
"Selamat pagi pak Panji...". Seorang pria menerobos masuk kedalam ruangan dengan nafas yang tersengal - sengal.
"Ada apa sampai kamu tergesa - gesa seperti itu?". Tanya Panji penuh selidik.
"Saya dapat laporan klien kita yang memutuskan kontrak antara kita mengingin kan pak Rehan yang menangani kerjasama kita dengan mereka, katanya mereka sudah sepakat dari awal perjanjian jika pak Rehan yang akan turun tangan sendiri menangani proyek kerja sama. Saat tahu pak Rehan di pecat mereka serentak ingin membubarkan kerja sama di antara perusahaan kita dengan mereka. Jika mereka benar - benar melakukannya maka perusahaan kita akan mengalami kerugian yang sangat tinggi, tapi jika mereka tidak melakukannya dan tetap bekerja sama dengan kita maka keuntungan yang perusahaan peroleh pasti akan meningkat tinggi". Pria yang merupakan bawahan Panji dalam menyelidiki permasahan yang sedang di hadapi perusahaan milik nya itu terus berbicara panjang lebar menjelaskan apa yang menjadi pokok permasalahan yang sebenarnya.
"Apa maksud kamu? Tau si Amir bilang mereka membatalkan kerja sama dengan perusahaan karena telat mendapatkan tawaran yang lebih menggiurkan daru orang lain, tapi kenapa kamu malah mengatakan sebab yang lain. Kamu jangan mempermainkan aku, Hasan!". Kesal Panji tidak percaya.
Bagaimana mungkin klien nya malah menginginkan kerja sama dengan Rehan sedangkan dia sudah di pecat secara tidak hormat dari perusahaan dan sekarang malah Panji harus memohon untuk Rehan kembali ke perusahaan demi kelangsungan bisnis nya.
"Benar, tuan. Tapi alasan terkuat mereka adalah pak Rehan. Menurut mereka jika bukan keuntungan seketika saja yang mereka dapatkan jika bersama Rehan, tapi persahabatan di antara mereka yang mereka utamakan. Jika saja Rehan masih penanggung jawab kerja sama kita dengan mereka maka walaupun datang seseorang yang menawarkan keuntungan lebih mereka akan tetao setia pada perusahaan karena kehadiran Rehan....begitu hasil yang saya dapatkan, saya tidak memaksa anda untuk percaya tapi saya bia menjamin dengan ada nya bukti percakapan antara kami dalam rakaman audio ini". Hasan menyodorkan perakam audio pada Panji.
Bu Wahida yang masih berada di ruangan tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya dengan apa yang ia dengar saat ini. Anak nya pasti akan kembali bekerja di perusahaan nya dulu dengan posisi yang pastinya sama atau lebih tinggi dari sebelumnya. Harus memikirkan ide cemerlang untuk mendapatkan keuntungan dari masalah ini. Dengan senyum sinis nya bu Wahida menghampiri Panji yang sedang pusing memikirkan begitu banyak masalah.
__ADS_1
"Bagaimana pak Panji? Apa kah anda masih meragukan pentingnya putra saya di perusahaan anda? Saya yakin Rehan sudah menyimpan dendam pada anda atas semua perlakukan buruk yang ia terima sebelumnya, dipecat secara tidak hormat, di permalukan di depan ramai bawahannya, memberi kami harapan tapi pada akhirnya anda dan keluarga anda hanya ingin mempermainkan kami pada akhirnya ia sekarang harus mengangguk depresi berat. Saya yakin dia tidak akan lagi menolong anda menghandle perusahaan ini. Lebih baik bangkrut aja katanya....". Kata bu Wahida ketus.
Ia juga sangat dendam dengan keluarga ini, bahkan jika mereka tiba - tiba jatuh miskin pun yang ada dia bersujud syukur untuk mereka sekeluarga tapi ia juga memerlukan uang, dengan ada masalah ini maka ia akan mendapatkan banyak keuntungan di dalam nya.
Panji menatap tajam ke arah bu Wahida. Tapi ia tidak bisa berbuat apa - apa karena yang di katakan wanita itu benar adanya. Rehan pasti enggan kembali ke perusahaan untuk membalikkan keadaan. Tapi jika Rehan tidak kembali maka tidak lama lagi perusahaan akan bangkrut dan ia akan jatuh miskin. Ini tidak boleh terjadi, susah saya dia membangun perusahaan ini hingga bisa besar seperti sekarang tapi hanya karena masalah gengsi ia harus menelan pil pahit melihat kehancuran perusahaan nya.
