Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 91 misi pasangan tidak tahu diri


__ADS_3

"Kamu jangan bercanda Aisyah! Aku pamit keluar dulu lah, kerjaan aku banyak yang menunggu dari pada terus berada di ruangan ini meladeni candaan kamu nanti aku di pecat malah jadi pengangguran deh". Alena mengelak dengan pamit keluar.


"Kalau kamu masih menganggap ku sahabat, diam di tempatmu!". Bentak Aisyah mengancam Desi dengan tatapan tajam.


Tiada pilihan lain, Aisyah tampak tidak main - main dengan ucapan nya.


"Kami serius ingin merekrut Alena menjadi sekertaris kamu?". Tanya Zack mencari kepastian.


Aisyah mengangguk yakin.


"Alena!". Zack beralih menatap Alena.


"Ya tuan". Jawab Alena.


"Mulai besok kamu datangi bu Bunga, asisten pak Panji untuk meminta tunjuk ajar. Ambil sebanyak mungkin ilmu yang di miliki bu Bunga sebelum dia di pensiunkan karena usianya sudah cukup senja. Kamu paham apa saya sampaikan?". Tegas Zack pada Alena.


"Jadi kamu setuju Zack?". Aisyah tampak tidak percaya. Semua keinginan keinginannya di kabulkan oleh lelaki itu tanpa terkecuali.


"Iya, apa sih yang tidak boleh saya lakukan untuk nona Aisyah. Lakukan apa saja yang bisa membuatmu bahagia dan semangat untuk bekerja, mulai besok tiada lagi bersantai kamu harus mulai untuk belajar begitu pun Alena. Kamu paham kan?". Pesan Zack.


" Baik tuan!". Seru Aisyah seraya memberi pernghormatan.


Zacj tersenyum dan mengacak rambut Aisyah hingga berantakan.


*


*


Di tempat lain, Rehan dengan perasaan kacau pulang ke rumah. Mengetahui identitas sebenar mantan istrinya membuatnya berpikir begitu banyak sampai kepalanya pusing tujuh keliling.


"Kamu kenapa mas? Kusut banget muka nya". Tegur Desi seraya menyalami tangan Rehan setelah mengambil tas kerja milik suaminya.

__ADS_1


"Aku pusing, aku mau istirahan sebentar. Makan malam bawa ke kamar aja". Pesan Rehan melangkah menjauhi istrinya.


"Huh, pasti memikirkan si Aisyah, menyesal tapi aku akan buat kamu jauh lebih menyesal ketika kamu berani bermain api denganku, lihat saja nanti!". Gumam Desi penuh dendam di wajahnya.


"Ibu!". Teriak Desi menunu Dapur.


"Iya Mulan, ini makanan nya udah hampir matang semua sabar yah". Sahut Bu Wahida masih keteteran mengerjaan tugasnya memasak makanan kesukaan Desi.


"Ibu lelet banget sih! Perut aku dari tadi keroncongam tau tunggu ibu dari tadi belum selesai masak. Ibu mau anak aku nanti keluar tidak sehat karen ibu tidak becus buatkan makanan yang dia mau, cepat selesaikan! Aku mau makan di kamar aja, tolong ibu bawa ke atas sekalian untuk mas Rehan juga". Setelah mengatakan itu, Desi langsung meninggalkan mertuanya tanpa ada niat menolong.


Desi sudah memperkerja kan seorang pembantu yang datang pagi pulang sore yang di tugaskan membersihkan rumah dua tingkat itu, sedangkan bu Wahida kini terpaksa tinggal di rumah itu karena memiliki tujuan tertentu dan sudah pasti ia harus menjadi tukang masak untuk menantunya. .


"Kamu tunggu saja Mulan, setelah kamu melahirkan aku akan pastikan kamu menyesal telah memperlakukan mertuamu ini dengan kejam". Gumam bu Wahida dalam hati.


Setelah menyelesaikan semua hidangan yang diinginkan Desi, bu Wahida mengaturnya di atas troli makanan yang mempunyai kemudahan naik tangga, setelah semua hidangan sudah lengkap bu Wahida mendorong troli naik ke lantai dua.


Saat ingin mengetuk pintu kamar Rehan dan Desi, samar - samar terdengar teriak Desi di dalam kamar.


"Kamu sendiri tahu kan kalau Aisyah adalah pewaris dari semua kekayaan keluarga Purbalingga terutama perusahaan sebar tempat mas bekerja yang sudah memiliki begitu banyak cabang kantor di berbagai daerah bahkan di luar negeri. Mas janji jika mas berhasil membujuknya kembali rujuk, kamu juga nanti akan turut merasakan kemewahan, kamu tahu kan mas hanya sayang sama kamu seorang? Mas hanya ingin membuat hidup kita berdua makin enak". Bujuk Rehan.


