Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 128 Sikap dan ucapan yang menguras emosi


__ADS_3

Aisyah kini berjalan menghampiri mereka tapi bukannya senang pihak Rehan malah kesel melihat penampilan Aisyah yang kayak baru bangun dari tidur dengan berpakaian tidur saja.


"Eh, kalian ngapain datang ke sini membawa banyak barang kayak gini untuk apa coba?". Aisyah sok tidak mengetahui niat Rehan datang bersama keluarga nya sedangkan ia sebenarnya sudah di beri tahu sebelumnya jika Rehan akan datang hari ini untuk memintanya kembali pada keluarganya.


"Kamu lupa kalau aku akan datang membawa keluargaku hari ini? Baru semalam aku mengirim pesan ke kamu dan kamu setuju dan akan menyiapkan penyambutan untuk kami, tapi nggak papa kok kami semua maklum kamu pasti sibuk sampai lupa, iya kan". Balas Rehan mencoba meredahkan perasaan kesalnya pada Aisyah.


"Oh baik lah tapi tunggu sebentar yah aku akan ke atas mengabari ibu dan ayah dulu untuk segera bersiap sekaligus membersihkan diri dulu dan bersiap juga. Nikmati dulu aja cemilannya, aku ke atas dulu...". Pamit Aisyah tanpa ada niat bertegur sapa dengan keluarga Rehan lebih dulu. Ia langsung saja melenggang pergi kembali menaiki tangga dan menghilang dari penglihatan semua orang.


"Lihat! Dia bahkan lupa jika kamu akan datang melamarnya hari ini padahal baru semalam kamu mengabari nya untuk apa lagi kita di sini kalau hanya ingi.....". Rafi kembali mengeluarkan kekesalannya tapi lagi - lagi bu Wahida tidak ingin terlihat bodoh dan tetap berusaha angkuh di depan keluarga besarnya.


"Apa kamu tuli Rafi! Aisyah tadi kan sudah bilang dia lupa mungkin karena sibuk mengurus perusahaan nya yang besar, kamu cukup duduk diam aja jangan banyak berkomentar! Aku yakin kamu dan kekuargamu tidak pernah makan cemilan mewah seperti itu, jadi nikmati aja dengan tenang kalau boleh habiskan supaya kalian puas nanti aku akan minta lagi pada calon besan ku". Potong bu Wahida dengan membentak dan merendahkan adik lelakinya yang miskin.


Rafi semakin hilang respect pada kakak kandungnya, ia sudah tidak sanggup mendengar hinaan dari bu Wahida hingga memilih pergi bersama keluarganya. Ia sampai rela meniggalkan teriakannya di kampung hanya untuk membantu kakaknya mempersiapkan lamaran tapi kehadiran mereka sama sekali tidak di hargai sedangkan mereka lah yang sudah menyumbang banyak tenaga untuk persiapan ini berbanding yang lain yang hanya numpang berleha - leha saja di rumah.

__ADS_1


"Dasar tidak tahu di untung! Sudah bagus aku ajak dia datang ke sini melihat rumah besar dan mewah milik calon besan, dia malah banyak berkomentar, heh dasar si Rafi bodoh!". Gerutu bu Wahida kesal pada adiknya.


"Udah lah mbak, biarkan aja mereka pergi dari sini toh mereka nggak melakukan apa pun kecuali iri dengan kehidupan kita yang nyatanya berbanding jauh dari hidupnya yang sangat miskin". Bujuk Suri mencari perhatian. Ia dari tadi hanya sibuk menghabiskan cemilan tanpa banyak mengambil pusing dengan sekitarnya.


"Lihat mbak! Setelah semua sudah mereka habisnya malah banyak berkomentar sedangkan kita sama sekali tidak kebagian menikmati hidangan yang di suguhkan tadi, lihat anak aku yang cantik itu tampak kelaparan tapi makanan malah udah habis aja". Suri malah menjadikan keluarga saudaranya kambing hitam sedangkan dia dan keluarganya lah yang sudah menghabiskan semuanya.


"Boleh tolong minta lagi nggak mbak sama calon besan, kalau boleh jangan sekedar cemilan yang lebih sedap lagi boleh lah kesihan tahu si Anya kalau kelaparan kayak gitu". Suri menunjuk anaknya yang bersaiz baju XXXL yang baru saja bersendawa sebagai kambing hitam dari permintaannya.


