Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 259 detik - detik


__ADS_3

"Saya sudah mentransfer sebagian bayaran kalian, saya tunggu ditempat biasa...". Imbuh bu Wahida memperlihatkan bukti transaksi di layar ponsel nya.


"Terima kasih atas kerja sama ibu. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Saya akan mengurus seorang untuk membawa ibu dan putra ibu keluar dari rumah sakit menuju mobil. Kita akan ketemu lagi di besok". Pamit Ahmad pada bu Wahida.


Bu Wahida tidak menjawab hanya anggukan kepala yang ia berikan. " sebentar lagi aku dan Rehan akan hidup bahagia berdua. Meskipun ia di vonis lupa ingatan atau lebih parah akan gila jika sadar, tapi aku akan tetap merawatnya seperti biasa. Hanya dia harta berharga yang ku miliki di dunia ini". Gumam bu Wahida saat Ahmad sudah meninggalkan nya sendirian dalam ruangan itu.


Sebelum pulang, bu Wahida menyempatkan diri makan siang terlebih dahulu di ruangan ini. Ia harus menikmati hari - hari terakhir berada di kota kelahirannya. Sebentar lagi ia akan menjalani hidup di tempat yang jauh, lebih sunyi dan lebih damai dari kota ini. Ia juga akan berusaha mengubah sifat nya yang selalu merendahkan orang lain. Ia kini sadar jika sifatnya lah yang membuat hidup nya serumit sekarang.


Tidak memiliki rekan satu pun yang tulus berteman dengan nya. Bahkan keluarga nya sendiri memusuhi dirinya, ia yakin jika saat ini keluarganya sedang memaki - maki diri nya dan menertawakan dirinya atas masalah yang sedang menimpa dirinya sar ini. Tapi ia tidak akan meminta maaf pada siapa pun terutama pada dua mantan menantunya yaitu Aisyah dan Desi.


"Bagaimana kabar Desi dan cucu perempuan ku sekarang? Keberadaan mereka bagai di telan bumi semenjak melihatnya terakhir kali, waktu itu aku melihat Rehan kecil ada dalam diri cucu ky itu. Tapi hasil mencari mereka nihil. Begitu banyak suruhan yang ku kirim untuk melacak keberadaan nya tapi sampai saat ini belum ada kabar baik tentang mereka. Bahkan suami Desi yang bernama Aldo pernah datang mencari keberadaan Desi di rumah dengan keadaan marah - marah. Itu menandakan kalau dia juga tidak tahu di mana Desi saat ini berada....". Gumam bu Wahida di sela - sela ia menikmati hidangan yang ia pesan.


"Aku tidak peduli dendan Desi, tapi setidaknya biarkan aku yang merawat cucu ku itu... Kalau nanti Rehan sadar dan ternyata benar - benar gila, ada cucu ku itu yang menemani hari - hari tua ku". Bu Wahida terbayang wajah cucu keduanya, hasil pernikahan Rehan bersama Desi.


Setelah selesai menikmati pesanan nya, bu Wahida membayar tagihan nya dan bergegas kembali ke rumah sakit. Ia harus mencari perawat yang tulus ingin bekerja bersama nya dan ikut merawat anak nya di tempat yang baru. Ia janji akan memperlakukan perawat itu dengan baik agar ia betah bekerja dengan nya.


Sesampai di rumah sakit, bu Wahida langsung menuju ruang rawat Rehan karena khawatir dengan keadaan putranya itu. Tapi saat ia berada tidak jauh dari pintu, ia melihat begitu banyak polisi yang berjaga di luar. Bu Wahida menghela nafas berat.


"Kenapa harus sekarang mereka datang menjaga Rehan? Sebelumnya mereka juga sangat cuek dan hanya memborgol tangan Rehan pada brangkas dan datang hanya dua hari itu pun hanya sebentar. Tapi kenapa sekarang mereka malah menjaga Rehan dengan sangat ketat. Jangan sampai rencana aku untuk kabur gagal total....". Gumam Bu Wahida tercengang melihat para polisi.


Tringg....

__ADS_1


Tiba - tiba satu pesan masuk ke dalam ponsel nya. Bu Wahida segera membaca pesan itu yang ternyata dari Ahmad.


(Ibu tenang saja di tempat, serah kan semua nya pada kami. Kami pasti tidak akan membuat ibu kecewa telah bekerja sama denga agensi kami).


Akhirnya bu Wahida kini bisa bernafas lega. Ia mempercayakan semua nya pada Ahmad dan anak buahnya untuk membawanya pergi dari sini.


