
Sementara Aisyah yang di beri kabar bahwa Rehan akan pulang malam ini oleh mertuanya dan harus menyediakan makan malam yang enak karena Desi juga akan datang. Aisyah setuju saja tanpa ada raut gembira maupun cemburu. Dia tampak rela memasak makan malam untuk suami dan selingkuhan nya itu. Tiada penolakan sama sekali, dia dengan suka cita pergi pasar beli bahan makanan, sepulang dari berbelanja dia langsung menyiapkan semuanya sendiri dengan bu Wahida yang setia mengawasinya.
Bu Wahida tampak heran dengan perubahan sikap Aisyah yang kembali nurut seperti dulu. Dia sempat kecewa karena kejadian di mana Rehan menampar menantunya itu tidak membuatnya menyerah dan tetap bertahan menjadi istri anaknya.
Bahkan wanita itu sekarang tampak ikhlas dan tidak memberontak sama sekali. Karena itu juga membuat bu Wahida seneng, dengan sikap Aisyah yang kembali nurut, dia akan memanfaatkan itu semua untuk menjadikan Aisyah sebagai babu gratis di rumah ini. Seperti sekarang, semua pekerjaan rumah Aisyah yang kerjakan, memasak dan mencuci pakaian pun sama. Sedangkan ART nya hanya di tugaskan menjaga baby Albar sesuai perintah bu Wahida dan Aisyah tidak keberatan sama sekali.
Pukul 7 : 13 menit Rehan dan Desi memasuki ruang tamu sambil bergandengan tangan dengan mesra. Aisyah tidak menyambut kedatangan suaminya karena masih sibuk menyajikan hidangan yang sudah dia masak dengan susah payah.
Aisyah meletakkan hidangan terakhir di atas meja. Saat itu suaminya dan dua wanita parasit rumah tangganya masuk ke ruang makan. "Mas udah pulang, oh bakal maduku juga datang yah? Mari duduk sini di samping mas Rehan!". Sapa Aisyah ramah.
Rehan dan Desi heran dengan perubahan sikap Aisyah yang tiba - tiba berubah baik dan ramah ketika mereka bersama. Tapi lelaki itu kemudian dengan cepat tersenyum hangat pada istrinya. Pikirnya pasti istrinya itu merasa bersalah dan rindu padanya makanya bersikap baik seperti sekarang.
Meskipun Aisyah kini berubah memakai daster lagi dan tidak terlalu terawat seperti saat terakhir, tapi penampilannya lebih baik dari sebelum melakukan perawatan bahkan mata Rehan tidak lepas dari menatap istrinya itu.
"Kenapa mas lihat aku seperti itu?". Tanya Aisyah malu - malu saat menyadari suaminya menatap tak berpaling sedetik pun dari wajahnya.
Desi yang memang cemberut sedari tadi melihat tatapan kagum kekasihnya pada sang istri semakin kesal mendengar perkataan wanita itu. Niat yang awalnya ingin melihat Aisyah cemburu dan cemberut seperti biasa tapi sekarang malah dia yang cemburu karena di cuekin oleh Rehan.
"Nggak, cuma mas seneng lihat kamu seperti ini, gembira dan ceria saat makan bersama, di meja yang sama dengan ibu dan Desi. Kenapa tidak dari dulu kamu seperti ini, mungkin kita tak akan pernah bertengkar dan hubungan kita pasti akan baik - baik saja dan mas pasti akan sering pulang tentunya..". Jawab Rehan sambil menggenggam tangan sang istri.
"Jadi mas sekarang akan sering pulang kan?". Wajah Aisyah tampak antusias.
Rehan mengangguk pasti. Siapa yang tidak senang jika mendapat lampu hijau, bahkan saat kekasihnya datang ke rumah pun tidak membuatnya marah karena cemburu berlebihan. Memiliki dua istri dalam satu atap nanti pasti sangat menyenangkan.
"Terus kenapa mas tidak menikahi Desi saja? Kok betah banget berhubungan dengan dosa yang menumpuk!". Sindir Aisyah tapi tetap tersenyum hangat pada Rehan seolah itu terdengar baik di telinga suaminya.
Desi dan bu Wahida melirik tidak suka pada Aisyah. Melihat kemesraan suami istri itu sungguh membuat mereka muak dan gerah. Desi yang tidak mau kalah pun langsung memeluk lengan Rehan manja. "Mas Rehan sedang menyiapkan pesta pernikahan yang mewah dan meriah untuk pernikahan kami, jadi nggak boleh terburu - buru mbak Aisyah..". Jawabnya bohong karena ingin membuat Aisyah cemburu.
"Oh, yah? Kenapa kalian tidak memberi tahu aku sih? Kan aku juga ingin menolong...". Sahut Aisyah sama sekali tidak terpancing. Dia tetap menikmati makanannya dengan wajah santai.
"Tapi aku...".Rehan ingin menjelaskan tapi ucapannya dengan cepat di potong oleh Desi.
__ADS_1
"Nggak perlu! Kami bisa mengaturnya berdua saja, iya kan mas?". Mata Desi melotot agar ucapannya di iyakan oleh sang kekasih.
Tapi Rehan hanya diam saja.
"Seperti itu, baguslah, jika perlu secepatnya, jangan tunggu sampai ada sesuatu yang sempat hadir di antara kalian, kan malu nantinya!". Sindir Aisyah lagi.
Bu Wahida dan Desi semakin menatap jengkel pada Aisyah yang selalu berbicara yang membuat telinga mereka panas.
