
Sebelum menjawab pertanyaan yang di lontarkan klien kepadanya, pak Safril selaku kuasa hukum Cleo lebih dulu membenarkan duduknya di depan kliennya itu. Berkas - berkas dan laptop telah ia siapkan untuk kebutuhan pekerjaan.
"Lo itu pekak apa sih? Gue tanya, jawab dong!". Bentak Cleo kesal. Dua introgator tadi berhasil membuat moodnya hancur meski pun tadi tampak baik - baik saja tapi siapa sangka sosok Cleo juga dapat terasa dengan sindiran introgator tadi.
Pak Safril menghela nafas kasar, sebenarnya ia enggan menjadi pengacara untuk membela kasus Cleo, tapi bayaran yang di janjikan sangat menggiurkan dan sudah tentu ia sudah memegang semuanya sebelum keputusan pengadilan di keluarkan sebab ia tida ingin di rugikan.
"Teman anda yang bernama Lacinta Lana sudah menerima surat yang anda titipkan pada saya, jadi tidak perlu khawatir saya akan mengkhianati anda sebagai klien saya. Sekarang saatnya anda memberi informasi atau ketenangan apa saja untuk membantu membebaskan anda dari kasus yang menjerat anda, ini bukan perkara main - main jadi ....". Ujar Pak Safril panjang lebar, kini ia sudah bersedia mencatat semua keterangan yang akan Cleo sampaikan.
Tapi ucapan pak Safril dengan cepat di potong oleh Cleo dengan wajah sinis nya. "Lo pikir gue akan membuka mulut, jujur atau bohong sekali pun saya tidak akan melakukannya, lo hanya gue jadikan jembatan komunikasi ku bersama sahabatku, ingat mami gue udah membayar elo mahal dan jika semua lo lakukan dengan baik sesuai keinginan gue maka gua pasti akan memberikan loe tambahan".
Pak Safril yang memang silau dengan harta pasti akan tergiur mendengar ucapan Cleo, tapi sebisa mungkin ia melakukan semampunya saja agar terhindar dari masalah.
Pak Safril kemudian memberikan secarik surat yang di titipkan oleh teman Cleo bernama Lana menjawab surat yang ia berikan. Cleo membaca surat itu di depan Pak Safril dengan santai nya tanpa takut sama sekali karena surat itu hanya bertuliskan kode - kode rahasia klonnya yang hanya dirinya dan komplotannya yang faham akan semua maksudnya.
Pak Safril sama sekali tidak mendapatkan poin - poin penting yang harus ia tulis dalam dokumennya hingga ia meninggalkan ruangan, sesuai perkataan Cleo ia hanya di jadikan jembatan untuk komunikasi antara kliennya itu dengan temannya.
Entah apa yang di rencanakan Cleo, sudah berada di dalam tahanan karena kasus berantai yang ia lakukan tidak membuatnya menyerah dan takut, ia adalah ketua mafia yang tidak mengenal kata takut, bahkan ia siap jika di jatuhkan hukuman mati sekalipun tapi ia harus tetap memuaskan hasratnya dulu sebeluk mati jadi ia tidak merasa mati sia - sia.
*
__ADS_1
*
"Kamu mu kemana sayang? Awal pagi udah keluar aja". Tegur Mega saat melihat Aisyah sudah bersiap ingin keluar dan berniat menyalaminya untuk pamit.
"Aish ingin keluar dulu ibu, suntuk di rumah terus buat aku semakin malas dan tambah tembam kan nggak lucu, he he". Canda Aisyah.
"Tuh la, ayah juga sudah suruh kamu hendel perusahaan bersama Zack supaya nanti saat pelantikan mu menjadi CEO tidak laku kaku karema sudah biasa dan tahu apa yang perlu kamu lakukan, tuh mantan suami kamu kapan kamu akan mengusirnya? Selalu saja minta ayah kamu untuk menahannya sementara waktu, sampai kapan? Ibu enek tau bila ingat dia, bawaannya ingin ibu ulek - ulek seperti cabe". Balas Mega gemes.
"Soal itu nanti Aish pikir kan lagi yah ibu, kalau mas Rehan biarkan lah dulu ia menikmati sisa kekuasaannya untuk sementara waktu sampai Aish siap untuk di publikasikan sebagai anak ibu dan ayah. Sekarang Aish cuma ingin ke panti melihat anak - anak, entah mereka seperti apa sekarang setelah Ummi lama tidak mengawasi, memang sih ada Mbak Lana menggantikan posisi Ummi menjaga mereka tapi aku juga ingin melihat langsung keadaan anak panti". Ujar Aisyah jujur, tapi yang lebih penting sebenarnya ia ingin melepas rindu pada Fatimah dengan mengurus panti tempat ia di besarkan itu.
