Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 176 keputusan Aisyah


__ADS_3

Di tempat yang berbeda seorang wanita termenung di jendela dalam kamar nya sambil menatap mentari yang akan tenggelam berganti malam..


"Kenapa hatiku tiba - tiba teringat pada Zack yah? Bagaimana kah kabarnya sekarang? Ku berharap yang baik - baik saja selalu menyertai nya...". Aisyah terus saja bergumam sendiri dalam hati nya.


Walau pum tidak pernah lagi mendengar kabat dari kota, tapi pikirannya tetap saja tertuju pada keluarganya terutama pada Zack. Dia sendiri yang meminta Titin agar jangan se sekali membahas tentang keluarganya karena ia takut makin kepikiran pada mereka tapi tetap saja tidak bisa membuatnya melupakan mereka begitu saja.


"Kamu sedang apa, Syah?". Jasmin masuk ke dalam kamar Aisyah tengan tatapan khawatir.


Aisyah tersentak dari lamunannya. "Oh, nggak ngapa - ngapain kok, duduk menikmati senja rasanya begitu menendang kan". Jawab Aisyah singkat tanpa menoleh pada sahabat nya.


"Kalau kamu rindu dengan mereka bukan kah lebih baik kamu pulang saja, udah dua bulan loh ini. Kamu juga tidak mau tahu tentang kabar mereka saat ini, bukan mendoakan yang buruk - buruk tapi siapa tahu kan mereka di sana terjadi apa - apa dan kamu sama sekali tidak ingin tahu". Ujar Jasmin memposisi kan punggungnya di samping Aisyah. Ia juga turut menikmati mentari senja yang begitu indah.


Aisyah tidak menggubris ucapan Jasmin tapi pikirannya membenarkan apa yang sudah di ucapkan sahabatnya itu. "Bukannya aku tidak peduli dengan mereka makanya meminta tidak ingin mendengar apa pun tentang mereka tapi aku takut semakin di buat khawatir dan malah menggagalkan rencana yang sudah telanjur terlaksana ini". Batin Aisyah dilema.


"Maaf kalau mengatakan ini bisa membuat kamu marah tapi kamu harus tahu berita ini sebelum kamu menyesal nanti nya....". Tutur Jasmin memberanikan diri mengatakan berita yang cukup gempar yang pernah ia dengar seumur hidup.

__ADS_1


"Kamu pasti tidak lupa pada Alena kan. Sahabat kamu yang kamu jadikan sekertaris kamu di perusahaan. Dia akan menikah". Sambung Jasmin.


Tanggapan yang sama di berikan oleh Aisyah, dia sama sekali tidak terkejut bahkan hanya tersenyum kecut saja mendengar kabar yang menurutnya biasa saja.


"Dan kamu tahu siapa calon suaminya? Rehan! Mantan suami kamu! Kamu masih tidak mau peduli dengan masalah ini?". Jasmin mulai kesal dengam sifat sahabatnya yang sangat keras kepala.


Jika dia sudah membuat keputusan maka tidak mudah untuk diubah. Sama waktu dulu ia membatalkan niatnya untuk menggugat cerai mantan suami nya itu karena mengatakan anak. Puas membujuk tapi tidak berhasil. Tapi nyatanya apa, dia tetap tersakiti hingga pada akhirnya ia tidak tahan dan mengakhiri pernikahan itu setelah puas mengumpulkan bukti sendiri.


"Apa? Alena akan menikah dengan Rehan?". Aisyah terkejut mendengar kabar buruk ini.


Setahu dirinya Alena sangat membenci Rehan yang sama sekali tidak bertanggung - jawab, bahkan sanggup menyakiti dirinya dulu saat masih berstatus istri pria itu. Alena pernah mengatakan jika dia sanggup menjomblo seumur hidup jika di dunia ini tiada pilihan jodoh selain Rehan. "Tapi kenapa sekarang malah ia akan menikahi pria itu?". Batin Aisyah dengan pikiran yang bercampur aduk.


Aisyah tidak menyangka jika selama tinggal di kampung terpencil ini banyak yang terjadi di kota yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh nya sebelumnya. Kata Jasmin ini baru salah satu kabar buruk dan masih banyak lagi yang terjadi di kota yang lebih membuatnya kaget.


