
Seorang wanita menghampiri Aisyah dengan berusaha menebalkan muka demi sebuah misi yang belum tentu berhasil. Tapi tekat dan nafsunya untuk menjadi kaya raya dengan menggunakan cara licik kembali dia gunakan untuk kedua kalinya.
Dengan langkah lesu Desi menghampiri Aisyah, wajahnya tampak lesu dan sedih.
"Aku sengaja datang ke sini untuk meminta maaf sama kamu mbak, tapi satpam itu tidak percaya kalau aku adalah kenalan kamu dan malah melarang aku masuk". Imbuh Desi menunjuk satpam dengan emosi.
"Minta maaf? Untuk apa? Kamu ada salah apa sama aku? Seingat aku, aku memang nggak pernah kenal kamu, kamu siapa, yah?". Aisyah sok lupa dengan wajah sinis nya.
Satpam yang di maksud tadi langsung menggigit bibirnya menahan tawa.
Ia harus hati - hati pada wanita ular yang berhasil merebut suaminya itu. Tidak tahu apa lagi yang dia inginkan sekarang, masih tidak suka melihatnya hidup dengan tenang dan damai.
"Kamu kok gitu sih, Aisyah?". Kata Desi tidak percaya.
"Coba kamu katakan ada kejadian apa di antara kita yang aku lupakan! Aku benar - benar lupa dengan wajah kamu". Ucap Aisyah.
Dalam hatinya menggerutu memaki Zack yang sampai sekarang belum muncul dan dia terpaksa meladeni manusia ular satu ini.
"Dia sengaja tidak mengenaliku, di antara kami nggak ada kejadian istimewa selain aku berhasil merebut mas Rehan darinya. Sengaja bertanya seperti itu supaya aku malu, huh". Gerutu Desi dalam hati.
"Kamu jangan gitu mbak! Saya datang tulus ingin minta maaf lihat saya sampai rela berjemur demi bertemu dengan mbak. bagaimana kalau kita ngobrol di restoran? Lebih nyaman mbak, kalau di luar sini panas bisa - bisa kulit kita berdua gosong. Mau kan makan siang sama aku?". Ajak Desi mulai gerah berpanas - panasan.
"Maaf ya, nona Aisyah tidak suka keluar makan dengan orang asing kecuali orang itu memberi keuntungan untuknya. Sekedar minta maaf tinggal katakan saja sekarang! Kami nggak punya waktu untuk meladeni ocehan anda". Kini Alena yang membuka suara tidak suka pada Desi. Dari sikap Aisyah yang menyambut dengan tidak suka dan cuek membuatnya turut tidak suka.
"Kamu siapa sih? Mbak Aisyah aja belum menjawab kok kamu yang sewot". Desi beralih menatap Aisyah. "Mau ya mbak, banyak yang saya ingin sampai kan sama mbak tapi di sini tempatnya kurang bagus di dengar orang ramai, kita ke restoran aja yah?". Desi kembali membujuk.
Tin
Tin
Mobil Zack sudah datang dan membuka jendela untuk melihat keadaan di luar.
__ADS_1
"Lain kali saja yah, supir saya sudah datang dan saya harus segera pergi". Pamit Aisyah pada Desi. "Ayo Alena, kita berangkat!". Seru Aisyah girang menggandeng tangan Alena meninggalkan Desi menuju mobil.
"Tapi mbak!". Cegah Desi. Ia ingin mengejar tapi satpam sigap menghalangi jalannya agar tidak mengganggu atasannya lebih jauh.
"Apa anak sih! Minggir nggak!". Bentak Desi pada satpam.
"Sebaik nya anda pergi saja dan datang lagi lain waktu tapi setelah membuat janji". Ujar si Satpam sopan tapi dengan wajah garang.
Setelah mobil Aisyah pergi, dengan hati dongkol Desi mengayunkan kakinya menuju mobilnya.
*
*
Di dalam mobil, Zack menggoda Aisyah yang sudah lancang menyebutnya supir dan saat masuk pun mereka berduaa duduk di bangku tengah semakin membuatnya kesal.
"Nona ingin makan di restoran mana?". Tanya Zack.
"Terserah kamu aja Zack". Jawab Aisyah kembali ngobrol dengan Alena menceritakan siapa Desi sebenarnya pada sahabatnya dan sekertaris nya itu.
Aisyah tercengang, ia baru sadar jika Zack pasti tersinggung karena tadi ia menyebutnya sebagai supir.
