
Rehan sudah selesai menyantap habis hidangan yang di masak Alena spesial untuk nya. Meskipun suasana di tempat yang kurang tepat alias ruangan yang kurang kemas dan bersih menurut Rehan, tapi mematangkan Alena, wanita idamannya yang memasak ia abaikan semua yang ia tidak suka demi menjaga perasaan wanita nya.
"Aku pamit pulang dulu yah, terima kasih sudah sudi masak untuk aku hari ini. Lain kali rajin - rajin aja masakan untuk aku. Aku pasti akan semakin sayang sama kamu, soalnya kamu masak enak banget dan tiada dua nya di dunia ini...". Puji Rehan menggoda Alena.
Alena hanya memaksakan bibirnya untuk tersenyum dengan ucapan Rehan. Menurutnya Rehan sangat lebai dan bucin terhadapnya. Ia juga bingung kenapa Rehan bisa bersikap seperti itu pada nya, padahal ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu, kecuali benci dan jijik.
"Kamu mau ke mana, mas?". Tanya Alena saat Rehan melangkah memasuki dapur.
"Aku mau keluar lewat pintu dapur aja, aku tidak mau ketemu dengan orang yang mengenaliku kalau lewat pintu depan, nanti jadi kacau seperti tadi pula. Aku malas meladeni mereka yang sering mengusik hidup ku...". Jelas Rehan.
"Udah jam 3 sore, biasa nya pelanggan udah kurang beranding tadi. Dan biasanya yang memesan pada jam segini hanya orang - orang dekat sini aja, atau pesan melalui online. Lagi pula kalau mas lewat melalui pintu dapur takut mas jijik lagi dan malah memuntahkan semua makanan yang sudah susah paya aku masak, kan sayang....mas lewat depan aja...". Tawar Alena.
Rehan berpikir sejenak, "Benar yang di katakan oleh Alena. Lagi pula mustahil mereka masih ada di sini sedangkan aku udah di sini selama sejam lebih. Alena pasti kecewa jika makanan yang aku makan tadi malah keluar dengan percuma akibat aku jijik melihat keadaan dapur yang masih berantakan kayak tadi...". Batin Rehan berpikir.
"Baik lah, aku lewat depan aja tapi kamu pastikan dulu jika di depan sudah aman yah. Aku tidak mau ambil resiko". Rehan setuju tapi dengan syarat.
"Ini laki pengecut banget, perempuan kayak Zahira aja nggak mau dia hadapi. Tapi berani pula ingin membunuh Aisyah dan keluarganya yang sudah tahu penuh dengan perlindungan yang ketat. Vario mati!". Gumam Alena menatap Rehan malas.
"Mas tunggu di sini yah, aku keluar dulu u untuk memastikan nya". Imbuh Alena setuju dengan permintaan Rehan.
__ADS_1
Ia pun melangkah keluar meninggal kan Rehan sendiri. Meskipun terlibat tenang tapi sebenarnya hatinya terus saja merapatkan kekesalan tentang takdirnya yang harus terjerat oleh pria seperti Rehan.
Beberapa saat kemudian, Alena kembali. "Di luar udah nggak ramai, yang ada pun aku yakin mereka tidak mengenali mas Rehan. Pakai masker ini untuk lebih aman". Alena menyodorkan masker berwarna pink pada Rehan..
"Nggak ada warna lain?". Tanya Rehan keberatan menggunakan masker yang di sediakan oleh Alena.
"Nggak ada, cuma ada satu. Ayah mungkin lupa ambil stok masker untuk pekerja nya. Kalau mas nggak suka warna ini lebih baik nggak udah aku aku ga mau tidur tidur dulu pakai masker aja. Lagi pula di luar udah nggak ada siapa - siapa kok". Saran Alena.
Rehan nurut dan menggandeng tangan Alena menyusuri ruangan menuju pintu keluar. Ibu dan ayah Alena hanya bisa menghela nafas tanpa bisa berbuat apa - apa pada anak gadis yang telah besar kan itu. Bibir di paksakan untuk terlibat bahagia melihat kemesraan yang sengaja Rehan pamerkan di hadapan mereka.
Sesampai di depan pintu tiba - tiba mereka bertabrakan dengan sepasang kekasih yang tak kalah lengket seperti mereka saat ini.
Rehan juga kaget karena baru kali pertama melihat mantan istri nya setelah beberapa bulan terakhir. Penampilan Aisyah semakin mempesona di mata nya tapi sayang sekali wanita itu sangat sulit ia gapai hingga pada akhirnya wanita itu menjadi penghalang dalam kebahagian nya. Bukan itu saja, perhatian nya juga tertuju pada pria yang sedang menggandeng mesra tangan Aisyah.
