Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 83 Om Asri


__ADS_3

"Ibu apa sih bilang kayak gitu? Aish cuma ingin tanya tetang semua ahli keluarga kita kok, nggak tanya aneh - aneh kok". Elak Aisyah sedikit risih karena ucapan dan tatapan ibunya seolah ia akan bertanya soal apa saja yang mungkin memalukan.


"Ibu kan juga cuma bilang ingin jawab jujur apa pum yang akan kamu tanyakan, tiada maksud lain kok sayang, kamu mau tanya apa? cepat tanya aja ibu jadi penasaran loh ini". Balas Mega. "Apa yang ingin kamu tahu tentang keluarga kita?". Sambungnya lagi.


Aisyah menatap Mega dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, "Ada nggak sepupu Aish yang sekarang usianya sekitar 30 tahunan?". Tanya Aisyaj serius.


"Sepupu seusia itu banyak, kenapa kamu mau kenalan?". Tanya Mega menggoda Aisyah.


"Eh, ibu eh. Iya pastinya Aish mau kenalan, Aish ingin mengenal semua ahli keluarga besar dari ibu maupun ayah, jadi ibu jangan menatapku seperti itu aku risih tau!". Aisyah melipat tangannya me ngambek dengan sikap ibunya.


"Iya, iya ibu minta maaf! Soalnya kamu kok tiba - tiba ingin tahu tetang keluarga kita yang sepupu lelaki pulak tuh, siapa yang nggak ada negatif thinking coba". Bujuk Mega. "Masih mau tau nggak nih? Mau ibu sebutkan siapa saja sepupu kamu atau tidak?". Pancing Mega lagi.


"Ya masih lah, ini penting! Siapa aja mereka ibu? Anak siapa da tinggal di mana?". Tanya Aisyah kembali antusias.


"Ibu pikir dulu yah, kita mulai dari adik beradik ibu dulu yah baru keluarga ayah kamu. Ibu merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara, pertama mas Agus punya dua orang anak cewek semua, kedua mas Bagas punya seorang anak cowok tapi sekarang usianya masih menginjak remaja karena ia lambat dikarunia anak, terakhir ibu cuma ada kamu sebagai anak kandung ibu". Sahut Mega.


"Dari ayah pula?". Tanya Aisyah menunggu.


"Kalau ayah kamu pula terlahir sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Adik pertama ada Tante Alena, ia punya anak tiga orang semua cewek dan semua sudah menikah bahkan ada yang sudah janda tiga kali, hebat kan?". Goda Mega.


"Ibuuuu...! Menjadi janda itu bukan suatu yang harus di banggakan kali ibu, itu aib orang, jadi nggak usah di bahas! Terus!". Ucap Aisyah menasihati sang ibu.


"Ibu kan cuma menjelaskan, adik ayah kamu yang kedua bernama Om Sanusi, dia punya dua anak cowok yang masih sekolah SMA dan yang satunya SMP. Adik bungsu ayah kamu pula bernama Om Asri belum menikah lagi, ibu khawatir kalau dia itu sebenarnya belok". Mega sengaja mengecilkan. Suaranya sangat mengatakan 'belok' karena takut ada yang dengar terutama suaminya. Bisa berperang dunia mereka.


"Kenapa ibu bisa bilang kayak gitu?". Aisyah turut mengecilkan volume suaranya.

__ADS_1


"Iya lah, sekarang aja usianya sudah masuk 33 tahun kayaknya tapi dia masih betah melajang dan bahkan tiada yang pernah melihatnya dekat dengan mana - mana wanita hanya si Deni asistennya yang selalu berada di sampingnya. Sikapnya juga dingin dan cuek banget tapi kalau dengan Deni beda, mereka dekat banget sampai ada gosip jika mereka itu....". Mega berhenti melihat Aisyah termenung dan tidak fokus mendengarkan ucapannya lagi.


"Apa remaja yang mengetahui keberadaan ku itu adik dari ayah itu? Tapi kenapa? Apa mereka punya masalah saat itu?". Batin Aisyah nelangsa.


"Heh, kenapa bengong aja, sih?". Tegur Mega. Tangannya di lambaikan di wajah Aisyah.


Aisyah tersadar dan menatap ibunya, "Eh, maaf ibu! Terus Om Asri itu sekarang tinggal di mana?". Tanyanya.


"Om Asri dari kecil tinggal di luar negeri bersama grandma kamu, di London". Jawab Mega.


