
Beberapa hari kemudian, jadwal untuk datang ke kantor cabang yang di pimpin oleh Rehan pun tiba. Aisyah sudah mempersiapkan kejutan spesial untuk mantan suaminya itu.
Merasa di perbodohkan iya, tapi sema sudah ia pikir kan dengan matang sebelum membuat mantan suami, mantan ibu mertua dan pelakor piluhannya nya hancur se hancur - hancurnya.
Waktu bermain - main sudah berakhir, saat untuk pembalasan dendam di mulai. Semakin di biarkan bukannya Rehan mempersiapkan diri untuk dibuang ia malah berniat rujuk untuk menikmati kekayaan Aisyah bersama Desi, istrinya. Selama ini ia berpikir semua drama yang mereka jalankan berhasil menyentuh hati nurani Aisyah, ia hanya menambah masalah dengan pemilik perusaahan tempatnya bekerja itu.
"Aku sudah bilang, kenapa sih nggak dari dulu aja kamu buang dia dari posisinya itu, kemampuan sebagai pemimpin sama sekali tidak ia miliki, harusnya jadi aktor aja pasti dia akan membuat para netizen baper dengan aktingnya yang sangat menakjubkan itu". Gerutu Alena sambil mengatur dokumen di depannya.
"Supaya hari ini tiba, Lena. Kalau dari dulu aku membuangnya dia tidak akan akan kehilangan apa pun, malah dia akan hidup nyaman jadi pengangguran tapi kaya raya...". Jelas Aisyah percaya diri.
"Iya juga sih, kamu memang genius tahu nggak. Dari mana kamu tahu kalau semua harta milik mantan suami kamu itu kini beralih nama menjadi milik istri barunya, bahkan perjanjian antara mereka mengenai semua aset mereka pun kamu tahu. Hebat!". Alena menepuk tangan kagum pada Aisyah.
"Apa sih yang nggak akan kita dapatkan dengan uang? Bahkan jika aku mau menikah dengan anak presiden pun boleh". Kata Aisyah menyombongkan diri.
"Iya, dengan syarat kau harus melunasi hutang negara, ha ha ha". Goda Alena.
"Hah, enak aja. Ha ha ha". Balas Aisyah memukul Alena kesal.
Sambil bercanda tawa, Aisyah dan Alena menuju kantor Rehan. Dengan beberapa dokumen yang memberatkan lelaki itu. Zack sama sekali tidak diizinkan oleh Aisyah untuk ikut serta karena dia tidak ingin kekejamannya saat membalas Rehan di lihat oleh saudara angkat nya itu.
*
*
Di tempat lain Rehan tidak habis memperbaiki penampilannya, dari rambut, pakaian dan wangi di tubuhnya. Hatinya kini berbunga - bunga karena akan di datangi oleh mantan istrinya, bukan orangnya yang ia tunggu tapi keputusan dari permintaan untuk rujuk yang ia tunggu.
Segala permintaan telah ia catat dalam otak saat ia kembali menjadi suami wanita terhormat itu, yang paling utama adalah ia ingin kantor yang ia pimpin ia menjadi beralih kepemilikan atas namanya, beberapa mobil mewah impiannya pun kini berputar - putar depan matanya.
__ADS_1
"Aku yakin dia akan menerima untuk rujuk dengan ku, semua keinginanku akan tercapai. Menjadi suami dari wanita kaya raya memang impian semua lelaki tapi sayangnya dia sudah menjadi milik ku dari dulu. Silakan gigit jari para peminat bakal istriku! Ha ha ha". Gumam Rehan dengan percaya diri.
Tin
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
(Jangan lupa pakai parfum yang aku berikan mas! Itu merupakan parfum pemikat yang di pakai banyak pria kaya di luar sana untuk memikat lawan jenis yang mereka targetkan. Bukan syirik tapi wangi nya cukup khas dan hanya ada beberapa di jual di seluruh dunia)".
Rehan membaca dengan wajah bahagia pesan dari Desi.
(Iya sayang, semua ini juga berkat kamu juga. Doa, sokongan bahkan kamu rela tinggal beras ingan dengan mas demi melancarkan rencana kita ini, terima kasih sayang). Balasnya.
Ponselnya kemudian di masukkan kembali ke dalam saku celana dan menatap cermin lagi untuk memastikan penampilannya sudah cukup maksimal. Setelah puas, Rehan membuka pintu ruangan di mana dia sudah di tunggu oleh beberapa orang bawahannya di depan ruangan miliknya.
"Sudah sampai mana mereka?". Tanya Rehan pada asistennya, Haris.
