
Pembunuh bayaran yang di gunakan Rehan untuk melenyapkan Aisyah merupakan pembunuh yang sangat handal di bidang nya. Ramai pengusaha atau konglomerat lainnya menggunakan jasa nya untuk menyingkirkan musuh - musuh mereka. Sesusah bagaimana pun ia pasti bisa menyelesaikan tugasnya dengan sangat bali sesuai permintaan kliennya.
Makanya Rehan sangat yakin pada pria itu dan tanpa ragu mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membayar pembunuh bertopeng itu.
Hari ini adalah hari yang tepat untuk menjalankan misi pembunuhan. Pria bertopeng itu kini dengan wajah palsu nya menghubungi Aisyah.
"Ya, Halo. Ini dengan siapa?". Tanya Aisyah setelah mengangkat panggilan dari nomer yang tidak di kenali.
"Halo, saya dengan pak Hasan ingin berbicara dengan ibu Aisyah". Balas pria di seberang panggilan.
"Dengan saya sendiri, ini dengan siapa yah? Dan ada urusan apa menghubungi saya?". Tanya Aisyah.
"Begini bu Aisyah, saya adalah saksi kejadian percobaan pembunuhan yang terjadi pada kedua orang tua ibu. Saya selama ini takut untuk datang ke balai polisi tapi baru - baru ini saya melihat pelaku sedang membunuh seorang wanita muda yang sangat cantik. Saya tidak mengenali wanita itu jadi saya hanya mencari nomer kontak ibu untuk mengatakan nya. Saya ada trauma bertemu dengan polisi jadi saya tidak langsung menghubungi pihak polisi...". Jelas pria itu memberi kesaksian.
"Bagaimana penampilan pria dan wanita yang di bunuh itu? Ceritakan bagaimana ciri mereka agar aku bisa percaya padamu". Pinta Aisyah sedikit ragu dengan si pemanggil.
"Baik, saya akan menceritakan ciri - ciri mereka. Tapi saya tidak akan menceritakan ini di telepon, boleh kah kita bertemu agar saya lebih leluasa bercerita. Pulsa saya hanya sedikit saat saya menghubungi ibu tadi. Saya harap ibu tidak keberatan datang ke tempat saya jika memang ibu mau saya menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada keluarga anda. Tapi saya harap anda datang sendirian. Saya sangat trauma dengan dengan pria berbadan besar apa lagi polisi. Tapi jika ibu tidak sudi saya tidak akan memaksa karena ini sama sekali tidak berkaitan dengan ku....". Pinta pria itu.
__ADS_1
"Saya akan datang. Bapak jangan khawatir saya akan datang sendiri, asal bapak berjanji untuk berkata yang benar. Jika bapak tidak mau saya di temani oleh pria berbadan besar maka saya akan datang hanya bersama seorang wanita. Saya tidak mungkin pergi tanpa di temani oleh siapa pun. Jika bapak memang orang yang jujur seharusnya tidak masalah kalau saya di temani oleh seorang wanita". Aisyah setuju memenuhi permintaan pria itu tapi dengan syarat juga.
"Tentu, saya cuma trauma dengan pria berbadan besar dan berwajah ganas. Kalau wanita ya saya berani - berani aja. Kalak saya bertemu dengan istri saya. Saya akan mengirim lokasi saya melalui pesan biasa saja. Jika ibu tidak datang sampai pukul 4 sore maka saya akan pulang saja". Ujar pria itu.
Baru saja Aisyah ingin mengatakan untuk datang sebelum pukul 4 sore, panggilan langsung mati tiba - tiba.
Tring..
Sebuah pesan biasa masuk ke kotak pesan dari nomer pria tadi.
Ia terus meyakinkan dirinya jika pria itu orang baik. "Aku harus bertemu pria itu, jika benar dia adalah saksi kejadian percobaan pembunuhan ibu dan ayah maka aku akan membujuknya agar menjadi saksi di pengadilan agar Rehan bisa di penjara. Tapi menurut pria tadi, pembunuh ibu dan ayah baru saja melakukan pembunuhan pada seorang wanita. Jika Rehan adalah pelaku nya maka siapa wanita yang baru saja dia bunuh?". Aisyah tiba - tiba teringat pada Alena.
