
Rehan menarik tangan Alena keluar dari ruangan menuju tempat yang lebih sunyi. Ia sudah cukup kesal di akibatkan ucapan wanita yang bernama Zahira itu.
"Aku tahu maksud sebenar kamu, Alena. Kamu jangan pikir dngan melakukan ini semua kamu akan bebas dari ku. Ingat perjanjian di antara kita, Alena. Jika kamu setuju menikah dengan ku maka Aisyah dan keluarganya akan selamat tapi jika kamu masih bersikap seperti ini maka aku tidak akan segan lagi. Bukan hanya mereka tapi kedua orang tua mu juga akan menjadi sasaran ku..". Tutur Rehan dengan sorot mata tajam.
"A apa ma maksud kamu, mas. Aku sama sekali tidak paham. Aku sama sekali tidak melakukan apa pun seperti yang kamu katakan....". Jelas Alena.
Memang bukan dia yang merencanakan semua ini tapi ia tahu jika Zahira datang atas suruhan seseorang sedangkan pelanggan nya yang lain yang merupakan kebanyakan karyawan perusahaan sama sekali tidak di sengaja. Mereka memang datang seperti biasa mengisi perut kala makan siang sama ada hari bekerja atau cuti.
"Kamu jangan bohong! Kamu pikir aku ini mudah kamu bodoh! Aku tahu kamu sengaja mengundang mereka datang ke sini bersama dengan kamu mengajak aku datang kan. Supaya apa, supaya aku bisa di permalukan! Aku akan pastikan hidup mu akan semakin terjerat di tangan ku!". Ujar Rehan kesal.
"Kamu ada bukti apa kalau aku sengaja ingin mempermalukan kamu? Tanya kan saja pada mereka yang sebenarnya, sila mas selidiki saja hal ini. Aku bisa jamin jika yang mas katakan tadi tidak benar. Aku sudah capek - capek masakin hidangan spesial untuk kamu, tapi malah seperti ini. Kalau kamu marah - marah aja sialakan pulang! Tadi kalau kamu menghargai aku sebagai tunangan kamu maka masuk habisin semuanya,..". Alena bersikap seolah - olah ia ngambek pada Rehan.
"Kok lebih garang kan dia dari pada aku? Sikap nya terlihat berbeda dari biasanya. Dia kok seperti manja gitu yah". Batin Rehan menangkap sikap berbeda dari Alena.
"Kamu ngambek sama aku?". Tanya Rehan penuh selidik.
"Tauk, ah". Kesal Alena.
__ADS_1
"Jadi kamu benar - benar udah mulai membuka hati kamu untuk aku? Terima kasih yah, kalau gitu ayoh kita masuk, kita makan sama - sama. Ayok!". Rehan langsung lupa pada kekesalannya segitu mudah nya emosinya di kendalikan oleh Alena.
"Kamu masuk duluan aja. Bujuk mama dan papa, mereka pasti tersinggung dengan sikap kamu tadi yang sangat cuek pada mereka". Saran Alena masih memasang wajah ngambek.
"Ok, aku tunggu kamu di dalam yah. Tapi tolong tunjukkin pintu belakang rumah makan kamu dong. Aku malas melihat pelanggan kamu yang kebanyakan karyawan kantor kita itu...". Imbuh Rehan setuju.
"Mas lewat di sini aja terus dan ketika ada pintu masuk aja, mas akan terhubung langsung dengan dapur rumah makan kami. Saya akan lewat depan supaya mereka tahu kalau mas udah pulang". Tunjuk Alena. Kebetulan posisi mereka saat ini memang dekat dengan pintu belakang rumah makan milik keluarga Alena.
"Terima kasih, sayang". Balas Rehan dengan penuh semangat.
Selepas kepergian Rehan, Alena berubah mimik wajahnya yang tadi ngambek tapi kini malah terlihat jijik dengan dirinya sendiri. "Ih, kenapa harus aku yang dia jadikan pujaan hati. Aku begitu membenci pria jahat itu. Apa dia bilang tadi, aku membuka hati untuk nya? Sampai kiamat pun aku tidak akan pernah mau mencintai pria seperti itu. Kalau bukan untuk Aisyah, aku mana mau berurusan dengan si Rehan itu. Semoga kamu tetap dalam keadaan aman, Syah!". Tutur Alena dalam hati.
