
Belum sempat Mega melanjutkan perkataannya, pintu di ketuk sebelum terbuka dan terlihat beberapa orang memasuki ruangan. Shela, Anjas serta anak mereka datang melihat keadaan Panji yang kembali drop dan di rawat di rumah sakit.
"Maaf baru datang menjenguk, soalnya saya baru tahu kabar kamu tadi pagi katanya kamu sudah di rawat beberapa hari, kenapa kalian tidak mengabari kami sih? Bahkan Cleo yang sering datang menjenguk anak angkat baru kalian pun tidak tahu". Cerca Shela memberi buah tangan berupa buah - buahnya segar pada Mega.
Mega menerimanya tapi tampak di wajahnya tidak ada senyum sama sekali, datar padahal sebelumnya mereka sangat akrap karena bersahabat dari dulu. Shela memaklumi, mungkin sahabatnya itu sedang lelah dan susah untuk membuka mulut untuk menyapa atau sekedar senyum.
"Nggak papa, kalian datang sekarang pun aku sudah senang, Saya dengar di perusahaan kamu sedang mengalami masalah pasti kalian tidak punya waktu untuk datang, lagi pula keadaan saya ini memang sering seperti ini". Balas Panji ramah, dia belum sempat tahu kenyataan sebenar tentang keluarga itu berbanding terbalik dengan Mega yang turun tangan sendiri mencari tahu jadi langsung berubah mimik mukanya menyambut keluarga itu.
Cleo memilih duduk di sofa setelah menyalami kedua orang tua Zack dengan sopan, ia tidak ingin ikut dalam obrolan dua pasangan dewasa itu dan memilih berbalas pesan dengan Lana untuk merencanakan sesuatu.
Tidak berselang lama pintu kembali di ketuk dan terlihat Zack memasuki ruangan dengan wajah datarnya. Cleo langsung bangkit dan bergelayut manja di lengan kekar milik Zack. Lelaki tampan itu tidak keberatan hanya jelingan tajam ia berikan pada wanita tak tahu malu yang sedang memeluk lengannya.
"Eh, nak Zack datang. Sini ngobrol dengan kami, kalian berdua ini semakin nempel aja, padahal pernikahan kalian terpaksa ditunda karena Daddy kalian sedang sakit". Ucap Anjas tersenyum melihat rona bahagia di wajah anaknya.
Zack menanggapi dengan senyum tipis, seperti biasa lelaki itu terlihat dingin jika berinteraksi dengan keluarga Anjasmara, terutama Cleo bahkan untuk sekedar menyapa duluan dan menyalami tidak pernah ia lakukan.
"Lepas kan tanganku! Ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian semua, sebuah kejutan spektakuler". Tegas Zack menatap tajam pada Cleo, wanita itu melepas perlahan lengan tunangannya dan memasang wajah cemberut.
"Apa yang ingin kamu tunjukkan pada kami Zack?". Tanya Anjas penasaran.
"Ini kejutan yang selama ini om tunggu - tunggu dari ku sebagai calon menantu om dan Tante. Tapi sebelumnya, Daddy harus menenangkan perasaan dulu sebelum melihat kejutan dari Zack.". Mendengar perkataan anaknya, Mega menggenggam erat tangan suami tercintanya karena sudah tahu kemana arah omongan Zack. Ia ingin mengatakan tadi tapi tidak sempat karena kedatangan mereka.
"Kamu katakan saja Zack, Daddy siap kok". Jawab Panji dengan yakin.
__ADS_1
"Iya kami semua jadi penasaran kejutan apa yang ingin kamu tunjukkan pada kami". Anjas tampak tidak sabar, memang ada sesuatu yang begitu ia ingin dari keluarga sahabatnya terutama dari Zack.
Zack mempersilahkan seseorang untuk segera masuk, semua yang ada di ruangan itu tampak bingung karena yang masuk adalah seorang lelaki berbadan kurus dan tertunduk. Wajahnya tidak terlibat karena menggunakan topi dan masker.
