
"Selamat pagi pak Panji, suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda di pagi ini". Ramah Rehan basa basi.
Pria yang di sapanya hanya menatapnya sinis tanpa ada niat untuk menjawab. Rehan heran kenapa Panji bersikap cuek padanya padahal selama ini pria berkharisma itu selalu hangat bisa bertemu dengannya.
Wanita yang turun di pintu sebelah sudah berada di samping Panji, " Ayo sayang kita masuk!". Ajak Panji pada sang putri, Aisyah. Pinggang Aisyah di peluk hangat membuat Rehan salah paham dengan kedekatan keduanya.
"Tunggu pak Panji! Anda sebenarnya ada hubungan apa dengan istri saya?". Tanya Rehan mencoba mengejar mereka tapi di halang oleh benerapa orang pengawal.
"Maaf pak, Tuan Panji sekarang sedang tidak ingin diganggu". Tegas salah satu pengawal.
"Tapi wanita itu masih istri saya!". Sahut Rehan mulai terpancing emosi.
Para pengawal tida menggubris tapi tetap menjaga Rehan agar tidak mendekati tuan mereka.
"Itu Aisyah bersama siapa tadi Rehan?". Tanya Wahida menghampiri putra semata wayangnya.
"Itu pemilik perusahaan tempat aku berkerja ibu". Jawab Rehan.
"Pantas saja perempuan si4l itu ngotot ingin menggugat cerai kamu padahal tidak memiliki apa - apa, kamu cari selama ini oun tidak pernah ketemu toh dia sekarang di jaga ketat kok". Imbuh Wahida memberi kesimpulan.
Reham menyeret ibunya menjauh agar perkataan ibu selanjutnya tidak menyinggung atasannya yang akan berakibat fatal pada pekerjaannya. "Apa maksud ibu?". Bingung Rehan.
"Iya lah, dia sekarang pasti menjadi simpanan orang tajir, pemilik perusahaan itu". Jawab Wahida.
"Ibu jangan omong sembarangan! Jika mereka dengar bagaimana? Jika pun itu benar, Rehan nggak boleh berbuat apa - ap sekarang ingin melawan balik juga tidak mungkin". Sahur Rehan mulai nelangsa.
" ibu sudah curiga dari dulu Rehan sama perempuan itu, kamu bilang sama ibu tidak pernah memberi dia uabg lebih tapi dia bisa melakukan perawatan kecantikan bahkan membeli barang branded yang harganya lumayan mahal, pasti dia sudah lama melakukan perselingkuhan itu bersama atasan kamu. Harusnya kamu mengatakan itu pada hakim nanti supaya kamu tidak di tuntut uang bulanan untuk anak kamu, ibu tidak terima itu!". Wahida mencoba mengompori anaknya.
"Jika itu pria lain mungkin bisa ibu, tapi ini pemilik perusahaan tempat aku berkerja, bagaimana aku ingin melawan coba? Ibu mau aku hilang pekerjaan?". Kata Rehan mengingatkan sang ibu.
Wahida terdiam, yang di katakan Reham benar adanya. Jika mereka melawan itu akan berakibat pada pekerjaan sang anak, sedangkan menyerah terlihat pula si Rehan ini payah tapi itu lebih baik dari pada harus kembali tidak memiliki pekerjaan yang pasti mereka akan kembali hidup melarat jika Reham tidak segera mendapatkan pekerjaan lain.
__ADS_1
" Pokoknya kita pasrah saja akan keputusan hakim nanti tanpa perlu membantah jika perlu jangan membuka mulut sama sekali, aku yakin pak Panji tak akan memecat Rehan jika kita bersikap seperti itu karena selama ini aku sudah begitu berjasa di perusaan cabang miliknya". Saran Rehan dengan yakin.
Wahida mengangguk dengan ucapan Rehan, jika di minta tanggung jawab nafkah anak setiap bulan itu lebih baik dari pada dia kehilangan semua pemasukan dari Rehan. "Baik lah ibu setuju".
Seperti perkataan Rehan, semasa persidangan berlangsung mereka berdua tidak membuka mulut sama sekali, hanya kuasa hukum Rehan yang memberi sedikit ucapan yang sama sekali tidak untuk menyerang balik hanya sekedar memberi ucapan sapaan semata.
