
"Mbak jangan gitu dong! Mbak sendiri yang berikan kamu izin untuk membangun rumah di tanah ini secara cuma - cuma, kenapa baru sekarang mbak meminta bayaran?". Kata Suri protes pada bu Wahida.
"Itu karena dulu tanah ini murah dan tidak terlalu penting untuk kami sekeluarga lagi pula kamu dan suami kamu dulu sangat baik dan menghormati keluarga mbak tapi sekarang kamu malah berseteru dengan Rehan, anak ku satu - satunya takkan mbak membela kalian sedangkan Rehan tiada siapa yang membela sama sekali". Balas bu Wahida beralasan.
Masalah ekonomi yang mereka hadapi sebisa mungkin di tutupi dari semua pihak keluarga mereka, bu Wahida tidak mau kena cibiran jika keluarga besarnya tahu mereka akan kembali bangkrut.
"Mbak jangan kaitkan masalah kami dengan tanah ini! Rehan yang lebih dulu mencari masalah dengan kami, dia tega menghina ana kami seperti gajah dan tadi dia baru saja mengatai kami semua dengan sebutan sama. Jika orang lain tidak hong hormati kami tidak ambil pusing dengan semua guntingan itu tapi jika keluarga sendiri yang mencibir kami tidak bisa tinggal diam mendengar cibiran itu". Cerca pak Kian kembali tersudut emosi.
"Itu masalah kalian, mbak di sini harus selalu berpihak pada Rehan apa pun alasannya, sama ada dia salah atau tidak aku sebagai ibu harus selalu mendukung. Lebih baik kalian jangan banyak bicara dan sediakan uang untuk membeli tanah ini at kalian segara angkat kaki dari sini. Pilihan ada di tangan kalian, bukannya kalia banyak uang takkan untuk membeli tanah ini aja kalian tidak bisa, ayo lah udah pada miskin kah kalian?". Sindir bu Wahida lupa pada diri sendiri yang sedang di serang masalah ekonomi.
"Mbak udah nggak ada hak di tanah ini karena mbak udah berikan pada kami. Mbak nggak boleh mengusir kami atau memungun harga dari perjanjian antara kita". Ujar pak Kian tiada terima.
"Iya, lagi pula untuk apa mbak mau uang dari tanah yang tak seberapa ini? Atau Jangan - jangan mbak yang sekarang jatuh miskin lagi hingga baru teringat akan tanah ini. Ingat mbak tanah ini udah milik kami, bukan milik mbak lagi". Kata Suri membenarkan ucapan suaminya dan menyindir kakak kandungnya sendiri.
"Ha ha ha, terserah aku dong mau baru sekarang ingat akan tanah ini atau tidak. Antara kita tidak ada perjanjian resmi alias hitam di atas putih, bahkan kepemilikan tanah ini masih atas nama ku dan tidaj berubah sama sekali. Atau begini saja, kalian sekeluarga berlutut meminta maaf pada Rehan dan baru aku akan mengiklaskan tanah ini lagi untuk kalian". Tawar bu Wahida dengan senyum sinis nya.
__ADS_1
Rehan memegang tangan ibunya tidak setuju dengan tawaran yang di berikan. Bagaimana jika mereka sanggup dan uang tanah tidak mereka terima sudah tentu uang untuk menyewa pengacara pelawan Desi di pengadilan juga tidak ada.
Bu Wahida hanya mengisyaratkan agar Rehan tenang dan lihat saja pasti adik iparnya tida sanggup menuruti permintaannya. Sedangkana Suri udah mati - matian membujuk suaminya agar menuruti permintaan bu Wahida untuk meminta maaf pada Rehan agar mereka tidak udah repot - repot membayar tapak rumah mereka pada bu Wahida.
"Lebih baik kita minta maaf aja sama Rehan mas supaya kita tidak perlu membayar tanah ini. Ayo lah mas". Lirih Suri memohon.
