beri Ummi padaku. Hidup di panti asuhan tidak seburuk yang orang lain fikirkan. Aku tetap bahagia meski tidak mengetahui siapa ibu dan ayahku, sedikitpun aku tidak merasa kurang kasih sayang tinggal disini. Bahkan aku tidak pernah berniat ingin bertemu kedua orang tuaku yang tega membuangku di depan pintu panti asuhan sejak masih bayi.


Ummi Fatimah menceritakan semua awal melihat aku tergeletak di lantai hanya mengenakan baju sarung membalut tubuh, hingga aku di rawat bersama anak - anak yang lain. Sekitar lima keluarga ingin mengadopsi aku menjadi anak mereka, tapi ummi dengan halus mengatakan aku adalah anak angkatnya yang di besarkan bersama anak yang lain.


Akhirnya aku tumbuh hingga remaja di panti asuhan, tidak mendapat pendidikan lantaran ummi tidak bunya dana lebih untuk memasukkan ku ke bangku sekolah dasar, aku tidak marah maupun kecewa, karena terlibat dia sangat tulus menyayangiku bahkan lebih dari anak panti yang lain.


Saat usia 17 tahun, aku mulai diizinkan keluar sendirian. Aku manfaatkan itu untuk berjualan rempeyek nenek - nenek tua yang sudah tidak bisa lagi keluar berjualan. Hari pertama berjualan, dia situ juga lah kali pertama aku ketemu dengan mas Rehan yang terlihat sangat frustasi berdiri di pinggir jembatan mungkin berniat terjun bunuh diri. Nasib baik aku tetap waktu datang sebelum dia benar - benar nekat terjun. Mungkin karema malu di pergoki ingin bunuh diri, mas Rehan jadi nuirt sama aku dan kami sering bertemu di sekitar jembatan.


Semakin hari kami semakin dekat, aku mulai bercerita tentang hidup aku yang tinggal di panti asuhan hingga detik itu, dia juga bercerita masalah yang dia hadapi. Aku deng senang hati memberinya saran dan semangat. Dukungan selalu ku salurkan untuknya agar tidak down lagi seperti dulu. Dan syukurlah dia sekarang sudah berhasil menduduki jabatan Direktur din perusahaan cabang milik keluarga purbalingga.


Aku juga di jadikan asisten sekaligus sekertaris nya di kantornya selama setahun lebih tanpa menunjukkan sijil apa pun. Tapi kehadiran aku berhasil meningkatkan pretasi perusahaan.


Aku tidak menyangka pula mas Rehan melamar ku untuk menjadi istrinya.


"Aisyah! Terima kasih kamu selalu berada di samping aku dalam suka dan duka. Mendukung segala keputusan yang aku pilih bahkan berkat kamu aku bisa bangkit dari keterpurukan ku dulu. Aku tidak ingin menyianyiakan wanita hebat seperti kamu, mau kah kamu jadi istri aku?". Ucapnya saat melamar ku dulu. Masih terngiang segala kata - kata manis yang kelurmar dari mulutnya saat melamar ku dulu, tampak sangat tulus hingga aku berani menerima lamarannya meskipun waktu itu aku sudah tahu ibunya, sangat menantang hubungan kami.

__ADS_1


Sepanjang pernikahan kami hingga di anuhgerahkan seorang anak, ibu mertua tidak pernah terlihat berubah, tetap saja membenci ku bahkan Albar juga turut di bencinya meskipun dia anak dari darah daging nya sendiri. Kini ibu mertua semakin tampak berusaha menyingkirkan aku dengan segala tingkah konyolnya yang telah menyakiti anak ku.


Semenjak Desi, mantan kekasih terindah mas Rehan kembali, kondisiku semakin terpojokkan. Bukan hanya ibu mertua yang sangat antusias menjodohkan kembali anaknya dengan Desi, tapias Rehan juga menyambut baik kedatangan mantan kekasihnya itu. Ketika aku memergoki mereka sedang bermesraan di kantor tempoh hari, entah itu sudah lama mereka lakukan di belakangku, semenjak itu juga, mereka lancang memperlihatkan kemesraan mereka di hadapanku.


Aku tidak sakit hati lagi ketika mas Rehan tidak lagi memanggilku dengan panggilan sayang. Semenjak kedatangan Desi dalam hidupnya lagi, aku seolah di nomer duakan oleh nya. Perasaan Desi selalu di jaga, sedangkan perasaanku dia abaikan. Tapi aku tidak akan menangisi pria brengsek ini. Aku tetap di samping nya karena lantaran takut kehilangan hingga rela di madu, aku hanya ingin berusaha mengumpulkan bukti perselingkuhan mereka.


