Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 111 canggung


__ADS_3

Rehan terus berperang dengan pikirannya hingga pinti kamar terbuka mengagetkannya.


"Kamu sudah bangun, Han". Sapa nya.


"Malik! Dari mana kamu tahu aku ada di sini?". Tanya Rehan.


"Aku nggak di ajak masuk nih?". Goda Malik.


"Masuk aja, bro. Tempat ini kan punya kamu, jangan sok merendah di depanku deh!". Ujar Rehan..


"He he he, jangam emosi bro! Udah lama nggak ketemu ada masalah apa yang membawa kamu nginao di tempat gelap ini? Jangan bilang kamu bangkrut lagi kayak waktu terakhir kamu datang beberapa tahun lalu". Tebak Malik.


Rehan melirik tajam ke arah teman nya, yang di ucapkan memang benar lebih tepatnya sebentar lagi akan kembali bangkrut jika ia tidak berhasil menjelaskan masalahnya pada Desi. Ia masih keliru dengan yang terjadi saat ini yang membuat istrinya marah dan mengirim pesan mengancam seperti tadi.


"Jangan bilang yang aku katakan tadi memang benar!". Tegas Malik tidak percaya.


"Nggak la bro! Kalau gue bangkrut yang ada gue ke kolong jembatan sekarang bukan ke sini hamburkan uang. Gue masih kaya kok tenang aja, bahkan setiap hari datang gue juga sanggup tapi lo tau sendiri gue nggak terlalu suka tempat kayak ginian". Imbuh Rehan.


"Terus kenapa tiba - tiba lo datang? Lagi berantem dengan istri baru kamu? Eh, dengar - dengar kamu udah cerai dengan Aisyah yah dam sekarang dia malah jadi pewaris tunggal kekayaan pemilik perusahaan tempat kamu bekerja, atau jangan - jangan karena lo nyesal yah sudah menceraikan Aisyah maka nya lo datang ke sini". Tebak Malik semakin tepat sasaran.


Rehan terdiam sejenak, dia yakin cerita tentang hubungannya dengan Aisyah pasti sudah tersebar luas di luar sana hingga Malik yang sebenarnya orang yang super sibuk saja bisa tahu mengenai hal ini.


"Eh, bro lo tahu nggak siapa perempuan yang nemenin gue semalam?". Tanya Rehan mengalihkan pembicaraan.


"Hah, maksud lo, lo nggak tau siapa perempuan yang semalam nemenin lo? Gue pikir dia itu pacar kamu loh semalam saking romantisnya saling membujuk antara satu sama lain...". Jawab Malik blak - blakan.


"Lo tau nggak dia siapa? Jangan ngeledek aja kau dari tadi!". Kesal Rehan.


"Ya iya maaf bro! Soalnya kita baru ketemu lagi karena kesibukan masing - masing. Kalau cewek semalam gue nggak kenal, kamar ini pun di pesan atas nama kamu, katanya dia itu pacar kamu jadi dengan senang hati gue bagi dia diskon biaya kamar. Eh ternyata kamu enggal kenal yah". Sahut Malik.

__ADS_1


"Boleh lihat CCTV kamu nggak, aku mau lihat muka nya seperti apa siapa tahu aku kenal cuma semalam aku mabuk jadi salah mengenali orang". Pinta Rehan.


"Sori bro bukan nya gue nggak mau kasih lihat lo CCTV dalam klup gue, tapi kebetulan CCTV di sini rusak nggak semua juga sih tapi ini juga merupakan privasi banget jadi susah sedikit, he he he". Imbuh Malik.


Melihat sikap temanya yang senyum - senyum begitu ia talu kemana arah ucapannya, tak lain mengarah ke uang, uang dan uang.


"Berapa lo minta?". Tanya Rehan sombong.


"Nggak banyak kok, Han. Kamu tahu kan aku ini udah banyak uang tak perlu memeras kamu dulu baru mendapatkan nya". Balas Malik segan.


"Banyak bacot loh, kalau udah punya uang banyak nggak perlu manfaatkan permintaan gue ini jika tidak menguntungkan menurut lo, tinggal lo kasi lihat aja. Sama teman bekira banget jadi orang". Kata Rehan..


"He he he, kamu tahu sendiri nggak ada yang gratis di muka bumi ini". Goda malik.


"100 juta cukup?". Tanya Rehan.