"Mereka sudah hampir sampai pak, kemungkinan sepuluh menit lagi udah berada di depan gedung ini". Jawab Haris.
"Sudah pak". Jawab mereka serentak.
"Pak Rehan sendiri bagaimana? Dari tadi saya hanya melihat anda sibuk mengurus penampilan anda sama sekali tidak menyediakan apa - apa, bahkan mengecek dokumen yang kami bawa pun tidak anda lakukan!". Komen Maya, sekertaris Rehan yang suka mengomentari kerja Rehan.
Sudah lama Rehan ingin memecat sekertaris nya itu tapi ia takut Desi marah karena ini merupakan permintaan istrinya agar tenang melepas Rehan kerja tanpa pengawasan darinya setiap hari, Maya sekaligus di tugaskan untuk menjaga suaminya.
"Ada yang lebih penting untuk ku urus, kalian cukup melakuak tugas kalian masing - masing!". Tegas Rehan. "Kita kebawa sekarang.
Beberapa saat menunggu di depan gedung, akhirnya mobil yang membawa Aisyah pun tiba, juga ada beberapa mobil yang mengiringi.
__ADS_1
Reha dengan antusias membukakan pintu untuk Aisyah tapi sayang nya yang keluar malah orang lain lebih tepatnya dia adalah pengawal Aisyah. Dengan menahan malu Rehan mundur dan memilih untuk menunggu saja.
Pengawal yang di bukakan pintu oleh Rehan malah melangkah ke hadapan dan membukakan pintu sampin kemudi untuk seseorang yang ternyata adalah Aisyah. Ia sudah tahu akan di perlakukan sedemikian rupa oleh Rehan jadi ia pun memutuskan duduk di samping kemudi.
Dengan langkah dingin dan cuek, tanoa sepatah kata pun Aisyah mengayunkan kakinya memasuki gedung perkantoran di hadapan nya diikuti oleh bawahan dan para ajudannya.
Rehan menelan slavina berat, tiba - tiba perasaannya jadi tidak enak melihat ekspresi mantan istrinya seperti itu, bahkan sekedar membalas sapaannya tidak di terima. Dengan berat hati Rehan dan para bawahannya mengikuti langkah Aisyah menuju ruang meeting.
"Memang sifatnya seperti ini jika di hadapan para bawahannya tapi jika hanya berdua ia kembali lembut da tidak cuek lagi sama seperti sebelumnya. Aku akan meminta untuk bicara berdua lagi untuk meminta kejelasan dari permintaan ku untuk rujuk. Aki yakin jika kami hanya berdua dalam ruangan ia kan memelukku meluapkan rindu yang tertahankan beberapa hari ini". Gumam Rehan dalam hati untuk menyemangati dirinya.
Sesampai di ruang meeting, Rehan tidak sedetikpun melepas wajahnya dari senyum yang menurutnya sangat menawan. Duduk di hadapannya kini seorang wanita yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Di hadapan Haris sedang berpidato untuk membuka acara meeting mereka. Saat ingin memanggil seseorang untuk presebtasi di hadapan tiba - tiba Aisyah menganggkat tangan.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu terlebih dahulu". Ujara Aisyah.
"Silaan bu Aisyah". Haris menggeser posisinya dan mempersilahkan atasannya itu untuk maju.
"Saya hanya ingin memberikan surat ini kepada pak Rehan dengan di saksikan oleh kalian semua yang ada dalam ruangan ini". Aisyah menggeser map berisi kejutan ke hadapan Rehan.
Kini perasaan Rehan kembali tidak karuan, dengan perasaan penasaran bercampur takut menjadi satu dalam dirinya. Tangan yang sedikit bergetar mengambil map itu dan membaca isinya. Matanya membulat sempurna saking tidak percaya dengan apa yang tertulis di kertas itu.
"Kamu!". Tunjuk Aisyah pada Haris yang masih berdiri.
"Iya saya". Jawab Haris melangkah menghampiri Aisyah.
"Tolong bacakan surat itu! Tampaknya pak Rehan tidak sanggup membacanya". Pinta Aisyah.
"Baik bu". Haris kini menghampiri Rehan dan berusaha merebut surat itu dari atasannya. Awalnya ada sedikit perlawanan daro Rehan tapi melihat mata Aisyah yang menatapnya tajam ia memilik merelakan surat itu untuk di baca oleh Haris.
__ADS_1
"Baca sekarang!". Tegas Aisyah saat Haris berhasil mere buta surat dari tangan Rehan.
"Surat pemecatan atas nama Rehan....". Ucapan Haris terhenti ketika melihat nama yang tertera di surat itu.