Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 127 Sambutan kurang hangat


__ADS_3

Setelah mendengar rencana Aisyah, Alena cuma bisa tercengang tidak menyangka jika Aisyah begitu menaruh dendam kepada dua manusia yang sudah menyakiti dirinya, bahkan ia sudah merencanakan jauh - jauh hari dengan persiapan yang cukup matang.


"Aku cuma bisa selalu memberi support untuk semua yang kamu lakukan selagi itu tidak berlebihan, lagi pula yang di peroleh oleh Rehan sekarang juga kamu juga ada andil besar di dalamnya, jika semua kembali kamu hilangkan dari hidupnya juga bukan salah kamu juga sepenuhnya kan. Itu juga karena sifat serakah mereka. ..". Ucap Alena memberi dukungan..


"Aku tahu kamu sahabat aku yang paling mengerti aku tapi sayangnya aku sama sekali tidak mengerti kamu sedikit pun, kamu terlalu tertutup selama ini cuma aku yang selalu menjadikan kamu tempat curhat dan semua keluh kesah dalam hidupku manakala hanya selalu memberi masukan tanpa terlibat sedih sedikit pun tetang kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin banget tahu dengar masalah apa aja yang sedang kamu hadapi, tangis apa yang sering kamu sembunyikan?". Bingung Aisyah.


"Kamu itu sebenarnya sangat beruntung, Cha. Terlahir dari keluarga kaya, banyak aset perusahaan bahkan sampai tujuh turunan pasti tidak akan habis, cuma karena masa lalu pernikahan kamu yang kelam membuat kamu selalu stress. Lihat aku! Bukan aku aja, lihat orang lain yang lebih kurang beruntung diluar sana, meskipun begitu mereka tetap bahagia, wajah keriput tetap dihiasi dengan keceriaan, syukur pada tuhan bahkan mereka tetap menganggap yang mereka miliki itu sudah lebih dari cukup...". Jelas Alena.


Aisyah tertunduk, ia merasa tertampar mendengar ceramah dari Alena. Bukannya dia tidak pernah bersyukur tapi ia hanya suka curhat pada Alena hingga terdengar seperti ia sedang mengeluh, meskipun memang juga sih.


"Kamu jangan beranggapan hanya kamu yang menderita di dunia ini, Cha! Di luar sana ada yang lebih menderita tapi tetap berusaha tersenyum bahagia bukan senyum sinis kayak kamu, serem lihatnya kayak kuntilanak dah aku perhatikan". Ejek Alena di sela ceramahnya agar Aisyah tidak terlalu tersinggung dengan ucapannya.


Aisyah tetap diam tanpa tanggapan meskipun Alena sudah berusaha menghiburnya. Alena sampai tidak enak takut jika Aisyah benar - benar tersinggung dan tidak menerima baik apa yamg sudah ia sampaikan..


Aisyah berpamitan pada Alena tanpa senyum ceria seperti sebelumnya, wajahnya berubah dingin dan berucap seadanya saja. Merasa tidak enak hati, sudah berusaha meminta maaf tapi tanggapan Aisyah tetap dingin membuat Alena pasrah.


*

__ADS_1


*


Keesokan harinyabBu Wahida sudah mempersiapkan seserahan yang perlu di bawa untuk meminang kembali Aisyah pada keluarganya, meskipun ini hanya rujuk tapi menurut bu wahida mereka harus mempersiapkan dengan matang sama seperti meminang anak gadis orang karena Aisyah sebelumnya nggak pernah merasakan di pinang sejara resmi di hadapan keluarganya. Pernikahan Rehan dan Aisyah bejalan secara cepat dan sederhana karena Aisyah saat itu masih berstatus yatim piatu, lain hal nya saat ini ia suda menjadi pewaris tunggal kekayaan Purbalingga.


Di rumah kontrakan sederhana yang baru beberapa hari ini di tempati oleh bu Wahida dan Rehan kini sudah ramai dengan kehadiran beberapa keluarga untuk menemani mereka melamar Aisyah kembali.


"Apa ini nggak terlalu berlebihan mbak Ida? Mereka kan hanya rujuk buka pertama kali menikah pun". Komen Senja, adik ipar bu Wahida.


"Aisyah itu sekarang bukan wanita sembarangan, ia sekarang sudah menjadi wanita sukses, kaya raya bahkan merupakan orang terkaya di kota ini, malu lah jika kita datang hanya membawa badan saja. Iya kan mbak Ida?". Balas Suri adik kandung bu Wahida.


