Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 84 Bebas


__ADS_3

Desi yang sedang bersantai di teras rumah di kejutkan dengan kedatangan dua orang polisi yang baru turun dari mobil mereka. Karena merasa tidak pernah melakukan jenayah sudah tentu membuat Desi bingung dengan kedatangan pihak polisi ke rumahnya.


"Assalamualaikum". Sapa pak Ilham.


"Waalaikumsalam pak, ada yang boleh saya bantu?". Tanya Desi to the point.


"Apa benar ini rumah pak Rehan?". Pak Ilham balik bertanya.


"Iya benar, saya istrinya. Ada ap yah pak?". Jawab Desi masih penasaran.


"Benar bu Wahida adalah ibu kepada pak Rehan Jamil? Beliau sedang di tahan di kantor polisi saat ini dan memberikan alamat rumah pak Rehan sebagai anak beliau". Kata Pak Ilham.


"Hah, mertua saya di kantor polisi? Kalau boleh tau kenapa ya pak?". Desi tampak kaget.


"Beliau terbukti mencuri barang milik teman kerjanya, untuk keterangan lanjut sila datang bertanya di kantor, kami pamit pergi dulu karena masih banyak tugas yang perlu kami laksanakan". Pamit Pak Ilham.


"Mencuri? Ibu mencuri?". Ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Desi mendengar kabar bahwa mertuanya di penjara akibat mencuri.


Ini semua tidak lain dan tak bukan juga kesalahannya, bu Wahida sudah tua dan sering sakit - sakitan bahkan obat yang sering di komsumsi amatlah mahal, sedangkan dia sama sekali tidak memberikan mertuanya uang walau seribu rupiah. Pasti mertuanya sangat membutuhkan uang hingga terpaksa mencuri.


Saat masih bengong dengan penuturan polisi tadi. Tiba - tiba bahu Desi di tepuk oleh seseorang hingga membuatnya terloncat kaget.


"Mas Rehan? Kapan sampai mas, Kok aku ngga sadar?". Desi menyalami tangan suaminya dengan taksim.


"Bagaimana mau sadar? kamu nya melamun begitu bahkan suara mobil yang nyaring pu kamu tak dengar, kamu kenapa sih tiba - tiba melamun gitu depan pintu dan hampir magrib lagi, nanti kesambet loh". Goda Rehan.


"Tidak sengaja mas, itu tadi ada pihak polis datang ke rumah kita...". Ucap Desi.


"Polisi? Ada keperluan apa datang ke rumah kita?". Potong Rehan sedikit kaget.

__ADS_1


"Katanya ibu sedang di tahan di kantor polisi karena terbukti mencuri barang milik rekan kerjanya...". Jawab Desi dengan cepat kerena suaminya tampak panik.


"Hah, ibu mencuri? Ini pasti salah, mustahil ibu melakukan hal itu, mereka pasti salah tangkap!". Kesal Rehan.


"Udah deh mas, jangan kesal dulu! Lebih baik kita ke sana sekarang, aku takut aku lagi yang dapat amukan kamu". Ajak Desi.


"Maaf buat kamu takut sayang! Ya udah kita ke sana sekarang!". Rehan setuju dan bergegas masuk ke dalam mobil di susul oleh Desi dan melaju kan mobil ke kantor polisi.


Sesampai di tempat tujuan, Rehan bergegas keluar dari mobil berlari membukakan pintu untuk sang istri. Tidak mau jika saat pikiran nya kalut membuat nya abai lagi pada istrinya dan akan mereganggang lagi hubungan mereka.


Desi merasa tersipu dengan perlakuan manis suaminya, bibirnya mengukir senyuman manis saat tangannya di gandeng Rehan masuk ke dalam kantor polisi.


"Ada yang bisa kami bantu pak?". Sapa petugas resepsionis.


Rehan menanyakan soal mengapa ibunya bisa di tahan, dengan kesal Reham melampiaskan kemarahannya dengan melontarkan berbagai macam pertanyaan pada pihak polisi. Dengan perlahan dan masih ramah pihak polisi menjelaskan dan menunjukkan bukti yang di berikan bu Saloma sebagai bahan bukti.


"Seharusnya anda sebagai anak memberi kan ibu anda uang untuk keperluan hariannya, ini malah membiarkan ibu anda bekerja keras di usia senjanya, dengar - dengar pekerjaan anda adalah sebagai direktur di perusahaan besar dan ternama tapi kok bisa yah ibu anda terlihat begitu kekurangan hingga rela mencuri untuk menutupi kebutuhannya...". Sindir salah satu polisi wanita yang dari tadi tidak suka mendengar Rehan marah - marah tidak jelas.


