Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 161 Ide bu Wahida


__ADS_3

Rehan sedang duduk di teras rumahnya sambil menikmati minuman hangat yang di sedia oleh sang ibu tercinta. Dia tidak lagi harus pusing memikirkan pekerjaan untuk membiayai pengobatannya karena cek yang di belikan olah Aisyah waktu itu susah lebih dari cukup. Bukan hanya untuk membiayai pengobatannya, uang itu juga bisa ia gunakan untuk kehidupan sehari - hari.


Tanpa perlu pusing memikirkan uang sudah tentu bisa menyembuhkan depresinya dengan waktu yang lebih cepat sesuai saran dari dokter yang menangani penyakit nya. Banyak kan istirahat, jangan banyak pikiran kalau perlu berhenti bekerja agar ia bebas dari beban pekerjaan yang di tanggung jawab kan padanya.


Bu Wahida juga sudah berubah, tidak lagi cerewet seperti sebelumnya yang selalu mendesak anak nya untuk mencari pekerjaan agar biaya hidup mereka terpenuhi. Tapi kini lebih banyak tenang dan membantu dalam penyembuhan Rehan. Bu Wahida hanya ingin Rehan fokus menyelesaikan perceraiannya dengan Desi yang sampai sekarang belum juga selesai. Sudah dua persidangan mereka lalui tapi hakim belum juga memberi hasil sidang keputusan.


"Kamu sedang mikirin apa, nak?". Sapa bu Wahida yang muncul dari dalam rumah sambil meneteng cemilan untuk mereka nikmati bersama.


"Nggak mikirin apa - apa kok, bu". Jawab Rehan bohong. Yang sedang berputar dalam otak Rehan saat ini adalah nasip Aisyah dan anak nya yang berhasil di culik di mansion nya sendiri.


"Kamu itu lahir dari rahim ibu, nak. Kamu tidak bisa menipu ibu. Ibu tahu kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat, coba cerita sama ibu, siapa tahu ibu bisa meringankan beban pikiran kamu itu". Bujuk bu Wahida sambil menikmati cemilan yang ia bawa keluar tadi.


Rehan menghela nafas berat sebelum menceritakan yang sejujurnya pada sang ibu. "Aisyah di culik dan lebih membuat aku kepikiran adalah Albar juga ikut di culik bersama dia, banyak pengawal tapi sama sekali tidak menjamin keselamatan mereka, dengan mudahnya di culik di rumah besar itu ...". Imbuh Rehan terdengar susah hati.


Bu Wahida membuang muka kesal, menurutnya dua orang yang sedang anak nya pikirkan sama sekali tidak penting. Aisyah dari dulu hanya bisa membuatnya jengkel, saat masih menjadi menantunya wanita itu sam sekali tidak berfungsi untuk keluarga, tapi saat sudah resmi cerai malah wanita itu tiba - tiba menjadi kaya raya tapi sayang nya ia tidak mau lagi rujuk dengan Rehan. Menolak mentah - mentah sang anak seperti pria yang sama sekali tidak memiliki harga diri. Dan bodohnya bu Wahida malah menerima cek pemberian Aisyah sebagai tanda maaf telah menolak permintaan Rehan untuk rujuk.


Mana kala Albar merupakan cucu yang tidak dia ingin kan, dulu bu Wahida menolak kehadiran Albar karena terlahir dari menantu yang tidak dia ingin kan sama sekali namun sekarang ia juga tidaj terlalu peduli kerana gangguan mental yang di derita sang cucu.


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal yang nggak penting! Mereka berdua sudah banyak yang mikirin, lihat hidup kita yang serba berjimat seperti ini mana ada yang mau mikirin kalau bukan diri kita sendiri....". Ujar bu Wahida tidak suka..

__ADS_1


Rehan menatap heran dengan ucapan ibunya. Jika sang ibu membenci Aisyah menurutnya sih normal - normal aja karena Aisyah memang sudah sangat menyinggung perasaan mereka. Tapi anak nya yang sama sekali tidak memikili salah apa pun pada mereka kenapa malah di katakan tidak penting oleh ibunya.


Selama ini ia pikir sang ibu menyayangi anaknya tapi melihat sikap ibunya sama sekali tidak pernah bertanya mengenai anak nya itu.