"Siapa dia Zack?". Shela tiba - tiba merasa cemas melihat penampilan lelaki kurus itu walaupun belum pasti melihat wajahnya. Tapi perasaan nya merasa nggak enak.
"Kalian pasti mengenalnya, coba ingat - ingat dulu dari penampilannya". Jawab Zack dingin, ia merasa geram tapi berusaha menahan dulu untuk melihat ekspresi mereka.
"Jangan bertele - tele Zack! Katakan saja intinya". Kesal Anjas, ia yang awalnya tampak antusias kini berubah kesal karena nyatanya bukan seperti yang ia inginkan.
"Oh, baik lah kalau begitu, perlihatkan wajah bapak". Pinta Zack pada lelaki kurus itu.
Dengan berat dan bergetar lelaki itu mendongak menatap kehadapan dengan perasaan takut, tapi apa daya ketenangan yang dia rasakan bersama sang istri di kampung beberapa tahun ini terpaksa di usik lagi dengan perbuatan kelam yang mereka lakukan. Topi di lepas secara perlahan kemudian maskernya memperlihatkan dengan jelas wajah keriput miliknya pada semua orang di ruangan ini.
Semua tercengang kecuali Mega dan Zack. Panji ingin menyapa mantan pekerjanya itu tapi di halang oleh istrinya dengan gelengan kepala, ia menurut dan menantikan saja apa yang ingin Zack sampaikan dengan tenang. Ia merasa lebih baik dan bisa mengatur perasaannya setelah bertemu Aisyah, darah dagingnya sendiri.
"Om dan Tante kenalkan? Dia ayah biologis aku". Jawab Zack. Lelaki yang ia tunjukkan tak lain adalah pak Santo.
"Se - selamat kamu akhirnya menemukan orang tua kandungmu". Anjas berusaha mengatur perasaan gugupnya. Sekarang dia bak di dalam ruangan mencekam, suasana yang awalnya biasa saja kini berubah menyeramkan dengan kedatangan pak Santo.
"Om kok seperti ketakutan melihat ayahku? Apa kalian saling kenal?". Tanya Zack lagi untuk memancing emosi.
"I - iya kami pasti kenal lah, bukankah dia dulu pernah bekerja di mansion kalian jadi kami pasti kenal, iya kan papi?". Shela ikut menanggapi, ia begitu ingin keluar dari ruangan ini, perasaan semakin tidak enak. Anjas mengangguk perlahan membenarkan ucapan sang istri. "Kalau begitu kami permisi dulu yah, kalian pasti perlu waktu untuk membincangkan sesuatu tentang hal ini". Sambung nya pamit.
__ADS_1
"Jangan pergi dulu Tante, om! Bukankah tadi aku mengatakan ini kejutan untuk kalian, bahka aku belum mengatakan sesuatu untuk itu". Balas Zack dengan wajah menyeramkan untuk pasangan itu
"Tapi kami ada urusan mendesak, lain kali lah yah kamu berikan kami kejutan". Cerca Shela lagi. Cleo bingung dengan tingkah papi dan mami nya, ia sangat ketinggalan informasi selama ini hanya fokus tentang Zack dan komplotannya di markas tidak pernah terpikir mencari tahu tentang kisah orang tuanya.
"Kalian berdua lebih baik jangan mengelak! Aku juga begitu penasaran ingin menanyakan banyak hal pada kalian berdua, tega kalian melakukan semua itu pada kami, selama ini dengan bodohnya aku dan mas Panji mempercayai segala drama yang kalian mainkan". Kini Mega tidak tahan untuk membuka mulut.
"Apa yang kamu katakan ini Mega? Kami tidak paham". Shela semakin tertekan dengan situasi ini.
"Kamu jangan sok lugu lagi di hadapanku Shela, kalian berdua sama - sama melakukan segala cara untuk menjatuhkan kami, membuat kami terpuruk dan akhirnya menghancurkan kami secara perlahan. Dengan lelaki itu kalian bersekongkol kan? Dia dan istrinya kalian bayar untuk melancarkan aksi kalian". Geram Mega sudah mulai tersudut emosi.
