
Sehari semalam menunggu kabar tentang Zack dan beberapa pengawal yang menjaganya tapi belum mendapatkan informasi apa pun dari pihak polisi maupun pengawal kerajaan Purbalingga.
Mega tertidur lelah di sofa di temani suaminya yang selalu setia di sisinya. Sedang kan Aisyah sama sekali tidak bisa tidur karena cemas menunggu kabar Zack. Ia dan kedua keluarganya belum pernah makan dari semalam karena sama sekali tidak berselera.
"Nak Aisyah, ibu mohon kamu jangan sedih begini kasihan anak kamu ikutan sedih, dia merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Meskipun belum terlalu memahami masalah apa yang sedang terjadi tapi dia juga turut tidak mau makan sama seperti kamu saat ini, nak! Jadi ibu mohon makan lah barang sedikit saja agar kamu tidak jatuh sakit. Den Albar juga pasti ikutan sakit". Bujuk Bu Saras sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut Aisyah.
Aisyah baru teringat jika saat ini ia sudah memiliki seorang anak yang juga memerlukan kasih sayang dari nya. Kesibukan di kantor membuatnya lupa kehadiran Albar, penjagaan anak nya ia serahkan pada bu Saras secara keseluruhan sebagai baby sister Albar dan Mega, sedangkan dia sebagai mamanya Albar sama sekali tidak peduli tentang pertumbuhan anak nya semenjak menjadi seorang CEO perusahaan besar.
Aisyah bergegas menghampiri anak nya yang sedang rewel di dalam pribadi nya sendiri. Tubuhnya yang kurang fit membuatnya hampir saja terjatuh tapi dengan cepat di sambut oleh penjaga kebun muda yang kebetulan berdiri di sekitar tangga.
"Non nggak papa?". Tanya penjaga kebun bernama Partin tapi sering di panggil Titin oleh Aisyah.
"Terima kasih yah, Titin. Maaf merepotkan mu, aku cuma ingin naik melihat anak ku". Imbuh Aisyah lirih.
"Naik la nona, saya akan menjadi tameng anda di belakang untuk berjaga - jaga jika anda kembali terjatuh". Balas Titin sambil berusaha menstabilkan tubuh kurus Aisyah agar bisa berdiri tegak.
"Terima kasih, ya nak Titin. Tolong tuntun non Aisyah ke atas karena saya sedang meneteng sepiring nasi ini untuk di makan non Aisyah di atas bersama sang anak". Ujar bu Saras bersyukur atas pertolongan Titin.
Aisyah melanjutkan langkahnya menuju lantai atas di temani Titin, sedangkan bu Saras menuju hanfon rumah untuk menghubungi dokter keluarga untuk datang memeriksa kesehatan majikan - majikannya. Ketiga nya tampak pucat karena terlalu lelah dan tidak pernah makan dari semalam.
__ADS_1
"Assalamualaikum dokter Zaki". Sapa bu Saras setelah panggilan terhubung dengan dokter keluarga Purbalingga.
"Waalaikumsalam bu, apa kah di mansion ada yang sedang sakit?". Tanya dokter Zaki ramah.
"Datang segera ke sini dokter, tuan, nyonya, non Aisyah bahkan den Albar serentak sakit di sini tapi dokter datang sendiri yah karena di mansion sedang di jaga ketat jadi anda harus datang seorang diri itu pun mungkin harus melewati berbagai macam pemeriksaan keselamatan...". Jelas bu Saras berpesan lebih awal agar tidak menimbulkan masalah.
Dokter Zaki sudah lama mengabdikan diri sebagai dokter pribadi di keluarga Purbalingga, berkat jasanya yang sudah berbaik hati menolong oma waktu itu saat dia terkena serangan jantung di pinggir jalan tanpa mengetahui identitas sebenar oma membuatnya di nobatkan sebagai dokter pribadi keluarga itu karena di yakini ia adalah dokter yang jujur dan bertanggung jawab. Meskipun oma tetap berpulang ke rahmatullah tapi setidaknya semua keluarga sempat meminta maaf pada oma untuk terakhir kali selama tiga hari terakhir hidup nya.
