Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 288 Syarat dari Desi


__ADS_3

Desi mengabaikan cangkir itu tapi pikirannya tetap tidak bisa menyingkirkam semua kenangan bersama Rehan yang tiba - tiba terlintas di kepala nya. Ia bergegas menyimpan semua ikan bahagian beku kulkas dan sayuran di bahagian bawah kulkas secara asal - asalan. Lalu bergegas menutup kulkas itu. Ia ingin keluar tapi ia merasa tangan nya harus di bersihkan terlebih dahulu karena tercium bau amis ikan lele.


Setelah selesai membersihkan tangan nya, ia membalikkan tubuh nya secara tiba - tiba sehingga menabrak tubuh kekar seorang pria. "Maaf, maaf saya nggak sengaja". Ujar Desi sambil mendongak menatap wajah pria itu.


Mata mereka membulat sempurna menyadari diri masing - masing. "Kamu??". Seru mereka berdua serentak.


Rehan tidak bisa berkata apa - apa. Bagi nya saat ini Desi masih menetap di hati nya sama sebelum mengenal Aisyah. Segala kejadian buruk di antara mereka seakan tidak pernah terjadi seiring dengan ingatannya yang hilang. Baru kemarin ia masih mengkhawatirkan Aisyah dan anak pertama mereka, tapi melihat Desi di hadapan nya saat ini, Aisyah seakan punah dari pikirannya.


"Kamu sedang apa di sini?". Tiba - tiba suara bu Wahida menggema mengagetkan mereka.


Desi tersentak dan kembali fokus. Ia melirik bu Wahida yang sedang menatap nya dengan tatapan tidak bersahabat. Desi menghela nafas berat, tidak menyangka jika mantan suami dan mertua nya tinggal di desa kelahirannya.


"Ibu kenapa menatap nya seperti itu? Bukan kah setiap hari ibu selalu mencari nya dan memaksa aku untuk kembali menjalin hubungan dengan nya lagi". Ucap Rehan.


Bu Wahida tercenganga dengan yang di ucapkan putra nya. "Kamu juga Rehan, kamu itu harus banyak istirahat. Sini ibu hantar ke kamar kamu...". Cerca bu Wahida mengabaikan Desi dan menuntun Rehan masuk ke kamar nya.


Desi sebenarnya bingung dengan sikap mereka berdua tapi demi menjaga keamanan diri nya ia segera keluar dari rumah itu. Tapi baru saja ia memegang handle pintu, bahu nya di cegat seseorang.


"Kita harus bicara". Imbuh bu Wahida. Tatapan nya masih sinis dan tidak bersahabat.


Desi teringat dengan ancaman terakhir yang di katakan Rehan terakhir kali. Ia ingin segera pergi dan mengamankan putri nya tapi bu Wahida menggenggam tangan nya dengan kuat sehingga ia tidak kuasa pergi begitu saja.

__ADS_1


"Ikut aku ke belakang! Kamu harus tahu apa yang terjadi pada Rehan saat ini". Bu Wahida menyeret tangan Desi menuju taman belakang rumah nya.


Desi nurut saja. Sesampai di belakang baru lah ia menarik tangan nya yang sakit akibat di seret bu Wahida. "Katakan saja buk. Kenapa juga harus pakai seret - seret tangan aku segala. Tak tau kalau sakit apa". Cerca Desi sambil memegang tangan nya yang terasa nyeri..


Bu Wahida menghela nafas berat. Ia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan Rehan. Termasuk menerima Desi kembali sebagai menantu nya.


"Jadi selama ini kamu juga tinggal di desa ini?". Bu Wahida ingin memastikan.


"Iya. Aku memilih tinggak di desa terpencil ini bersama kedua orang tua ku karena takut dengan ancaman yang anak ibu berikan pada aku dan putri nya sendiri. Jadi untuk apa ibu tanya lagi? Bukan kah ibu senang dengan nasip yang telah menimpa ku ini". Sahut Desi.


"Kamu tenang saja, Rehan tidak akan melakukan semua ancaman yang pernah ia katakan pada mu. Ia sekarang amnesia, semua kejadian yang terjadi dua tahun terakhir hilang dari ingatannya...". Jelas bu Wahida membuat Desi bingung.


"Apa maksud ibu? Ibu jangan bercanda dengan ku buk!". Kata Desi.


"Apa? Psikologis nya terganggu sejak kapan?". Tanya Desi memastikan.


