Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 164 Keberadaan Aisyah yang sebenarnya


__ADS_3

Di rumah tua dalam sebuah perkampungan terpencil, duduk dua wanita yang sudah beberapa bula tidak bertemu. Melepas rindu yang selama ini mereka pendam antara satu sama lain. Terpisah karena sebuah keadaam yang selalu memaksakan mereka berdua tampak perfek di mata semua orang termasuk keluarga sendiri.


"Kamu senang kamu tinggal di sini bersama kami, di sini kita tidak perlu pusing memikirkan kehidupan yang kita tidak inginkan...". Ujar Jasmin sambil tersenyum bahagia menatap pegunungan di hadapannya.


"Maksud kamu apa, Min?". Teman nya bertanya dengan bingung.


"Iya, kadang keluarga kita memaksakan kehendak mereka pada kita. Sebagai seorang anak kita di tuntut harus menjadi seperti mereka, meneruskan semua yang sudah mereka bangun selama ini walaupun sebenarnya kita menginginkan kehidupan yang berbeda...". Jawab Jasmin berubah murung. Jika sudah berkaitan tentang keluarga maka ia akan langsung sedih.


Ingin hidup bersama keluarga tapi semua itu sangat mustahil. Dia yang berhati lembut tidak mau melihat keluarganya terutama sang ayah terus saja bergelimang dalam dunia gelap. Menghancurkan kehidupan orang lain, membunuh sesama manusia bahkan menggunakan harta yang tidak tahu dari mana asal nya.


Dunia penuh kekerasan dan darah membuatnya enggan hidup dengan keluarganya, tidak ingin menanggung dosa akibat perbuatan keluarga nya sendiri.


"Iya, meskipun kita menginginkan kehidupan yang sederhana tapi keluarga kita malah memaksakan kehendak menjadikan kita wanita yang super sibuk mengejar kekayaan dunia sampai lupa pada keluarga sendiri. Aku baru saudara sekarang, harta sama sekali tidak berguna jika masa dengan keluarga yang akan menjadi taruhan nya". Ujar lawan bicara Jasmin.


"Aku tahu meskipun kamu hidup dalam keluarga yang bebas daru dunia gelap tapi tetapa saja kamu mengalami konflik dengan mereka karena kamu mengorbankan anak kamu. Kamu bilang tadi kamu sampai lupa jika saat ini kamu sudah memiliki seorang anak, hampir seminggu terakhir ini kamu beraktifitas seperti belum punya anak. Terlalu memikirkan pekerjaan, selalu pulang malam hingga tiada masa bermain dengan anak sendiri". Ujar Jasmin.


"Padahal anak kamu itu sangat memerlukan kasih sayang kamu secar langsung tanpa perantara seseorang untuk membantu perkembangan kesehatan dan mentalnya". Sambungnya iba sambil menatap sedik pada seorang anak lelaki yang duduk termenung di depan pintu.

__ADS_1


Anak itu adalah Albar dan wanita yang duduk di samping Jasmin saat ini adalah Aisyah. Wajahnya tampak sangat frustasi, dari wajah polos itu bisa terbaca dengan jelas betapa tertekannya hidupnya saat ini..


"Selama ini aku berangan menjadi orang kaya raya se Indonesia tapi saat sudah terkabul ternyata sama sekali tidak menyenangkan. Jika dulu saat berstatus seorang istri dari pria yang berjabat Direktur, kehidupan ku sangat sederhana. Karena sederhana itu aku selalu berniat kaya tanpa harus merepotkan suami ku yang sangat pelit, jika aku kaya maka aku akan meninggalkan Rehan dan menyesal...". Ujar Aisyah mengingat kembali permohonan nya di setiap doanya agar di jadikan seorang yang kaya raya.


Dia benar - benar menyesal kan sekarang buktinya dia masih selalu mengganggi hidup kamu untuk meminta rujuk". Cela Jasmin membenarkan ..


"Tapi malah kenyamanan hidupku yang hilang, masa - masa indah bersama keluarga terutama Albar terkuras habis oleh kesibukan mengurus perusahaan dan semua cabang - cabang nya...". Curhat Aisyah sambil tertunduk sedih.


Keluar seorang pria muda dengan penampilan sederhana membawa nampan di tangan nya sambil tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri dua wanita yang sedang asil mengobrol dari tadi itu.


