
Aisyah sudah bersiap dengan penyamarannya sama seperti saat ia keluar dari kota. Kini ia di hadapkan dengan semua penghuni rumah. Tias Titin saling merangkul sedih karena akan melepas Aisyah, wanita yang sangat baik sekaligus majikan mereka juga. Jasmin malah masuk ke kamar duluan karena .merasa tidak enak badan.
Bu Sukma tidak habis - habis meneteskan air matanya sambil memeluk Aisyah dan Albar secara bergantian. Semenjak Aisyah tinggal di rumah sederhana nya ini mereka berdua tidak ada lagi batas dalam menyalurkan kasih sayang antara satu sama lain. Bu Sukma sudah menganggaup Aisyah seperti anak nya sendiri begitu pun dengan Aisyah, ia sudah menggapai bi Sukma seperti keluarganya sendiri.
Albar pula menangis meraung tidak ingin melepas pekukanya pada bu Sukma. Kedekatan antara mereka berdua sudah tidak bisa lagi di ragukan, Albar yang tahu jika dirinya akan di bawa pergi oleh ibunya terus menangis menolak ikut pergi, ia ingin tetap tinggal dan menetap bersama bu Sukma.
"Bagaimana kalau Albar tinggal aja dulu di sini? Kamu duluan aja ke kota selesai in masalah kamu di sana, jika keadaan sudah membaik maka datang lah berkunjung ke sini dan ambil anak kamu". Saran bu Sukma turut berat hati melepas Albar pergi.
"Tapi kalau ibu dan ayah nanyain dia di mana aku harus jawab apa bik? Tidak mungkin kan aku jujur pada mereka jika Albar ada di sini sama kalian, berbohong juga rasanya tidak mungkin". Bingung Aisyah dilema.
Di Satu sisi ia mau membuat beban pada kedua orang tua nya lagi, mereka pasti akan berpikiran bukan - bukan kenapa Albar tidak dikit serta ia pulang, tapi di satu sisi juga ia bingung bagaimana membujuk Albar yang tidak ingin lepas dari bu Sukma. Jika ia memaksakan kehendak maka ia akan kerepotan saat di perjalanan dan saat sampai di kota juga.
"Kamu jangan bimbang, anak kamu aman kok tinggal di sini. Bibik juga heran kenapa Albar bersikap seperti ini, dulu saat kita lari beberapa bulan lalu sikap nya sabar banget tidak keberatan sama sekali ninggalin oma dan nenek Saras nya. Mungkin ia tahu kamu di sana pasti banyak urusan makanya ia tidak ingin ikut kamu dan memilih tinggal di sini sama kami semua". Bujuk bu Sukma turut bingung.
"Baik lah kalau bibik bilang kayak begitu, tapi janji yah bik selalu kirim kabar ke aku tentang kondisi Albar dan kondisi kalian juga. Minta Titin kirim foto setiap minggu ke kontak Wa aku, awas aja kalau tidak aku pasti akan langsung datang ambil Albar pulang ke kota...". Ancam Aisyah dengan nada guraian.
"Ia kamu tenang saja". Akhirnya bu Sukma sedikit lebih lega karena Albar tidak jadi ikut pergi meninggalkan nya. Tapi tetap saja hati nya sedih karena Aisyah tetap pada niat nya untuk menjenguk ibu dan ayah nya yang berada di kota.
"Aku titip Albar yah Tias, Titin. Kalau dia nakal tolong tegur dan ajar dia baik - baik yah. Kalau dia apa - apa cepat kabari aku yah". Pesan Aisyah pada dua pasangan pengantin muda di hadapannya.
__ADS_1
"mbak tenang aja, aku pasti jagain Albar kok seperti anak aku sendiri juga". Balas Tias.
"Pasti Non, saya akan setiap hati minggu naik ke pegunungan mengirinkam foto dan juga memberi tahu kabar kami di sini pada non. Non baik - baik di sana selesaikan masalahkan keluarga non...". Titin turut mengiakan permintaan Aisyah.
"Kamu tolong bujuk Jasmin yah! Bujuk dia supaya mau bercerita tentang masalah yanh sedang ia hadapi. Seperti yang pernah kamu katakan beberapa hari yang lalu, Jasmin sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dari kita semua, mungkin ia masih malu sehingga masih ragu bercerita". Aisyah menggenggam tangan Tias sambil memohon..