"Terserah kalian saja deh...". Senja memilih mengalah dan pergi dari hadapan kakak ipar dan adiknya. Semua sudah siap dan tinggal menunggu Rehan datang membawa perhiasan yang akan di persembahkan pada Aisyah tanda sebagai keseriusannya meminta kembali Aisyah menjadi istrinya.


Ini merupakan kali pertama untuk Rehan dan keluarganya melihat secara langsung tempat tinggal Aisyah sekarang jadi mereka begitu antusias.


Setelah sejam lebih berkendara akhirnya gerombolan Rehan sampai di depan gerbang mansion Purbalingga, mata mereka sampai tidak berkedip saking kagum melihat rumah yang begitu mewah dan besar, di lengkapi semua tanam yang begitu luas lebih cantik dari pada taman umum yang ada di kota.


"Selangkah lagi semua yang ada di depan mata kalian akan menjadi milikku". Ujar Rehan dengan bangga.

__ADS_1


"Jangan terlalu berharap Rehan! Takut nanti kamu jatuh maka sakitnya tidak ada obat". Tegur Rafa sepupu Rehan lebih tepatnya anak Senja.


"Bilang saja kamu iri dengan apa yang Rehan dapatkan sedangkan kamu hanya bisa gigit jari melihat kebahagiaannya. Senja! Tolong ajarkan anak kamu jangan selalu dengki dengan keluarga sendiri kayak kamu". Balas bu Wahida tidak terima jika ada orang yang mengajari anaknya, Rehan.


Menurut bu Wahida, Rehan adalah anak yang sangat pintar dan baik lagi berbakti padanya jadi sudah seharusnya dia mendapatkan keberuntungan di dunia dengan di limpahkan kekayaan.


Senja yang tidak ingin berdebat hanya menepuk pundak Raga untuk memintanya mengalah. Beberapa saat menunggu satpam membuka kan pintu sempat membuat keluarga Rehan merasa tidak di hargai oleh pihak Aisyah tapi mereka hanya bisa diam dan melihat apa yang terjadi nanti karena jika mereka berkomentar yang ada mereka yang mendapatkan cibiran pedas dari bu Wahida dan Rehan..


Akhirnya mereka di biarkan masuk dan sekarang sudah duduk di ruang tamu. Lain halnya dengan mereka yang datang dengan persiapan yang matang, Aisyah dan pihak keluarga pula sama sekali tidak memberi sambutan seperti yang mereka inginkan. Bahkan mereka saat ini sudah duduk sekitar setengah jaman tapi Aisyah atau ibu ayahnya belum juga menunjukkan batang hidung mereka.


"Kamu sudah beritahu kepada calon istri kamu kalau kita akan datang hari ini?". Akhirnya Rafi, adik bu Wahida membuka mulut untuk meluapkan ketidaksukaanya dengan sambutan keluarga Aisyah yang menurutnya sama sekali tidaj menghargai kedatangan mereka.


"Kamu diam aja Rafi! Kamu mana tahu apa yang mereka sedang persiapkan di dalam sana? Mungkin sekarang mereka sedang make up dan mempersiapkam hidangan lezat untuk kita nikmati nanti, kamu kan nggak pernah jadi orang kaya makanya nggak tahu...". Bukannya ikut merasa keberatan, bu Wahida malah menyindir adik lelakinya yang selalu saja terlihat miskin..


"Apa mbak nggak merasa jika kedatangan kita ke sini tidak dihargai oleh mereka, diluar kita menunggu begitu lama hanya untuk di izinkan masuk gerbang sekarang kita hanya di cuekin di sini tanpa ada yang datang menyambut, mbak masih belum sedap juga?". Balas Rafi mengingatkan.


"Siapa bilang kita tidak di sambut? Tadi akan ada ART yang datang dan mempersilahkan kita duduk dan menyedikan cemilan dan minuman enak ini, orang kaya memang tidak perlu harus mereka kerjakan sendiri, mereka ada uang maka nya bisa membayar seseorang sekedar menyambut kita bukan hal yang perlu di ambil pusing". Bu Wahida tetap tidak mau terlihat memalukan di depan keluarganya.

__ADS_1


Aisyah muncul menuruni ana tangga dan penampilannya.....


__ADS_2