
"Kamu mau kemana mas?". Desi tampak mengerikan dahi melihat Rehan sudah rapi padahal hari ini hari minggu dan suaminya itu seperti biasa tidak akan pergi ke kantor.
"Hah, Mas ingin keluar sebentar bertemu teman ia sedang sakit dan di rawat di rumah sakit sekarang". Balas Rehan enteng.
"Aku ikut dong mas, suntuk tinggal di rumah terus". Kata Desi antusias.
Rehan menatap istrinya sejenak dan terdiam memikirkan alasan untuk tidak mengajak istrinya itu. Rencananya ia ingin pergi menjenguk Aisyah di rumah sakit, mata - mata bayarannya telah memberi kan nya informasi terkini tentang kondisi mantan istrinya itu beberapa menit yang lalu.
"Lain kali mas bawa jalan - jalan ya sayang. Mas buru - buru nih, kamu pun masih belum mandi juga kan, atau kamu keluar jalan - jalannya sama ibu saja...". Saran Rehan bergegas ingin keluar kamar.
"Tapi mas...". Belum sempat Desi membantah Rehan lebih dulu menutup pintu kamar meninggalkannya dengan perasaan kesal.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Ikuti terus kemana dia pergi!". Titahnya setelah panggilan terhubung. Tidak perlu menunggu tanggapan Desi langsung mematikan panggilan sepihak.
"Awas aja kamu mas jika kamu berani berbohong padaku! Aku akan pastikan lepas ini kamu mati kutu dan tak bisa berkutik lagi dariku". Gumam Desi geram menghempaskan ponsel nya dengan keras ke kasur. Ia kemudian bergegas meebersihkan diri dan berdandan cantik.
Setelah memoles wajahnya dengan make up tipis kini wajah Desi tampak fresh dan segar dengan dress selutut yang elegan membaluti tubuhnya. "Apa kurangnya aku jadi istri coba? Cantik, seksi, pinter, kaya lagi. Mas Rehan memang buta!". Pujinya pada pantulan diri sendiri di dalam cermin.
Puas dengan penampilannya, Desi kemudian mengambil tasnya tak lupa ponsel dan kunci mobil miliknya.
Sesampai di ruang tamu, ibu mertuanya sedang asik bertengger di depan TV menyaksikan tayangan dengan gelak tawa dan wajah yang ceria. "Jika anakmu masih tidak bisa melupakan lo nte itu, aku akan pastikan kenyamanan yang kamu rasakan akan hilang dari hidupmu!". Dendam Desi dalam hati menatap ihh bu mertuanya dengan tatapan tajam.
Merasa di perhatikan, Wahida segera menoleh. "Kamu ingin keluar sayang? Tolong belikan ibu martabak dong, tadi ibu minta pada Rehan tapi seperti biasa dia sangat cuek akhir - akhir ini, kamu bisa belikan ibu kan". Pinta Wahida dengan wajah memelas.
Bukannya mengiyakan permintaan mertuanya, wanita cantik itu langsung mengayunkan kakinya dengan anggun tanpa mengucapkan satu katapun pada sang mertua.
"Anakmu saja tidak peduli, jangan harap aku yang akan peduli! Pasang lah wajah memelas bagaimanapun sampai mengeluarkan air mata darah sekalipun aku tidak akan ambil pusing". Batin Desi jengkel.
*
*
"Kita bertemu di tempat biasa".
__ADS_1
Isi pesan dari lelaki berwajah misterius yang bahkan memperkenalkan dirinya dengan nama yang sangat kuno. Tentu saja Desi tidak percaya jika nama itu adalah namanya sampai ia lupa denga sendiri nya. Dengan kecepatan aman Desi memacu mobilnya menuju lokasi, wajahnya tidak pernah lepas dari senyum bahagia, karena lepas ini ia kembali akan mendapatkan uang dari lelaki itu.
Sesampai di lokasi setelah mengamanahkan mobilnya pada satpam, Desi langsung mengayunkan kakinya dengan elegan masuk kedalam kafe tempat terakhir ia bertemu dengan lelaki itu. Dengan di bantu oleh pelayan, Kini Desi telah duduk manis di hadapan lelaki yang berbadan sado itu.
"Tubuh sudah ok, tapi sayang banget aku tidak boleh melihat wajahnya yang sudah pasti lebih ganteng dari mas Rehan". Ucap Desi dengan suara pelan, matanya tidak lepas dari menatap sosok misterius itu.
"Ini kali terakhir kita berjumpa dan saya pastikan ini kali terakhir juga kita saling kontak". Ucap lelaki itu dengan dingin.
"Kok seperti itu sih? Apa kita kita bisa menjadi teman dan saling mengenal satu sama lain!". Tawar Desi dengan suara mendayu.
Hahahaha
Dua orang sosok lelaki di hadapannya langsung tertawa sinis membuat Desi bingung sendiri.
"Kamu pasti merasa bahagia sekarang kan?". Tanya lelaki itu sedikit melunak sehabis tertawa.
"Sudah tentu! Kini aku sudah jadi wanita kaya raya, bahkan lebih kaya sebelum perusahaan keluarga ku gulung tikar. Pasti mereka yang sudah membuangku kini menyesal dan berpikir bagaimana untuk kembali senang seperti dulu". Balas Desi dengan bangga.
