
"Apa kamu pikir harta bisa membuat mental ku kembali sehat mas! Perlakukan mu selama ini sangat kasar mas, aku sampai trauma jika dekat - dekat dengan kamu apa lagi jika semobil yang di pandu kamu aku takut mas. Bayangan waktu kamu membawaku deng kecepatan tinggi terus terngiang di pikiranku hingga membuat aku gemetar! Apa kamu bisa mengubahku kembali berani seperti dulu? Nggak kan!". Desi mengeluarkan semua unek - uneknya pada Rehan.
Rehan tercengang, tidak terpikir olehnya jika perbuatannya dulu bisa membuat Desi trauma hingga mendorong wanita itu untuk membalas dendam.
"Aku minta maaf sayang! Mas pikir kamu baik - baik saja karena selama ini kamu juga masih sering merayu cuma aku yang menolak karena kesal sama sikap kamu, sekarang mas tahu sebabnya. Mas minta maaf yah". Lirih Rehan menghampiri Desi untuk memeluk agar kembali tenang.
Tapi Desi menghindar, mundur beberapa langkah.
"Aku berusaha melawan traumaku, mas! Tapi kamu tidak pernah menghargai ku, cuek bahkan menatapku jijik. Aku boleh saja mengusir mu dari rumah ini, tapi karena masih sayang sama kamu makanya aku bertahan". Lirih Desi mulai mengeluarkan butiran bening dari matanya.
"Maaf kan mas, sayang! Mas stres di kantor pulang kerja lihat kamu memperlakukan ibu seperti pembantu, menyuruhnya mengerjakan semua tugas rumah, membuat ku kesal dan geram sama kamu. Jujur, rasa sayang mas utuh seperti dulu, tapi jika banyak masalah yah begitu lah, melampiaskan pada siapa saja tanpa mengenal orang bahkan kamu jadi tempat pelampiasan karena cuma kamu yang sering setia disamping ku setiap waktu...".
"Mas janji untuk mengawal emosi jika dekat dengan mu, berusaha membuatmu berani dan kembali normal seperti dulu, kita berusaha bersama - sama ya sayang!". Bujuk Rehan kembali mendekati Desi dan berhasil istrinya itu sudah berada di pelukannya.
Desi menangis sesungukan di pelukam sang suami, hati nya kembali luluh hanya dengan bujuk rayu Rehan tapi tidak semudah itu menghilangkan trauma yang ia rasakan.
"Mulai sekarang kamu jangan banyak pikiran dan sedih lagi, kasihan bayi kita...". Ucap Rehan saat melihat Desi sudah lebih tenang, ia kemudian berlutut mensejajarkan wajahnya dengan perut istrinya. "Anak ayah di dalam jangan nakal - nakal yah! Minta apa saja yang kamu mau dan ayah akan mengabulkannya, asal janji sama ayah untuk selalu membuat ibu merasakan bahagia, ok". Seru Rehan mengajak bicara anaknya.
Desi tersentuh ini kali pertama Rehan menyentuh perutnya dan mengajak bicara anak mereka, "mudah - mudahan kamu benar - benar berubah mas". Batin Desi turut mengukir senyuman di wajahnya.
"Kamu ada mau makan sesuatu nggak?". Tanya Rehan pada Desi yang membuat wanita itu tercengang.
Desi menggeleng perlahan.
"Kalau nggak ada, kita ke kamar aja yuk! Kamu pasti lelah". Ajak Rehan menuntun istrinya masuk ke peraduan mereka.
*
__ADS_1
*
Di dalam kamar, bu Wahida tidak bisa memejamkan matanya padahal tubuhnya sudah cukup lelah seharian berkutik dengan berbagai pekerjaan rumah yang sangat menguras tenaga. Tatapannya kosong menghadap jendela kamarnya.
Begitu banyak yang mengusik pikiran pikirannya, jika dulu ia merupakan manusia yang gampang tidur karena selalu merasa senang, tidak dengan dirinya saat ini. Hidup yang ia jalani berbanding terbalik dengan hidupnya dulu.
Jika dulu aktivitas hariannya adalah berkumpul dengan rekan sosialita nya, mengghibah dan mencibir kehidupan tetangga lain yang lebih miskin, membangga - banggakan Desi di hadapan rekannya, memamerkan barang branded baru yang ia beli sehingga sering merendahkan orang lain. Kini ia tiada muka jika bertemu dengan rekan - rekannya apalagi dengan mereka yang sering ia cibir dan hina dulu.
