Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 101 Beri aku waktu


__ADS_3

Aisyah terus berperang melawan hati dan pikiran yang saling berlawanan, jujur melihat Rehan dan mendengar penjelasan dari mulut mantan suaminya itu tentang kejadian sebenar yang mengakibatkan hubungan mereka regang hingga berakhir ke perceraian.


Jika benar yang di katakan Rehan, maka dia juga sebenarnya korban yang di lakukan bukan berdasarkan keinginan melainkan pengaruh dari pelet yang di berikan oleh Desi.


"Beri aku waktu untuk memikirkan nya". Pinta Aisyah.


"Baik, aku tidak akan memaksakan kehendak terhadapmu, beri keputusan dari hatimu nggak perlu terburu - buru. Aku akan setia menunggu keputusan dari mu. Tapi satu yang lupa ku sampaikan dan aku harap berita ini berpengaruh baik dalam keputusan kamu nanti". Imbuh Rehan pasrah.


"Apa itu?". Tanya Aisyah penasaran.


"Anak yang di kandung Desi bukan anak ku, dia ternyata hamil dengan selingkuhan nya. Aku pernah memergoki mereka pergi cek kandungan bersama terlihat sangat mesra dari situ aku yakin jika anak yang dia kandung bukan anakku dan saat itu juga aku menceraikan nya. Kamu tidak perlu memikirkan nasib anak itu untuk memberatkan pertimbangan kamu, kamu percaya sama aku kan?". Jelas Rehan.


Pria itu semakin pandai memainkan aktingnya dengan baik sampai tida tampak sedikit pun kebohongan di dalamnya. Mantan istri yang pikirnya sangqt cerdas kini berhasil masuk ke dalam jebakannya tipu daya nya. Walaupun wajahnya tampak sedih dan memelas memohon pada Aisyah, tapi dalam hatinya berteriak gembira melihat Aisyah tampak seperti wanita bodoh di hadapannya.


Aisyah mengangguk perlahan tanpa senyuman tapi dari wajahnya tidak sedingin sebelumnya membuat Rehan yakin dia sudah masuk dalam perangkap.


"Beri aku waktu untuk memberi keputusan". Ucap Aisyah lagi.


Rehan tersenyum dia tidak akan berbicara panjang lebar lagi, ia yakin Aisyah percaya dengan ucapannya dan akan menerima permintaanya untuk rujuk, jika ia makin banyak ngomong yang ada Aisyah akan ilfeel dan berpikir beberapa kali untuk menerima.


"Baik, mas harap lepas ini kita bisa saling ngobrol lagi seperti dulu". Harap Rehan.


"Kalau begitu aku pergi dulu". Aisyah berdiri dari duduknya dan berpamitan.


Rehan pun berdiri karena sejak tadi berlutut mengakibatkan lututnya sedikit nyeri bersentuhan dengan turbin. "Silahkan! Mas akan hantar kamu sampai mobil".


Rehan bergegas membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Aisyah keluar. Di luar Alena dan para ajudannya masih setia menunggu dengan wajah cemas, siapa yang tidak cemas jika atasan nya yang masih labil menurut mereka berada satu ruangan dengan mantan suami berdua.


Aisyah kembali dengan wajah dingin CEO khas miliknya. Tanpa sepatah katapun Aisyah terus berjalan dan di ikuti oleh Rehan, Alena dan para ajudannya. Para bawahan Rehan yang tadi turut menyambut kedatangan mereka juga berjalan di posisi yang seharusnya.

__ADS_1


*


Di dalam mobil menuju restoran, Aisyah menceritakan semuanya yang di sampaikan Rehan padanya, Alena yang mendengar tampak syok dan menjadi semakin cemas. Di antara mereka memang nggak ada yang di rahasiakan antara satu sama lain.


Meskipun Aisyah adalah atasan dan Alena bawahannya tidak memberi mereka dinding pembatas untuk jadi sahabat. Aisyah sudah menganggap Alena saudaranya sendiri jadi tidak segan sama sekali bercerita semua hal padanya.


"Terus keputusan kamu sekarang apa? Jangan bilang kamu akan ru....". Alena mencoba memastikan apa yang iya pikirnya pada Aisyah.


Tapi sayangnya sebelum ucapannya selesai tangan Aisyah kini berhasil mendarat menutup mulutnya.


"Ushh, kita bicarakan lain waktu yah. Ini akan menjadi rahasia kita berdua saja sekarang bukan waktu yang tepat". Cegah Aisyah.


