
Pasangan paruh baya itu serentak menoleh ke arah Lana dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Lana yang mengerti tatapan itu pun menghela nafas kasar kemudian baru membuka suara.
"Mereka sebenarnya adalah ayah dan ibu biologis ku mbak Aisyah, pak Yaslam dan bu Jaya". Kata Lana dengan malas.
"Maaf kan kami nak, kami menyesal telah melakukan semua itu pada kamu maafkan lah kami. Dulu kami begitu miskin sampai tinggal pun di kolong jembatan, bapak dan ibu sepakat tidak ingin kami ikut sengsara dan memutuskan meletakkan mu di depan pintu panti ini dulu. Tapi setelah ayah sudah mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan, walaupun hanya sedikit tapi ayah memutuskan mengambil kamu kembali di panti ini tapi sayangnya kamu sudah....". Jelas pak Yaslam berderai air mata, begitu pula sang istri yang turut menangis menyesali perbuatan mereka telah menelantarkan anak perempuan cantik yang kini berada di hadapan mereka.
Lain halnya Lana, wanita itu tampak cuek dan malas mendengar perkataan orang tuanya, ia tampak benci tapi masih ingin untuk bertemu meskipun wajahnya cemberut sedari tadi.
Aisyah hanya diam menyikapi, ia begitu penasaran untuk mendengar penjelasan mereka tentang perkataan saat masih di depan panti, tapi ia tidak ingin mencela dan memotong perkataan lelaki itu. Ia menunggu untuk pasangan paruh baya itu bernostalgia dengan sang anak yang sudah mereka telantarkan.
Dari penampilan mereka memang tampak sangat sederhana, bisa jadi ucapan pak Yaslam benar adanya. Tapi sebegitu miskin kah sampai tidak bisa menghidupi anaknya dan memilih membuangnya di panti asuhan ini dan memberikan semua beban hidup pada bu Fatimah yang juga tidak memilik pekerjaan dan pendapatan tetap tapi hingga kini ia berhasil membesarkan begitu banyak anak yatim piatu hingga di adopsi bahkan hingga dewasa.
"Semua itu hanya alasan kalian saja, jika iya mengapa kalian tidak menjemput ku di rumah almarhum papi?". Tanya Lana ketus.
"Bapak sudah mencari mu nak, bahkan bapak sama ibu waktu itu sudah bertemu dengan lelaki yang mengadopsi kamu, ia setuju menyerahkan kamu tapi istrinya enggan. Ia mengatakan jika kami tidak layak jadi orang tua kamu dengan penampilan kami saat itu karena kami datang dengan mengenakan pakaian compang camping sudah ada robek di mana - mana. Wanita itu mengatakan lagi jika kamu akan di besarkan dengan fasilitas mewah dan tidak akan kekurangan apa pun jadi kamu pun memilih mundur karena mendengar kamu bahagia tinggal bersama mereka, maaf kan kami nak!". Lirih pak Yaslam lagi.
__ADS_1
Lana hanya membuang muka, tapi dapat di pasti kam jika ia sebenarnya juga sedang meneteskan air mata tapi tidak ingin di tunjukkan pada bapak dan ibunya. Setelah merasa tenang baru lah Lana kembali menoleh dengan mata sudah merah menahan sedih.
"Apa kalian tahu selama ini aku hanya di jadikan alat untuk menebus hutang mereka setelah ku dewasa, aku di paksa menikah dengan lelaki tua mau mampus untuk merai keuntungan. Aku ingin menolak tapi lagi - lagi mereka mengungkit untuk balas budi telah membesarkan aku. Nasip lelaki itu itu cepat mati dan aku pun bebas dari mereka, aku memilih kembali ke panti ini untuk menyalurkan bakti tapi malah kalian yang sering datang menggangguku". Ucap Lana geram.
"Maaf kan kami nak". Lirih pak Yaslam dan bu Jaya serentak seraya menunduk menyesali perbuatan mereka.
