
Kini Rehan sudah berada di hadapan bik Saras, wanita tua itu memasang wajah datar padanya tanda dia tidak suka bertemu dengannya.
"Kamu mau apa lagi?". Tanya bik Saras dingin.
"Sekarang bibik tidak bisa mengelak lagi, bawa aku masuk ke dalam bertemu Aisyah sekarang!". Jawab Rehan menohok.
"Maksud nak Rehan apa sih? Bibik nggak ngerti, sudah yah, bibik buru - buru di minta beli sesuatu di bawa". Elak bik Saras. Dia sedikit gentar karena tatapan Rehan begitu tajam ke arahnya.
"Biar aku yang hantar biar cepat kembali lagi, aku ingin bertemu Aisyah". Ajak Rehan.
Bik Saras ketar - ketir bagaimana menghindari lelaki di hadapannya ini. "Siapa yang bilang kalau yang di dalam itu Aisyah? Bukan dia! Di dalam itu orang lain, keluarga tuan Zack yang sedang sakit, kamu jangan ngomong sembarangan!". Kata bik Saras.
"Bibik nggak usah bohong lagi! Aku udah tahu jadi bawa aku ketemu dia sekarang!". Bentak Rehan habis kesabaran dengan sikap mantan ARTnya ini.
Bik Saras menghela napas berat, "Baik lah jika kamu tidak percaya, aku bisa membawamu kedalam sekarang". Jawab bik Saras tanpa beban ia melangkah kembali menuju ruangan yang di jaga ketat oleh pengawal di ikuti oleh Rehan di belakangnya.
"Izin dia masuk bersamaku". Ucap bik Saras pada pengawal dan langsung di bukakan pintu untuk masuk ke dalam. "Lihat! Siapa yang kamu lihat sekarang?". Imbuhnya pada Rehan yang tampak tidak percaya jika di hadapannya bukan istrinya tapi orang lain.
Seorang wanita yang tertidur pulas dengan pelbagai alat bantu kehidupan di pasang di seluruh tubuhnya dan wajah yang cukup berbeda dari orang yang Rehan cari. "Bukankah yang di rawat di sini nama nya Aisyah, apa mungkin dia Aisyah yang berbeda? Dasar pengacara kurang ajar! Beraninya dia membohongiku hingga tampak seperti orang bodoh di depan wanita tua ini". Batin Rehan kesal.
"Sekarang keluar! Jangan buat keributan lagi di sini!". Usir bik Saras, Rehan langsung keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal dan kecewa karena lagi - lagi gagal bertemu sang istri pertama.
Bik Saras membuang nafas lega, dia yakin mengajak Rehan masuk karena hakikatnya ruang rawat Aisyah dan Mawar, anaknya sudah tertular sesuai perintah Zack beberapa hari yang lalu sesuai keinginan sang mami. Letak ruangan Aisyah kini lebih dekat dengan kamar rehat milik keluarga Purbalingga di rumah sakit ini dan juga berhampiran ruang di mana sang Daddy di rawat, jadi tidak begitu memakan tenaga jika ingin menjenguk keduanya.
Saat ingin keluar, bik Saras tanpa sengaja melihat pergerakan pada tangan sang anak, dengan haru dia meminta pada pengawal untuk memanggil dokter. Linangan air mata bik Saras mengenggam tangan Mawar dan menciumnya meskipun mata anaknya belum terbuka sama sekali.
__ADS_1
Dokter datang memeriksa kondisi Mawar dan berkata jika kondisinya semakin membaik, dokter dan beberapa perawat sama - sama menunggu hingga mata Mawar terbuka dengan perlahan dan menatap bingung pada setiap orang yang berada di sana.
Mega juga sudah berada di sana setelah mendapat kabar dari pengawal, dia menunggu reaksi yang di utaran oleh wanita yang sudah koma beberapa bulan itu, suatu keajaiban karena Mawar sadar jauh lebih cepat dari prediksi dokter.
"Maaaamiiii". Ucap Mawar dengan nafas berat sambil menatap lekat sang ibu angkat yang selama ini merawat dan membiayainya.
Tangan bik Saras di lepas memberi ruang untuk sang majikan untuk menyapa anaknya. Ada rasa cemburu karena kehadirannya seperti tak di anggap padahal sedari tadi tangannya tak lepas dari menggenggam tangan sang anak, tapi dia tidak menyalahkan siapa - siapa karena Mawar memang tidak mengenalinya.
"Akhirnya kamu sadar sayang, kami semua begitu merindukan dirimu. Bagian mana yang kamu rasa sakit, biar dokter periksa lagi yah". Ucap Mega penuh khawatir.
Mawar hanya tersenyum tipis karena hakikatnya seluruh tubuhnya kini masih terasa sakit semua. "Mami jangan nangis gitu, Mawar nggak tega lihatnya". Gumamnya dengan suara kecil dan berat.