*


*


Sementara di tempat lain, Zack sedang bersama Mbah Suryo saat ini. Ia terpaksa menunggu beberapa hari kemudian sampai hasil teks kesehatan mbah Suryo keluar.


"Mbah ingin masuk lagi atau langsung pulang saja dulu. Aku khawatir jika mbah tiba - tiba drop akibat kelelahan". Tawar Zack ada mbah Suryo.


"Emang apa mbah lihat saat memegang tangan daddy Panji?". Tanya Zack penasaran.


"Mbah kurang yakin apa yang sempat melintas di penglihatan mbah. Tapi yang jelas, itu merupakan kejadian penyebab mengapa mereka berdua koma. Tapi semuanya masih belum jelas di penglihatan mbah, semuanya berputar begitu cepat sehingga tidak mbah mengerti...". Jelas mbah Suryo merasa bersalgelap


"Maaf kalau aku bertanya, aku hanya ingin memastikan apa sebelumnya mbah memang memiliki keahlian seperti itu?". Tanya Zack memastikan.


Mbah Suryo menghela nafas berat dengan tatapan kosong jauh ke hadapan. "Sebenarnya mbah ini seorang indigo, mbah sering berkomunikasi dengan makhluk - mahkluk halus tapi bukan berarti mbah meminta pertolongan pada mereka. Dengan kelebihan mbah itu, mbah makanya mendalami agama, belajar semua cara untuk melumpuhkan makhluk halus. Makanya, musuh mbah yang meminta bantuan oada bangsa mereka bisa mbah kalahkan dengan mudah. Mereka dendam dan mencari kelemahan lain untuk menyingkirkan mbah dari bisnis gelap...". Lirih mbah Suryo.

__ADS_1


"Kejab - kejab! Aku kurang paham dengan maksud mbah sebenarnya, mbah mendalami agama hanya untuk melemahkan makhluk halus yang di gunakan musuh mbah tapi mbah sendiri masih menjalani bisnis gelap?". Zack semakin bingung. (Sama bingungnya dengan pembaca yang kesal dengan cerita yang hanya berputar - putar tidak jelas saja).


Mbah tidak menjawab tapi Zack bisa menebak jika ucapannya benar.


Beberapa saat kemudiaan. Zack menawarkan mba Suryo untuk masuk ke dalam ruangan Aisyah.


"Bagaimana kalau sekarang kita ke ruangan sebelah, aku sudah masuk menemui nya tadi dan mengatakan akan datang kembali dengan membawa mbah sebagai oleh - oleh nya...". Ajak Zack.


"Kalau begitu ayo kita segera masuk. Pasti dia menunggu kedatangan kita". Sahut mbah Suryo seraya berdiri dari duduk nya.


Zack berjalan di hadapan membukakan pintu untuk mbah Suryo. Dalam hati nya semoga Aisyah bisa kembali sadat setelah bertemu dengan mbah Suryo. Ia yakin pria tua itu bisa mengobati mereka bertiga sebagaimana ia di obati oleh nya dulu. Bahkan luka yang ia alami lebih parah dari yang mereka dapatkan. Jadi tidak mustahil jika mbah Suryo menyembuhkan mereka dengan izin tuhan.


"Assalamualaikum, Syah. Aku membawa seseorang yang tadi ku bicarakan...". Sapa Zack.


Mbah Suryo tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat masuk, hanya salam dengan suara lembut yang terdengar dari bibirnya. Tatapan nya lurus dan kosong sama saa memasuk ruangan Panji dan Mega tadi. Zack ingin menghalang tapi mau bagaimana lagi kalau mbah Suryo langsung ingin melakukannya.


"Kamu tenang dulu di sini yah. Duduk lah di sampingnya dan genggam tangan nya...". Pinta mbah Suryo. Ia ingin membuat Zack bertemu dengan roh Aisyah yang sedang berkeliaran di luar jasad nya.


Zack nurut. Ia menggenggam tangan Aisyah dengan lembut kalena tidak ingin melukai tangan mulus itu.


"Pecam matamu dan jangan takut. Mbah akan membantu kamu mencari Aisyah dan mengembalikan ke dalam jasad nya. Semoga kita berhasil...". Ujar mbah Suryo.

__ADS_1


Meskipun bingung tapi Zack tetap menurut dan tak mengeluarkan sepatah katapun. Tiba - tiba pandangan gelap Zack berubah bercahaya seketika.


__ADS_2