Panji yang berada di sampingnya berusaha mencerna setiap kata dari mereka, dia tidak ingin ikut tersulut emosi yang berdampak pada kesehatannya.
"Kamu jangan mengada - Ngada Mega! Kami memang mengenal lelaki ini tapi sekadar sebagai pekerja kamu tidak lebih dari itu". Elak Anjas.
"Om masih ingin mengelak dari mengatakan kejujuran pada kami! Bahkan sekarang sudah ada bukti jelas kami sediakan". Zack beralih pada Pak Santo. "Katakan sekarang!". Pinta Zack dengan datar tapi terdengar mencekam sehingga Anjas dan Shela semakin tak karuan di posisinya.
Anjas menatap tajam ke arah pak Santo dan tertangkap oleh lelaki kurus itu, ancaman demi ancaman kembali terngiang di telinganya. Jika dia berani membuka mulut maka semua nyawa keluarganya akan mati. Tapi ia harus mengatakan semuanya karena tidak lagi bisa menyembunyikan semua itu lantaran usianya yang semakin tua dan sering saja sakit - sakitan membuatnya takut mati membawa rahasia kelam ini. Lagi pula Zack sudah berjanji untuk melindungi keluarga mereka.
"Maaf pak Anjas saya tidak bisa lagi bersembunyi dan menyimpan rahasia ini". Kata Pak Santi membuat Anjas dan Shela geram dan ingin membekap mulut pak Santo.
"Kalian jangan berani - berani melangkah selangkah pun dari tempat kalian! Jika ingin nyawa kalian bertiga aman di tempatnya". Tegas Zack dengan sorat mata menakutkan. "Katakan sekarang pak!". Pintanya lagi pada Pak Santo.
"Sebenarnya Zack adalah anak saya dan Yanti yang kami buang di panti asuhan semenjak dia lahir, kami tidak bisa membiayai Zack karena kondisi ekonomi kami saat itu sangat tidak memungkinkan. Sehingga kami berhasil bekerja di rumah pak Panji melalui agen resmi. Suatu hari Kami tanpa sengaja melihat pak Anjas sengaja melakukan sabotase pada mobil pak Panji beberapa hari setelah Bu Mega melahirkan di parkiran rumah sakit, pak Anjas melihat saya sedang memergokinya, dia mengancam saya agar tutup mulut dan memberi sogokan berupa uang banyak, saya setuju karena saya sangat membutuhkan uang dan tidak peduli jika mendapatkannya ezwwzl dengan cara keji sekalipun". Pak Santo tertunduk merasa bersalah. Tapi dengan cepat melanjutkan ucapannya karena mendengar deheman dari Zack.
__ADS_1
"Saya tidak tahu jika dari kejadian itu anak pak Panji sengaja di culik dan malah di berikan pada saya dan istri untuk di bunuh karena mereka tahu kami begitu membutuhkan uang. Kami setuju dan mengambil anak itu, awalnya kami memang ingin membunuhnya dan membuang mayat bayi itu ke sungai, tapi saya tiba - tiba berubah pikiran karena kasihan, saya dan Yanti bertengkar hebat hingga akhirnya memutuskan membuang bayi itu di panti asuhan sama seperti yang kami lakukan pada anak kami sendiri, beberapa bulan kemudian, karena takut jika anak itu terdeteksi oleh pak Panji, kami mendatangi panti asuhan itu untuk bekerja sama dengan pemilik yayasan agar tidak membenarkan anak itu di adopsi orang lain bahkan jangan menunjukkan pada siapa pun wajahnya dengan imbalan saya akan sering datang memberi dana untuk mereka hidup".
"Jadi maksud bapak ummi juga ikut andil dalam hal ini?". Tiba - tiba terdengar suara lirih dari arah pintu.