Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 39 tamparan menyadarkan


__ADS_3

Setiap detik Aisyah berusaha menghilangkan perasaan yang mengganjal di hatinya, selalu berusaha menggoda suaminya dengan pelbagai cara, tapi setiap Rehan mulai terpancing dan akan menyentuhnya, malah dia yang menghindar karena bulu kuduknya berdiri saat di sentuh suaminya itu.


Awalnya Rehan mulai sedikit berubah dan perhatian kembali padanya. Meskipun tetap berangkat awal pagi dan sarapan di luar, tapi ketika pulang kerja Rehan langsung ke rumah dan menyempatkan dirinya untuk bermain dengan baby Albar. Tapi hal yang sangat dia inginkan sebenarnya ketika di rumah adalah bisa bermain kuda - kudaan dengan Aisyah.


Tapi dia selalu di buat kecewa dan emosi ketika dirinya sudah sangat membutuhkan sentuhan Aisyah, wanita itu malah menghindar dan memberi alasan yang berbeda - beda setiap dirinya meminta jatah. Alhasil dia terpaksa mendatangi Desi untuk menuntaskan keinginannya. Sekarang dia tidak lagi ingin meluangkan waktu sedetikpun dengan istrinya itu. Bahkan dia juga tidak memperdulikan tentang perkataan dokter tempo hari mengenai kesehatan anaknya. Dia merasa seolah di permainkan oleh istrinya.


Bukannya membuat Rehan sayang dan nempel padanya, Aisyah sekarang harus menekan pil pahit melihat Rehan semakin jarang terlihat di rumah. Lelaki itu sering menginap di tempat Desi dan hanya pulang di waktu tertentu.


Sudah dua minggu ini bu Wahida tinggal di rumah mewah milik anaknya, dan mulai saat itu juga Aisyah tidak leluasa keluar rumah dan risih jika harus mendengar omelan mertuanya. Oleh sebab itu, Aisyah sering mendatangkan pegawai salon atau Spa untuk mengajar dan sekaligus melakukan perawatan menyeluruh di tubuhnya.


Sering mendapatkan pertanyaan pedas dan makian dari mertua, tapi Aisyah hanya tersenyum sinis dan membalas dengan santai tanpa beban. Dia melakukan semua nya dalam kamar terkunci supaya lebih tenang.


"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membayar mereka? Jangan bilang Rehan masih beri kamu uang untuk semua ini! Atau jangan - jangan kamu nyuri! Aku akan panggil Rehan pulang sekarang! Biar kamu di hukum olehnya jika kamu terbukti nyuri uangnya..". Ancam bu Wahida lalu segera mengirim pesan kepada Rehan.


Aisyah tidak mempedulikan mertuanya itu yang tampak sangat emosi padanya. Dia mengajak pegawai wanita itu masuk ke dalam kamar dan mulai melakukan perawatan.


Selang beberapa lama, saat Aisyah baru selesai mandi sehabis luluran dan telah lengkap memakai baju, tiba - tiba terdengar teriakan dari luar pintu.


"Buka pintunya Aisyah! Rehan sudah datang!". Teriak bu Wahida dengan antusias. Begitu tidak sabar melihat Aisyah mendapat amukan dari anaknya.


Hufh


Dengan berat hati Aisyah melangkah untuk membukakan pintu untuk suaminya. Saat membuka pintu tampak mertuanya tersenyum sinis ke arahnya dan suaminya yang menatapnya dengan intens.


"Sekarang katakan, dari mana kamu mendapatkan uang untuk melakukan segala perawatan itu?". Suara Rehan terdengar nyaring dan penuh amarah.


Sebelumnya, Aisyah sudah mengatakan jika selama ini dia menabung sebagian uang belanja dan uang itu kini yang di gunakan nya untuk membayar semua biaya perawatan yang dia lakukan. Rehan percaya dan tidak pernah bertanya lagi soal uang itu. Tapi kenapa sekarang Rehan pulang bertanya kembali dengan wajah yang sangat menakutkan.

__ADS_1


"Tak kan dia percaya jika ibu mengatakan aku nyuri uangnya, sedangkan dia jarang pulang?". gumam Aisyah dalam hati.


"Ka - kan aku sudah jelaskan sebelumnya mas". Jawab Aisyah gelagapan.


"Kamu jangan bohong! Rasanya mustahil jika uang yang kamu simpan bisa sebanyak itu hingga melakukan banyak kali perawatan, bahkan baju kamu semua sekarang semua sangat mahal dan itu pasti bukan uang dariku. Cepat katakan dari mana kamu dapatkan uang sebanyak itu?". Rehan tampak tidak percaya sampai mencerca Aisyah dengan pertanyaan pedas.