"Untuk lebih detail nya ibu juga kurang pasti. Tapi kerana kejadian pengeroyokan beberapa bulan lalu mengakibat kan hentaman yang kuat sehingga ia mengalami koma dan baru kemari ia sadar kan diri tapi sayang nya ingatannya sebahagian hilang. Sekarang ia masih berpikir jika Aisyah adalah istrinya yang baru saja melahirkan anak mereka yang terjadi sekitar dua tahun lalu...". Bu Wahida menceritakan pada Desi.


Desi baru paham mengapa tatapan Rehan tadi sangat jauh berbeda dengan tatapan terakhir saat mereka bertemu saat di rumah megah milik pria itu. "Berarti Rehan tadi menatap ku sama seperti baru bertemu, segala perseteruan yang terjadi di antara kami sudah tidak lagi ia ingat. Berarti aku masih bisa...".


"Hey, kok kamu malah bengong, kamu dengar kan apa yang aku bilang?". Bu Wahida menepuk pundak Desi yang melamun jauh.

__ADS_1


"Eh, maaf buk. Aku kurang fokus tadi". Jawab Desi.


"Kamu mau kan menolong ibu untuk menyembuhkan Rehan dan membuat nya lupa pada Aisyah?". Tanya bu Wahida dengan penuh harap.


"Maksud ibu bagaimana? Aku kurang ngerti". Bingung Desi.


"Begini, Rehan saat ini masih mengingat ia memiliki anak yang baru lahir. Kita bisa membuat putri kalian berdua sebagai pengalihan. Buat Rehan benci dengan Aisyah yang konon nya telah meninggalkan anak mereka dan menikah dengan pria lain. Jadi kehadiran Aisyah sudah tidak di perlukan lagi dan anak kalian tidak kehilangan kasih sayang ayah nya. ..". Jelas bu Wahida.


Desi tercengang dengan rencana yang di utarakan bu Wahida. Semua nya tidak ada yang menguntungkan untuk nya selain Hansi mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung nya. Jadi Desi berpikir untuk mengambil keuntungan sendiri dalam kesepakatan antara dia dan bu Wahida.


"Aku setuju menolong ibu untuk menyembuhkan mas Rehan. Tapi aku juga punya syarat tersendiri". Sahut Desi.


Bu Wahida menatap Desi kesal. Ia teringat kembali bagaimana wanita ular itu mengambil semua harta nya yang sudah susah payah Rehan kumpulkan setelah keterpurukan akibat perusahaan suami nya gulung tikar.


"Kamu jangan mau ambil keuntungan sehingga merugikan aku dan putraku lagi. Seharusnya kamu bersyukur sekarang aku memberi kesempatan pada putri mu untuk mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung nya. Ini kamu malah ingin mengambil keuntungan sendiri. Kamu memang wanita ular!". Kesal bu Wahida seakan tidak terima dengan keinginan Desi.


"Ibu belum mendengar persyaratan dari ku tapi ibu sudah mengatakan seperti itu. Kalau ibu nggak mau menyetujui syarat yang aku beri kan jadi aku juga nggak akan setuju untuk menolong ibu dalam menyembuhkan putra ibu yang gi...". Desi tidak melanjutkan perkataan nya karena menerima tatapan tajam dari bu Wahida, mantan mertua nya.


Bu Wahida awal nya keberatan tapi saat ini hanya Desi yang bisa menolong nya. Ia juga mau cucu nya selalu berada dekat dengan nya. "Katakan apa syarat yang kamu ingin kan!". Akhirnya bu Wahida mengalah.


"Gampang kok syarat dari ku, tapi aku cuma mau ibu menerima aku jadi menantu ibu lagi. Jangan pernah mengungkit semua yang pernah terjadi di antara kita terutama di hadapan mas Rehan. Dan satu lagi, jika mas Rehan melakukan kekerasan pada ku maka aku nggak akan segan melapor kan nya ke kantor polisi, ingat buk desa ini adalah tempat kelahiran ku maka aku lebih mengerti. Apa lagi jika ibu lebih membela putra ibu yang berkelainan itu maka aku juga nggak akan segan dengan ibu. Aku nggak peduli dengan semua penderitaan yang kalian lalui, aku cuma ingin anak ku mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua nya". Jelas Desi panjang lebar.

__ADS_1


Bu Wahida menelan slavina. Syarat yang di berikan Desi sekali gus ancaman untuk nya jika macam - macam pada wanita licik itu..


__ADS_2