
Hari ini Rehan dan bu Wahida berangkat menuju kampung mereka untuk meminta hak atas tapak tanah yang di - tempati bibi Suri membangun rumah nya.
Sesampai di tempat tujuan, Rehan langsung memarkir mobilnya di halaman rumah bibik Suri nya.
"Kamu masuk aja dulu ibu mau ke rumah seseorang untuk meminta pertolongan". Bu Wahida meminta Rehan masuk duluan menemui adiknya dan ia malah melenggang kan kaki keluar halaman rumah entah menuju ke rumah siapa.
Rehan menurut dan melangkah kan kaki ke arah pintu. Udah memberi salam beberapa kali tapi tidak ada satu orang pun yang menjawab. Karena pintu kebetulan terbuka Rehan pun langsung saja masuk tanpa izin karena biasanya ia juga seperti itu ketika berkunjung.
Saat masuk terlihat sema orang sedang asik mengobrol di ruang keluarga sambil nonton movie dan ngemil. Bagaimana bisa mendengar orang datang jika suara TV aja sangat menggelegar di tambah gelak tawa nyaring dari mereka sekeluarga. Ada Suri, anaknya sebanyak dua orang dan suaminya yang bernama Kian.
Rehan menghampiri mereka dan sontak saja seisi rumah di buat kaget dengan kedatangannya yang tiba - tiba. Tapi dengan cepat pak Kian merubah mimik wajahnya sinis menatap Rehan.
"Untuk apa kamu datang kesini? Mau minta maaf karena sikap kurang ajar kamu seminggu yang lalu? Jangan risau om sudah maaf kan tapi maaf yah kami tetap tidak mau lagi menemani kamu melamar ke mana - mana wanita lagi. Kamu pergi aja sendiri". Cerca Pak Kian meremehkan.
"Mas jangan seperti itu! Walau bagaimana pun dia tetap anak dari mbak Idha dan sudah tentu anakku juga". Ujar Suri membujuk suaminya. Ia kemudian menghampiri Rehan. "Kamu pasti capek nyetir jauh - jauh, sini duduk dulu bibi akan buatkan minum". Tawarnya.
Beberapa saat kemudian Suri kembali dengan meneteng secangkir teh hangat untuo Rehan. "Ini di minum dulu, kamu jangan ambil hati ucapan om kamu tadi, dia hanya tidaj terima jika kamu mengatakan anak kami seperti hari itu makanya kalau bicara itu jaga nak. Tapi dengan kamu rela datang jauh - jauh demi minta maaf pada kami bibik jadi memaafkan kamu...". Ujar Suri dengan percaya diri.
__ADS_1
"Saya memang datang untuk meminta maaf tapi Bu kam sebab masalah antara kita tempuh hari tapi sebab hal lain. Lagi pula saya tidak merasa melakukan kesalahan jadi untuk apa say datanya jauh - jauh hanya untuk meminta maaf pada kalian kan kenyataan jika anak kalian itu seperti gajah bukan dia seorang saja tapi kalian semua seperti gajah, bagaimana nggak gemuk kalau kerjaan nya cuma makan - makan, makan". Ejek Rehan turut menyepelekan.
Pak Kian berdiri dengan emosi dan menunjuk tepat ke arah Rehan. "Kamu jangan datang ke sini kalau hanya ingin memancing emosi saja! Sana keluar kamu dari rumah ku!". Usir pak Kian memegang dadanya sebelah kiri.
"Iya, kamu itu di bagi hati kok minta jantung. Bibik udah menyambut kamu baik - baik tapi kamu malah semakin menambah rumyam masalah di antara kita. Meskipun kamu sudah bibi anggap seperti anak sendiri tapi sikap dan ucapan kamu sangat keterlaluan". Sahut Suri ikut kesal.
"Aku tiada niat merendah kan karena yang ku katakan memang benar adanya. Lihat aja badan kalian, ha ha ha". Rehan sama sekali tidak gentar.
"Usir dia cepat dari sini meskipun dia anak dari mbak Ida tapi perkataannya bisa memutuskan ikatan kekeluargaan di antara kita. ..". Perintah pak Kian pada istrinya.
Suri ingin membuka mulut mengusir tapi Rehan dengan cepat mengatakan maksudnya datang ke rumah ini. "Sabar dong, saya datang juga sebenarnya ada perlu yang lain. Jika kalian ingin mengusir aku dari sini aku juga ingin kalian angkat kaki dari tanah ibu ku yang kalian tempati bangun rumah buruk ini". Kata Rehan tanpa memikirkan perasaan keluarganya.