"Katanya orang kaya, lo atau gue nih yang bekira sama teman?". Jawab Malik.


Tapi mau di apa lagi, uang yanh ada dalam rekening nya hanya tinggak sedikit karena yang lainnya sudah ia berikan pada Desi sesuai perjanjian di antara mereka.


"Ok deh, memandangkan lo tema gue, lo dapat diskom deh". Akhirnya Malik mengalah dan menerima nominal sedikit itu dari Rehan, lagi pula hanya CCTV aja kok nggak susah banget juga.


Setelah menerima transferan uang dari Rehan melalui mobile banking, Malik mengahak Regan ke ruang CCTV untuk melihat wajah wanita yang menemani Rehan semalam. Tapi nihil CCTV yang bagus sama sekali tidak merekam wajah wanita itu, sedangkan CCTV yang terletak di sekitar meja bartender dan sepanjang jalan menuju kamar juga kebetulan rusak.


"Bagaimana bro? Masih mau memastikan lebih lama lagi? Atau kita tanya pekerja ku saja, siapa tahu mereka mengenali wanita itu?". Saran Malik pada Rehan.


Sudah hampir dua jam mereka berada dalm ruangan itu mengecek rekaman yang terjadi semalam berkaitan wanita misterius itu di batu oleh petugas tapi tetap tidak mendapat petunjuk sama sekali.


"Ok, nanti malam gue datang ke sini lagi. Aku yakin bartender itu tahu bagaimana ciri - wanita itu". Rehan setuju dan mereka pun keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Tapi maaf ya bro gue nggak bisa nemanin loh, tahu aja kan gue sibuk banget akhir - akhir ini ngurusin usaha baru gue". Jelas Malik.


"Nggak papa kok, thank's ya udah nolong gue". Ujar Rehan.


"Sama - sama bro, lagi pula gue untung banyak sedangkan lo rugi udah bayar gue tapi sama sekali tidak dapat petunjuk sama sekali". Sahut Malik.


"Nggak papa kok, dari awal kan memang lo udah beritahu cuma gue aja yang ngeyel mau libat CCTV, ya udahhm gue pamit pulang dulu yah, ibu gue pasti khawatir bangey dengan keadaan aku sekarang". Pamit Rehan meninggalkan Malik.


"Sori bro gue terpaksa lakuin ini demi keselamatam clup gue". Gumam Malik dalam hati.


*


*


Di tempat lain, Aisyah sedang makan siang bersama Zack dan Alena. Suasana hening hanya suara sudu yang beradu dengan piring yang terdengar di antara mereka.


Mereka baru saja mendapat gertakan oleh Panji karena ketahuan menyembunyikan sesuatu dari pria paruh baya itu. Bukan rasa bersalah yanh menyelimuti mereka saat ini tapi lebih tepatnya malu karena Panji melihat adegan mesra antara anak kandung dan anak angkatnya. Mereka berdua bingung apa yang sekarang ayah mereka pikirkan tentang mereka berdua.


Zack melirik Aisyah dan kebetulan wanita itu juga sedang menatapnya. Tiba - tiba mereka menjadi canggung seperti ini. Alena yang melihat tingkah mereka hanya bisa menggeleng kan kepala, ia sudah menolak untuk ikut makan siang bersama mereka tapi karena di paksa oleh sahabatnya yang juga merupakan atasan ia tidak bisa menolak lagi dan terpaksa menyaksikan adegan di hadapannya saat ini.


"Aku udah selesai, aku pamit dulu yah ini udah hampir jam masuk kerja nih. Kalian nikmati aja makanan nya, lihat tuh masih nggak tersentuh sama sekali dari tadi. Jangan khawatir tiada yang akan marah kok, kalian kan pemilik perusahaan, he he he". Pamit Alena meninggalakan Aisyah dam Zack berdua di dalam ruangan VIP restoran.


Ia sengaja berlari mengelak dari di sentuh oleh Aisyah karena ia tahu sahabatnya itu pasti tidak ingin di tinggal berdua saja dengan Zack di tempat ini.


Setelah Alena pergi, suasana kembali hening. Zack menatap Aisyah yang saat ini berusaha melawan tatapannya.


"Aku mau ngomong sesuatu".


"Aku mau ngomong sesuatu".

__ADS_1


Ujar Zack dan Aisyah barengan.


__ADS_2