Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 142 PDKT


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang bu Wahida terus memikirkan rencananya untuk merebut suami Mega yaitu Panji dengan cara yang sama dengan saat ia mendapatkan almarhum suaminya dulu. Ia sangat tertarik dengan semua yang di miliki Panji, pertama kali bertemu sudah membuat hati bu Wahida tertaut padanya.


"Ibu sedang memikirkan apa? Diam aja dari tadi dengan wajah yang aneh, senyum - senyum nggak jelas. Kita habis di hina bu harusnya ibu kesal dan marah bukannya malah senang seperti ini". Heran Rehan.


"Kamu diam aja! Pokoknya yang akan ibu lakukan nanti kamu jangan protes atau tidak setuju, yang ibu lakukan juga untuk kebaikan kita dan untuk membalas hinaan mereka". Ucap Bu Wahida dengan wajah misteriusnya.


"Apa rencana ibu selanjutnya?". Tanya Rehan penasaran.


"Kamu nggak usah mikirin itu, cukup fokus dengan perceraian kamu dengan Desi dan pastikan semua harta kita kembali. Urusan membalas Aisyah dan keluarganya cukup jadi urusan ibu, kamu nggak perlu mikir terlalu banyak masalah karena kamu juga harus fokus dengan kesembuhan mu". Bu Wahida memilih tidak mengatakan terlebih dahulu rencana nya pada Rehan karena takut anaknya itu malah menganggap nya kolot.


"Terserah ibu aja. Aku juga udah nggak mau berurusan lagi dengan dengan Aisyah dan orang sekitar nya aku udah terlalu kecewa, ingin balas dendam juga percuma rasanya mereka terlalu kuat untuk di buat menderita". Jawa Rehan setuju.


"Ibu juga kecewa sama kamu! Kenapa kamu sakit tapi malah tidak mengatakan nya sama ibu dengan jujur? Kalau ibu tahu setidaknya ibu bisa menolongmu dan merawat mu dengan betul sesuai untuk perkembangan kesehatan mental kamu. Hanya tinggal kita berdua saling menjaga antara satu sama lain, Rehan. Nggak ada siapa - siapa lagi selain kita berdua, kamu adalah satu - satu harta yang ibu miliki, jika kamu sakit dunia ibu juga runtuh seketika! Percuma harta dunia jika kamu nggak ada bersama ibu untuk menikmatinya". Imbuh bu Wahida kembali sedih.


Rehan menggenggam tangan ibunya lalu mengecupnya hangat. "Aku janji akan berusaha sembuh untuk ibu. Ibu juga jangan sedih lagi yah, supaya Rehan juga semangat sembuhnya!". Lirih Rehan meminta.


Bu Wahida mengangguk seraya menghapus sisa air mata di pipinya. Menahan kesedihan sangat menyakitkan baginya tapi ini demi terlihat tegar di hadapan anaknya supaya Rehan juga semangat sembuh sesuai permintaan.


*


*


Keesokan harinya di gedung percakar langit milik perusahaan Purbalingga Group, Zack saat ini sedang menjalankan akting nya sesuai saran dari tangan kanan yaitu Dilan. Ia di perintahkan untuk berakting dengan berpura - pura sakit, meris wajahnya hingga terlihat sedikit pucat dan berbaring di sofa ruangan milik Aisyah.


"Tumben kamu ada di sini, mau ngapain?". Tanya Aisyah ketus. Bukan sebab lain ia kesal dengan Rehan, beberapa hari ini Rehan selalu menghindari dari nya membuatnya sedih, kecewa dan marah dalam satu masa.

__ADS_1


"Aku numpang tidur di sini dulu, yah. Sofa di ruangan ku tidak senyaman punya kamu". Lirih Zack dengan suara lemah ala orang sakit.


Mendengar perkataan Zack yang terdengar aneh membuat Aisyah berpikir yang tidak - tidak. "Punya aku? Maksud kamu apa?". Kesal Aisyah salah tangkap.


"Kamu kenapa malah marah, sih? Maksud aku itu sofa ini, sofa punya kamu. Kamu jangan marah - marah boleh kan aku ingin istirahat". Jelas Zack kemudian berpura - pura tidur.


Dalam diam ia tersenyum mendengar Aisyah kesal dan marah - marah padanya, suara itu yang ia rindukan beberapa hari ini karena ego nya yang sudah mendorongnya untuk menghindari Aisyah.


