
Aisyah bukan wanita yang lemah dan ikhlas begitu saja jika di tindas. Jika dulu mertua sering memperlakukannya dengan buruk, tapi dia masih diam saja, itu lantaran dia menjaga hati suminya yang pasti tida akan terima jika ibunya di sakiti.
Tidak untuk sekarang, dia mencintai Rehan dengan batas kesabaran yang di milikinya, dan Rehan sudah melebihi batas itu. Dia tega membawa wanita lain dalam hubungan mereka secara terang - terangan tanpa memikirkan perasaanya. Jangan salahkan dia jika nanti apa yang dia rasakan akan bertimbal balik pada siapa yang telah menyakitinya.
Dia berusaha menekan perasaan kecewa dan perih di hati bukan karena dia mengalah demi cinta, tapi dia ingin mengalah untuk kemenangannya nanti saat di pengadilan.
Kini dia hanya diam tidak menghiraukan obrolan seru antara dua anak beranak di hadapannya, tak lain suaminya dan ibu mertunya. Topik pembicaraa mereka adalah bagaimana tentang kelanjutan hubungan suaminya dengan Desi kedepannya.
Drt, drt
Ponsel Rehan tiba - tiba berdering. Wajahnya tiba - tiba sembringan mengangkat panggilan itu. "Kamu di mana sayang?". Tanyanya dengan suara lembut.
Aisyah yang mendengarnya hanya tersenyum sinis mendengar suaminya masih tidak merasa bersalah padanya setelah dia beberapa kali menyindir lelaki itu semasa.di mobil tadi.
__ADS_1
Dia juga yang kembali mengingat Zack, heran kenapa Zack sampai tidak pamit terlebih dulu sebelum pergi atau sekedar mengirim pesan padanya. Ponsel yang berada di tasnya pun diambil dan mengirim pesan kepada lelaki itu. Tapi pesannya belum terbaca oleh Zack.
"Mungkin dia sibuk..". Tebaknya lalu kembali meletakkan ponselnya.
"Maaf pak Rehan! Di tunggu di ruangan dokter Fahmi".
Aisyah kaget dengan ucapan perawat yang sudah berada di hadapan suaminya. Dia turut ingin menemui dokter yang menangani anaknya itu.
"Baik lah, terima kasih sus". Balas Rehan ramah.
Sesampai di ruang dokter Fahmi, Aisyah langsung fokus dengan apa yang akan di sampaikan dokter spesilis anak di hadapnnya kini, di samping nya sudah ada Rehan juga ikut memasang telinga.
"Selama kami menjalani pemeriksaan kepada Baby Albar, ada kemungkinan dia akan mengalami lambat bicara dan susah pemdengaran akibat saraf di otak yang mengatur mengalami gangguan akibat hentaman kuat di kepalanya tempoh hari...".
__ADS_1
Aisyah menutup mulutnya kaget dan langsung sedih mengingat bagaimana anaknya akan melalui masa sulitnya hari - harinya kelak. Perasaan ibu yang ikut terguncang mendengar kenyataan pahit yang di alami anaknya kini di rasakan Aisyah.
Air matanya luruh membasahi pipinya dengan tubuh yang gemetar menahan sesak di hatinya. "Albar....". Hanya itu yamg keluar dari mulutnya yang sedang terpukul memdengar kenyataan pahit yang menimpa anaknya.
Rehan terlihat tidak peduli dengan Aisyah yang sedang menangis, dia memilih tenang dan menekan rasa terkejutnya setelah mendengar penjelasan dokter Fahmi.
"Apa tiada cara untuknya bisa sembuh dok?". Rehan memilih bertanya dengan menekan perasam sedih di hatinya.
"Ini baru prediksi kami pak, kami dokter hanya menyampaikan hasil dari pemeriksaan kami, yang menentukan masa depan yang akan berlalu dikemudian hari itu tuhan, kami cuma menyampaikan agar keluarga bisa tabah lebih awal dan bisa mempersiapkan mental menerima kenyataan ini dari awal...". Balas dokter Fahmi.
Aisyah menyeka air matanya sendiri mendengar perkatan dokter itu lagi, walaupun hatinya masih merasa sedih, tapi setidaknya masih ada secerca harapan agar anaknay tida mengalami itu semua.
"Jadi ana kami masih ada harapan menjadi anak yang normal kan, dok?". Rehan sedikit merasa lega mendengar ucapan dokter Fahmi.
__ADS_1
"Saya akan meresepkan obat untuk merangsang perkembangan dan pembaikan saraf otaknya, sering ajak dia berkomunikasi, beri kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya..".