Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 116 Pertempuran dua klan Mafia


__ADS_3

Setelah beberapa waktu Aisyah menunggu, akhirnya Alena mengirim pesan jika dirinya sudah berada di ruang tamu sedang di jamu oleh ART. Dengan gerakan cepat, Aisyah keluar kamar nyamperin sang sahabat dan kebetulan Mega juga baru duduk ngobrol dengan Alena diruang tamu.


"Alena datang ngajak kamu keluar, katanya ada pasar malam di taman pinggir pantai yang baru buka. ..". Kata Mega. "Eh kamu udah siap yah, yaudah nanti si sana hati - hati yah, kalau Zack udah pulang nanti ibu suruh nyusul kalian". Sambung Mega saat menyadari Aisyah sudah bertukar pakaian.


"Iya bu, ibu di rumah aja yah, jangan ke mana - mana!". Pesan Aisyah segera menutup mulutnya. Ia segera mengatur ulang ekspresi nya menjadi tenang.


"Emang ada apa, nak? Kamu janga buat ibu semakin cemas!". Selidik Mega mulai curiga.


"Nggak papa kok bu, Aish cuma menggoda saja siapa tahu ibu jelas lihat anak ibu ini keluar jalan - jalan sedangkan ibu tinggal di rumah jagain Albar, alhasil ibu bujuk ayah untuk ikut pergi juga, malah ibu pikir yang lain kan nggak lucu jadinya". Jawab Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menggoda sang ibu.


Mega langsung ber berubah senyum, pikirnya tadi sempat negatif ternyata Aisyah cuma ingin menggodanya.


"Tau pun kamu, sudah ada anak ya tinggal di rumah aja jangan keluyuran kayak masih cewek aja. Harusnya tuh ibu yang keluar jalan - jalan sama ayah kamu sebagai pasangan romantis, eh malah kamu yang pergi meninggalkan anak kamu untuk di asuh, dasar kamu janda gatal....". Goda Mega juga.


Alena lantas menahan tawanya dengan menggigit bibit bawahnya. "Rasain loh, he he he". Gumamnya berbisik.


"Kali ini aja kok, bu! Lain waktu giliran ibu deh yang pergi pasar malamnya sama ayah, lagi pula Albar kan sudah Aish tidurkan tadi jadi nggak papa lah, mamanya ini keluar sebentar cari penyegaran, he he he". Balas Aisyah.


"Ibumu cuma bergurau kok, sana pergi cepat tapi hati - hati yah, Albar aman kok sama ibu jadi kami tenang aja jalan - jalannya...". Ucap Mega.

__ADS_1


"Iya deh, kami pergi dulu yah bu. Ingat jangan kemana - mana dulu, OK!". Seru Aisyah berpamitan.


"Iya bawel! Sana pergi takut banget anak nya di tinggalin sendirian di rumah". Teriak Mega.


Aisyah segera mengajak Alena di supri oleh Pundas, ketua pengawalnya dan di temani juga oleh beberapa bawahannya untuk berjaga - jaga saat di jalan.


"Kamu sudah menugaskan beberapa orang pengawal kan untuk menjaga orang rumah kan?". Tanya Aisyah pada Pundas.


.


"Nona tenang saja, saya sudah memposisikan beberapa orang di sekitar mansion di posisi yang mungkin tidak akan diketahui oleh tuan dan nyonya sesuai permintaan Nona...". Jawab Pundas sambil fokus menyetir mobil dan mendengar pesan melalui heat set nya yang terhubung kepada beberapa bawahannya yang di tugas kan di tempat - tempat tertentu.


"Bagus, aku nggak mau jika mereka curiga dan semakin khawatir...". Gumam Aisyah dengan suara pelan.


"Aku percaya sama kalian untuk menjaga kami berdua, lagi pula tinggal di rumah tidak membuatku tenang memikirkan keselamatan Zack saat ini dan anak satu ini sendiri yang mau ikut serta, kai antar kamu pulang aja yah?". Bujuk Aisyah pada Sahabatnya.


"Nggak! Aku juga mau nemenin kamu saat seperti ini, aku tahu kamu sekarang sedang kalut jadi jangan paksa aku pulang karena aku akan marah besar jika sampai itu terjadi". Jawab Alena.