Tok
Tok
Tok
Hakim mengabulkan gugatan cerai Aisyah terhadap Rehan dengan hak asuh anak jatuh kepada Aisyah. Rehan tidak di tuntut apa - apa bahkan untuk nafkah anak pun Aisyah tidak ingin sepersenpun asal Rehan tidak menemui anaknya seperti yang Rehan lakukan dulu saat ia masih tinggal di rumah lelaki itu. Tapi tentu saja hakim tidak setuju akan hal yang satu ini, karena walau bagaimana pun Rehan tetap ayah kandung Albar dan juga memiliki hak untuk menemui sang anak.
Panji menenangkan sang putri, "Kamu tenang saja, lihat mereka sama sekali tidak melawan! Ayah pasti akan melindungi kalian berdua, meski pun mereka miliki akses untuk menemui Albar, tapi ayah yakin mereka tidak berani mengganggu kamu, kamu jangan khawatir yah!". Bisik Panji.
Aisyah mengangguk setuju tapi hatinya tetap tidak tenang. Persidangan akhirnya bersurai tanpa memakan waktu yang sangat lama.
*
*
"Bagaimana keputusan pengadilan ibu? Masih di tunda lagi?". Tanya Desi pada ibu mertuanya.
"Rehan resmi bercerai dengan perempuan itu bahkan Rehan tidak di tuntut sepersenpun nafkah untuk anaknya setiap bulan". Jawab Wahida.
"Terus kenapa wajah ibu cemberut juga, harusnya kan ibu senang". Sahut Desi bernafas lega.
"Iya ibu senang, tapi..". Wahida menggantung ucapannya.
"Tapi apa ibu? Jangan bertele - tele boleh nggak, Desi kesal jadinya". Desi melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Ternyata selama ini Aisyah ada main di belakang Rehan...". Ucapan Wahida terpotong.
"Oh itu sebabnya mas Rehan tidak di tuntut nafkah anak, jadi kenapa wajah kalian masih seperti itu, menyesal?". Desi semakin bingung.
"Bukan soal menyesalnya, tapi selingkuhan Aisyah itu adalah pemilik perusaahan tempat Rehan bekerja sekarang, takut lepas ini Aisyah meminta pada lelaki itu untuk memecat Rehan". Jelas Wahida.
"Benar begitu mas?". Tanya Desi pada Rehan yang duduk termenung di sofa. Karena tidak mendapat respon, Desi melemparkan pantas sofa ke arah suaminya itu.
"Apa an sih kamu Desi!". Kesal Rehan kaget.
"Kamu itu kok malah termenung, apa yang di katakan ibu barusan itu benar?". Tanya Desi penasaran..
"Hem". Jawab Rehan, meskipun dia tidak dengar obrolan dua wanita di hadapannya itu tapi dia yakin sang ibu pasti menceritakan soal Aisyah yang memiliki skandal dengan pemilik perusahaan.
"Aku yakin itu semua tidak akan terjadi, setahu aku pak Panji Purbalingga tidak akan mengaitkan hal pribadi dengan hal pekerjaan, selama ini kamu aman - aman aja kan, sebab Pak Panji tak akan bodoh memecat kamu yang sudah berjasa mengelola perusahaanya hingga bisa maju seperti sekarang hanya karena permintaan seorang wanita, tak semudah itu". Imbuh Desi membuat Rehan dan Wahida bagai mendapat angin segar.
Wajah mereka yang awalnya cemberut dan muram kini tampak bersemangat kembali.
"Yang di katakan Desi itu benar Rehan, pasti pak Panji tak mau ambil resiko, kamu lebih baik tenang dan bekerja semakin giat untuk mengembangkan lagi perusahaan miliknya, kamu pasti akan semakin di percaya dan tidak akan di pecat". Yakin Wahida sangat antusias.
"Menantu ibu ini memang yang terbaik". Seru Wahida memeluk erat sang menantu kesayangan.
"Iya dong, tapi lepas ibu aku sesak nafas". Desi mencoba melepas pelukan ibu mertuanya.
"Maaf, ibu begitu bahagia soalnya". Ujar Wahida melepas pelukan nya.
"Sekarang mas sudah tidak ada lagi yang perlu di pikirkan selain masa depan hubungan kita yang perlu di bincang kan sekarang, mas masih ingat dengan janji mas pada aku kan?". Tanya Desi membuat Rehan kembali berpikir, janji apa yang telah dia ucapkan pada Desi.
"Jangan bilang mas lupa! Tapi tak apa biar istri mas satu - satunya ini mengingatkan kembali janji mas, ini baca!". Desi memberikan kertas ke arah Rehan.
"Apa ini?". Bingung Rehan mengambil kertas itu dari tangan Desi.
__ADS_1
"Baca aja dulu". Jawab Desi dengan senyum misterius nya.