"Kenapa ibu bisa bilang seperti itu? Aku juga sedang mikirin Albar yang di culik bu, cucu pertama ibu!". Cerca Rehan mulai terpancing emosi sesaat lagi.


Rehan berdiri dan menekan meja dengan kuat, bu Wahida yang baru sadar sudah membuat anak nya kesal menjadi khawatir dengan kesehatan mental sang anak.


"Bu bukan itu maksud ibu, Rehan! Maksud ibu itu Aisyah, kamu seharusnya tidak memikirkan Aisyah cukup pikirkan anak saja, cucu ibu itu pasti tersiksa tinggal di sana. Dulu saat masih tinggal bersama kita dulu dia tidak pernah merasakan penderitaan seperti itu tapi setelah tinggal di rumah besar ittu malah sial hidupnya". Ujar bu Wahida sok perihatin..


Rehan akhirnya mulai tenang setelah ibunya mengatakan hal itu dengan penuh ketakutan di wajahnya. Tidak ingin menyakiti sang ibu tapi emosinya terkadang tidak bisa di kontrol sehingga bisa meledak begitu saja tanpa bisa ia tahan.


"Coba aku merupakan bahagian dari keluarga mereka sudah pasti hidup mereka bisa lebih tenang, aku bisa tolong menjaga mereka dengan segenao jiwaku. Kami juga bisa selalu bersama membesarkan anak kami tanpa perlu bimbang kesehatan mental kami berdua menurun. Aku yakin semua yang terjadi padaku karena aku meri bukan anak ku". Sahur Rehan dengan wajah kusut.


Bu Wahida malah tiba - tiba memikirkan sebuah ide cemerlang untuk mendapatkan keuntungan materi dari orang kaya itu melalui status Rehan sebagai anak yang di culik di rumah mereka.


"Ibu ada ide untuk kamu, Rehan". Seru bu Wahida antusias.


Rehan menatao bingung ke arah ibunya. "Ide apa pula yang ibu maksud kanan ini?". Tanya nya dengan wajah berkedut.

__ADS_1


Bu Wahida memperbaiki duduknya menghadap Rehan dengan wajah yang misterius. "Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah itu?". Tawar bu Wahida.


"Untuk apa kita ke sana? Urusan kita dengan mereka sudah selesai". Tolak Rehan tidak setuju.


"Urusan kita tidak akan pernah selesai, kita akan selalu terhubung dengan mereka selagi anak kamu tinggal di sana. Kamu adalah ayah dari cucu mereka, kamu ada hak untuk datang menuntut keadilan untuk keselamatan anak kamu yang mereka asuh, tapi lihat! Mereka malah membiarkan cucu ibu di ambil orang secara paksa...". Imbuh bu Wahida membatu api.


Rehan terdiam yang di katakan ibu nya masuk dalam otaknya yang benar ada jika sudah angkat bicara. "Jadi maksud ibu aku harus datang marah - marah karena masalah Albar yang di culik, gitu?". Sahut Rehan masih kurang paham dengan maksud bu Wahida yang sebenarnya.


"Iya, lagi pula kamu berhak kok marah. Kamu ayah kandung Albar, tapi tidak semestinya kamu datang marah - marah. Datang baik - baik untuk bernegosiasi". Ujar bu Wahida memperbaiki jalan pikiran anak nya yang mulai rusak, lain yang di maksud lain juga yang di mengerti nya.


"Maksud ibu?". Bingung Rehan belum terlalu mengerti dengan ucapan ibu nya.


"Begini, kamu datang bersikap seolah belum mengetahui masalah hilangnya Albar. Datang konon nya untuk menjenguk ana kamu itu mereka pasti akan berusaha mengelak menyembunyikan fakta sebenar. Dengan itu kamu pasti akan di bujuk dengan menggunakan apa pun agar percaya dengan tipu hela mereka dan pergi dari rumah itu". Jelas bu Wahida panjang lebar kali tinggi.


Rehan mulai paham ke mana arah ucapan ibu nya. Tidak jauh - jauh dari kata uang, uang dan uang. Bibir Rehan pun turut terukir senyum misterius mendengar ide ibu nya itu.


"Ide ibu bisa juga yah". Katanya sambil tersenyum sinis.


Bu Wahida pula bukannya senang anak nya sudah paham dengan keinginan nya, ia malah takut melihat senyum Rehan yang menurutnya sangat menakutkan itu.

__ADS_1


__ADS_2