
Bu Markonah menggeleng kepala sambil menutup mata nya berharap yang ia lihat saat ini bukan lah Pundas, bayi yang ia selamatkan dari derasnya arus sungai dulu.Pundas dulu bersikap sangat baik, bahkan tidak sanggup membunuh nyamuk yang hinggap di kulit nya sekali pun.
Tapi saat ia kembali membuka matanya, wajah pria itu tetap tidak berubah. Pria itu memang anak nya. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi nya.
"Kita bagi tugas, kalian berdua urus ibu itu dan anak nya. Kalian berdua pula urus ibu dan anak yang lain nya. Kamu pula urus lelaki muda itu dan kamu yang tua bangka itu....". Pundas menunjuk satu persatu rekan nya untuk membagi tugasku.
Pak Arya dan keluarganya meronta ketakutan saat tubuh mereka di seret ke tempat yang berbeda - beda untuk di eksekusi. Sedangkan bu Susi dan anak nya sudah lelah dan mulai pasrah hanya air mata mereka saja yang mewakili ketakutan mereka saat ini.
Kini hana tinggal Pundas dan bu Markonah di sudut ini. Pundas menghampiri wanita yang sudah membesarkan nya itu perlahan sambil sesekali memperhatikan rekannya agar gerak - geri nya tidak di ketahui oleh yang lain nya.
Bu Markonah menggeleng menolak untuk di dekati oleh Pundas, ingin berteriak tapi mulut nya dengan cepat di bekap oleh Pundas.
"Tolong jangan teriak, mah. Aku hanya datang nyelamatin mama tolong jangan takut". Lirih Pundas juga berasa sedih melihat bu Markonah sedih dalam ketakutan.
Pundas mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan video pertengkaran ibu nya di warung bakso waktu itu. Kemudian Pundas menghentikan rekaman itu tepat saat sosok Zack di layar ponsel itu.
"Mamah kenal dengan pria ini. Dia adalah Zack Purbalingga, pria kaya raya yang sangat baik hati yang pernah aku ceritakan pada mamah dulu. Aku sebenarnya ada di pihak nya tapi kondisi saat ini aku dalam kondisi terdesak. Mamah tolong tutup mata aja saat hal mengerikan akan terjadi di depan mata mama nanti. Tapi mama jangan khawatir aku akan mengusahakan untuk menyelamat kan mama dan kembali hidup aman seperti sedia kala..". Bisik Pundas di telinga bu Markonah.
Bu Markonah terus menggeleng kepala menolak mendengar ucapan Pundas.
"Please mah. Tolong jangan buat aku merasa bersalah gini. Kalah mamah nggak bisa bekerja sama dengan aku, cukup tutup mulut mama jangan ngomong apa - apa. Cukup mengangguk aja nanti yah". Bujuk Pundas.
__ADS_1
"Tiada satu pun mereka yang ingin mengaku pernah melihat pria dalam video itu. Mereka semua bilang jika dia hanya kebetulan berada berhampiran dengan mereka. Sudah puas kami memberi mereka pukulan tapi tetap tiada satu pun yang mengatakan kenal dengan Zack...". Ujar salah seorang rekan Pundas mengegetkan nya.
Pundas segera melepaskan tangan nya dari mulut bu Markonah secara kasar sehingga bu Markonah semakin terisak.
Pak Arya dan menantu lelaki nya sudah babak belur di buat mereka tapi mereka tetap tutup mulut tidak ingin membuat pria ganteng yang waktu itu mereka temui dalam bahaya. Pak Arya memang terkenal dengan sifat baik hatinya, suka menolong orang lain dan tidak suka menyusahkan orang lain. Sedangkan anak dan menantu pak Arya berkata jujur jika pria yang mereka lihat hanya pelanggan biasa yang baru pertama kali datang makan di warung bakso milik mereka.
Semua sandra kembali di kumpulkan bersama bu Markonah di satu tempat. Di kesemptan itu pula Susi membisikkan sesuatu pada bu Markonah.