Bu Wahida yang menguping dari luar bingung dengan perdebatan mereka berdua.


"Kamu lupa dengan perjanjian kita yang sudah kamu tanda tangani mas?". Desi mengingatkan perihal kontrak yang terjalin antar mereka.


"Iya mas ingat! Oleh sebab itu mas minta izin sama kamu dan ingin kamu juga turut andil di dalamnya. Mas nggak selingkuh Desi, hati mas tetap hanya untuk kamu. Kamu nggak mau kan kalau mas jadi pengangguran?". Rehan kembali memancing Desi.


"Maksud kamu apa mas?". Bingung Desi.


"Kamu yakin setelah ini Aisyah tetap mempertahankan mas bekerja di perusahaan nya sebagai Direktur? Nggak sayang! Mas yakin dia akan memecat mas dengan tidak hormat dan kamu tahu kan siapa saja yang di pecat dari perusahaan itu pasti tidak akan di terima di mana - mana perusahaan lain dengan cabatan yang sama bahkan sebagai OB pun mereka pikir beberapa kali untuk menerima".


Desi mulai berpikir berat, yang di katakan Rehan benar adanya. Jika sampai itu terjadi pemasukannya setiap bulan tidak ada, Rehan dan ibunya pasti akan menjadi benalu di rumah ini tapi jika Rehan berhasil rujuk dengan Aisyah sudah tentu kekayaan yang di.miliki wanita itu akan ia nikmati juga sesuai janji Rehan padanya.

__ADS_1


"Kamu yakin Aisyah ingin rujuk sama kamu?". Tanya Desi kurang yakin.


"Makanya mas ingin minta tolong sama kamu, lagi pula di antara kami ada Albar yang masih memerlukan kasih sayang seorang ayah, sebelum memilih pergi pun Aisyah tetap bertahan kan meskipun aku jarang pulang tapi entah hasutan dari mana akhirnya ia pergi dan mengabaikan kesehatan Albar. Dan mas yakin Aisyah pasti masih ada rasa cinta untuk mas...". Jelas Rehan dengan sangat yakin.


"Ok aku setuju menolong kamu mas". Desi akhirnya mengalah. .


Rehan bernafas lega dan memeluk Desi dengan erat.


"Terima kasih yah sayang, kamu memang istri yang pengertian". Puji Rehan.


"Iya tapi kontrak kita masih berlaku, ini hanya misi kita berdua untuk turut menikmati kekayaan perempuan bodoh itu". Balas Desi.


Bu Wahida yang berada di luar masih menguping sedikit paham ke mana arah perbincangan anak dan menantunya, lebih lanjutnya ia akan bertanya pada Rehan apa yang sedang terjadi.


Setelah mengatur nafas, bu Wahida mengetuk pintu sebelum memutar handle pintu dan memasang wajah biasa saja saat masuk berhadapan dengan anak dan menantunya seolah dia sama sekali tidak mendengar perbincangan antara mereka berdua.


*


*


Beberapa hari berlalu, Aisyah sekarang di sibukkan dengan materi - materi yang bertumpuk minta di pelajari olehnya, tapi bakat pengusaha yang di war isinya dari gen seorang Panji Purbalingga tidak menyulitkan nya memahami semua itu.


Dua hari lagi pelantikannya mengantikan Zack sebagai CEO Purbalingga Group, jadi dia tiada masa untuk bersantai sedetik pun, bahkan saat di rumah sambil bermain dengan Albar otak kan masih bekerja mencerna semua yang ia pelajari di kantor.


Begitu pula dengan Alena, wanita itu giat belajar untuk mendampingi sahabatnya. Wanita yang tidak memiliki cukup ilmu bahkah ia hanya memegang ijasah SMA sudah tentu membuatnya susah mengerti, tapi tekat dan semangat yang kuat membuatnya tidak menyerah dan membuat Aisyah kecewa.


Bu Bunga sebagai pembimbingnya begitu memuji kegigihan wanita itu dalam belajar, meskipun kadang kesal karen harus beberapa kali menjelaskan.


Saat istirahat makan siang, Zack mengajak Aisyah dam juga Alena makan di luar. Aisyah sempat menolak karena masih banyak yang perlu ia pelajari, tapu dengan bujuk rayuam maut Zack akhirnya dia setuju.


Saat keluar dari pintu gedung perusahaan, Aisyah dan Alena yang berjalan duluan di kejutkan dengan sosok seseorang yang menunggunya di depan pintu.

__ADS_1


"Sedang apa kamu di sini?". Tanya Aisyah dengan nada ketus.


__ADS_2