Mega cepat menghapus air matanya, gadis di hadapannya ini memang sedari dulu tidak suka melihatnya menangis, ia pasti akan ikutan menangis dan memeluk dirinya dengan erat. "Ini buka tangis sedih kok sayang, ini tangis bahagia karena kamu kini udah sadar". Jawab Mega membelai lembut kepala gadis yang sudah dia besarkan.
Tak lama Zack juga datang menghampiri mereka, "Bagaimana keadaannya dok?". Tanya nya.
"Sudah mulai membaik, tapi sekarang beliau belum boleh terlalu banyak gerak dan berbicara dulu apalagi banyak pikiran, dia masih harus banyak istirahat. Jadi sebaiknya tinggalkan pasien dulu untuk beristirahat, saya sudah memberikan obat penenang agar pasien tertidur dengan nyenyak". Ucap Dokter.
"Baik terima kasih dokter". Zack akhirnya mengajak Mega dan yang lainnya keluar dari ruangan agar Mawar beristirahat dengan tenang.
Sesampai di luar Zack melihat raut wajah bik Saras masih terlihat menyimpan beban yang begitu berat. "Bibik tenang saja, sekarang biarkan dia istirahat dulu sampa keadaannya benar - benar pulih baru bibik kami perkenalkan pada Mawar".
"Bukan seperti itu tuan Zack, saya hany merasa bersalah selama ini sudah menelantarkannya bersama ayahnya dan akhirnya mendapat seorang ibu tiri yang tidak menyayanginya". Sahut bik Saras bersalah.
Mega memeluk bik Saras menyalurkan kekuatan. "Jangan ngomong begitu, kamu ibu yang baik dan berhak bahagia. Lagipula siapa yang ingin mempertahankan rumah tangga jika pasangan selingkuh dan malah bersikap kasar pada kita saat udah ketahuan. Bukan maksud saya membela mantan suami ibu, tapi saya yakin dia ayah yang baik untuk anaknya buktinya ia tetap menjaga Mawar dengan baik tapi karena kesihan Mawar tidak sekolah, saya mengambilnya jadi anak angkat. Awalnya memang ayahnya keberatan tapi istrinya terus membujuk dan akhirnya di izinkan". Imbuh Mega memberi penjelasan.
__ADS_1
Bik Saras mengangguk perlahan untuk menanggapi, ia memilih berdamai dengan perasaannya dan mulai mengalihkan pikirannya pada hal lain supaya tidak larut dala kesedihan dan rasa bersalah.
Setelah menjenguk Panji, Zack dan bik Saras beralih ke kamar Aisyah di rawat sedangkan Mega tetap menjaga suaminya.
"Bagaimana jika Mawar tidak menerima kehadiran ibunya?". Tanya Panji sambil memakan buah yang di berikan istrinya.
"Tidak mungkin deh sayang, soalnya keinginan Mawar dari dulu itu bertemu sang ibu, pasti ia bahagian banget bisa memeluk ibunya seperti permohonannya dulu sewaktu kecil". Balas Mega.
"Bagus lah, dia buka jenis wanita yang pendendam apa lagi pada orang tuanya sendiri, terus keadaan anak kita sekarang bagamana?". Panji beralih menanyakan Aisyah.
"Dia sudah mulai baikan dan sebentar lagi di benarkan pulang. Tapi bagaimana untuk keinginan kita mengajaknya tinggal bersama di mansion, dia jenis wanita yang keras kepala tampaknya". Sahut Mega.
"Melodiku sayang, kamu harus ingat sifat itu sebenarnya menurun dari siapa coba?". Ejek Panji menahan senyumnya.
"Iya ia seperti aku, jika sudah berkata iya ya iya jika tidak ya tidak. Tiada negosiasi, tapi bodohnya jika sama kamu aku selalu mengalah dan nurut aja semua keinginan kamu". Balas Mega memasang wajah kesal.
Panji gemes dan mencubit bibir sang istri tercinta dengan kuat sehingga Mega semakin kesal karena kesakitan di bahagian bibir.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan bawahan kita, apa ada perkembangan?". Panji mengalihkan perbincangan agar Mega tidak lagi kesal.
"Entah lah sayang, malah sekarang aku bingung dan syok dengan berita yang baru saja aku dengar dari bawahan kita". Sahut Mega. Panji menatap bingung dan menunggu lanjutan dari omongan sang istri. "Tapi janji kamu jangan ikutan syok yah, aku khawatir nanti kamu drop lagi". Sambung Mega.
Panji mengangguk perlahan dan mencoba menenangkan perasaannya sebelum mendengar apa yang ingin di sampai kan wanitanya.
"Ini tentang Cleo". Mega kembali menghentikan ucapannya, karena kenyataan ini begitu berat untuk di sampai kan pada sang suami.
__ADS_1