"Apa yang kamu katakan ini Rehan? Tanah ini sudah menjadi milik kami atas izin dari ibumu sendiri. Kamu tidak boleh mengatakan hal itu sekarang!". Ujar Suri tidak terima.
"Kenapa tidak boleh? Bukan kah kalian sendiri yang menginginkan aku pergi dari sini karena ikatan kekeluargaan antara kita sudah putus. Jadian aku ingin ingatkan untuk segera angkat kaki dari sini karena ini adalah tanah warisan milik ibu ku dan otomatis milikku juga sebagai anak satu - satunya. Jika kalian tidak ingin membeli tanah ini maka silakan angkat kaki segera!". Malah Rehan yang mengusir pemilik rumah dari rumahnya.
"Kamu tidak boleh mengusir kami dari sini Rehan! Rumah ini bukan milik kamu, aku yang membangunkan sendiri jadi tidak ada hak kamu di sini!". Bentak Pak Kian tidak terima di usir dari rumah sendiri.
__ADS_1
"Ha ha ha, jika itu yang menjadi alasan kalian. Maka jangan salahkan aku jika meminta orang untuk merobohkan rumah kumuh ini. Memang rumah ini bukan milik aku, tapi aku ingat kan kembali jika tanah tapak kalian membangun ini adalah milik ibu ku. Kalian jangan lupakan itu wahai mantan keluarga ku yang terhormat!". Cerca Rehan masih tidak mengalah.
"Kamu jangan lancang seperti ini Rehan! Mbak Ida sendiri yang mengizinkan kami untuk mengambil tanah ini dan membangun rumah. Dia sama sekali tidak menurut kenapa malah kamu yang hanya seorang anak yang datang mengusir kami? Dengar Rehan, kamu tidak berhak sama sekali karena kami tidak ada masalah dengan ibu kamu jadi jangan kaitkan masalah kita dengan ibu mu dia pasti tidak tega mengusir kami dari sini". Seru Suri tidak mau mengalah.
"Siapa bilang aku tidak berhak? Kepunyaam ibuku ya kepunyaan aku juga dong. Lagi pula ibu sendiri kok yang meminta agar kalian membeli tanah ini kalau tidak sila angkat kaki dari sini!". Rehan kembali mengusir.
Suri jadi pusing jadinya, di santi sisi ia tidak memiliki uanh untuk membeli tanah milik kakak kandungnya ini tapi di satu sisi lain mereka memang sudah lupa akan hal itu sehingga menimbulkan konflik dengan Rehan. Suri kemudian beralih menatap suaminya dengan mengibah.
"Lebih baik kita mengalah aja mas, kita minta maaf dengan Rehan agar tidak mengusir kita dari tanah ini. Aku tidak mau kalau rumah kita benar - benar di gusur olehnya, di mana kita akan tinggal mas?". Lirih Suri memohon pada suaminya.
Pak Kian tidak bergeming ia masih tidak ingin meminta maaf pada Rehan karena masalah di antara mereka bukan dia yang mulai tapi Rehan sendiri yang lebih dulu menghina fisik anaknya dan hari ini malah menghina fisik seluruh keluarganya. Tentang tapak rumah mereka dia yakin jika Rehan sama sekali tidak berhak di dalamnya karena bu Wahida sendiri yang memberikannya.
"Tidak! Siapa yang salah maka dia yang meminta maaf, kenapa harus kita yang mengalah sedangkan kita tidak bersalah dan kita lebih tua darinya harua nya ia lebih menghormati kita tapi ini tidak, sebagai keluarga sendiri ia sama sekali tidak menghargai malah menghina fisik kita semua". Tolak pak Kian.
"Harus dong kalian minta maaf pada ku, jika tidak maka segera angkat kaki dari sini cepat karena aku tidak punya banyak waktu". Rehan juga dengan keras kepalanya tidak mau mengalah pada yang lebih tua.
"Kami akan membeli tanah ini jika mbak Ida sendiri yang memintanya. Kalau hanya anak ingusan ini yang memintanya maka aku tidak akan membayar membayar sepersen pun. Antara kami sudah ada perjanjian maka tidak untuk kami seenak jidat aja meminta hak". Pak Kian masih bersikukuh pada pendiriannya.
__ADS_1
Ia memilih duduk manis di depan TV dan melanjutkan menonton. Keberadaan Rehan sama sudah tidak ia pedulikan, ingin pergi atau tidak terserah pada dia saja.
"Sekarang mbak sudah ada di sini dan meminta kalian segera membeli tanah ini!". Tiba - tiba bu Wahida muncul dengan seorang pria paruh baya di sampingnya.