Aisyah pun pasrah begitu pula dengan Pundas yang terpaksa membawa dua wanita ini ketempat yang menurutnya sangat bahaya untuk wanita lembut seperti mereka berdua.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil mereka dikelilingi begitu banyak pria bersepeda motor dan juga ada beberapa mobil di hadapan dan di belakang mobil sedang mengiringi perjalanan mereka. Dan yang mengherankan semua jenis mobil itu sama dengan mobil yang mereka gunakan dari merek dan warna sangat sama.


Saat Aisyah kembali memperhatikan pakaian mereka yang bersepeda motor semua hampir sama dengan pakaian yang di kenakan Pundas, serba hitam dengan atasan yang terdapat gambar Naga dan terdapat tulisan Cina di bawah naga tersebut.


Karena penasaran, Aisyah ingin bertanya pada Pundas mereka semua siapa tapi belum sempat bertanya kelakuan mobik di tingkatkan hingga membuat Aisyah tersentak kaget hingga bergegas berpegangan pada pegangan yang di tersedia. Sampai di perempatan jalan, beberapa dari mobil dan sepeda motor yang mengikut mereka berpencar ke arah yang berbeda.


Mata Aisyah dan Alena terpejam karen takut dengan sensasi yang di timbupkan oleh Pundas menyetir dengan kelajuan tinggi. Aisyah berkali - kali marah tapi Pundas hanya bisa meminta maaf tampa berniat menurunkan kelajuan mobil. Pundas meminta Aisyah dan Alena untuk tunduk pada saat itu dua wanita itu baru menyadari jika mereka sedang berada dalam bahaya.


Aisyah menggenggam tangan sahabatnya yang sudah bergetar dari tadi karena merasa takut, sedangkan Aisyah memang sudah tahu pasti akan terjadi hal seperti ini maka ia lebih tenang tetapi ia merasa bersalah sudah melibatkan Alena.


Terdengar bunyi tembakan beberapa saat, Pundas dan beberapa anggotanya yang berada dalam mobil yang sama terus saja menyerang tanpa memikirkan psikitis dua wanita itu. Aisyah dan Alena terus saja menutup telinga dan mata mereka sambil memposisikan diri dengan aman dari terkena peluru.


Beberapa saat tidak terdengar lagi bunyi baku tembak hingga akhirnya mobil berhenti seketika. Terdengar pintu terbuka kemudian kembali tertutup dengan perlahan. Karena penasaran dengan keadaan sekarang, Aisyah memberanikan membuka mata dan melihat sekitarnya.


Suasana gelap dan terdengar sunyi. Tangan di genggam oleh Alena dengan erat, "ki kita sekarang ada di mana? Ki kita selamat kan? Kita tidak mati konyol kan?". Bisik Alena terdengar sangat ketakutan.


Ingin ketawa takut dosa ingin menjawab tapi mulut mereka segera di bekap oleh seseorang. "Maaf Nona! Bang Pundas sengaja menyembunyikan keberadaan kalian di sini agar lebih aman, kami di tugaskan untuk menjaga juga ada bebera di luar jadi mohon kerja samanya jangan menimbulkan sebarang bunyi dan cahaya pun agar keberadaan kita tidak terdeteksi...mohon matikan ponsel sekarang!". Tegas salah satu pengawal dengan berbisik dengan suara sangat kecil tapi masih bisa di dengar oleh dua atasannya.


Aisyah dan Alena mengangguk setuju muluttm mereka segera di lepas dan segera mematikan ponsel mereka tanpa ragu. Terdengar dari kejauhan suara riuh dengan teriak berjemaah di iringi suara - suara benda tumpul sedang berada meyakinkan Aisyah jika saat ini sedang terjadi tauran tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi.

__ADS_1


Beberapa saat sebelum pertempuaran terjadi, Dilan tangan kanan Zack yang di tugas kan memimin klan mafia mereka sedang berunding dengan tangan kanan dari ketua klan mafia yang sekarang sedang mereka hadapi.


Tiada penyambutan yang hangat, niat Dilan ingin berdamai dengan meminta sandra di kembali kan tanpa pertumpahan darah nyatanya tidak membuah kan hasil. Pihak lawan tidak ingin memberikan seseorang yang sekarang menjadi sandra mereka dari pihak klan Zack yang berhasil mereka culik. Pada Akhirnya Pertempuran pun di mulai, Pada saat ingin maju saat itu juga Pundas muncul dan berdiri di samping Dilan dan ingin ikut serta dalam pertempuran dua klan mafia ini.


__ADS_2