Aisyah yang baru tersadar dengan perlahan menghampiri Zack dan menempelkan telapak tangan nya di dahi lelaki itu. Dahi nya berkedut heran saat sudah mengetahui suhu tubuh. "Ngga panas kok, tapi kenapa wajahnya pucat banget yah?". Bingung Aisyah.


Zack tersentuh dengan perhatian Aisyah padanya bahkan sentuhan jari - jemari wanita itu di dahinya mampu menyetrum dirinya ketika ini.


"Kita ke rumah sakit sekarang!". Ajak Aisyah pada Zack.


Zack menggeleng perlahan menolak ajakan Aisyah.


Zack segera mencegah Aisyah dengan menggenggam tangan wanita itu. "Aku hanya ingin istirahat sebentar, Aish. Kamu nggak perlu khawatir gitu cukup temani aku aja di sini udah cukup kok". Ucap Zack lirih.


Aisyah menghela nafas berat, ia sangat khawatir dengan Zack tapi memaksa lelaki itu untuk ke rumah sakit juga percuma karena ia tahu sifat asli nya yang sangat keras kepala dan sukar di bujuk.


"Ya udah, kamu istirahat aja dulu aku pergi sebentar cariin kamu cemilan". Aisyah malah memikirkan satu hal yang baru teringat olehnya.


"Nggak boleh kah kamu di sini aja temani aku?". Pinta Zack dengan wajah memelas.


"Aku pergi sebentar aja kok, lagi pula aku harus bertemu Alena untuk mengatur ulang pertemuan bersama klien nanti siang untuk nemenin kamu di sini". Sahut Aisyah membujuk.

__ADS_1


"Ya udah, selesaikan dulu urusan kamu dan segera kembali". Zack akhir nya melepaskan tangan Aisyah untuk membiarkan nya keluar ruangan.


Aisyah memilih keluar karena tidak mungkin meminta Alena masuk dan mengatakan rencana sebamenarnay bersama Alena di hadapan Zack.


Sesampai di meja kerja Alena, Aisyah meminta Alena segera membatalkan pertemuan bersama klien dua jam lagi dan mengatur ulang jadual agar klien tidak kecewa. Setelah menghubungi semua klien, Aisyah menyeret Alena menuju jalan lorong sepi untuk mengatakan rencananya.


"Kenapa kamu menyeret aku ke sini?". Tanya Alena bingung.


"Sekarang saat yang tepat kamu PDKT dengan pria idaman kamu, dia sekarang berada di ruangan ku sedang istirahat". Jawab Aisyah antusias.


"Maksud kamu tuan Zack?". Tanya Alena.


Aisyah mengangguk dengan cepat. "Sekarang temui dia dan beri perhatian padanya". Saran Aisyah.


"Segitu santainya kamu menjodohkan sahabat kamu sendiri dengan pria yang kamu cintai, segitu mudahnya kamu mengikhlaskan perasaan kamu hanya karena sebuah status yang bisa di ubah sesuka hati". Gumam Alena dalam hati bingung dengan sikap Aisyah yang tampak tidak sedih sama sekali menjodohkan nya dengan Zack.


"Tapi aku banyak pekerjaan, Cha". Alena mencoba menghindar untuk menjaga perasaan sahabat nya.


Ia begitu menyesal sudah mengatakan pada Aisyah bahwa ia suka pada Zack bahkan meminta pertolongan dari sahabatnya itu untuk menekatkat mereka berdua.


"Tinggalkan aja dulu pekerjaan kamu lagi pula Zack tidak selalu punya waktu lapang seperti sekarang. Tenang aja aku tidak akan marah kok asal kamu berhasil mendapatkan nya suatu hari nanti. Apa lagi sana masuk!". Pinta Aisyah sambil mendorong Alena menuju ruangannya.


Alena menurut dan meninggalkan Aisyah sendiri di lorong sepi itu. Sesekali Alena menoleh kebelakang melihat ekspresi Aisyah tapi sayang nya Aisyah benar - benar memintanya masuk dan tidak sedih sama sekali. Sebelum membuka pintu Alena membuang menghirup nafas dalam lalu menghembusnya dengan berat.


Aisyah yang sudah berhasil menyatukan dua insan dalam satu ruangan pun langsung mengubah mimik wajahnya dari ceria ke murung. Tanpa sadar air bening menetes dari pelupuk mata nya dengan deras.

__ADS_1


Aisyah bergegas berlari sambil menghapus air matanya Sepanjang lorong.


__ADS_2