
Flashback on:
Bu Sukma sedang asik bermain lego - lego bersama Albar di kamar pribadi anak itu. Dia sangat suka pada anak - anak tapi sayang nya dia belum di karunia kan seorang pun cucu untuk menemani hari - hari tua nya. Maka saat melihat Albar sedang bermain membuatnya senang dan turut bahagia.
Bu Sukma sudah menganggap Albar sebagai cucu nya sendiri, jika anak kecil itu jatuh sakit maka dia juga turut sedih dalam diam. Titin yang merupakan anak bu Sukma sering memerhatikan tingkah ibu nya dan turut sedih karena pernikahannya belum juga di beri kepercayaan untuk membesarkan anak. Padahal jika sudah ada seorang anak kecil di rumah mereka mungkin mereka tidak perlu lagi berkerja..
Bagi mereka bukan uang atau harta yang menjadi tolak ukur kebahagiaan tapi kebersamaan. Meskipun di liputi banyak kekurangan tapi dalam keluarga mereka tetap harmonis dan menerima kekurangan masing - masing dan menjadikan kekurangan itu sebagai pelengkap kelebihan mereka.
Tiba - tiba Titin dalang memotong Aisyah masuk ke dalam kamar. Majikan mereka itu tampak sangat tertekan dengan semua masalah yang sedang keluarga mereka hadapi saat ini. Zack entah pergi kemana dan bagaimana keadaan sekarang, perusahan juga entah siapa yang bisa menghandle nya, masa terkuras habis memikirkan hal dunia sampai waktu untuk keluarga dan beribadah sudah tidak tersisa.
Pikirannya saat ini sudah pusing karena di jadikan pewaris dari kekayaan keluarganya sedangkan yang seharusnya sibuk bekerja kan lelaki tapi karena dia adalah anak tunggal maka dia tiada pilihan lain selain pasrah. Ingin menyerahkan semua pada Zack tapi pria itu juga menolak dengan alasan tidak berhak menimanya karena dia hanya seorang anak angkat dalam keluarga ini.
"Non Aisyah kenapa?". Tanya bu Sukma khawatir.
Aisyah tidak menjawab tapi tatapannya mengisyaratkan bahwa ia ingin memohon pertolongan. Bu Sukma yang paham langsung panik dan mendesak Aisyah agar jujur padanya.
"Katakan saja non! saya akan usaha dengan segenap tenaga untuk mengabulkan nya. Jangan bimbang saya dan Titin pasti bisa membantu Non merasa lebih baik". Bujuk bu Sukma seperti sudah tahu apa yang di ingin kan Aisyah padanya.
"Tolong bawa saya keluar dari rumah ini bik, saya sudah tidak sanggup lagi hidup dengan semua harta ini. Jika kedua orang tua ku masih sanggup memikul tanggung jawab pada harta milik mereka tidak dengan aku. Aku tidak memerlukan semua ini!". Ujar Aisyah sedih.
Bu Sukma dan Titin saling pandang, mereka bingung dengan permintaan Aisyah barusan tapi bu Sukma sudah berjanji akan mengabuli permintaan nya apa pun itu ia akan berusaha dengan segenap tenaga.
__ADS_1
"Baik lah jika memang itu yang non Aisyah ingin kan, tapi bagaimana dengan den Albar? Mau di bawa juga?". Tanya bu Sukma sambil menatap iba pada anak kecil yang sedang asik bermain sendiri itu. Ia ingin membawa serta anak itu tapi semua keputusan ada pada Aisyah, ibu dari anak itu.
"Aku ingin membawa nya juga bik, tolong bawa kami pergi sekarang dari sini sebelum ada yang tahu". Imbuh Aisyah memohon..
Bu Sukma bernafas lega karena ternyata Aisyah tidak berniat meninggalkan anaknya di sini sedangkan dia memilih pergi. "Kalau begitu jangan buang - buang waktu lagi, sebelum bu Saras datang dan mencegah kita, kita harus bergerak sekarang". Imbuh Titin.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga membuat mereka bertiga gelagapan. Bu Sukma dengan cepat mengambil Albar dan memeluknya hangat, beruntung anak itu tidak rewel dan sepertinya tahu jika dia harus senyap dalam situasi mencekam ini. Aisyah yang melihat perkembangan mamaknya tampak sedikit kaget karena melihat Albar hanya diam sama sekali tidak merepotkan orang lain.
