
"Kenapa kamu geleng kepala? Kamu nggak mau beri aku makan? Ingat yah aku ini bakal besan majikan kalian, berani kalian tidak melayani ku dengan becus maka akan aku pastikan kamu di pecat dari pekerjaan mu sekarang!". Ancam bu Wahida dengan sangat percaya diri.
"Maaf buk, baik lah sila duduk aja dulu di sofa itu saya akan segera kembali membawakan makanan untuk ibu nikmati". Tawar ART mengalah.
"Begitu dong, sana cepat!". Usir Bu Wahida. Ia kemudian duduk di sofa sambil memegang perutnya yang sudah sangat keroncongan menahan lapar.
Sementara ART tadi berjalan menuju dapur tapi sebelum mengambilkan hidangan untuk bu Wahida ia lebih dulu menghubungi seseorang.
"Halo non, saya udah melihat menemui ibu itu dan benar saja ia tadi sempat tersesat selama beberapa jam sampai tidak menyadari jika keluarganya udah pulang tanpa nya...". Lapor ART itu pada majikanya yang di yakini adalah Aisyah.
"Terus bagaimana ekspresi nya saat mengetahui semua itu?". Tanya Aisyah penasaran. Dalam lubuk hatinya sebenarnya ia tidak tega memperlakukan mantan ibu mertua seperti itu.
"Tadi ibu itu sempat syok tapi dengan cepat berubah saat perut nya keroncongan meminta makan, ia tampak sangat kelaparan dan keletihan. Saat dia udah duduk di sofa saya sempat melihat dia menekan perutnya dan memijat perlahan pergelangan kakinya. Mungkin capek udah berjalan mengitari halaman mansion sebelum kembali ke ruang tengah...". Lapor ART Itu lagi.
Aisyaj semakin merasa bersalah, ia tidak tega mendengar mantan ibu mertuanya menderita seperti itu oleh ulahnya. Meskipun dulu bu Wahida sangat jahat padanya tapi karena ia sudah tua membuat Aisyah tidak tega.
"Kamu udah memberinya makan?". Tanya Aisyah.
"Ini saya nelpon non Aisyah, ingin meminta pendapat di bolehkan atau tidak. Walaupun sikap ibu itu sedikit menyebalkan tapi melihatnya tadi membuat saya sedih non tapi saya izin dulu sebelum membawakan dia makanan, saya takut non marah". Jawab ART itu dengan segan..
__ADS_1
"Ya udah sana cepat sajikan makanan untuknya tapi jangan di ruang makan yah! Takut ayah ingin makan dan tidak sengaja bertemu dengan ibu itu, jadi bawakan saja makanan ke ruang tamu untuknya dan setelah selesai tolong beri tahu saya segara biar saya pesankan taksi untuknya pulang...". Sahut Aisyah mengizinkan.
"Baik non akan seger saya laksanakan, saya matikan dulu panggilannya kalau begitu". Pamit ART itu pada Aisyah.
Aisyah sendiri yang memutuskan panggilan supaya pembantunya itu segera membawa makanan untuk mantan ibu mertuanya.
Sedangkan bu wahida yang berada di ruang tamu terus menggerutu kesal menunggu ART tadi kembali membawakan makanan untuknya. Perutnya kini udan sangat kesakitan menahan lapar. Ia takut jika asan lambungnya kambuh dan kembali drop di rumah megah ini.
Selang beberapa lama menunggu akhirnya ART kembali dengan mene teng tampan berisi sepiring nasi dengan pelengkapnya dan segelas jus buah segar. Mencium aroma yang sangat mengunggah selera membuat bu Wahida dengan cepat merebut nampan itu dan segera melahap makanan dengan rakus.
"Kayak ngga pernah dek kasih makan beberapa hari oleh anaknya". Gumam ART dalam hati saat melihat cara makan bu Wahida yanh sedikit rakus. Sifat angkuhnya seketika hilang saat menikmati makanan yang ia bawakan.
"Ambilkan lagi!". Pinta Bu Wahida membuat ART itu tercengang tapi karena tida tega ia pun tetap kembali ke dapur dan mengambil lagi sepiring nasi dengan pelengkapnya sama dengan sepiring yang pertama tadi.
Setelah piring kedua habis baru lah bu Wahida kenyang tapi permintaannya membuat ART kembali tercengang.
"Sekarang saya ingin beristirahat tolong bawa saya ke kamar tamu saya ingin menginap di sini malam ini". Pinta bu Wahida dengan kembali pada sifat aslinya.