Bu Wahida hanya membuang nafas kasar, "keluarga si Rafi ni kan memang benalu banget tahu nggak! Tapi kalian sabar dulu yah, aku akan ke dapur untuk meminta mempersiapkan makanan untuk kita makan". Bu Wahida berlalu pergi dari hadapan mereka mencari dapur.


"Ini bagaimana kembali nya, jalannya banyak banget belok - belok nya dari tadi aku sampai pusing. Lebih baik aku cari orang yang bekerja di sini untuk mengantar aku kembali ke ruang tamu tadi. Kalau nanti Rehan tinggal di sini aku akan ikut dan meminta dia melukis dena rumah ini supaya aku tidak kesasar lagi seperti sekarang". Gumam bu Wahida masih bermimpi tinggal di rumah bak istana ini.


Sekitar satu jam bu Wahida terus melangkah mencari seseorang untuk meminta bantuan tapi sampai sekarang nihil, tiada siapapun yang bia temui di sini. Kaki juga sudah mulai pegal terus berjalan dan akhirnya bu Wahida memutuskan untuk beristirahat di kursi yang ia lihat, di hadapannya kini terpapar taman yang cukup luas dengan bunga hiasan yang cukup mahal turun menghiasi pemandangan.

__ADS_1


"Kenapa aku nggak keluar aja dari sini dan berjalan dari luar aja untuk mencari pintu masuk tadi dasar bodoh! Sekarang aku harus bagaimana kaki juga udah sakit mau jalan lagi lebih baik aku menunggu aja di sini sampai seseorang datang mencari, aku mau duduk sambil menikmati pemandangan indah ini...". Gumam bu Wahida mulai pasrah dengan keadaan nya.


Sedangkan Rehan di ruang tamu mulai resah menunggu, bukan menunggu ibunya yang kunjung datang dari dapur tapi ia resah karena Aisyah atau keluarganya yang lain sama sekali belum datang menemui mereka sedangkan total waktu mereka menunggu udah cukup lama. Pekerja juga sama sekali tidak ada seorang pun yang mempersilahkan mereka untuk makan sedangkan perut semua orang sudah mulai keroncongan kembali.


"Ini mbak Ida sebenarnya kemana sih? Kita udah lapar gini malah di tinggal tanpa ada makanan yang tersedia, atau jangan - jangan ibu kamu malah menghabiskan makanan itu sendiri tanpa ada niat berbagi dengan kita semua...". Cerca Suri sudah mulai bosan dan kembali di serang rasa lapar.


"Bibiku bisa diam tidak!". Bentak Rehan geram. Matanya melotot tajam ke arah sang bibik.


Suri berdengus kesal, bukannya man dapat solusi dari rasa laparnya ia malah mendapat bentakan dari Rehan.


Aisyah kembali menghampiri Rehan setelah sekian lama menghilang dari pandangan lelaki itu yang konon nya pergi bersiap terlebih dahulu tapi bukan bersiap untuk menyambut Rehan dan rombongannya malahan ia bersiap ingin pergi dan menghampiri Rehan hanya untuk berpamitan.


"Oh, kalian masih menunggu yah? Maaf banget soalnya hari ini semua orang dalam mansion ini sedang sibuk banget jadi tidak bisa menyambut kalian dan aku juga maaf banget harus segera pergi karena harus menemui seseorang untuk urusan bisnis keluarga. Bukan niat untuk mengabaikan yah tapi paham aja kami ini orang sibuk jadi kurang ada masa untuk hal sepe....". Aisyah segera menutup mulutnya sebelum berhasil menyelesaikan ucapannya meskipun sebenarnya ia sengaja membuat Rehan serta rombongannya geram dengan sikap dan ucapannya.

__ADS_1


Rehan hanya diam mengepalkan tangannya menahan geram pada Aisyah. Ingin meluapkan emosi tapi ia harus tetap sabar demi menggapai tujuannya meskipun sukar dan menguras emosi.


Setelah berpamitan pada Rehan seperti biasa Aisyah sama sekali tiada niat bertegur sapa dengan mantan keluarga, ia tidak ingin sok akrap dengan orang - orang yang selalu merendahkannya sama seperti mantap ibu mertuanya. Ia pun berlalu pergi memasuki mobil yang sudah di sedia menunggu di depan pintu.


__ADS_2