Glek


Aisyah berusaha menelan air liur dengan susah payah. "Bagaimana aku harus menjelaskan ini sekarang, mas Rehan tampak tidak akan percaya lagi dengan alasan sebelumnya. Aku tak akan mungkin mengatakan yang sebenar nya pada mas Rehan. Bisa - bisa aku di paksa berhenti dan tidak akan lagi memiliki uang sendiri". Gumamnya bingung.


Lalu Aisyah melirik ibu mertuanya yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum sinis ke arahnya. "Ini pasti ulah kunti lanak itu! Apa yang sudah dia katakan pada mas Rehan?". Batinnya lagi.


"Kenapa kamu diam?". Rehan menghampiri Aisyah, mencengkram rahang wanita itu dan membawanya ke dinding. "Cepat katakan!".


"Lepas mas! Sakit!". Rintih Aisyah berusaha melepas kan tangan suaminya dari semakin erat menyakiti rahangnya.


Aisyah menggeleng perlahan dengan deraian air mata di pipinya. "I - i tu Fi t nah mas". Ucapnya dengan sangat berat.


Hup


Hup


Melihat Aisyah semakin sesak nafas membuat Rehan menghempasnya kasar ke lantai.


"Auucch,, sakit mas". Lirih Aisyah memegang lututnya yang sakit akibat benturan ke lantai.


"Jadi benar kata ibu! Kamu selingkuh dariku! Katakan siapa lelaki itu!". Suara Rehan semakin besar dan bergema seisi ruangan lantai dua. Nafasnya di tarik dan di hembuskan dengan kasar karena amarah sudah sangat menguasai dirinya hingga tidak memperdulikan rintihan kesakitan istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak selingkuh, aku di fitnah mas!". Jelas Aisyah sedih. Dirinya di fitnah dan suaminya percaya begitu saja.


"Kamu menuduh ibu hanya mengarang - ngarang cerita! Kamu lebih baik ngaku aja sekarang!". Seru bu Wahida tak mau kalah. Dia tidak akan membiarkan menantunya itu lolos dan semakin ngelunjak di rumah ini.


Aisyah berusaha berdiri dan menghapus air matanya dengan kasar. "Memang jelas kok ibu hanya mengarang cerita supaya mas Rehan marah padaku! Ibu dari dulu memang tidak pernah suka sama aku, malah lebih mendukung Desi si pelakor itu! Ibu....".


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat cantik di pipinya, hingga membuat wanita itu terjatuh dan memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Air matanya kembali luruh dengan deras, ini adalah kali pertama Rehan menamparnya, dan sudah tentu amat mengiris perasaannya.


"Jangan sesekali kamu mengatakan Desi sebagai pelakor! Dia itu lebih dulu hadir dalam hidupku dan memberi kebahagian untukku. Sedangkan kamu sampai sekarang saja tidak pernah membuatku bahagia! Jadi kamu jangan memanggilnya dengan sebutan kotor itu!..". Bentak Rehan sambil melayangkan telunjuk tepat ke wajah Aisyah dengan penuh emosi.


Aisyah kembali berdiri. "Kenapa mas! Jelas dia telah merebut kamu dari aku. Apa kamu lupa? Dia adalah wanita yang sempat membuatmu terpuruk sampai mau bunuh diri! Jika bukan karena aku datang menyapamu, mungkin dari dulu kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini". Ungkit Aisyah dengan suara yang tak kalah keras dengan air mata yang masih mengalir deras ke pipinya.


"Kamu!...". Rehan kembali mengangkat tangannya ingin menampar Aisyah. Tapi tertahankan karena apa yang di ucapkan istrinya itu memang benar.


Uwek


Uwek


Uwek


Terdengar tangisan nyaring baby Albar di lantai bawah. Aisyah langsung berlari turun menemui baby Albar dan mengambil anaknya itu dari ART yang menjaganya.


Sementara itu, Rehan terpaksa melayangkan tinjunya ke dinding dengan penuh emosi. Kemudian beralih pada pegawai spa yang hanya diam memerhatikan pertengkaran di antara suami istri itu. Rehan mengusir nya dengan suara keras dan menyuruhnya tidak lagi melayani permintaan Aisyah lain kali. Karena takut, pegawai itu terpaksa mengangguk cepat dan langsung berlalu cepat dari hadapan Rehan.


"Aku harus mencari tahu siapa lelaki itu?".

__ADS_1


__ADS_2