Alena mengangguk paham, meskipun masih penasaran tapi ia memilih diam dan tidak banyak tanya lagi. Ia paham Aisyah bukan wanita yang mudah di pengaruhi, untuk keputusan yang akan di ambil hanya Aisyah dan tuhan yang tahu untuk saat ini. Ia hanya pasrah menunggu Aisyah jujur padanya, ia hanya perlu melindungi Aisyah dari dekat tanpa memaksa kan kehendak meskipun mereka bersahabat.


Aisyah menatap suasana kota yang mulai ramai karena manusia ingin mencari tempat mengisi perut mereka dari jendela. Sangat ingin mengutarakan apa yang ia pikirkan pada Alena tapi untuk saat ini belum tepat karena ada orang lain dalam mobil ini bersama mereka dan ia belum sepenuhnya yakin jika mereka bisa menutup rahasia.


*


"Amboi, berseri nya muka kamu, mas. Ada berita yang menggembirakan yang ingin kamu ceritakan sama istri cantik mu ini?". Selidik Desi penasaran.


Rehan baru saja pulang dengan wajah gembira dan di sambut oleh Desi dengan rasa penasaran dengan wajahnya yang begitu ceria.


"Mas mandi dulu yah,...sudah makan baru kita ngobrol". Pamit Rehan melangkah meninggalkan Desi yang sudah mengambil tas kerja miliknya.


"Sayang tunggu di meja makan yah! Jangan lama - lama bersih - bersihnya, penasaran tauk!". Teriak Desi.


"Baik sayang". Jawab Rehan yang juga berteriak tak kalah nyaring dari sang istri.


Desi dengan menata semua hidangan yang sudah di masak oleh mertuanya dengan cepat. Otaknya tidak habis memikirkan apa yang membuat suaminya begitu gembira saat pulang kerja, biasanya wajahnya tampak murung dan terkesan cuek padanya, Tapi hari ini berbeda.

__ADS_1


Semalam Rehan sempat mengatakan jika hari ini Aisyah akan datang ke kantornya untuk pertama kali, ia berencana menjalankan misi mereka hari ini juga, semoga tidak mengecewakan.


Selesai mandi Rehan menuju ruang makan, meja sudah tertata rapi dengan hidangan lezat. Desi melayani suaminya dengan baik, mengambilkan semua jenis hidangan yang di minta oleh suaminya.


Selesai makan, Rehan lebih dulu masuk ke dalam kamar meninggalkan Desi membersihan meja makan terlebih dahulu.


Desi sudah selesai dengan cepat karena rasa penasaran yang menyerang dirinya memberikan kekuatan super hingga bisa menyelesaikan kerja lebih cepat dari biasanya.


Dengan menteng nampan berisi minuman hangat untuk dirinya dan sang suami, Desi menuju kamarnya dan alangkah terkejutnya dia melihat apa yang suaminya lakukan di dalam kamar.


Prannnnggg


Nampan yang berada dalam genggamannya secara tidak sengaja jatuh ke lantai menyebabkan kaca bening berserakan di lantai bersama minuman yang tadi nya akan mereka nikmati bersama.


"Kamu kenapa sayang? Kok minuman jatuh gini". Rehan tampak khawatir pada istrinya. Dengan berhati - hati Rehan menghampiri Desi dan mencoba menenangkannya.


"Jangan pegang aku!". Bentak Desi mengelak dari di sentuh oleh suaminya.


"Kamu kenapa, sayang?". Bingung Rehan.


"Apa kurangnya aku sebagai istri kamu mas? Memang aku tidak memasak untukmu dan sama sekali tidak pernah membersihkan rumah hanya mengandalkan ART, tapi Aku melayani semua keperluan kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki, baju yang kamu gunakan ku sediakan setiap hari, aku melayani dan menemani mu makan tapi tega kamu sama aku, mas! Apa salahku? Hiks...". Desi mulai meneteskan air mata.


"Apa maksud kamu sayang, mas nggak ngerti?". Rehan belum juga paham dengan kesedihan istrinya yang tiba - tiba.


Desi menunjuk koper yang berada di atas kasur dengan tangan bergetar. "Kamu mau usir aku dari sini, mas? Jahat kamu!". Lirih Desi.


Rehan menepuk jidatnya. "Ohh itu, Sini duduk dulu, kamu salah paham aja tau nggak. Mas cerita dari awal yah, tapi kamu jangan sedih lagi kasihan anak kita dalam perut kamu itu".


Desi menurut dan mengikuti langkah Rehan duduk di atas kasur. "Hati - hati". Seru Rehan padanya.

__ADS_1


__ADS_2