"Kalian tahu nggak, hanya Ummi Fatimah yang tulus selama ini menjagaku tanpa ada niat membebani sebagian saja beban di pundaknya pada kami, dia menanggung semua biaya anak dan pekerja di panti ini tanpa sedikit pun merasa bersalah hati. Ya memang banyak yang menyimpang bahkan menjadi donatur tetap di panti ini, tapi itu tidak menutup kemungkinan dia juga ikut andil memikirkan kekuarangan kami saat tiada siapapun yang ingin menyumbang sedikit uang mereka kami penghuni panti ini...". Lana men jeda ucapannya mengontrol sesak di dadanya yang tiba - tiba ia rasakan karena mengingat sosok Fatimah.
Begitu pun dengan Aisyah, yang di pikirkan Lana sama dengan pendapat wanita itu. Ia juga ikut sesak mengingat wanita yang sudah membesarkannya itu kini mendekap di penjara hanya karena ingin mempertahankan panti asuhan miliknya dari terusir dan tidak memiliki tempat tinggal maupun makan.
"Tapi pernahkan Ummi mengeluh? Pernah kah ada niat untuk menelantarkan kami semua? Beliau bahkan rela bekerja sama dengan seseorang untuk memberi tempat aman untuk bayi pasangan konglomerat yang sebenarnya beliau sendiri juga di jebak, tapi karena merasa bersalah telah menggunakan uang haram untuk keperluan kami anak panti, beliau sampai rela menebus dosa itu dengan pasrah tinggal di hotel prodeo, sedangkan kalian pasti tidak akan sanggup!". Bentak Lana, ia kini berdiri menunjuk kedua orangtuanya dengan mata yang sudah berlinangan air mata.
Tapi mendengar kabar bahwa pemilik panti asuhan kini di bawa polisi karena menyembunyikan seorang bayi yang telah di cari, membuat mereka tersadar dan merasa ikut andil menyembunyikan bayi itu..
Pak Yaslam kemudian mendongak dan kini menatap Aisyah dengan tatapan bersalah.
__ADS_1
"Maaf kan kami nona! Kami tidak tahu jika anda sebanarnya anak yang di sembuanyikan di panti ini, kami begitu menyesal...". Lirih pak Yaslam kini ia suruh daru sofa dan berlutut di hadapan Aisyah, diikuti oleh sang istri.
Aisyah yang masih bingung dan penasaran tidak berniat meminta mereka bangun dan ingin nendengarkan penjelasan mereka terlebih dahulu.
"Sudah nostalgianya? Sekarang giliran kalian menjelaskan pada saya, saya sedari tadi begitu penasaran tapi membiarkan dulu dan memilih menjadi pendengar saja. Apa sebenarnya yang telah kalian lakukan hingga merasa bersalah begini padaku? Sampai berlutut seperti itu?". Tanya Aisyah.
"Beberapa hari hanya lalu kami datang menjenguk Lana, anak kami dan sekalian memberikan nya uang tapi kami seolah menangkap raut sedih di wajahnya dan mendesaknya untuk untuk mengatakan kenapa? Lana bilang ia sedih karena Ummi nya di bawa polisi dan sampau sekarang masih di tahan walaupun sudah memberi kesaksian di pengadilan".
"Kami bertanya soal apa bu Fatimah di tahan dan ternyata tentang kasus menyembunyikan seorang anak...". Ucapan pak Yaslam terpotong.
"Bukan menyembunyikan lebih tepatnya memberi tempat aman untuk bayi itu". Potong Lana emosi, ia tidak terima jika Fatimah di katakan seperti seorang narapidana yang melakukan tidak kriminal.
"I iya ma maksud bapak seperti itu". Balas pak Yaslam terbata mendengar bentakan anaknya sendiri.
"Terus apa kalian nya dengan kalian, pak Santo sama sekali tidak pernah menyebut atau pun mengingkin soal kalian, jadi di mana letak kesalahan kalian?". Aisyah masih di buat bingung.
__ADS_1
"Bu bukan pak Santo tempat kami berurusan nona, kami yakin karena kami yakin wakti itu pak Santo pastu sudah tua memandang kan usianya memang lebih tua dari kami, sedangkan lelaki waktu itu yang membayarkan kami jelas masih remaja". Sahut bu Jaya, wanita itu melirik suaminya yang pasti tidak sanggup lagi berkata - kata setelah di bentak sang anak.
"Remaja? Lelaki?". Aisyah mencoba menerka - nerka siapa yang di maksud mereka.