Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 23


__ADS_3

Keesokan harinya di dalam sebuah kamar, seorang pria menutup matanya dari terkena pantulan cahaya mentari pagi yang masuk melalui jendela. Menatap wanita dalam dekapannya yang sedang berbaring di bahu sambil memeluknya erat.


"Kamu memang wanita idaman, tahu cara memuaskan aku meskipun dalam keadaan terhalang seperti semalam. Aku beruntung bisa kembali menjalin hubungan bersama kamu, sayang!..". Gumam nya lalu mengecup kening Desi dengan perlahan.


"Eeemm..".


Desi yang merasakan sentuhan bibir Rehan di keningnya, sontak terbangun dan menatap Rehan lekat sambil memanyumkan bibirnya ngambek.


"Maaf sayang! Kamu terganggu yah..". Ucak Rehan lembut.


Desi kembali mengeratkan pelukannya dan menutup matanya lagi. "Kita nggak ke kantor, mas?..". Tanya nya malas.


"Kalau kamu mau tetap seperti ini sampai siang atau malam lagi juga boleh. Takkan ada yang marah, kantor itu kita yang pimpin..". Bujuk Rehan yang tahu maksud pertanyaan Desi tadi.


"Benar, mas? Kalau gitu, bagaimana kalau kita pergi liburan? Aku rindu ke pantai dengan kamu, mas..". Desi begitu antusias.


"Liburan?..". Rehan berpikir sejenak.


Desi mengangguk pasti.


"Lain kali yah, sayang! Albar kan sedang sakit, aku mana bisa ninggalin dia yang sedang di rawat, nggak tenang rasanya..". Jawab Rehan.


Seketika senyum semangat Desi berubah menjadi kecewa. Dia tidak hanya akan berbagi Rehan dengan istrinya, tapi dia juga harus mengalah dengan manusia kecil yang berasal dari benih kekasihnya ini. Hidup nya bersama Rehan akan terus dibayangi oleh dua orang pengganggu itu.


Hush


Menghela nafas kasar mencoba menenangkan perasaannya. ia tidak akan menyerah di tengah jalan karena soal sepele seperti ini. Dia harus bisa mengambil hati Rehan seutuhnya agar semua yang di rencanakan berjalan dengan sukses, dan dua orang itu akan dia singkirkan dalam kehidupan Rehan kelak.


"Harus nya aku yang minta maaf, mas! Aku tidak seharusnya lupa dengan keadaan anak kamu sekarang, aku juga sudah sayang banget dengan dia, kok! Moga dia cepat sembuh, yah. Dan bisa ikut dengan kita liburan bersama..". Ucap Desi manja sambil memainkan jarinya di dada Rehan berniat menggoda nya.


Rehan tersentuh dengan ucapan Desi. Tak sangka wanita yang dulu nya pernah menoreh luka dihatinya, kini datang dengan sifat dewasa yang membuat semua luka itu hilang bertukar dengan rasa sayang yang semakin dalam dalam hatinya.

__ADS_1


Rehan memeluk Desi menyalurkan cinta yang dia rasakan pada wanita itu. "Terima kasih ya, sayang! kamu bisa menerima kehadiran Aisyah sebagi istriku dan Albar sebagai anakku, aku akan selalu menyayangi kalian bertiga".


Desi semakin jengkel mendengar ucapan Rehan, "Kita lihat saja nanti! Aku akan pastikan kamu membuang dua manusia itu jauh dari hidup mu sendiri. Aku tidak akan pernah sanggup berbagi kasih sayang dengan orang lain meskipun itu anakmu sendiri..". Gumamnya bertekat dalam hati.


Tapi dia sebisa mungkin memancarkan wajah bahagia dan ikhlas di depan Rehan agar kedoknya bisa aman. "Sama - sama, sayang!".


Mereka berdua akhirnya bangun membersihkan diri secara bergantian, Desi mengajak Rehan mandi bersama, tapi lelaki itu merasa jijik jika nanti akan melihat darah mengalir dari pangkal paha wanita itu. Sementara menunggu Desi mandi, Rehan memesan baju sedondon untuk di gunakan bersama Desi hari ini ke rumah sakit pada asisten pribadinya.


**


Aisyah yang sudah berganti pakaian sedang berbalas pesan dengan seseorang yang bisa membuatnya sejenak melupakan masalah rumah tangganya.


"Datang aja, tak akan ada yang marah, kok! Kamu kan datang cuma jengukin Albar bukan jengukin ibunya...". Goda Aisyah dalam pesannya di sertai emoji malu.


