
"Kamu mau ke mana, Rehan? Obati dulu luka di tangan mu itu!". Teriak bu Wahida mencegah anaknya pergi.
Rehan tidak mengindahkan panggilan ibunya, Ia terus melangkah keluar rumah mencari pelampiasan kekesalannya di luar, ia takut jika terus berada di rumah malah ibunya yang akan menanggung akibat kekesalannya.
Ia mengeluarkan kunci mobil dan mulai mengendari mobilnya ke arah yang belum ditentukan. Dalam mobil Rehan terus resah dan bingung harus kemana mencari ketenangan. Tiba - tiba ia teringat temannya yang bernama Malik, teman nya yang satu itu merupakan pemilik klup malam yang cukup terkenal, sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing - masing dan Rehan juga merupakan pria yang kurang suka mabuk - mabukan. Pria idaman memang tapi sayang mata keranjang.
Ia akan ke tempat Malik untuk menghilangkan sejenak beban pikirannya. Klup malam yang cukup tersembunyi dan tidak diketahui banyak orang, sampai di lokasi dari luar terlihat hanya seperti gang sempit biasa tidak ada yang dapat membuktikan jika di tempat itu terletak sebuah klup malam yang cukup besar dengan persediaan barang terlarang yang cukup banyak.
Rehan membuka pintu yang sedikit tinggi tapi sempat dengan perlahan, saat itu lah bunyi nyaring dari dalam dapat di dengar hingga memekakkan telinga bagi yang tidak biasa. Begitu juga dengan Rehan, ia langsung menutup telinganya mencoba beradaptasi perlahan dengan kenya ringan suara itu.
Ia di hampiri oleh dua orang bodyguard berbadan besar dengan wajah yang sangar.
"Sangkar burung Setan Merah". Ujar Rehan pada dua orang berbadan besar itu.
Mereka dengan sopan mundur dan tidak lagi akan mengganggu Rehan, perkataan yang di sebutkan oleh Rehan merupakan kode untuk pelanggan VVIP klup ini. Rehan terus melangkah ke meja bartender untuk memesan minuman keras.
"Lama tidak datang, bro? Masalah besar apa yang membawa kamu ke tempat ini?". Sapa bartender bernama Ijan.
"Jangan banyak bacot! Keluarkan aku sebotol minuman paling mahal di sini". Bentak Rehan.
"Santai bro! Kalau begitu gue sediakan dulu, sila nikmati musiknya". Balas Ijan mengalah. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Minuman sudah berada di depan Rehan, meskipun sedikit ragu ia tetap meneguk minuman yang sudah di tuang kan ke gelas hingga kandas dalam satu tegukan. Di sebabkan dia memang tidak terbiasa minum alkohol membuat Rehan akhirnya mabuk setelah beberapa gelas saja.
"Sendirian aja mas? Mau aku temani?". Sapa seorang perempuan seksi pada Rehan yang kini sudah menundukkan kepalanya ke meja bartender.
Rehan yang merasa terusik menepis tangan mulus wanita itu sebelumnya tubuhnya berhasil di sentuh.
"Tangan kamu berdarah, mas! Izinkan aku mengobatinya yah". Pinta wanita itu cemas
"Sana! Jangan ganggu aku! Nanti di lihat Aisyah, aku tidak mau di cemburu dan ninggalin aku". Tolak Rehan mulai ngelantur.
Wanita seksi itu tidak menyerah begitu saja dengan penolakan Rehan, ia terus berusaha memegang tangan Rehan untuk mengecek kondisi lukanya saat ini.
__ADS_1
"Tapi luka mu perlu di obati, mas!". Ujar wanita itu. "Lihat! Darahnya udah kering tanpa di bersihkan terlebih dahulu, takut infeksi pula lukanya". Sambungnya saat berhasil menggenggam tangan Rehan.
Di sebabkan geram dengan sikap kurang ajar wanita itu terhadapnya, Rehan bangkit dan menghempaskan tangan wanita itu dengan sangat kuat.
"Auucch!". Lirih wanita itu saat ia oleng dan terduduk di kursi bar di sekitarnya.
Saat melihat wajah wanita itu, Rehan tercengang dan merasa bersalah. "Aisyah! Maaf aku tidak sengaja". Seru Rehan menyesal.
Adegan itu di saksi kan oleh beberapa orang tapi mereka memilih diam dan menyaksikan saja tanya ada niat membantu wanita itu.
Wanita itu tercengang dengan sikap Rehan yang tiba - tiba berubah dan malah menganggapnya seseorang bernama Aisyah. Rehan kini berlutut di hadapannya memeriksa tangan yang sempat ia hempas kuat tadi.
"Maaf ya sayang! Mas pikir bukan kamu tadi jadi mas kabarin, kamu tahu kan cuma kamu wanita yang ada di hati mas dan mas tidak mau sampai membuat kamu cemburu hanya karena wanita murahan di luar sana...". Rehan terus saja berceloteh menganggap wanita itu adalah Aisyah.