Mendengar itu Desi sebagai istri tidak terima dan membela sang suami. "Kamu kalau tidak tahu apa - apa diam aja deh! Sekarang bawa keluar mertuaku aku akan bayar berapu pun untuk menjaminnya agar bebas kembali". Bela Desi.


Sebenarnya dia yang makan hati dengan semua ucapan polwan itu, sebab dia yang selama ini membuat mertuanya menderita hingga lebih memilih tinggal berpisah dan mencari uang sendiri untuk memenuhi keperluannya karena dia sama sekali tidak mengizinkan suaminya untuk berbakti pada sang ibu.


Setelah membayar uang jaminan untuk membebaskan bu Wahida, kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil dan Desi langsung mengutarakan niatnya untuk mengajak mertuanya itu kembali tinggal di rumahnya.


"Mulai sekarang ibu kembali lah tinggal di rumah supaya tidak melakukan hal memalukan ini lagi". Ujar Desi ketus.


Entah kenapa wajahnya bagai tercoreng karena perbuatan mertuanya itu, meski tidak bisa di nafikan hatinya juga ikut bersalah dalam hal ini. Ia masih belum bisa mengubah sikapnya lebih lembut pada ibu mertuanya karena masih menyimpan dendam pada pasangan anak dan ibu itu.


Bu Wahida sontak menggeleng kan kepala menolak ajakan menantunya untuk tinggal di rumah megah rasa neraka itu.

__ADS_1


"Jadi ibu lebih memilih menjadi pencuri berbanding tinggal di rumah ku!". Bentak Desi emosi, ia menoleh ke belakang pada ibu mertuanya dan melotot saking kesal ucapannya di bantah.


"Jangan emosi begitu dong sayang! Nanti anak kita ikut stres di dalam bagaimana? Lebih baik kamu tenang kan pikiran kamu dulu, biar mas yang bujuk ibu, ok". Bujuk Rehan. Lelaki itu tidak akan kasar pad istrinya lagi karena takut menambah beban dan dendam sang istri padanya. Berkata lembut dan merayu pasti bisa membuat istrinya itu luluh dan ikut perkataannya.


"Terserah kamu aja deh mas". Desi mengalah dan memilih diam.


"Ibu!". Panggila Rehan dengan lembut pada bu Wahida.


"Iya Rehan". Sahut bu Wahida mendongak lesu.


"Desi sudah tak akan memperlakukan ibu seperti sebelumnya, ia akan menjadi menantu idaman dan kesayangan ibu lagi seperti dulu, iya kan sayang?". Rehan mencoba menjadi penengah antara istri dan ibunya. Ia ingin dua wanita penting dalm


"Hem,". Jawab Desi singkat.


"Tapi ibu kan sudah membayar sewa rumah untuk setahun pada kalian, kalau tidak tinggal di sana kan sayang". Tolak Bu Wulan hanya beralasan tapi sebenarnya ia memang begitu enggan kembali ke rumah itu.


"Kalau begitu ibu bermalam aja dulu di rumah yah, kita bincang lagi besok ketika pikiran kita semua kembali jernih dan tenang". Imbuh Rehan mengakhiri perbincangan dan mengalihakan pembicaraan ke arah yang lain.


*


*


Di sebuah mall besar dua orang wanita beda generasi sedang sibuk memilih pakaian di sebuah toko yang bisa di katakan cukup populer. Di belakang mereka turut ikut dua orang lelaki beda usia tapi tetap terlibat sama - sama gagah dan berwibawa sedang memegang begitu banyak barang belanjaan si tangan mereka.


"Sayang! Apa belum selesai? Mas sudah lapar ini, lihat tangan kami berdua sudah tidak cukup memegang belanjaan kalian berdua". Panji mengeluh karena tenaganya sudah berkurang di tambah lagi cacing di perutnya sudah menjerit minta makan sedari tadi.


"Apa an sih kamu mas? Baru sebentar aja udah mengeluh, kalau tahu begitu kenapa menawarkan diri untuk ikut kan bagus tadi pak Sabaruddin yang ikut, selama ini banyak bagaimana pun belanjaan ku, dia tidak pernah mengeluh". Ujar Mega membeda - bedakan suaminya dengan supir pribadi miliknya.


Aisyah dan Zack hanya geleng - geleng kepala mendengar dan melihat pertengkaran orang tua mereka. Dari tadi dua pasangan paruh baya tidak henti - hentinya bertengkar.

__ADS_1


__ADS_2