
Bu Wahida bergegas menuju kantor polisi untuk menjenguk putranya, ia tidak lupa juga menghubungi pengacara keluarga mereka untuk datang berunding untuk masalah Rehan pada pihak polisi.
Sepanjang jalan, bu Wahida tidak habis meneteskan air mata kesedihan akan nasip malang yang menimpa putra semata wayang nya. Ia akan mengorbankan apa saja untuk membebaskan Rehan dari jeratan hukum atas kesalahan yang telah ia lakukan.
Sesampai kantor polisi di mana Rehan di tahan bu Wahida berpapasan dengan seorang polisi yang juga ada dalam siaran langsung yang lagi viral itu. Bu Wahida tahu jika pak polisi itu yang mengetahui segala cerita yang telah terjadi pada Rehan tadi siang.
"Maaf, saya dengan ibunda Rehan. Pak polisi tadi juga ada di tempat kejadian, kan. Boleh saya tahu kronologinya?". Sapa Bu Wahida pada Moli.
"Oh, dengan ibunda pak Rehan, kenalkan saya Moli. Jika ibu mau mengetahui kronologi cerita yang sebenar, mari kita ngobrol di dalam sambil melengkapkan laporan". Balas Moli ramah.
Bu Wahida nurut dan mengikuti langkah Moli yang menuju meja seorang polisi yang di yakini akan mencatat segala laporan yang ada berkaitan Rehan.
"Selama pagi, bu". Sapa Gala mempersilahkan Bu Wahida duduk di hadapannya bersama Moli di sampingnya.
"Pak polisi. Saya datang ingin mengetahui kronologi yang telah terjadi pada anak saya. Saya tidak mau mendengar cerita yang tidak ada buktinya yang nyata. Saya ingin anda menceritakan yang sejujur - jujurnya dengan menyertakan rekaman video perbuatannya. Jika lengkap maka saya akan percaya dengan ucapan anda". Sahut bu Wahida sinis.
Moli dan Gala saling pandang. Mereka sedang berhadapan dengan ibu - ibu yang tidak mudah di bohongi. Mereka tidak bisa membohongi wanita paruh baya itu dengan mudah seperti wanita paruh baya yang lain. Apa lagi Bu Wahida bukan sebarang orang, ia sudah berpengalaman dalam urusan suap - menyuap pihak kaparat.
__ADS_1
"Maaf kalau saya lambat. Saya adalah pengacara keluarga ibu ini. Saya akan mendampingi Rehan dalam persidangan nya nanti...". Pengacara pribadi keluarga bu Wahida sudah datang.
Moli bangkit dan mempersilakan pria berprofesi sebagai pengacara itu duduk berdampingan dengan bu Wahida. "Sila kan duduk pak Hasin". Ucap Moli mempersilahkan pak Hasin duduk..
"Baik saya akan menjelaskan pada ibu dan bapak kronologi kejadian. Saya harap kalian lihat baik - baik segala bukti dan cerita yang di sampaikan oleh beberapa pelapor yang mengalami kerugian di akibatkan perbuatan tidak bertanggung jawab tadi siang. Yang saya cerita kan ini bukan tanpa bukti, di sini terdapat beberapa video yang diambil warga yang sedang berkendara di jalan yang sama dengan pak Rehan. ..". Gala menghadapkan laptopnya mengarah ke Bu Wahida dan pak Hasin.
Mereka berdua melihat sendiri Rehan membawa mobil dengan kelajuan yang tidak sepatutnya. Ada sebuah mobil yang melaju di jalut yang bertentangan terpaksa menghindar dengan membuang stir ke arah pohon hingga mengakibatkan mobil itu kecelakaan. Bukan hanya itu, sebuah tongkang pembuat besi juga dari arah yang bertentangan terpaksa menekan rem secara mendadak menghindari dari bertembung dengan mobil Rehan. Tapu akibat aksi nya itu, beberapa mobil yang berada di belakang tongkang itu mengalami kecelakaan menghantam punggung tongkang tersebut sehingga keamanan yang di gunakan untuk menahan besi - besi yang di muat menjadi longgar dan terlepas. Besi berserakan di jalan membuat kerugian lebih banyak lagi.
