
"Dia menunjukkan beberapa foto, satu foto memperlihatkan sepasang suami istri yang begitu serasi dengan pakaian yang menurut saya sangat mewah dan mahal, satu foto memperlihatkan seorang wanita memeluk bayi yang baru lahir dengan wajah lelahnya seperti baru melahirkan, satu foto lagi itu foto bayi yang sangat lucu dan cantik, ia meminta kami menyelidiki panti ini untuk mencari bayi yang ada di dalam gambar itu, wajahnya mungkin bisa mirip dengan wajah pasangan itu dengan berdalih ingin mengadopsi anak".
"Kami pun setuju karena di iming - iming bayaran yang sangat banyak. Saat kami masuk berkeliling melihat semua anak di panti, tiada yang serupa bahkan kami sempat menyerah dan pasrah jika tidak mendapat apa - apa, tapi saat kami ingin pamit tiba - tiba seorang anak kecil cewek menabrak kaki saya, wajahnya sangat rupawan bak anak korea, putih mulus namun berpakaian sederhana, saya terus memperhatikannya hingga saya melihat tanda lahir di tangan kiri anak itu, saya yakin jika anak cewek itu yang di maksud anak remaja itu...". Jelas bu Jaya menunggu tanggapan wanita muda dihadapannya.
"Tanda lahir di lengan kiri? Aku ingat, waktu itu aku sudah besar dan sangat ingat kejadian itu". Batin Aisyah.
"Terus!". Hanya itu yang keluar dari mulut Aisyah.
Bu Jaya menelan slavina nya kasar, ia tidak percaya jika hanya seperti itu tanggapan Aisyah.
"Kami menceritakan semuanya pada lelaki remaja itu tentang anak cewek yang kami lihat di dalam, mulai dari postur, kisaran usia, hingga tanda lahir yang terletak pada lengan kirinya, kami kurang pasti bahwa anak cewek itu lah yang ia maksud tapi dari cara ia bertanya dan jawaban kami yang menurut saya sangat meyakinkan pasti anak cewek itu lah yang ia maksud terbukti dengan dia memberikan kan bayaran sesuai perjanjian". Kata bu Jaya.
"Itu saja?". Tanya Aisyah ketus.
"Iya". Jawab bu Jaya singkat.
" sekarang giliran saya ingin bertanya dan kalian hanya tinggal jawab sesuai aplikasi nya dengan ekspektasi kalian". Ucap Aisyah dengan tatapan tegas.
"Baik, saya akan menjawab apa saja pertanyan anda sesuai dengan kejadian hari itu". Balas bu Jaya dengan yakin.
"Apa kalian tahu siapa lelaki remaja itu?". Tanya Aisyah.
Pasangan paruh baya itu serentak menggeleng kepala perlahan. "Dia mengenakan masker dan topi hingga kami tidak bisa melihat wajahnya". Jawab pak Yaslam.
__ADS_1
Aisyah menghela nafas kasar, "foto pasangan yang di tunjukkan ke kalian, kalian mengenal mereka?". Tanyanya lagi.
"Wajah wanita itu sama persis dengan wajah anak cewek yang saya lihat waktu itu, tapi melihat wajah anda kini tampak sedikit lebih condong ke wajah lelaki dalam foto itu". Jawab bu Jaya sedikit ragu tapi ia hanya mengatakan yang sejujurnya.
Memang benar saat melihat foto kecilnya, Aisyah memang lebih mirip ibunya, tapi anehnya saat ia dewasa mini malah sedikit mirip sang ayah fersi cewek. Aneh kan?
"Tanda pada anak kecil itu seperti apa?". Tanya Aisyah lagi.
"Saya kurang pasti karena jarak saya dengan anak kecil itu sedikit jauh sedangkan tanda itu sangat kecil, tapi dari pandangam saya seperti bentuk bunga mawar dengan warna coklat terang". Jawab bu Jaya karena hanya dia yang sempat memperhatiakan tanda lahir itu.
"Kenapa setiap jawapan mereka sangat menunjuk ke arahku, iya juga sih, aku sendiri juga ingat waktu mereka datang, tapi ada yang sangat mengganjal di dalam benakku, siapa remaja lelaki itu? Mengapa ia memiliki foto itu, jika foto ibu dan ayah pasti banyak bertebaran di luar sana, tapi foto melahirkan khusus fotoku waktu bayi sangat mustahil jika di miliki orang awam. Ibu sempat bercerita jika foto bayiku tidak pernah di publikasikan, jadi mustahil jika orang lain selain keluarga yang memiliki foto itu". Batin Aisyah.