"Sudah tentu, setelah anda menepati janji anda maka urusan di antara kita akan selesai". Jawab Desi.
Hahahaha
Dua lelaki with kembali tertawa sinis membuat Desi tidak enak hati. Mereka kemudian berdiri dan ingin beranjak dari ruang VVip Kafe tersebut. Karena belum mendapatkan sesuatu yang di janjikan, dengan cepat Desi ikut berdiri dan mencegah dua lelaki itu keluar.
"Eh, eh, apa maksud kalian langsung pergi tanpa memberikan sesuatu padaku sesuai janji kalian?". Cerca Desi dengan wajah kesal.
"Hei minggir kamu! Kami banyak urusan bukan hanya ingin meladeni perempuan matre seperti kamu, lagi pula kami sudah memberikan semua sesuai perjanjian meskipun tidak melalui tangan kami langsung". Cerca lelaki yang sedari tadi tidak membuka suara kecuali tertawa.
"Kalian jangan mempermainkan aku! Semua itu aku dapatkan dari hasil kecerdasanku sendiri tanpa melibatkan kalian, dengan senangnya kalian bilang itu dari kalian, jangan pikir aku bodoh!". Bentak Desi dengan suara nyaring.
"Aku ingat kan sekali lagi, selagi kami masih bersikap lembut segera minggir dari jalan kami!". Tegas Teman lelaki misterius itu lagi. "Atau kamu mau semua aset dan hartamu kembali lenyap sebelum kamu puas menikmatinya!". Ancamnya lagi.
Nyali Deai akhirnya menciut, ancaman itu berhasil membuatnya takut. Dengam perasaan tidak ikhlas, Desi mundur dan memberikan jalan agar dua lelaki itu bisa keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Tak apa, yang aku miliki sekarang pun sudah memadai dari pada aku menuntut lebih yang ada aku akan hilang semuanya". Gumamnya untuk melegakan perasaannya tapi tetap tidak bisa membuang rasa kesal pada dua lelaki itu.
"Aku doakan kalian jatuh miskin sudah mempermainkan wanita cantik seperti aku ini".
*
*
Di tempat lain, Rehan lagi - lagi di cekal oleh pengawal yang menjaga ruangan mantan istrinya, lelaki itu semakin yakin jika tempo hari yang di rawat di ruangan dengan akses pengawal adalah mantan istrinya itu.
"Maaf, bapak tidak boleh masuk ke dalam tanpa izin dari bos kami". Cegah salah satu pengawal.
"Siapa bos kalian? Biar aku hubungi sekarang!". Balas Rehan ketus.
Bukannya menjawab pertanyaan Rehan, para pengawal kembali fokus menatap kehadapan dan tampak acuh pada lelaki itu. Tidak mendapat jawaban, tidak membuat lelaki itu menyerah, ia melangkah ke kursi tunggu di hadapan ruangan itu dan menatap sinis para pengawal. Menunggu seseorang yang akan masuk adalah pilihan terakhirnya.
Beberapa jam menunggu Dengam perut keroncongan menahan lapar, akhirnya pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang berpenampilan modis.
"Bu Mega? Kok dia keluar dari ruangan selingkuhan suaminya bahkan dengan wajah cerah dan tampak bahagia? Pasti dia sudah puas melabrak Aisyah dan memaki wanita itu untuk menjauh dari pak Panji". Dengan perasaan senang, Rehan menghampiri Mega berniat untuk mengorek informasi mengenai kesehatan mantan istrinya.
"Selamat siang bu Mega". Siapanya ramah dan di sambut dengan senyuman sinis dari wanita itu. Dua orang pengawal berusaha mencegah Rehan agar tidak mendekati majikan mereka tapi Mega sendiri juga ingin menyampaikan sesuatu pada mantan suami anak kesayangannya itu, alhasil Rehan di izinkan mendekat.
"Terima kasih bu Mega sudah menegur mantan istri saya, jujur saya sebenarnya masih sayang pada Aisyah tapi memang sifatnya yang mata duitan dan mudah tergiur dengan harta membuatnya berpaling dan lebih memilih pak Panji ketimbang saya suaminya waktu itu". Kata Rehan.
"Maksud kamu apa yah?". Kening Mega bertaut bingung dengan yang di sampaikan lelaki di hadapannya ini.
"Iya, ibu dari dalam menemui Aisyah, mantan istri saya untuk marah, memaki dan memintanya menjauh dari pak Panji kan. Saya berterima kasih dengan itu, pasti nanti Aisyah akan mencari saya untuk meminta rujuk, dia itu perempuan yatim piatu bu tidak pernah merasakan kemewahan, saya sudah mengangkat derajatnya eh, dia malah ingin lebih, memang dasar perempuan murahan dia mah". Ujar Rehan membatu api, raut puas tampak di wajahnya.
Plak
Rehan memegang pipinya tang tiba - tiba terasa panas setelah menerima tamparan keras dari Mega. "Apa salah saya bu Mega? Anda jangan melampiaskan kekesalan anda pada saya atas kelakuan mantan istri saya, sumpah saya tidak ikut andil dalam perselingkuhan mereka, jujur saya malah kasihan pada ibu". Ucap Rehan memelas, wajahnya kini tampak bingung karena wanita di hadapannya tampak sangat murka padanya.
"Masih belum puas". Ketus Mega dengan tatapan membunuh.
__ADS_1