"Ini dapur atau tempat sampah? Kotor dan bau banget. Kalau begini bukannya aku menghabiskan makanan yang di masak oleh Alena yang ada aku malah akan muntah - muntah dan terbuang sia - sia aja. Tapi aku tidak.mungkin mengecewakan Alena yang sudah bersusah paya memasak untuk ku sebagai bentuk mulai menerima ku dalam hidup nya". Gumam Rehan. Segitu yakin nya dia dengan drama yang bari saja Alena lakon kan.
"Eh, pak Rehan kenapa malah masuk melalui pintu dapur? Kan kotor di sini pak. Naik aja ke atas pak, di atas sudah terhidang makanan yang di masak sendiri oleh Alena. Saya harap pak Rehan tidak jijik berada di sini". Pak Nasir masuk dan melihat Rehan sedang termenung sambil menatap jijik lantai dapur.
"Aduh, papa saya sama sekali tidak jijik kok. Jangan di masukkan ke dalam hati semua perkataan yang di ucapkan wanita di luar tadi. Ia itu suka sama saya dan tidak suka jika saya dekat dengan wanita lain makanya ia berusaha mencari cara memisahkan saya dengan anak papa, Alena...". Imbuh Rehan berbohong. .
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu ya pak. Di luar banyak banget pelanggan biasa hari cuti jadi sibuk gini, nggak bisa memberi pelayanan maksimal pada pak Rehan. Tapi jangan risau, Alena pasti akan naik ke atas sebentar lagi untuk menemani anda". Pamit pak Nasir. Sebenarnya dia begitu enggan menerima Rehan sebagai pasangan dari anak angkat nya. Tapi setelah mendengar penjelasan Alena maksud sebenar ia menerima pertunangan secara mendadak ini, pak Nasir hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua nya pada Alena saja.
"Iya, papa kerja aja. Aku akan ke atas sekarang, maaf tentang sikap saya tadi saat di luar yah. Saya sama sekali tidak bermaksud cuma saya tidak suka jika ada pihak lain yang mengusik urusan saya". Jelas Rehan sedi sedi itu sungkan.
"Iya nggak papa saya ngerti kok. Saya permisi dulu ya pak Rehan". Pak Nasir hanya menjawab seadanya saja dan segera menghindari pria muda itu.
Rehan pun bergegas naik ke lantai dua karena takut tiba - tiba ada orang lain masuk ke dalam dan melihatnya masih ada di tempat kumuh ini. Ia tidak ingin menambah omongan jelek orang terhadapnya. Baru saja ia berada di lantai dua, ponsel nya tiba - tiba berdering.
"Aduh, saat gini ni orang malah nelpon. Pasti ingin memastikan tentang perintah ku udah selesai apa belum. Dasar si Robert tidak sabaran. Kalau aku udah ketemu dengan tuan besar aku pasti akan meminta dia di buang saja dari pada hanya bisa nya menyusahkan aku saja...". Batin Rehan kesal.
Ia segera menekan tombol hijau dan panggilan terhubung. "Ya ada apa?". Tanya Rehan ketus.
"Kamu semakin hari semakin berani sama aku yah! Kamu mau aku bunuh, hah!". Robert malah terpancing emosi dengan sikap Rehan.
"Maaf, bukan begitu maksud aku. Ya udah ini ada apa? Aku cuma sedang berada di tempat yang kurang aman jadi terpaksa bersikap ketus. Emang ada apa kamu menghubungi aku?". Rehan kembali mengurangi pertanyaan nya tapi sedikit lebih sopan.
"Bila kamu akan bergerak melenyapkan mereka? Tuan besar udah nggak sabar mendengar keberhasilan dari tugas kamu itu. Tuan besar memberi kamu tenggang waktu seminggu, jika dalam waktu itu kamu belum berhasil membunuh mereka walau satu pun maka kamu yang akan menggantikan mereka masuk ke dalam lihat lahat". Ancam Robert.
__ADS_1
"Apa seminggu? Yang benar saja". Teriak Rehan tidak percaya diri.
"Kamu sudah membuang - buang waktu kami dan kamu masih ingin meminta tambahan waktu. Pokok nya tidak lagi untuk kamu, seminggu ini kalau kamu tidak bisa nyelesaiin tugas kamu maka jangan salah kan aku kalau aku berubah jadi malaikat maut kamu". Ancam Robert sebelum panggilan terputus.