"Waktu dia remaja pernah datang ke Indonesia nggak?". Tanya Aisyah lagi.


"Em, kayaknya nggak deh, soalnya grandma kamu itu trauma, dia akan selalu mengingat grandpa kamu yang meninggal akibat di bunub jika ke indonesia sedangkan Asri tidak ingin meninggalkan ibunya walau sehari pun. Jadi hanya kami yang akan mengunjungi mereka di London jika kangen. Saat ayah kamu melamar ibu, akad, resepsi sampai lahiran kamu grandma tidak hadir. Hanya selalu tanya kabar melalui telefon tapi ibu maklum kok. Kapan - kapan kita ke sana yah jenguk grandma kamu?". Ajak Mega tampak sedih.


"Ikut dong! Peluk - peluk kok ngga ajak - ajak Albar sih?". Bik Saras menghampiri Aisyah yang sedang menenangkan Mega. Albar yang berada di gendongannya tampak begitu ingin pindah ke pelukan ibunya.


Aisyah tersenyum dan mengambil anaknya. "Anak mama dari mana saja, em?". Tanya Aisyah seraya menyerang pipi anaknya dengan ciuman bertubi - tubi.


"Cucu oma sini sayang, oma juga ingin peluk". Mega mencoba merebut Albar dari Aisyah. "Makin gembul aja kamu sayang, bahkan kamu makin pinter yah sekarang, pinter membuat Oma makin sayang, emm". Mega pun menyerang Albar dengan ciuman di perut hingga membuat baby lucu itu tertawa geli.


"Maaf ya nyonya, Aisyah! Albar nya dari tadi rewel cari mamanya, saat melihat kalian berpelukan tadi dia dengan lancarnya bilang ingin ikut peluk, saya kaget kan! Saya langsung menghampiri kalian kerana senang. Maaf sekali lagi jika saya lancang mengganggu!". Bik Saras tertunduk menyesal.


"Nggak papa bu Saras, tapi benar kan jika Albar bilang gitu?". Tanya Aisyah turut kaget.


"Benar Aisyah, bahkan say sendiri masih tidak percaya jika dia bisa ngomong kayak gitu, dia yang jarang mengeluarkan suara eh, kok tiba - tiba ngomong kek gitu? Lancar pula". Jawab Bik Saras meyakinkan.

__ADS_1


"Oh yah, jadi cucu oma udah semakin pinter bicara yah, selamat yah sayang". Mega kembali menyerang perut Albar hingga kembali tertawa geli.


"Sudah bu, nanti dia capek ketawa terus, bagaimana kalau kita ke bawah aja mungkin Albar lapar ingin makan maka rewel cariin terus, dia akan tidak mau makan kalau tak melihat wajah mamanya". Ajak Aisyah..


Akhirnya mereka menuju ruang makan menyantap makan siang mereka, saking asiknya ngobrol sampai lupa kalau sekarang waktunya makan.


"Assalamualaikum". Panji baru pulang langsung ikut makan bersama mereka.


" Waalaikumsalam ". Jawab mereka serentak.


"Duduk ayah, kita makan bersama". Aisyah melayani ayahnya menggantikan sang ibu yang sibuk menyuapi cucunya makan.


"Mas dari mana saja?". Tanya Mega pada suaminya.


"Dari kantor, ok sudah itu sudah cukup!". Jawab Panji. Kemudian ia beralih pada anaknya. " Besok Aish harus mulai ke kantor belajar memimpin perusahaan bersama Zack!". Tegasnya.


"Hah, kok tiba - tiba kini sih ayah? Aish belum siap". Kaget Aisyah.


"Tiba - tiba apa nya? Sudah lama ayah mengajak kamu ke kantor, katanya belum siap, sampai kapan? Kamu itu anak ayah dan ibu satu - satunya, pewaris tunggal semau aset dan harta ayah, cepat atau lambat kamu pasti akan memimpin perusahaan itu, jadi kamu harus selalu siap dan belajar mulai sekarang, paham!". Ujar Panji.


"Iya". Jawab Aisyah pasrah.


"Sudah, sudah makan cepat! Lepas nih kita ke mall belajar semua keperluan kamu untuk ke kantor". Mega sudah selesai menyuapi Albar, anak itu kini ingin makan sendiri memudahkan Mega turut menyantap makanannya.


"Tunggu aku mas Rehan! Aku akan membuatmu mati kutu dan menyesal telah menyakiti dan merendahkan ku dulu saat masih menjadi istrimu". Gumam Aisyah dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2