"Terus apa dorongan kalian ingin mengakui semua ini, padahal tiada siapa pun yang mengungkit atau membahas kalian sama sekalian?". Siasat Aisyah.
Pasangan di hadapannya saling pandang dengan tatapan sendu dan sama - sama menghela nafas kasar.
"Jadi ini hanya untuk mengambil hati Lana semata begitu?". Aisyah tampak hilang respek pada pasangan paruh baya di hadapannya. Tapi ia tiada sebab untuk menuntut mereka, selain kasihan ia juga yakin jika mereka juga sebenarnya tidak tahu situasi sebenar dan hanya menginginkan uang.
Pasangan suami istri itu hanya tertunduk lesu, mereka tidak ingin membantah ucapan dan penilaian buruk Aisyah pada mereka. Memang itu niat sebenar hingga ingin mengakui semua, tapi sayang bukannya Lana simoati tapi bahkan semakin menyudutkan mereka.
Tapi pak Yaslam dan bu Jaya setidaknya tidak terbebani juga dengan rasa bersalah yang sedikit mengusik mereka jika semasa - masa tiba - tiba ada polisi yang datang untuk membawa mereka, mereka sudah menjelaskan lebih dulu pada Aisyah dan meminta maaf sebelum hal itu terjadi.
Begitu lama pasangan itu di introgasi oleh Aisyah, hingga sosok Lana sudah tidak terlihat dalam ruangan, entah kapan wanita itu keluar dari situ. Aisyah yang tidak tega melihat pasangan paruh itu sudah lama berlutut ia kemudian menyuruh mereka bangun dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Pak Yaslam dan bu Jaya bangun lah! Pasti lutut kalian sakit karema berlutut begitu lama, maaf jika saya sengaja tidak mengajak kalian bangun dari tadi, saya ingin lihat seberapa jujurnya dan tulusnya kalian untuk meminta maaf pada saya". Ucap Aisyah.
Ia kemudian menuntun Pak Yaslam dan bu Jaya untuk duduk di sofa tempat mereka duduk tadi.
"Tidak nona, kami pantas di perlakukan seperti tadi". Ujar bu Jaya tulus.
Aisyah tersenyum, "terima kasih karena telah jujur tentang kejadian hari itu pada saya, saya amat menghargainya. Setidaknya saya tahu selama ini ada yang menyelidiki keberadaan saya tapi memilih bungkam setelah tahu di mana saya berada". Ucap Aisyah juga tulus.
"Apa kah nona tahu siapa remaja lelaki itu?". Tanya pak Yaslam penasaran.
Aisyah menggeleng. "Saya akan menyelikinya mulai sekarang". Balasnya dengan tatapan nanar.
Aisyah kemudian mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan ia serahkan pada bu Jaya.
"Apa ini nona?". Kaget bu Jaya, ia menolak dengan mendorong amplop itu, meskipun bertanya tapi ia tahu jika amplop itu pasti berisi uang yang banyak.
"Terima lah buk, ini bentuk ucapan terima kasih saya dengan kejujuran kalian dan untuk menebus rasa bersalah saya karena membiarkan kalian berlutut begitu lama tadi". Ucao Aisyah kembali mendorong amplop itu agar di terima.
"Tapi kami ikhlas nona, malah kami merasa lega setelah mengatakan semuanya pada nona, tidak di laporkan pada polisi saja kami sudah sangat bersyukur tak perlu nona memberikan apa pun kecuali kemaafan". Tolak bu Jaya.
"Iya nona, kami ikhlas". Pak Yaslam turut membenarkan ucapan istrinya.
"Kalau kalian ikhlas, saya lebih ikhlas memberikannya, gunakan lah untuk memenuhi kebutuhan kalian atau apa pun itu, uang ini halal kok". Bujuk Aisyah. "Terima yah".
__ADS_1
Pak Yaslam dan bu Jaya kembali melirik satu sama lain dan menyakinkan diri mereka untuk menerima uang itu.
"Terima kasih nona Aisyah, semoga hidup nona kini semakin bahagia di kelilingi orang yang sayang dan peduli pada nona, hidup di berkati Allah, di limpahkan rezeki yang halal, di lapangkan hati dan semua yang baik terus mendekati hidup nona". Doa bu Jaya tulus. Ia menerima amplop di tangan Aisyah dengan malu - malu.