Ia khawatir jika wanita yang di bunuh oleh Rehan adalah sahabatnya itu. "Untuk mengetahui siapa wanita yang di maksud oleh pria tadi maka aku harus bertemu dengan nya untuk memastikan nya. Aku tidak bisa tinggal diam membiarkan Rehan masih berkeliaran di luar sana menikmati kemewahan dunia sedangkan dia memiliki sifat yang sangat jahat. Aku yakin dia melakukan semua ini karena ingin membalas dengan padaku. Kedua orang tua ku sudah menjadi korban nya, Alena juga mulai menjauhi ku. Sangat berkemungkinan jika suatu saat nanti ia juga akan membunuh yang lain yang sangat dekat denganku".
"Ini tidak bisa terjadi. Aku harus segera menemui pria itu. Aku tidak akan membiarkan Rehan menyakiti semua orang yang dekat denganku. Aku harus memastikan siapa wanita yang menjadi korban nya itu. Jika benar Alena, maka Rehan akan berhadapan dengan ku secara langsung. Jika dia dendam padaku, seharusnya jangan libatkan orang lain. Cukup aku". Gumam Aisyah.
Ia segera melangkah keluar kamar nya. Ia mencari keberadaan bik Saras tapi sama sekali tidak ia temui. Ia melirik jam dinding yang berada di ruang makan.
__ADS_1
"Mungkin bu Saras sedang solat asar. Tapi jam sudah menunjukkan jam tiga lebih, jika aku menunggu bu Saras maka aku akan terlambat dan pria itu akan pulang. Kalau dia pulang sebelum aku datang maka aku tidak memiliki bukti untuk memberatkan Rehan di pengadilan. Aku harus pergi sekarang...".
Aisyah memutuskan untuk pergi sendiri. Ia memperhatikan sekeliling para pengawal sedang tidak memperhatikan dirinya. "Pak Sabaruddin juga pasti sedang sholat. Mumpung mereka tidak memperhatikan ku dan mobil tersedia di sini jadi ku harus gerak sekarang. Tiada yang tahu kalau aku pergi sendiri. Kaca mobil ini sangat gelap". Gumam Aisyah
Aisyah mengendap - endap memasuk mobil dan langsung melajukan mobil menuju gerbang. Pan jaga gerbang juga tampak nya tidak curiga sama sekali. Mereka berpikir yang mengendarai mobil itu adalah pak Sabaruddin, supir pribadi Aisyah untuk pergi sholat di mesjid terdekat seperti setiap harinya..
"Tumben pak Sabaruddin tidak menyapa kita sebelum berangkat, biasa nya ia semangat banget ngajakin kita sholat ke masjid...". Bingung penjaga gerbang pada seorang pengawal yang sedang menikmati kopinya.
"Mungkin pak Sabar udah lelah ngajakin kita setiap hari tapi hanya mendapatkan penolakan. Dari pada lelah sendiri lebih baik dia langsung pergi saja...". Balas pengawal itu.
"Kerjaan pak Sabar sih gampang. La kita punya tanggungjawab besar. Jika ada yang terjadi di rumah ini mala kita yang akan di salah kan dan kita yang repot la pak Sabar mah duduk goyang kaki aja sedangkan kita yang akan di marahin habis - habisan...". Kesal penjaga gerbang.
"Tidak juga. Pak Sabar juga nggak tenang kok, aku pernah melihatnya sholat sunnah untuk memohon keselamatan untuk majikan kita. Saat ia berdoa di musholah, suaranya sangat lirih dan di ikuti deraian air mata kesedihan. Aku sampai ikutan nangis. Dia memang hanya seorang supir dengan tanggung jawab yang kurang tapi dia tetap saja ikutan sedih dan terbebani dengan masalah di mansion ini".
Mereka berdua terus saja berdebat. Begitu juga dengan pengawal yang menjaga pintu utama. Mereka turut bingung dengan sikap supir pribadi di rumah ini. Sedangkan mereka tidak tahu jika yang menyetir mobil itu adalah nona yang harus mereka jaga ketat. Biasa nya jika Aisyah ingin keluar maka, Aisyah akan mengatakan nya pada mereka. Jadi mereka bisa mempersiapkan mobil untuk mereka sendiri. Tapi sekarang situasinya berbeda.
Aisyah keluar sendirian tanpa memberi tahu siapa pun.
__ADS_1