"Kamu pasti tidak percaya jika saat ini Rehan sudah memegang saham perusahaan keluarga Purbalingga sebanyak 40 persen, bahkan posisi CEO sekarang di pegang oleh nya karena tiada yang paling berhak selain dia dalam memegang posisi itu...". Tutur Jasmin sambil menatap tajam pada Aisyah. "Bayangkan bagaimana kondisi ibu dan ayah kamu sekarang karena keegoisan anak nya sendiri. Mereka pasti sedang stress habis memikirkan banyak masalah. Sedang kan kamu di sini sama sekali tidak mau ambil peduli tentang kondisi orang tua kamu sendiri. Jika aku menjadi anak mereka maka aku akan menjaga mereka baik - baik. Ingat Syah, usia tiada siapa yang tahu sampai bila akan tetap berjalan, selagi kamu memiliki kesempatan maka berbakti lah!". bujuk jasmin.

__ADS_1


"Kamu jangan membalikkan ucapan ku pada diriku ini, cerita kita berbeda Syah. Watak orang tua kita berbeda. Sebab aku minggat dari rumah berbanding terbalik dengan sebab kamu minggat dari rumah. Aku tidak boleh hidup dengan keluarga ku sedangkan kamu?". Jasmin terus meluapkan ketidaksukaan nya pada sikap Aisyah.


Air mata Aisyah tidak bisa terbendung lagi. Ucapan Jasmin tepat menusuk pertahanan hati nya. Tidak menyangka jika selama ia meninggalkan kota dan memilih tinggal di kampung terpencil ini banyak yang sudah terjadi pada keluarganya. Pasti keadaan Mega dan Panji saat ini sedang stress banget dengan beban hidup yang begitu tertumpu pada mereka.


"Jadi aku harus bagaimana sekarang, Min? Aku bingung mau pulang dengan cara apa? Bisik Sukma dan Titin saat ini sudah menjadi buronan di kota karena ulah ku ini. Sekarang malah aku pulang meninggalkan mereka menanggung akibat sendirian. Aki takut jika Titin pergi ke kota maka dia langsung di jeblok kan ke sel tahanan". Lirih Aisyah iba.


"Jangan pikir kan soal kami, nak! Cukup pikirkan orang tua mu saja di kota. Kami akan baik - baik saja di sini, tiada siapa pun yang bisa melacak keberadaan kami di sini. Jadi kamu nggak khawatir lagi, pulang lah ke kota, bahagiakan kedua orang tua mu". Tiba - tiba bu Sukma masuk menenangkan kekhawatiran Aisyah.


"Tapi saya suka tinggal di sini bik, di sini menenangkan aku suka dengan suasana kampung ini. ..". Ujar Aisyah mengutarakan penyebab nya bertahan timghal di kampung ini..


"Tapi pikiran kamu sama sekali tidak pernah merasakan ketenangan itu kan? Ada saja waktunya kamu akan duduk termenung memikirkan keluargamu di kota bahkan diam - diam meneteskan air mat karena merindukan mereka. Kamu bisa datang lagi ke sini jika suasana sudah mulai membaik, selesaikan masalah mu di kota kemudian ke sini lagi tanpa ada kekhawatiran lagi baru lah kamu akan benar - benar menikmati ketenangan tinggal di kampung ini". Bujuk bu Sukma meyakinkan Aisyah.


"Tapi apa yang akan aku jelaskan pada mereka saat pulang ke kota nanti. Pasti mereka penasaran dengan apa yang terjadi dan akan sangat kesal padaku". Imbuh Aisyah.


"Kamu harus menanggung konsekuensi dari perbuatanmu ini. Bibik dan Titin sudah menanggung akibat menolongmengabulkan keinginan kamu, tinggal kamu sendiri lagi yang harus menerima akibat dari semua ini". Sahut Jasmin.

__ADS_1


Aisyah tertunduk, ia harus meluruskan kesalahpahaman tentang hilangnya dirinya dan sang anak di kota. Ia harus memulihkan kembali nama baik bu Sukma dan putra nya yang terlanjut menjadi buronan akibat menolongnya kabur dari kota ke kampung terpencil ini.


"Baik lah, saya setuju pulang ke kota dengan satu syarat".


__ADS_2