
"Baik bu Wahida, anda jangan pikir saya takut dengan ancaman itu, sekarang kita sama - sama aja ke kantor polisi untuk melaporkan sesuai tuntutan masing - masing. Kita lihat siapa yang akan masuk ke sel lebih dulu". Ajak bu Saloma yakin.
Bu Wahida berpikir sejenak, ia tetap yakin jika bu Saloma sama sekali tidak memiliki bukti yang menunjukkan dirinya telah mencuri. Dengan bangganya ia setuju saha untuk ikut ke kantor polisi bersama bu Saloma.
Trik bu Saloma berhasil, dengan bersikap tenang tanpa melakukan kekerasan dan pengejaran, bu Wahida dengan suka rela ikut bersama nya ke kantor polisi.
"Eh bu Saloma! Apa benar yang anda katakan tadi jika bu Wahida mencuri barang berharga anda? Jika hanya mengada - ngada maka kami akan turut di seret dalam hal ini karena ikut mencemarkan nama baik bu Wahida". Cerca Bu Lian cemas jika turut terseret dalam mencemarkan nama baik bu Wahida.
"Iya bu Saloma ini, pokoknya kami tak mau tahu yah! Jangan libatkan kami dalam masalah kalian berdua, kami tadi menyudutkan bu Wahida lantaran percaya saja dengan omongan kamu tadi". Ucap bu Tasya turut cemas. .
Mereka memang gentar dan takut jika berurusan dengan kantor polisi, tapi untuk meminta maaf pada bu Wahida mereka sangat enggan.
"Kalian tenang saja, biar masalah ini kami berdua yang tanggung, jika saya tidak saya yang masuk penjara maka bu Wahida yang akan mendekam di dalamnya". Sahut bu Saloma melenggang meninggalkan mereka naik ke atas motor di susul bu Wahida setelah selesai mengunci rumahnya.
Para tetangga juliet pun bisa bernafas lega, kerumunan itu bubar dan kembali ke rumah masing - masing.
Sesampai di rumah sakit, bu Wahida lebih dulu masuk ke kantor polisi dengan bermodalkan uang hasil jual barang branded nya ia melaporkan bu Saloma terlebih dahulu. Bu Saloma tampak cuek dan berjalan santai, ia membiarkan bu Wahida melaporkannya terlebih dahulu sebelum mempermalukan wanita tua tak tahu diri itu.
Setelah membuat laporan, bu Saloma yang sedang duduk di teras kantor di hampiri oleh bu Wahida di susul oleh pihak kepolisian untuk di mintai keterangan.
"Bersiap - siap lagh tidur di jeruji besi wanita angkuh". Bisik bu Wahida pada bu Saloma, semua kebaikan yang di berikan oleh bu Saloma langsung hilang dari ingatannya.
"Maaf buk ,dengan ibu Saloma?". Sapa petugas polisi bernama pak Ilham.
"Iya dengan saya, apa teman saya sudah membuat laporan?". Tanya Bu Saloma.
__ADS_1
"Maaf bu, sebenarnya kami hanya ingin memastikan laporan bu Wahida bukan hanya iseng saja, sebab kami kok kurang yakin kok ada pelapor ingin melaporkan temannya sendiri ke kantor polisi dan di hantar oleh orang itu juga, ini kantor polisi loh, bukan tempat iseng - isengan". Ucap pak Ilham tidak percaya.
Bu Saloma tersenyum sinis, "Apa yang dia sebutkan dalam laporannya pak?". Bu Saloma bertanya pada polisi tampan itu.
"Pelapor menuntut anda karena telah melakukan pencemaran nama baik karena menuduhnya mencuri barang berharga milik anda tanpa ada bukti akurat". Jawab pak Ilham.
"Jika saya punya bukti bagaimana pak polisi?". Bu Saloma ingin memastikan.
"Jika ibu ingin menuntut pelapor, maka kami akan langsung menangkapnya". Ujar pak Ilham.
"Baik! Itu yang saya ingin kan. Coba bapak lihat video CCTV ini dengan baik". Bu Saloma memberikan ponselnya kepada pak Ilham.