Beberapa orang meninggal di tempat kejadian akibat tertusuk besi, ada juga yang mengalami luka - luka dan ada juga yang hanya mengalami kerugian materi seperti mobil yang rusak parah. Anggaran yang di peruntukkan untuk Rehan pertanggung jawab kan di perkirakan memakan biaya ratusan juta bahkan miliyaran rupiah.
Bu Wahida dan pak Hasin tidak dapat mengelak lagi. Rehan akan terjerat banyak pasal, dia juga harus memberi tunjangan pada semua keluarga korban, biaya pengobatan korban dan juga mengganti kenderaan korban dengan baru atau membiayai perbaikan mobil korban.
"Tapi bapak polisi tidak bisa mempertanggung jawab kan semua nya pada klien saya begitu! Dalam rekaman ini mem buktinya jika tongkang ini yang menyebab kan begitu banyak kerugian. Jika keamanan yang di gunakan untuk membawa besi bahan banguanan itu bagus maka tidak akan banyak yang di korbankan. Hanya beberapa mobik yang mengalami kerugian, sedangkan yang lain nya tidak bersangkutan dengan kesalahan klien saya". Cerca Pak Hasin.
Gala dan Moli membuang nasaf berat bersamaan dengan ucapan pak Hasin.
"Jika begitu tanggapan dari pak Hasin. Maka anda bersedia ngelawan banyak warga di pengadilan, kami akan menjadualkan sidang untuk laporan yang menjerat pak Rehan segera. Untuk sekarang, anda bisa menjamin keluar pak Rehan tapi pihak polisi akan terus mengawasi nya kemana pun ia berada sehingga keputusan sidang di keluarkan atau surat penangkapan di keluarkan untuk memasukkan pak Rehan kedalam sel...". Ujar Gala mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
Pak Hasin menuntun bu Wahida ke meja petugas yang akan membantunya menjamin Rehan keluar dari penjara.
Bu Wahida di minta menjamin Rehan dengan dominan yang tidak sedikit, tapi demi putra kesayangan nya, bu Wahida rela mengorek uang cukup banyak dari bank.
Rehan kini sudah berada di hadapannya, bu Wahida langsung merangkul anak nya kuat. "Kamu yang kuat, ya nak...". Lirih bu Wahida dalam pelukan anak nya.
"Sudah la bu, nggak usah lebai kayak gini. Aku pastikan mereka tidak akan berani macam - macam dengan ku. Aku akan membuat mereka bertekuk lutut di bawah kaki ku memohon maaf". Ujar Rehan penuh dendam.
Pak Hasin tercengang, sifat Rehan begitu keras kepala. Ia sama sekali tidak ingin .mengakui kesalahannya. Tapi sebagai pengacara yang sudah menerima bayaran, sudah tugasnya membantu klien nya keluar dari jeratan hukum yang akan menjerat nya.
Di luar tiba - tiba terdengar ramai di luar gerbang. Para warga datang untuk menuntut Rehan agar tidak di beri pengampunan oleh pihak berkuasa. Bahkan mereka juga tidak ingin membiarkan Rehan di jamin keluar. Semua serentak demo menghakimi Rehan. Kantor polisi di kelilingi oleh warga yang melakukan demo. Semua pintu keluar di blokir oleh warga yang melakukan demo.
"Bagaimana kita bisa keluar pak Hasin? Mereka sangat ramai, jika kita keluar yang ada kita akan menerima serangan brutal dari mereka akibat membawa pak Rehan keluar dari sel". Tanya supir pak Hasin cemas untuk keluar menghadapi warga yang sedang demo.
Bu Wahida juga terdiam di tempat. Ia tidak mungkin bisa keluar membawa Rehan. Mereka pasti akan langsung membunuh putranya dan juga dirinya jika nekat membawa Rehan keluar dari sini.
Moli menghampiri bu Wahida dan Rehan memberi solusi. "Maaf jika saya mengganggu saya cuma ingin memberi saran, bagaimana kalau pak Rehan nginap aja dulu dalam sel hingga warga sedikit tenang. Tapi itu terserah pada kalian saja, ingin nekat menerobos warga yang sedang demo itu atau menginap dalam Sel sehingga mereka tenang sendiri?". Ujar Moli memberi solusi.
__ADS_1
Bu Wahida meggeleng kepala menolak solusi itu. Ia pernah merasakan menginap di penjara, sangat sengsara, tidak ingin jika putra semata wayang nya merasakan kesengsaraan itu.