Aku ingin mereka tidak bisa berkutik di pengadilan dengan bukti yang ku ada. Tapi selalu saja ada halangan, aku sibuk berkerja jika lagi, bahkan waktu untuk Albar semakin berkurang. Sekarang semakin sulit, menjaga Albar adalah prioritas utama sekarang, menyelesaikan kerja juga asal - asalan. Untung nya Zack mengerti keadaanku dan tidak terlalu menekan ku untuk menyesaikannya tetapt waktu, dan hari ini tiada email kerja masuk, hanya pesan biasa melalui aplikasi hijau yang dia hantar.


Ini kesematanku untuk ikut memanas - manasi mas Rehan dan Desi. Aku akan tunjukkan bahwa aku bukan perempuan yang mudah untuk mereka remehkan.


"Setahu aku kamu tidak punya satu orang pun keluarga, kok kamu baru cerita ke aku?". Mas Rehan terdengar bingung.


Aku menatapnya sekilas lalu kembali fokus ke layar ponsel. "Aku juga baru tahu dia kerabat aku, kononnya wajah aku sama dengan wajah mamanya, jadi dia yakin aku kerabatnya. ...". Bohongku...he he he...biar kamu mati penasaran mas. Dari pada kamu hanya fokus mengobrol nggak jelas dengan selingkuhan Kamu, lebih baik seperti itu. Aku lebih nyaman lihatnya. He he he.


"Dari mana dia lihat wajah kamu? Kalian perbah ketemuan?". Dia semakin penasaran sampai Desi di sampingnya tidak lafi terlirik. Rasakan itu juga wanita gatal.


"Kan bagus jika mbak Aisyah ada keluarga mas, kamu kenapa sih seolah tidak suka aja kalau mbak Aisyah punya keluarga?". Desi kok terlihat lemot yah di mataku. Dia seperti tidak faham aja dengan apa yang di takutkan mas Rehan nya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, selama ini dia tidak pernah cerita soalnya sama aku. Tapu kok sekarang tiba - tiba ada kerabat begitu, aku hanya ....". Ucapan mas Rehan tergantung. Aku tahu yang di pikirkan kan nya. Pasti tidak jauh melenceng dari tebakanku.


"Sekarang ini semuanya gampang mas, semua sudah serba canggih. Tidak perlu banyak tenaga, kita sudah bisa mencari apa yang kita mau hanya dengan mempos gambar kita di sosmet, maka dengan cepat mendapatkan apa yang kita mau..". Ucap Desi sok bijaksana, tapi terdengar seolah dia menyindir aku sengaja cari perhatian di sosmet.


Aku tidak lagi menggubris setiap Ucapan mereka berdua, aku memilih bwrselancar di media sosial menonton sesuatu yang begitu aku minati. Mas Rehan juga tidak lagi bertanya madam - madam padaku, tapi dia juga tidak lagi terdengar mengobrol sangat bersama Desi, bisa jadi dia telah masuk dalam perangkap ku, bingung sendiri kan jadinya. Itu baru awal dari pembalasanku, kita lihat panti sampai mana kamu bisa menyakiti Perasaan aku.


Terdengar langkah kaki di luar ruangan yang begitu menarik perhatian ku, aku sontak menatap pintu menunggu seseorang membukanya. Mas Rehan dan Desi juga tampak penasaran dengan apa yang aku tunggu di baik pintu itu. Kepo juga mereka yah, lucy juga melihat ekspresi mas Rehan yang tidak seceria tadi.


CEKLEK


Pintu terbuka dan terlihat lelaki gagah sedang cilingukan mencari keberadaan seseorang. Meskipun menggunakan kumis tipis dan menggunakan kata mata putih sebaga penyamaran, tapi aku masih bisa mengenalinya.


Aku berdiri agar dia bisa melihatku yang berada di pojokan ruangan. Dia langsung tersenyum hangat menatapku, tapi aku kok berubah grogi gini melihat senyumannya.


"Halo semuanya...". Sapa Zack dengan ramah sambil menyalami mas Rehan.


Aku pun mulai menjalakan aktingku memperkenalkan mereka. "Ini dia yang aku maksud tadi mas, dia Zaki kerabat jauh aku yang baru aku temukan. Dan mas Zaki, perkenalkan ini suami aku dan pacarnya, Desi..". Tak lupa juga aku memperkenalkan Desi juga.

__ADS_1


__ADS_2