Bu Wahida tercengang, ia tidak menyangka jika bu Saloma memiliki bukti berupa video CCTV. "Kenapa ia tidak menunjukkan video itu tadi? Lihat sekarang aku bagai menyerahkan diri aku sendiri ke kantor polisi kalau begini, dasar Sia lan!". Maki bu Wahida dalam hati.
Di ponsel itu terlihat video di mana bu Wahida menyelinap masuk ke dalam dapur melalui pintu belakang di saat bu Saloma baru saja pergi, ia mengambil sesuatu dalam tas itu dan menciumnya beberapa kali sebeluk memasukkannya ke dalam saku bajunya. Bu Wahida kemudian bergegas keluar kembali melalui pintu dapur.
Pak Ilham yang menyadarinya langsung berteriak pada bawahamnya yang menjaga pintu gerbang untuk tidak membiarkan bu Wahida lolos.
"Jangan biarkan perempuan tua itu keluar! Halang dia!". Teriak pak Ilham pada bawahannya.
Rekan pak Ilham yang mendengarnya langsung sigap berlari menghadang bu Wahida dan mengantarnya ke hadapan pak Ilham.
"Lepaskan saya! Saya di jebak pak, lepaskan saya sebelum anak saya datang dan memarahi kalian!". Bu Wahida sedikit memberontak tapi tenaganya yang sudah lemah tidak bisa mengalahkan tenaga sang perwira negara.
"Anak saya akan datang membela, anak saya merupakan direktrur di perusahaan besar, kalian akan menyesal telah memperlakukan ku dengan kasar". Sambungnya lagi dengan membangga - banggakan jabatan sang anak.
__ADS_1
"Jika ingin menghalu di dalam aja buk, duduk dengan tenang tunggu saya menyelesaikan urusan saya dengan ibu ini dulu". Ujar pak Ilham pada bu Wahida. "Bawa dia masuk! Suruh dia duduk dengan tenang". Tegasnya pada rekannya yang memegang bu Wahida.
"Lepaskan! Saya bisa jalan sendiri". Walauphn sudah terbukti salah, bu Wahida masih bersikap angkuh.
"Ternyata itu sifat aslimu bu Wahida, selama ini aku sudah salah". Gumam bu Saloma baru sadar.
Bu Saloma memutuskan untuk melaporkan bu Wahida, pak Ilham pun membatalkan laporan yang sempat di ajukan olah bu Wahida tadi di tukar dengan laporan bu Saloma.
*
*
Selama tiga hari Aisyah terus kepikiran dengan pria yang menyelidi keberadaannya dulu tapi mimilih bungkam setelah mengetahuinya. Sudah mencari tahu sendiri identitas yang mungkin adalah pria tersebut, sayang nya ia sama sekali tida menemukan petunjuk. Ia kemudian memutuskan untuk bertanya pada sang ibu siapa saja ahli keluarganya yang berjenis kelamin lelaki.
"Muka anak ibu yang cantik ini kenapa sih beberapa hari ini tampak murung terus? Coba cerita sama ibu apa yang mengusik pikiran kamu?".
Baru saja Aisyah ingin nyamperin sang ibu, eh tau tau nya ia lebih dulu di cerca dengan pertanyaan dengan wajah cemas.
"Nggak kok ibu, Aisyah biasa aja kok". Jawab Aisyah.
"Kamu rindu dengan bu Fatimah yah?". Tanya Mega, walau pum sedikit berat hati melihat anaknya memikirkan orang tua angkatnya, tapi Mega tidak ingin egois dan mengabaikan kesedihan putrinya.
"Memang rindu bu, tapi itu bisa Aisyah atasi dengan menjenguk Ummi di sana. Tapi bukan itu yang sedang Aish pikirkan, perkara lain tapi Aish sendiri bingung bagaimaa memecahkannya?". Keluh Aisyah.
"Apa sayang? Cerita sama ibu, siapa tahu boleh menolong kamu". Sahut Mega antusias.
__ADS_1
"Nggak perlu ibu, Aish tidak mau membebani pikiran ibu, cukup jawab aja pertanyaan Aish, boleh kan bu?". Bujuk Aisyah mendapat anggukan dan senyum manis dari ibunya.
"Iya sayang, tanya saja! Ibu pasti akan menjawabnya apa pun itu tak akan ada yang akan ibu tutupi dari kamu". Ucap mega.