"Aku akan datang jengukin keduanya, suami kamu apa akan datang jengukin Albar pagi ini?". Balas Zack.


"Entah lah, dia itu kadang suka bolos kerja jika anaknya sakit, tapi Datang aja! Aku ingin meminta tolong sesuatu pada kamu jika kebetulan mas Rehan juga datang saat bersamaan..".


"Datang aja dulu.."


"Sudah yah aku ingin lihat Albar kejab.."


Aisyah menyimpan ponselnya mengakhiri balas pesan bersama Zack, bos rasa teman nya itu. Semalam pria itu mengirim pesan padanya bentuk prihatin padanya, tapi hatinya seolah berbunga - bunga di buat nya. Zack selalu datang di waktu dia sangat membutuhkan pertolongan atau sekedar menjadi teman ngobrol di kala hatinya gunda gulana.


Mereka berbicara seperti teman yang sudah lama kenal, bercanda gurami sepanjang malam melalui pesan.


"Kamu sedang apa Aisyah?".


Lamunan wanita itu terhenti karena sentuhan di bahunya menyadarkannya. Dia melihat ke belakang siapa yang datang. "Mas Rehan? Bila sampai?". Tanya nya lesu, dia pikir yang datang adalah pria yang baru saja berkirim pesan nya dengannya.


"Baru saja, memberi salam beberapa kali tapi kamu tidak menggubris. Sedang pikirkan apa tadi?". Tanya Rehan kesal dengan tingkah Aisyah yang semakin hari semakin berbeda.

__ADS_1


"A- aku tak mikirin apa - apa kok, mas. Aku hanya khawatir dengan keadaan Albar, kok beluk bisa di bawa pulang yah? Katanya dokter tidak terjadi apa - apa pada kepalanya tapi kok di tahan, yah?". Aisyah gelagapan tapi tetap berusaha tenang.


"Kita ikut apa saran dokter aja, mereka pasti tahu yang terbaik untuk pasiennya, kamu tenang saja, anak kita pasti baik - baik saja.". Sahut Rehan mencoba menenangkan istrinya.


Desi yang berada di belakang Rehan berusaha mengawal rasa cemburunya dari melihat interaksi antara mereka. Dia tahu keberadaannya belum di lihat oleh bakal madunya itu.


"Iya mbak Aisyah! Albar pasti baik - baik saja, dia anak yang kuat sama seperti ayah nya..". Ucapnya melangkah mendekati mereka berdua.


Aisyah yang berpikir suaminya hanya datang sendiri pun terkejut mendengar suara lembut wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu.


Aisyah tidak menggubris dan memilih menatap kembali anaknya di balik kaca. Dia tahu perkataan Desi sebenarnya ingin memuji keperkasaan suaminya yang sudah pasti dia rasakan semalam.


"Kenapa kalian tidak ke kantor? Capek?". Tanya Aisyah yang merupakan sindiran untuk dua orang di sampingnya.


"Iya, kami capek!". Jawab Rehan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Aisyah menjelang suaminya sejenak lalu kembali menatap ke hadapan. "Ck, dasar...". Batinnya jijik.


Terlihat Rehan dan Desi tampak lengket bagai perangko tidak menghiraukan kehadiran Aisyah di antara mereka. Terdengar canda tawa keluar dari mulut keduanya, kadang saling menggoda antara satu sama lain dengan sentuhan gemes. Sesekali mengajak Aisyah mengobrol sama, tapi hanya senyum terpaksa yang di lontarkan wanita itu.


"Tapi bagaimana aku membalas perbuatan mereka ini? Mas Rehan pasti kenal dengan CEO perusahaanya, secara dia adalah direktur di salah satu cabang perusahaan milik Keluarga Purbalingga..". Batin Aisyah bingung. Dia terus memikirkan cara agar Zack tidak di kenali oleh Rehan.


Dia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke Zack tentang ide yang terlintas di benaknya. Dia yakin lepas ini Rehan akan lemas karena cemburu melihat seorang lelaki datang mendekatinya.


TRING


Masuk pesan balasan dari Zack.


"Kamu tenang saja! dia pasti tidak akan mengenaliku, sebentar lagi aku akan datang!...".


Senyum terbit indah di bibir Aisyah, tidak menyangka Zack mau saja menuruti permintaanya yang konyol itu. Tapi dia tetap merasa tidak enakan, secara Zack itu adalah atasannya kini. Takut saja tiba - tiba dia kena pecat di sebabkan dirinya terlalu sok akrab begitu.

__ADS_1


"Kamu sedang balas pesan dengan siapa, Syah?...".


__ADS_2