Suatu kehormatan untuk dokter Zaki yang masih muda sudah berhasil menjadi dokter pribadi keluarga purbalingga, dia juga di pekerjaan di rumah sakit milik keluarga itu sambil melanjutkan study kedokterannya agar lebih bisa di andalkan.
"Baik lah bu, saya akan seger berangkat untuk memeriksa mereka semua pasien saya akan saya serah kan pada dokter lain agar tidak menunggu lama". Imbuh dokter Zaki setuju untuk segera ke mansion Purbalingga.
Bu Saras meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya lalu mengambil kembali sepiring nasi tadi dan melanjutkan langkah nya menuju lantai atas membawakan makanan untuk Aisyah. Sesampai di atas bu Saras sama sekali tidak melihat siapa pun, bahkan Albar yang tadinya sedang bersama ART bermain sudah tidak ada di kamarnya.
"Kemana semua orang pergi?". Gumam bu Saras bingung. Ia bergegas memeriksa setiap sudut kamar untuk mencari keberadaan mereka. Mulutnya tak habis merapatkan kata - kata harapan agar dugaan tidak benar.
Sudah memeriksa di setiap sudut tapi sama sekali tidak menemukan siapa - siapa. Perasaan bu Saras semakin tidak enak, ia kembali memeriksa setiap kamar yang berada di lantai dua untuk memastikan keadaan sebelum ia membuat heboh seluruh penghuni mansion.
Tapi hasil nya tetap sama, bu Saras sama sekali tidak melihat batang hidung siapa pun di lantai dua tapi saat ia membuka pintu darurat yang terdapat di sudut lantai dua, ia mendapati gelang berlian milik Aisyah tergeletak di depan pintu itu.
__ADS_1
Bu Saras langsung histeris dan berteriak memanggil pengawal. "Pengawal! Siapa saja yang mendengarkan tolong naik ke lantai dua!". Setelah berteriak bu Saras terduduk lemas karena kelalaiannya menyebab kan Aisyah dan anak nya dalam bahaya.
Sebagian Pengawal di bawah langsung berlari naik ke lantai dua untuk memeriksa keadaan.
"Ada apa ini bu Saras ?". Tanya salah satu pengawal.
"No non non Aisyah di culik". Lirih Bu Saras ketakutan.
"Di culik? bagaimana bisa?". Semua pengawal pada kaget. "Berpencar! Mereka pasti masih berada di sekitar mansion". Sambungnya memerintahkan rekannya agar segera bergerak..
Pihak penyelidik menghampiri bu Saras untuk mendapatkan sebarang info tentang kejadian yang baru saja berlaku. "Pasti penculiknya merupakan orang dalam, tidak mungkin terjadi penculikan jika tidak ada keterlibatan orang dalam". Ujar penyelidik bernama pak Karim.
"Be benar pak, tadi saya meminta seorang penjaga kebun bernama Partin untuk menuntun nak Aisyah naik ke lantai dua ini, sedang kan den Albar saya titipkan pada seorang ART yang bernama Madu. Saya tidak menyangka jika dua orang itu mengkhianati majikan kami dan menculik Aisyah dan Albar secara bersamaan sekarang karena kami sama - sama udah bekerja disini sudah lama dan saya pikir mereka bukan mata - mata". Imbuh bu Saras merasa bersalah.
"Mereka tidak bisa lari dari sini karena pengawal sudah memposisikan diri di setiap sudut bangunan dan pagar pembatas, wajah mereka akan kami jadikan sebagai buronan di kantor polisi". Ujar pak Karim.
"Terima kasih pak, saya harap nak Aisyah dan den Albar segera ketemu dan penculik - penculik itu pun mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka. Mereka pasti masih berada di sekitar sini kecuali..". Bu Saras membulatkan matanya ketika baru teringat sesuatu.
"Kecuali apa bu?". Selidik pak Karim.
__ADS_1
"Kecuali mereka sudah mengetahui pintu rahasia untuk keluar dari sini. Saya dan beberapa pekerja yang lain yang menurut nyonya Mega bisa di percaya sudah menunjukkan satu pintu rahasia dan juga pintu menuju jalan keluar dari sini ketika terjadi sebuah masalah, kita harus ke sana sekarang karena saya yakin mereka pasti menggunakan jalan itu untuk membawa nak Aisyah pergi dari sini". Sahut bu Saras tidak sabar.