"Kamu apa kabar?". Sapa Aisyah pada Alena dengan ketus. Tangan Aisyah saat ini terpaut manja di lengan Syakir.
"A aku baik, kamu?". Tiba - tiba perasaan Alena jadi nggak enak. Sahabatnya kini berada di hadapannya, ia begitu ingin memeluk sahabatnya itu semenjak tahu jika Aisyah sudah berhasil di temukan dalam keadaan baik - baik saja. Tapi keadaan sekarang berbeda. Ia akan menikah dengan pria yang menjadi musuh bebuyutan Aisyah yaitu Rehan.
"Apa kita nggak di ajak masuk nih. Maaf yah, soalnya aku tidak suka jika ngobrolnya dalam keadaan berdiri seperti ini, apa lagi pacar aku nanti pasti akan capek. Iya kan sayang". Syakir beralih menata Aisyah lembut meminta persetujuan.
__ADS_1
Tatapan Syakir itu kembali membuat Aisyah terpana. "Kenapa setiap Syakir menyentuh dan menatapku, perasaan ku jadi aneh, sama ketika Zack melakuka hal itu pada ku?". Gumam Aisyah membatin. Ia dengan cepat mengalihkan pandangan ke tempat yang lain untuk menetralkan kembali perasaan nya.
"Oh, ma maaf, silakan masuk. Saya akan mengantar mas Rehan dulu ke depan. Silakan duduk di meja yang kalian suka, saya akan segera nyamperin kalian". Imbuh Alena berusaha menarik tangan Rehan untuk keluar.
"Nggak perlu sayang, saya akan menemani kamu ngobrol dengan mereka. Aku takut kamu malah merasa menjadi seorang jomblo padahal status kita udah tunangan. Sedangkan .mereka cuma baru pacaran tapi nempel nya udah kayak sepasang suami istri...". Sindir Rehan.
Aisyah dan Syakir saling menatap dengan sikap Rehan yang udah mengalahkan sikap ibu - ibu julit.
Alena bingung mau mengajak Rehan dengan sikap nya yang seperti ini atau mengusirnya saja dari pada terjadi keributan saat di dalam dan duduk bersama. "Tapi mustahil meminta Rehan pergi, ia jenis pria yang keras kepala dan tidak akan bisa di ubah keinginan nya. Jika ia sudah bilang A maka harus A. Lagi pula aku sendiri juga tidak bisa sendiri meladeni mereka. Aisyah pasti ingin mengintrogasi ku. Aisyah tidak boleh tahu dengan rencana ku, aku tidak mau membebani pikirannya tentang masalahku ini, sedangkan aku tahu ia juga sedang di timpa masalah yang jaub lebih serius...". Batin Alena berpikir.
"Ya udah, nanti aja mas pulang kalau gitu. . .ayo kita masuk dan duduk bersama mereka". Alena melangkah kan kakinya mengikuti arah Aisyah dan pacarnya ingin duduk.
Rehan senang karena Alena sama sekali tidak keberatan mengajaknya ngobrol bersama dengan Aisyah. Ia sebenarnya takut membiarkan Alena ngobrol sendiri dengan Aisyah karena ia khawatir Alena membongkar rencana busuk nya pada Aisyah.
Kini mereka saling berhadapan. Setajam tatapan Rehan pada Syakir lebih tajam lagi tatapan Syakir padanya sehingga membuat nyalinya cuit dan memilih mengalihkan tatapannya pada mantan istrinya. Kekaguman pada sosok Aisyah sesekali hadir tapi ketika ia mengingat kembali jika wanita itu merupakan ancaman terbesar dalam hidupnya ia berubah geram.
Syakir yang mengetahui maksud dari tatapan Rehan dengan cepat merangkul manja pinggang Aisyah agar nempel padanya. Aisyah seketika syok dengan sikap berani Syakir. Ia tidak menyangka jika pengawalnya itu begitu tidak tahu malu. "Kamu kenapa malah memelukku seperti ini? Lepaskan!". Bisik Aisyah dengan irama yang manja sehingga tidak di curigai.
"Kamu tidak lihat tatapan pria di sekitar kita menatap kamu seperti apa?. Aku tidak mau wanita ku di nikmati begitu bebas nya oleh mata orang lain. Cukup aku saja yang bisa menikmati kecantikan wajah mu". Jawab Syakir dengan suara tinggi sengaja menyindir Rehan yang sedari tadi menatap Aisyah dengan ekspresi yang berubah - ubah.
__ADS_1