Jangan kan memakai barang branded baru, baju dan semua tas miliknya kini sudah habis untuk membeli obat dan keperluan harian untuknya. Tinggal baju lusuh yang tidak laku terjual dan hanya itu yang melekat di tubuhnya sekarang. Ia betul - betul minder keluar rumah dengan penampilannya, keluar rumah hanya saat bekerja di vila. Itu pun ia berangkat saat manusia masih lelap dalam tidurnya sehingga sosoknya sama sekali tidak terlihat oleh tetangga.
"Kenapa tuhan selalu tidak adil padaku? Dulu ia sudah mengambil harta dan suamiku hingga aku terpuruk dalan kesedihan yang mendalam, beruntung aku masih ada Rehan yang mencari uang untukku, kini ia direbut oleh istrinya yang tak tahu diri, harta dan semua yang kami miliki jatuh ke tangannya, dasar menantu serakah!". Maki Bu Wahida kesal.
Hari ini ia mengambil cuti karena tubuhnya kurang fit dan satu hal yang ingin ia hindari.
Tok
Tok
Tok
Bu Wahida tercengang, suara itu tidak asing di telinganya.
"Mau apa pula itu si gajah datang ke rumahku pakai marah - marah segala? Jangan - jangan dia sudah tahu, tapi bagaimana? Padahal Aku melakukan nya dengan sangat rapi tanpa jejak...". Gumamnya bingung.
"Kau jangan coba - coba sembunyi dari ku atau berniat ingin lari! Aku akan laporkan kau kk e kantor polisi jika barangku tidak kau kembalikan sekarang juga!". Teriak perempuan itu lagi.
Di depan pintu terdengar riuh, tetangga berdatangan mendatangi rumah bu Wahida karena mendengar kericuhan yang di timbulkan perempuan itu.
__ADS_1
"Ini nggak boleh jadi nih, jika di biar nama dan mukaku akan semakin di pandang rendah oleh mereka. Aku yakin si gajah pasti tidak memiliki bukti dan hanya berandai - andai jika aku yang mengambil barangnya. Ok kau jual aku beli!". Seru bu Wahida menyemangati dirinya agar berani melawan rekan kerjanya itu.
Bu Wahida berjalan mendekati pintu, suara para tetangga semakin jelas di telinga. Sebelum memutarkan handle pintu, ia lebih dulu mengatur emosinya dan mengkondisikan wajah mengiba dan sedang sakit.
Saat pintu di buka yang pertama terlihat adalah tubuh gembul milik bu Saloma, janda baik hati yang mau mengajak bu Wahida berkerja di vila sebagai tukang bersih - bersih sama dengan profesinya.
"Keluar pun kau perempuan tua tidak tahu berterima kasih, mana barangku yang kau curi kemarin, hah? Kembalikan!". Belum sempat bu Wahida menyapa, bu Saloma lebih dulu mencercanya.
"Ia bu wahida ini memang tidak tahu malu sekali, sudah di beri perkejaan malah tega mengambil, eh mencuei barang berharga miliki bu Saloma". Ucao salah satu tetangga bernama bu Ina.
"Dari dulu juga apa ku bilang bu Saloma, bu Wahida itu ular, lihat sekarang siapa yang di rugikan? Memang Dasar tebal muka". Ujar bu Tasya ikut mencibir.
"Apa maksud ibu -ibu semua? Saya tidak paham, barang apa yang harus saya kembalikan bu Saloma? Saya rasa tidak pernah meminjam barang anda". Sahut bu Wahida dengan nada lembut khas orang sakit.
"Jangan berlagak sakit deh buk! Saya datang meminta kembali barang yang ibu curi bukan yang ibu pinjam, jangan sok tidak tahu yah, saya tahu pasti ibu yang mengambilnya kemarin di tas saya kan". Jawab bu Saloma tegas.
"Lapornya aja buk ke kantor polisi langsung, dia tampaknya tidak ingin mengaku". Ujar bu Lian mengompori.
"Iya buk, lapor saja biar kapok ni perempuan tua". Beberapa tetangga lain turut setuju.
"Sudah tua dan jatuh miskin bukannya sadar dan berubah eh malah makin menjadi - jadi".
"Baik bu Wahida, tadi aku berbaik hati lagi tida melaporkan ibu ke polisi tapi melihat sikat tak tahu diri ibu ini buat aku muak. Saya akan ke kantor polisi sekarang untuk melapor kan ibu ja.....". Imbuh bu Saloma menerima usulan para tetangganya.
"Eh jangan begitu bu Saloma, itu sama saja ibu mencemarkan nama baik saya, melaporkan tanpa ada bukti akurat, jika tak ada bukti saya juga berhak melaporkan ibu - ibu semua atas pencemaran naa baik". Ancam bu Wahida percaya diri.
Suara riuh para tetangga langsung hilang mendengar ancaman bu Wahida. Hanya bu Saloma yang masih menatap dan melemparkan senyum sinis pada bu Wahida.
__ADS_1