"Jika hal buruk terjadi padaku, maka tolong sampaikan salam ku ada si Sosis ya mbak. Di toko saya ada simpan hadiah untuk nya yang saya letakkan di dalam nakal. Ambil kunci ini, dan ambil lah toko milik saya....". Bisik bu Susi memberikan sebuah kunci kecil pada bu Markonah dengan susah payah.
Ia kenal dengan anak angkat bu Markonah yaitu Pundas maka nya ia sangat yakin jika bu Markonah pasti akan selamat dari marah bahaya ini.
"Kita pasti akan sama - sama selamat, Sus. Kamu jangan nyerahin gitu aja!". Imbuh Bu Markonah.
Bu Markonah menggeleng perlahan tidak terima dengan yang di ucapkan sahabat nya. Ia pun sama, meskipun sering terjadi pertengkaran antara mereka tapi sebenarnya mereka hanya menjadikan semua itu alasan untuk bertemu melepas rindu antara satu sama lain, tiada sedikit pun dendam tersimpan dalam hati mereka.
"Sekarang kita apa kan mereka semua ini, bang? Tuan besar sudah mewanti - wanti kira tadi agara membunuh saja semua orang jika tidak mau bekerja sama dengan kita dari pada kita harus menanggung akibat buruk dari tuan besar". Ujar salah satu rekan Pundas sambil menatap semua sandra satu persatu.
"Jangan tuan! Kami janji tidak akan melaporkan hal ini lada pihak polisi. Kami janji pak...". Pak Arya terus saja meminta agar di lepaskan.
"Iya tuan, kami mohon lepaskan kami. Kami tidak akan mengusik hidup kalian lagi. Kami akan merahsiakan semua hal ini". Menantu pak Arya turut memohon.
__ADS_1
Dua anak kecil hanya bisa meraung kesakitan sambil bersembunyi di balik tubuh ibu mereka masing - masing. Teriakan minta tolong dari anak perempuan pak Arya membuatnya...
Dorrrr
Menjadi orang pertama yang menerima tembakan dari Pundas. Bu Markonah sampai tidak bisa percaya jika Pundas bisa berbuat setega itu pada orang lain apa lagi yang ia bunuh hanya seorang wanita lemah. Bu Markonah sampai menutup matanya rapat - rapat.
"Kita akan bunuh mereka tapi tidak dengan wanita itu...". Ujar Pundas sambil menunjuk tepat ke bu Markonah.
"Emang kenapa? Apa istimewanya ibu - ibu jelek itu sampai ia tidak boleh mati?". Bingung rekan nya.
"Karena tadi ia bilang akan menjadi bagian dari kita, dia akan menolong kita untuk menemukan Zack. Lagi pula kita juga memerlukan orang harus menghubungi kita saat Zack masuk ke pedesaan Ini lagi di kemudian hari. Menurut aku ibu - ibu ini bisa kita pakai dan yang lain nya kita bunuh saja sesuai perintah tuan besar..". Jelas Pundas meyakinkan..
Semua nya mengangguk setuju setelah beberapa kali perdebatan, Pundas pandai dalam bersilat lidah dengan orang lain dari yang tidak setuju terpaksa setuju.
"Jadi kalian semua setuju yah. Soal tuan besar, biar menjadi urusan aku nanti nya. Kalian tenang saja biar aku yang mena menanggung konsekuensi nya". Sambung Zack lagi bernafas lega..
"Jadi siapa yang akan membunuh mereka? Biar aku aja". Salah seorang dari mereka malah menawarkan diri untuk membunuh mereka semua satu persatu.
"Jangan! Biar aku aja, supaya tuan besar tidak meragukan kesetiaan ku lagi". Cegah Pundas menahan tangan rekannya.
Bu Markonah tercengang mendengar perbincangan antara Pundas dan rekan - rekannya. Meskipun mulutnya tidak kuasa menghalangi tapu kepalanya terus saja menggeleng - geleng memohon pada Pundas agar tidak membunuh suami dan keluarga baru nya.
__ADS_1
"Baik lah, silakan". Semua rekan Pundas mundur seketika memberi ruang pada Pundas untuk menyelesaikan tugasnya.
Flashback off.