Sambil memeluk Albar, bu Sukma bersama Titin dan Aisyah bersembunyi di balik sofa di luar kamar saat bu Saras memasuki kamar Albar dengan meneteng sepiring makanan yang ia bawa untuk Aisyah. Saat bu Saras sudah tidak melihat ke arah lorong baru lah mereka bertiga bergegas menuruni tangga dengan hati - hati tanpa menimbulkan suara.
"Anak mama yang pinter jangan bersuara yah sayang!". Bisik Aisyah pada anak nya dan di balas dengan senyum bahagia sang anak sambil mengangguk setuju.
"Jangan! Pasti mereka akan memeriksa langsung ke sana dan kita pasti langsung di temukan". Balas bu Sukma menolak.
"Tapi semua jalan di blokir dan hanya di sana yang samam sekali tidak di jaga oleh satu pun pengawal". Ujar Titin..
"Kita gunakan saja jalan itu". Ujar Aisyah dengan sangat yakin karena tidak semua orang yang tahu jalan rahasia itu, hanya beberapa orang pekerja di rumah ini iaitu bu Sukma sendiri, bu Saras dan seorang pangawal dan orang itu adalah Pundas. Sedangkan Pundas saat ini sepertinya juga tidak ada di sekitar mansion untuk berjaga.
"Aku akan meminta tolong pada Pundas untuk membantuku". Batin Aisyah.
Setelah mendengar Aisyah ingin menggunakan jalan rahasia saja maka Titin pun menuntun mereka dengan hati - hati menuju jalan rahasia yang terletak jauh dari jangkauan pengawal mau pun polisi. Saat mereka sudah berhasil keluar dan menutup kembali pintu terdengar samar - samar kegaduhan dari balik pintu.
__ADS_1
"Mereka pasti sudah menyadari perbuatan kita. Harus bergerak cepat sebelum merea berhasil menemukan kita". Bu Sukma sedikit berdebar - debar dengan situasi yang cukup pelik ini. Ia yakin setelah ini pasti dia dan putra nya akan di jadikan buronan oleh pihak polisi karena berhasil menculik anak dan cucu kesayangan konglomerat.
"Sekarang kita harus berjalan menyususri semak - semak ini menuju rumah teman ku yang terletak di seberang sana untuk bersembunyi seketika sambil memikirkan strategi selanjutnya. Semua setuju kan?". Saran Titin.
"Aku terserah kamu saja, Tin". Balas Aisyah setuju - setuju saja.
"Ibu juga nggak punya ide lain". Bu Sukma juga ikut setuju.
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat tapi tetap harus hati - hati". Titin melangkah terlebih dahulu di ikuti oleh Aisyah lalu bu Sukma di punggungnya sambil menggendong Albar yang sudah terlelap di pelukannya.
Setengah jam perjalanan Aisyah merasa lemas dan pusing, ia sudah tidak larat lagi berjalan karena kehabisan tenaga. Tidak pernah makan seharian membuat tubuhnya lemah dan tidak bertenaga.
Titin yang perhatian pun menawarkan diri untuk membawa Aisyah di punggungnya. "Kalau non Aisyah tidak keberatan, non bisa naik ke punggung saya".
"Iya non Aisyah, naik saja di punggung Titin. Perjalanan masih jauh dan kita tidak boleh berhenti di sini karena masih terlalu dekat dengan mansion, takut pengawal malah menemuka kita dan rencana kabur kita malah batal...". Ujar bu Sukma setuju. Ia juga khawatir jika Aisyah tiba - tiba jatuh pingsan, terlihat dari wajahnya yang sudah sangat pucat dan lemas.
Aisyah mengangguk setuju dan Titin bergegas meletakkan tubuh Aisyah di punggung nya dan mengangkatnya. "Tubuh non Aisyah kok ringan banget?". Batin Titin bingung. Ia mulai yakin jika selama ini hidup di keluarga nya sediri sudah menyiksa batinnya. Walau pun di limpahi harta tapi ia tidak punya waktu untuk menikmati hidupnya sendiri.
"Non tenang saja, jika itu bisa membuat non bahagia pasti tua Zack tidak akan keberatan dengan semua yang kita lakukan sekarang. Malah dia akan berterima senang jika non berusaha mengejar kebahagiaan non sendiri". Gumam Titin dengan suara kecil.
Aisyah mendengarnya tapi tidak bertenaga lagi untuk bertanya maksud Titin apa.
__ADS_1