"Nggak papa kok non, istri saya di dalam juga nggak sibuk kok jadi dengan suka rela membuat cemilan yang bisa di nikmati bersama, mumpung ada pisang matang di kebun jadi enak di goreng sambil ngobrol. Non Jasmin dan non Aisyah jangan segan begitu, anggap saja kami ini keluarga kalian aja, iya kan den Albar?". Titin denga ramah menyapa Albar yang menghampiri nya untuk meminta gorengan yang ia bawa.


Titin yang baik hati pun langsung mengambil tubuh mungil itu dan memberikannya sejuta ciuman di pipi nya. "Gemasnya lihat kau ini den Albar! Saya senang akhirnya rumah ini ada anak - anak juga untuk membuat suasana rumah ini lebih ceria dengan celoteh nya...". Imbuh Titin sambil memeluk Albar hangat.


Albar yang berada dalam pelukannya juga sangat enteng dan akrap karena memang saat di mansion pun anak itu selalu bermain dengan pria muda itu. Datang pula wanita paruh baya bersama seorang wanita muda berjalan beriringan sambil membawa sepiring sambal dan beberapa gelas minuman hangat untuk menemani waktu ngobrol mereka di buat sambil menikmati pemandangan alam bebas yang terhampar di sekeliling rumah.


"Maaf lambat membawa sambalnya, pasti kurang nikmat yah makan pisang goreng nya?". Sapa bu Sukma dengan senyum sumbringan di wajah nya.

__ADS_1


"Bibik kok repot - repot aja sih. Baru juga tadi saya lihat berkebun di belakang eh tahu - tahu nya datang pisang goreng yang sangat menyegerakan ini". Balas Jasmin menggoda wanita paruh baya yang merupakan ART di rumah Aisyah yang juga ternyata ibu kepada Titin tapi identitas mereka di rahsiakan karen sebuah alasan.


"Saya mema mema habis berkebun di belakang, ini semua menantu saya yang baik hati dan lagi cantik ini yang mempersiapkan". Sahut bu Sukma sambil memeluk wanita muda di samping dengan mesra.


Tiba - tiba Aisyah juga ikut memeluk mereka sehingga mereka semua tampak bingung karena Aisyah tiba - tiba menangis pilu.


"Non Aisyah kenapa?". Tanya Bu Sukma cemas. Tapi tetap membalas pelukan Aisyah bersama menantunya.


"Non Aisyah tenang saja, kami akan menjaga non sampai pangeran berkuda yang non tunggu datang menjemput". Imbuh menantu dari bu Sukma.


Mendengar ucapan wanita itu membuat Aisyah semakin kecer menangis. Jasmin juga datang memeluk nya dari belakang turun menyalurkan semangat meskipun sebenarnya dia juga sedih me dengar kabar jika keluarganya mencoba membunuh sahabatnya dengan menyerang markas mereka. Tapi sebagai seorang wanita ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong. Sampai sekarang orang nya belum juga membawa kabar baik tentang keadaan Zack sekarang.


Titin yang melihat keempat wanita yang saling memeluk memberi support pun hanya bisa tertunduk sedih merasakan apa yang mereka rasakan juga. Sedih dengan kondisi keluarga majikanya yang selalu saja di timpa masalah demi masalah. Memiliki harta yang berlimpah tidak membuat hidup majikannya tenang, malah kehidupan sederhana di hutan ini menjadi impian dua wanita muda yang terlahir kaya raya ini. Merasa beruntung karena hidup tenang tanpa harus pusing mikirin harta, asal ada untuk mengisi perut pun sudah memadai.


"Maaf kan saya ya bu! Karena permintaan konyol saya ini membuat nama ibu dan anak ibu buruk di kota, bisa saja sekarang foto kalian berdua terpampang di balai polisi sebagai buronan yang berhasil menculik saya dan anak saya...". Ungkap Aisyah merasa bersalah pada mantan ART nya.


"Non Aisyah jangan ngomong kayak gitu! Saya senang kok bisa membantu, apa lagi jika non berniat tinggal di rumah saya ini kecil ini, dari dulu saya begitu ingin pulang kembali di kampung tapi di sini terlalu sunyi, hanya ada kami bertiga saja, penduduk yang lain tinggalkan pada berjarak - jarak. Berjalan beberapa meter ke sana baru akan bertemu tetangga". Balas bu Sukma tidak keberatan.

__ADS_1


__ADS_2