"Tapi pak Panji tenang saja, saya tidak sama dengan putra saya yang menyimpan dendam, saya bisa menolong anda untuk membujuk putra saya itu kembali ke perusahaan anda. Saya adalah ibunya, orang yang paling dia sayangi, semua yang saya katakan tidak akan pernah di bantah oleh nya...". Sambung bu Wahida dengan wajah misteriusnya.
Panji menatap bingung dengan ucapan mantan besannya tapi dengan cepat ia memahami apa yang di inginkan oleh wanita itu, terbaca dari caranya berekspresi.
"Pak Panji tahu - tahu saja apa yang saya ingin kan. Saya tidak menuntut banyak kok untuk kemaafan kami berdua, cukup beri kami tiga puluh persen saham perusahaan anda maka saya akan berusaha membujuknya. Bagaimana, apa kah anda setuju?". Kata bu Wahida.
Panji terkejut, yang di ingin kan mantan besannya bukan sedikit, tiga puluh persen perusahaan sangat banyak menurutnya hanya untuk sebuah kemaafan dari mereka, tapi jika dia tidak setuju maka bukan hanya tiga puluh persen yang melayang tapi seratus persen, bahkan semua aset yang di milikinya akan turut terseret. Panji terus berperang dengan pikiran dan egonya.
__ADS_1
"Bagaimana jika sepuluh persen dan Rehan akan menerima uang bulanan sebanyak lima kali lipat dari gaji nya dulu saat masih menjabat sebagai direktur?". Panji mencoba bernegosiasi dengan bu Wahida tapi wanita itu malah tersenyum sinis pada nya.
"Anda pikir saya ini bodoh. Ingat pak Panji, tiga puluh persen hanya untuk saya seorang, bukan untuk Rehan! Jika saya tidak mmbujuknya maka tiada Rehan untuk membantu ada keluar dari perusahan anda. Tapi jika anda tidak sudi memberi kan saya tiga puluh persen saham perusahaan maka silahkan anda berlutut sendiri memohon pada putra saya, saya angkat tangan". Bu Wahida tidak ingin mengalah, kesempatan ini tidak akan ia sia - sia kan begitu saja. Jika perlu dia akan meminta sesuatu yang bisa membuatnya tenang tanpa harus memikirkan soal keuangan lagi.
Berbelanja sesuka hati setiap bulannya dengan uang yang ia terima dari perusahan, kembali berkumpul dengan rekan arisannya yang dulu dan pastinya akan membalikkan setiap hinaan yang ia terima selama ini semenjak ia jatuab miskin. Ia akan kembali di agungkan oleh semua teman arisannya.
Panji tercengang, tidak menyangka jika bu Wahida pandai dalam mencari keuntungan dalam kesusahan orang lain. Bahkan ia tidak bisa di ajak bernegosiasi sama sekali.
"Jika aku yang harus memohon pada Rehan, sudah pasti ana itu lebih menyusahkan aku dari ibunya ini. Anak itu pasti lebih licik dari ibunya. Kenapa mereka selalu memiliki kesempatan mendapatkan keuntungan dari kekayaan ku, selalu saja mereka yang menggangu ketentraman hidup ku. Aku harus bagaimana sekarang jika wanita ini tidak mau membujuk anak nya? Aku mana mau merendahkan maruahku di depan anak yang masih bau kencing itu". Gumam Panji dalam hati.
Bu Wahida menatap jengkel pada Panji yang hanya diam, terlalu berpikir panjang membuat masanya terbuang sia - sia. Sudahlah untuk masuk saja membutuhkan pengorbanan, menunggu di luar gerbang sampai berjam - jam, sakit lutut karena berjalan mengendap - endap, sekarang ia harus menunggu lebih lama lagi sampai pria itu setuju dengan tawarannya.
"Saya beri anda waktu sepuluh detik untuk berfikir, saya sudah tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda. Saya ingatkan pada anda jika saya sudah berada di luar gerbang dari pukul sepuluh pagi dan sekarang sudah pukul lima sore". Imbuh Bu Wahida mengeluarkan unek - uneknya.
__ADS_1
"Satu, dua,...,...,,...,,,,..depalan, sembilan, sepuluh". Sampai bu Wahida selesai menghitung, Panji tetap tidak memberi keputusannya. "Baik lah, kalau begitu saya pamit pulang dulu". Bu Wahida membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah menuju pintu keluar. Tapi saat baru memegang handle pintu, tiba - tiba.
"Tunggu..!!".