Desi selalu mencari perhatian Rehan supaya Aisyah cemburu dan marah. Tapi sayangnya lelaki itu tidak terlalu menggubrisnya, dan seolah memperlihatkan sikap adilnya pada dua wanita. Bahkan Rehan mencium kedua tangan wanita itu secara serentak. Aisyah tampak tersenyum hangat menatap sang suami sedangkan Desi hanya terpaksa untuk mengukir senyuman.
Selesai menyantap makan malam, Rehan sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Desi sambil berpelukan mesra. Sementara Aisyah masih sibuk berbenah di dalam dapur membuatkan minuman hangat untuk pasangan itu. Sedangkan bu Wahida memilih masuk ke dalam kamar menghindar dari pada melihat drama yang akan mereka bertiga lakonkan di hadapannya nanti.
Saat membawakan minuman itu ke ruang tamu, terlihat Rehan mendorong Desi agak kasar untuk menjauhnya.
Aisyah meletakkan dua gelas minuman di hadapan Rehan dan wanita di sampingnya. Dia lalu merebahkan tubuhnya duduk di sebelah kanan suaminya sedangkan Desi di sebelah kiri suaminya.
"Kamu tak menyediakan untuk dirimu sendiri?". Tanya Rehan salah tingkah di himpit dua wanita sekaligus. Sebenarnya ada rasa gugup dalam posisi ini, tapi melihat keduanya tampak akur dan sama sekali tidak keberatan dengan situasi ini membuatnya sedikit lega.
"Aku udah kenyang mas, kalian aja yang minum".
Dalam hati seorang wanita yang berada di sebelah kiri Rehan sebenarnya kesal dan ingin pergi saja dari hadapan mereka berdua, tapi jika dia pergi sudah tentu si istri akan merasa menang dan memaksakan dirinya duduk dan bersikap ramah pada wanita yang menjadi rivalnya itu. Setelah menghabiskan minuman mereka, tiba - tiba mereka merasa gerah dan sangat panas.
"Kok gerah yah rasanya?". Ucap Aisyah sambil mengibas - ngibaskan tangannya.
"Iya! Gerah banget! Apa pendinginnya mati?". Sahut Rehan membuka kancing kemeja bagian atasnya.
Peluh bercucuran di keningnya, bahkan sekarang kemeja yang dia gunakan tampak basah. Wanita di sebelahnya juga tampak bertingkah aneh dan tidak tenang dalam posisisnya. Tiba - tiba mereka merasa seperti dalam ruangan yang sangat panas dan pengap.
"Nikmati waktu kalian, Aku ingin ke kamar sekarang!". Aisyah langsung berlari naik ke dalam kamar baby Albar dan menguncinya dari dalam.
Sementara Rehan yang melihat lekuk tubuh istrinya yang di baluti daster sebatas lutut tak berlengan itu membuatnya bergairah dan sangat menginginkan sentuhan wanita itu. Tapi ketika ingin mengejar menuju kamar, tangannya di cekal oleh Desi yang juga terlihat semakin aneh.
__ADS_1
"Mas mau kemana? Tidur dengan aku aja mas, aku sangat memerlukan mu sekarang!". Lirih Desi memohon dengan sengaja berpose menggoda di hadapan Rehan. Bahkan tangan lelaki itu di bawa memegang dua buah gunungnya yang terasa berdenyut - denyut dari tadi.
Rehan yang melihatnya pun sontak semakin bergairah, anakonda nya semakin menghimpitningin keluar. Tapi wanita yang dia inginkan bukan wanita yang berada di hadaoannya sekarang, melainkan istrinya. Dia mendorong tubuh Desi kasar dan melanjutkan langkah menuju kamar di mana Aisyah berada. Tapi pintu malah kamar terkunci dari dalam membuat nya marah.
tok
tok
tok
"Aisyah buka pintu nya sekarang!". Teriaknya dari luar.
Sementara Aisyah yang berada di dalam hanya tersenyum sinis dan sama sekali tidak mempedulikan teriakan suaminya dari luar. Baby Albar sudah tertidur pulas dan sama sekali tidak terganggu oleh teriakan sang ayah.
"Kamu ikut aku aja mas! Dia pasti tidak akan memberikan apa yang kamu inginkan sekarang! ayuh!....". Desi menarik tangan Rehan dengan kuat. Entah dari mana dia mendapat kekuatan itu sehingga tubuh gagah kekasihnya bisa di tarik ringan.
Rehan yang sudah sangat menginginkan penyatuan pun terpaksa menurut dan mengikuti langkah Desi masuk ke salah satu kamar kosong yang berada di lantai dua.
Setelah masuk kedalam kamar tamu, Rehan langsung menarik Desi dan menghempaskan tubuh itu ke kasur. Mereka yang sudah tidak tahan dengan gejolak yang mereka rasakan, langsung membuka semua pakaian mereka hingga tak sehelai benangpun membaluti tubuh mereka.
Sementara Aisyah yang masih berada dalam kamar menatap botol kecil dengan wajah misterius.
*
*
*
Masih belum lulus kontrak dan sama sekali tidak mendapatkan penghasilan. Tapi disebabkan ada yang berbaik hati menyawer cerita ini, sempat mendapat uang walau tidak sampai seribu rupiah, tapi aku berterima kasih banget pada siapa saja yang mengirim nya, terima kasih sekali lagi.
Dengan siapa yang suka cerita ini dan ingin memberi semangat pada author nya, sangat di alu - alukan untuk menyawer, author akan sangat berterima kasih dan akan makin semangat belajar menulisnya dan sudah tentu akan semangat melanjutkan tulisan nya.
__ADS_1
'