"Iya deh, tapi maaf ya sayang, ibu tidak boleh menemani kamu, ibu harus tetap di rumah untuk mengawasi ayah. Meskipun dokter sudah memfonis ayah sudah sembuh karena keajaiban sudah menemukanmu tapi ibu tetap khawatir ..". Jelas Mega.
"Iya hati - hati yah, nanti kalau Zack udah pulang ibu minta jemput kamu". Ujar Mega melepas kepergian anak semata wayangnya.
"Nggak usah ibu, nanti aku telepon pak Saiman untu jemput, kesihan Zack baru pulang harus jemput aku lagi, ia pasti lelah ibu". Tolak Aisyah tidak enak merepotkan Zack. Ia sudah berada di dalam mobil dan melambaikan tangan pada sang ibu dengan manja.
Mega menggeleng kepalanya melihat sikap Aisyah, walaupun sudah menjalani drama rumah tangga yang berakhir menjadi janda anak satu tapi tidak membuat Aisyah bersikap dewasa pada kedua orangtuanya yang baru saja bertemu.
Walaupun mendapatkan kasih sayang lebih dari yang lain, tapi karena membesar di panti asuhan tetap memaksanya untuk bersikap dewasa, sabar dan tabah menjalani kehidupan. Setelah bertemu kedua orang tua biologisnya baru lah sikap manjanya keluar dan sangat mencolok mengalahkan anak kecil, tapi dengan orang lain ia tetap Aisyah yang tegar.
__ADS_1
*
*
Sesampai di depan panti, Aisya meminta pak Saiman pulang saja terlebih dahulu. Setelah memastikan majikannya masuk ke dalam panti asuhan dengan selamat, baru lah pak Saiman melajukan mobil pulang ke Mansion keluarga Purbalingga.
Aisyah kini berjalan ke arah pintu masuk tapi sudut bangunan tampak seorang lelaki dan seorang wanita paruh baya berlari ke arahnya dengan wajah sedih, Aisyah bingung dan ingin menghindar tapi melihat Lana berada di belakang mereka membuat niatnya untuk menghindar di urungkan.
"Maaf kan kami nona! Kami tidak bermaksud bekerja sama dalam menutup mata dengan keberadaan nona dulu yang tinggal di sini, sungguh kami hanya di minta oleh seorang anak remaja lelaki untuk menyelidiki dan kami sanggupi karena sangat membutuhkan duit untuk kelangsungan hidup kami sekeluarga. Tolong jangan tuntut kami nona, saya dan istri saya sama sekali tidak tahu maksud dari ana remaja itu dulu meminta untuk menyeliki panti asuhan ini, kami.....". Ujar lelaki itu dengan wajah yang mengiba. Air matanya tak kalah deras dari sang istri memohon agar tidak di penjarakan.
Mereka berlutut sambil menengadah kedua tangan mereka memohon agar Aisyah bersimpati.
Aisyah bingung dengan ucapan lelaki itu, ia kemudian melirik Lana dan di balas dengan Lana mengangkat bahunya tidak tahu. Karena penasaran dengan maksud pasangan paruh baya di hadapannya yang masih berlutut di hadapannya, Aisyah mengajak mereka masuk ke dalam untuk berbincang.
"Pak, ibu berdiri dulu. Kita bicarakan di dalam saja sambio duduk. Di luar gini tak baik jika ada anak yang melihat apalagi kalian berdua jauh lebih tua dari saya, saya rasa tidak pantas di perlakukan seperti ini sedangkan saya juga belum tahu maksud ucapan bapak tadi, lebih baik kita masuk dulu yah, biar di dalam lebih santai ngomongnya sambil minum teh". Ajak Aisyah.
"Iya pak, ibu. Lebih baik kita ke dalam ngobrol dan sampaikan yang kalian ceritakan tadi pada saya langsung pada Aisyah". Kata Lana turut mengajak pasangan itu masuk ke dalam.
Pasangan paruh baya itu menurut, mereka bangkit perlahan dan berjalan masuk dengan di tuntun oleh Aisyah dan Lana di antara mereka. Sesampai di ruangan Fatimah, mereka berempat kini sudah duduk di sofa dan di hadapan mereka sudah di hidangkan teh hangat oleh petugas dapur.
__ADS_1
"Perkenalkan dulu dengan pak siapa dan ibu siapa? Supaya kami senang untuk memanggilnya nanti. Jangan takut, jika kalian yakin tidak bersalah dan menceritakan yang sejujur - jujurnya pada kami berdua". Ucap Aisyah memecah keheningan, pasangan di hadapannya sedari masuk hanya tunduk tanpa berani mendongak menatap wajah Aisyah.