"Baik mbak, mbak Jasmin pasti akan baik - baik saja di sini. Jika sudah mengetahui tentang apa yang ia sembunyikan aku pasti akan segera mengabari mbak". Tias mengiyakan permintaan Aisyah..
Aisyah menghapus air matanya lalu berpamitan pada semua orang. "Kalau begitu aku berangkat dulu, sekali lagi jaga kesehatan kalian semua, jika ada apa - apa cepat hubungi aku!". Pamit Aisyah sambil menyalami semua orang satu persatu.
Aisyah masuk ke dalam mobil yang di pandu oleh teman Titin yang juga merupakan orang suruhan dari orang kepercayaan dari Zack. Supir itu merupakan salah satu pengawal kepercayaan Zack untuk mengawal keselamatan Aisyah secara sembunyi - sembunyi selama tinggal di perkampungan ini.
Aisyah melambaikan tangannya tanda perpisahan pada mereka semua.
Walaupun Jasmin tahu penyebab Zack menghilang adalah karena dirinya tapi ia masih belum siap mengatakan semuanya pada Aisyah. Ia tidak sanggup mengatakan yang sejujurnya pada Aisyah jika keluarganya lah sudah menyebab kan Zack menghilang tanpa kabar.
"Maaf kan aku, Syah. Aku tida bisa mengatakan dengan sejujurnya pada kamu kalau keluargaku lah yang menyebabkan pria yang kamu cintai menghilang tanpa kabar. Aku tidak sanggup jika kamu membenciku karena hal itu. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan nya padamu". Gumam Jasmin merasa bersalah.
Tangan nya pula selalu mengelus perut nya yang mulai terlihat membuncit sama dengan meningkatkan berat badannya.
__ADS_1
*
*
Sepanjang jalan tidak habis - habis nya Aisyah berperang dengan pikirannya sendiri bagaimana harus menjelaskan pada kedua orang tuanya hal yang sebenarnya terjadi.
"Semoga kalian di sana baik - baik saja dan selalu sehat. Maaf kan aku yang sudah membuat kalian kepikiran dan cemas. Jika kalian ingin menghukum ku, aku ikhlas menerimanya dengan senang hatur asal kalian bisa memaafkan kebodohan anak kalian ini". Gumam Aisyah dalam hati.
Mobil terus melaju tanpa hambatan, tiada obrolan penting antara Aisyah dan supir yang membawanya pulang ke kota. Hanya sekedar obrolan ringan yang mengarah kepada keperluan saja seperti makan dan lain nya yang sukar untuk dijelaskan.
Aisyah tercengang karena mobil bukannya langsung ke mansion tapi malah menuju rumah sakit milik keluarganya. Hatinya mulai berdegut kencang tidak karuan, pikirannya juga mulai berpikir yang tidak - tidak.
"Kita kenapa malah ke rumah sakit, pak? Siapa yang sakit?". Tanya Aisyah mulai panik. Bukannya menjawab, supir yang membawanya itu hanya diam seribu bahasa tanpa mau menjawab pertanyaan majikannya yang mulai panik.
"Jawab dong, pak! Kenapa kita ke rumah sakit? Siapa yang sakit pak?". Aisyah mulai kesal kerana supir itu hanya diam saja dari tadi.
"Sabar non! Non tenang kan pikiran non dulu, nanti juga non pasti akan tahu siapa yang sakit? Saya tidak bisa mengatakan nya sekarang". Akhirannya supir itu membuka mulut tapi hanya sekedar meminta Aisyah tenang.
Meskipun kesal bercampur panik, Aisyah tetap nurut untuk tetap tenang dan melihat secara langsung saja nanti siapa yang sedang di rawat di rumah sakit itu. Ia terus menerka - nerka siapa yang sedang di rawat di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Mungkin Zack sudah di temukan dan sedang di rawat di sana, ibu dan ayah pasti sedang di rumah sakit untuk menemani nya". Batin Aisyah sedikit berpikir positif meskipun perasaan tidak enak menyelimuti hatinya.
I