"Kamu marah, yah?". Tanya Aisyah memajukan wajah ke hadapan untuk menatap ekspresi wajah saudaranya itu.
"Nggak lah...". Saat menjawab Zack menoleh ke samping kiri dan tidak sengaja menatap wajah Aisyah begitu dekat. "A ku cu ma ber can da...". Sambungnya terbata - bata.
Aisyah juga sempat membeku sesaat menatap wajah Zack begitu dekat.
"Aaaacckk".
Mendengar teriakan Alena menyadarkan mereka berdua. Mereka serentak menghadap ke hadapan dengan panik karena baru ingat kalau saat ini Zack sedang menyetir. Mobil mereka masuk jalur sebelah dan hampir menabrak mobil di yang melaju ke arah mereka.
__ADS_1
Dengan lincah Zack memperbaiki keadaab, untuk jalur yang seharusnya mobil itu berada a sedang kosong, jarang antara kendaraan sedikit berjauhan.
Setelah keadaan kembali tenang dan aman, Zack melihat cermin untuk memastikan keadaan Aisyah. "Kamu nggak papa kan?". Tanya Zack cemas.
Aisyah menggeleng menandakan ia baik - baik saja. Ia kemudian beralih menatap Alena. "Kamu nggak papa kan, Ale?". Tanya Aisyah memegang tangan sahabatnya karena tadi sempat syok.
"Aku baik - baik saja, kok! Kamu nggak perlu khawatir. Kamu nggak juga nggak papa kan?". Alena pun tampak cemas dengan keadaan sahabatnya.
Aisyah tersenyum dan menggeleng kepala.
"Ini semua sebab kamu sih?". Seru Aisyah memukul pundak Zack kesal.
"Kok aku sih?". Bingung Zack.
"Iya lah, kamu yang tidak fokus menyetir. Aku pecat kamu jadi supirku, ini kali terakhir kamu menyetir mobil, mulai besok kamu duduk di sini!". Sahut Aisyah kesal sambil menunjuk kursi samping kemudi pada Zack.
"Sekarang kita mau makan dimana? Kenapa lama banget sampainya?". Tanya Aisyah masih kesal.
Zack tidak menjawab, hanya seulas senyuman yang ia ukir di bibirnya saying gemasnya dengan tingkah Aisyah. Sementara Alena hanya geleng - geleng kepala melihat kedekatan mereka berdua. Ia sempat berpikir jika mereka berdua sebenarnya memiliki perasaan satu sama lain.
Beberapa saat kemudian mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah makan sederhana yang terletak di pinggir sungai.
"Ini dimana Zack?". Tanya Aisyah, karena tempat ini seperti tidak asing menurutnya.
Zack tidak menjawab, ia keluar dan membukakan pintu untuk Aisyah.
Aisyah mencoba mengingat kembali tempat ini, ia baru ingat jika ini adalah rumah makan di mana dulu Aisyah sering duduk di depannya untuk turut berjualan keripik, pemilik rumah makan sangat ramah dan berbaik hati mengizinkannya berjualan di tempat itu. Tapi saat mengingat bahwa di sana lah ia dan Rehan sering bertemu membuat mukanya berubah masam.
"Mari masuk, Cha. Ini rumah makan milik keluarga angkat ku, kami tinggal di lantai dua ruko ini. Kami baru saja pindah beberapa bulan lalu setelah aku berhasil mendapatkan pekerjaan di Purbalingga Group sebagai OG dengan bayaran lumayan, aku menyewa ruko untuk tempat tinggal dan berbisnis rumah makan juga. Hari ini aku traktir deh, kamu dan tuan Zack bisa makan dengan puas. Aku jamin kamu pasti suka makan di sini, masakan mamaku enak banget loh....". Alena memeluk lengan Aisyah dan menuntun nya masuk ke dalam rumah makan.
Pantas Aisyah sempat lupa karena nama rumah makannya sudah berubah menjadi 'RM AlenaCha'. Kini Aisyah dan Zack sudah duduk di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan. Alena mengambil buku menu dan memberikan pada dua atasannya itu.
__ADS_1
Setelah menerima pesanan, Alena meninggalkan mereka berdua menuju dapur membantu mamanya menyediakan hidangan.
"Kamu kok tahu kalau ini rumah makan milik Alena? Kamu ada perasaan ya sama sahabat aku?". Bisik Aisyah menggoda Zack.