"Ibu tunggu disini dulu yah, saya ingin masuk dulu". Pamit ART melangkah menuju lorong yang sedikit tersembunyi dari penglihatan bu Wahida. Kemudian menghubungi Aisyah kembali untuk melapor.
__ADS_1
"Baik non, saya akan samperin kembali jika taksi nya udang sampai". Jawab ART setelah menerima perintah selanjutnya dari Aisyah. Sepuluh menit menunggu akhirnya seorang satpam menghampiri pintu utama untuk melapor jika ada taksi di depan gerbang pesanan majikan mereka katanya.
ART itu lalu menghampiri bu Wahida kembali.
Dengan percaya diri bu Wahida mengajak ART itu menuju kamar tamu karena tubuhnya udah begitu sangat lelah. "Kamu udah selesai bersihkan kamarnya, ya udah kita ke kamar segera tubuhku kayak mau pingsang dah ini". Ajak bu Wahida lirih.
"Tapi maaf bu, sebaiknya ibu ikut pak satpam ini ke gerbang segera karena taksi yang akan membawa ibu pulang sudah datang". Jawab ART itu membuat wajah bu Wahida cemberut.
"Apa kamu bilang? Aku suruh kamu menyedikan kamar untuk aku istirahat bukan malah memesan taksi untuk aku pulang, berani kamu mau usir saya dari sini! Saya ini bakal besan majikan kamu, kamu mau saya suruh mereka pecat karena tidak mendengarkan permintaan saya?". Ancam bu Wahida dengan percaya diri.
"Tapi maaf iya ibu, ini adalah kehendak tuan rumah sendiri. Majikan saya sendiri yang memesankan anda taksi untuk mengantar pulang ke rumah anda bukan saya. Saya hanya menyampaikan amanah". Jawab ART.
"Jangan banyak alasan kamu! Mereka mana tega mengabaikan saya bakal besannya seperti ini. Saya ingin menginap pasti mereka mengizinkan, rumah udah kayak istana tak kam saya ingin menginap semalam aja nggak bisa. Ini pasti kamu nggak mengatakan pada mereka jika saya ingin menginap malah kamu bilang saya ingin pulang makanya di pesankan taksi. Aku nggak mau pulang titik!". Bu Wahida masih berkeras ingin menikmati fasilitas kamar mewah di rumah besar ini barang semalam saja.
Ia pikir proses lamaran yang di lakukan tadi berjalan dengan lancar dan anaknya dan Aisyah akan segera menikah makanya dari tadi banyak permintaan dengan gaya angkuh dan sombong. Dia belum tahu saja jika Aisyah sama sekali tidak berniat kembali rujuk dengan Rehan dan hanya ingin membalas dendam dengan mempermainkan Rehan dan keluarganya yang dulu sering menindas dan mencibir nya selama menjadi istri Rehan dulu.
Hanya keluarga Rafi, adik lelaki bu Wahida yang melayaninya layaknya keluarga dan manusia pada umumnya karena nasi mereka sama, sama - sama di tindas oleh bu Wahida dan keluarga yang lain cuma Rafk tidak akan pernah lepas dari bu Wahida karena terikat ikatan kekeluargaan yang cukup dekat dengan bu Wahida dan Rehan.
"Tapi maaf bu saya hanya menjalankan tugas, jika ibu bersikukuh ingin menginap di sini maka tunggu saja majikan saya menemui ibu untuk meminta izin sendiri karena saya tidak di beri wewenang untuk melayani ibu lebih dari ini. Jika ibu tidak ingin pulang dengan taksi di depan maka silahkan tunggu aja di sini sendiri saya ingin melanjutkan pekerjaan saya di dalam". Pamit ART meninggalakn bu Wahifa yang tidak percaya jika ia tidak berhasil menginap di sini malam ini.
__ADS_1
Padahal ia begitu menginginkan tidur di kasur empuk dengan ruang mewah mengalahi hotel bintang lima. "Yah, padahal aku ingin banget tidur nyenyak di kamar mewah yang tersedia disini tapu dasar pembantu tak tabu diri!". Gerutu bu Wahida kesal pada ART karena masih saja menyalakan seluruh kesialannya itu sepenuhnya pada ART yang menurutnya sangat tidak becus bekerja dan melayaninya.
Dengan langkah malas bu Wahida mengikuti satpam berjalan menuju gerbang.