Wanita seksi bernama Susan itu tidak protes, ia memilih diam dan membiarkan saja Rehan menganggapnya sebagai wanita lain.
"Ikut aku yok, mas! Kita obati dulu luka di tangan mu itu". Ajak Susan memegang bhai Rehan agar berdiri.
Tiada penolakan Rehan dengan patuh mengikuti langkah susah menaiki tangga. Wanita itu terus saja menggodanya dengan bertingkah sangat menggoda di hadapan Rehan. Tingkahnya itu membuat Rehan tidak sabar sampai ke kamar, ia ingin menyerang wanita di hadapannya dengan senjata yang sedari tadi sudah siap tempur.
Melihat kamar yang di maksud Rehan langsung mengangkat tubuh susan dengan brutal memasuki kamar itu, pintu di tutup menggunakan kaki dan langsung meletakkan tubuh Susan di atas kasur.
Rehan merangkak menaiki tubuh Susan, saat ingin mencumbui leher wanita itu ia tiba - tiba menolak tubu Rehan perlahan tapi kuat.
Rehan menatapnya bingung, "Sabar dulu ya sayang! Kita lebih baik bersihkan dulu luka kamu baru lepas itu kamu mandi, aku nggak suka mau kamu buat aku mual". Tolaknya menutup hidung.
"Sebentar saja sayang! Mas udah nggak tahan lihat senjata ku udah siap tempur begini masak di suruh tunggu". Rehan kembali mencoba mencium leher Susan.
"Ini cowok mabuk atau apa sih? Cara bicaranya terdengar baik - baik saja tapi ia malah matanya yang bermasalah, aneh!". Gumam Susan dalam hati.
"Nggak sayang! Aku nggak suka banget tahun nggak dengan bau alkohol gini kalau mau berhubungan. Kamu mandi dulu aja gih lepas tuh kita obati luka kamu". Tolak Susan mengelak.
Rehan pasrah dan mencoba menahan gejolak yang menyerang tubuhnya saat ini, tidak seberapa sih ia masih boleh bersabar sedikit lagi. Bangkit dari kasur dan memasuki kamar mandi yang tersedia di dalam kamar itu.
__ADS_1
Saat keluar, Susan sudah menyiapkan kotak obat untuk mengobati luka Rehan. "Kamu udah selesai mandi!". Tanyanya basa basi.
"Kamu lihat sediri kan, sayang. Aku sekarang sudah wangi dan fresh". Rehan mendekat da mencoba mencium bibir Susan. Tapi di halangi oleh wanita itu dengan cepat.
"Ups, obati dulu lukamu sayang baru kita berperang, aku jamin kamu pasti tidak akan berhenti dengan pelayanan yang akan ku berikan". Tolak Susan lembut. "Aku tidak mau tangan kamu infeksi, aku takut kamu sakit terua siapa yang akan sayang aku lepasin". Sambungnya menggoda.
Rehan kembali pasrah, ia menurut dan duduk di samping Susan dan melihat saja wanita itu mengolesi salep ke lukanya.
"Itu adalah tahan nyeri kamu minum yah supaya luka kamu cepat sembuh". Pinta Susan memberikan sebutir obat da segelas air.
Bagaimana hewan peliharaan, tanpa membantah Rehan meneguk obat itu dengan tatapan yang tidak lepas dari menatap wajah Susan yang dalam penglihatannya sekarang adalah Aisyah.
Beberapa saat sesudah meminum obat Rehan tiba - tiba rebah dan tertidur.
Susan bernafas lega, ia kemudian menghubungi seseorang untuk melapor keadaan dan meminta perintah selanjutnya.
"Dia sekarang sudah tertidur pulas bos! Obat tidur yang saya berikan sangat cepat bereaksi karena dia memang sudah mabuk dari tadi. Sekarang apa yang perlu saya lakukan padanya?". Tanya Susan.
"Baik, saya akan melakukannya". Jawabnya, panggilan langsung terputus setelah ia menyetujui perintah itu.
Susan kemudian mengangkat tubub Rehan agar baring dengan nyaman menggunakan bantal, ia kemudian melepas bajunya sendiri hingga tidak menyisakan sehelai benang pun di bahagian atas miliknya.
Susan kemudian ikut baring di samping Rehan dan memeluk pria itu dengan mesra.
Ceklik
Ceklik
Ceklik
Beberapa foto diambil dengan pose panas dirinya sedang memeluk Rehan dengan tidak mengenakan baju tapi dalam foto dua gunung milik nya tidak terekspos dengan jelas kok. (Tenang aja editor nggak sampai berhubungan badan kok, he he he).
__ADS_1
"Saatnya mengirim foto ini ke WA istrinya dan beres deh!". Gumam Susan sambil mengotak - atik ponsel milik nya.