"Kamu tidak punya harga diri Suri! Dengar yah mbak Ida meminta kita berlutut di hadapan Rehan sedangkan yang jelas bersalah di sini adalah dia. Kalau kamu ngga punya harga diri, tapi aku masih punya dan aku tidak mau meruntuhkan harga diriku di hadapan anak - anakku hanya karen sebidang tanah yang tidak berharga ini". Tolak pak Kian..
"Tapi mas...". Suri kembali ingin membujuk tapi tatapan tajam sang suami membuatnya tertunduk tidak berdaya.
Suri menatap tajam ke arah bu Wahida, ia tidak menyangka jika kakak kandungnya itu bisa berlaku kejam pada dirinya dan keluarga nya. Yang menjadi permasalahan sekarang yang membuatnya keberatan membayar adalah suami sekarang udah nggak bekerja lagi dan hanya mengandalkan uang pensiun untuk sekedar makan sehari - hari. Jika bu Wahida meminta agar membeli tanah tapak rumah nya mau dapat uang dari mana coba sedangkan suaminya keras kepala tidak ingin meminta maaf.
Suami nya tidak salah karena mempertahan kan maruah keluarga yang tertindas tapi di sisi lain ia tidak punya uang jika harus pergi dari rumah ini. Rumah ini adalah tanda jika keluarga nya saat ini baik - baik saja tanpa ada masalah ekonomi jadi mustahil jika harus meninggalkan rumah ini karena pasti akan mendapatkan guncinga dari pada tetangga.
"Kami akan membeli tanah ini jadi mbak Ida tenang saja. Tapi setelah masala tanah ini selesai maka hubungan kekeluargaan antara kita juga selesai!". Akhirnya pak Kian setuju untuk membeli tanah tapak rumah nya ini.
__ADS_1
"Begitu dong, aku beri kalian waktu dua hari untuk membawakan uang itu ke rumah kami di kota. Jika tidak maka sila angkat kakj dari rumah ini segera". Bu Wahida beserta Rehan keluar dari rumah Suri dengan perasaan lega karena akhirnya mendapatkan apa yang mereka ingin kan.
Sedangkan pak RT masih betah tinggal bersama tetangganya yang sedang di landa masalah. "Maaf ya pak Kian dan bu Suri saya tadi sempat di ancam oleh bu Ida untuk menjadi saksi atas kepemilikan tanah ini, saya tidak bisa berbuat apa - apa selain setuju lagi pula tanah ini kan memang masih milik bu Ida meskipun kalian sudah pernah terlibat dalam penyerahan tanah ini. Saya menyayangkan juga kenapa dulu kalian tidak membuat persetujuan hitam atas putih". Kata pak RT.
"Kami juga tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi pak RT, selama ini hubungan di antara kami sekeluarga tidak pernah regang seperti ini selalu akur meskipun tinggal berjauhan. Tapi Rehan itu memang memiliki sikap yang tidak menghargai keluarga karena memiliki jabatan dan harta yang banyak sehingga bersikap sombong". Lirih Suri pasrah.
"Yang sabar aja yah, saya doakan kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan hati yanh tegar. Rundingkan kembali dengan kepala dingin insyaallah akan mendapatkan jalan keluar". Pesan pak RT. Ia merupakan satu - satunya orang yang tahu semua masalah yang sedang di hadapi warga di sini termasuk Suri dan keluarganya.
Sebagai RT sudah semestinya ia sebisa mungkin membantu warganya untuk menyelesaikan masalah mereka tapi masalah uang ia tidak bisa bantu banyak kecuali hanya memberi wejangan. Pak RT pamit pulang pada Suri dan suaminya..
Sementara bu Wahida dan Rehan bisa bernafas lega di sepanjang perjalanan karena permasalahan yang sedang mereka hadapi sebentar lagi bisa terselesaikan perlahan demi perlahan. Rehan menatap kagum dengan ibunya, meskipun harus berseteru dengan adiknya sendiri ia rela demi membantu anaknya yang sedang kesusahan.
Begitu lah seorang ibu, meskipun sering di bentak, sudah terbuang, sudah diabaikan hanya hanyar-hanyar demi seorang istri dan meskipun banyak sakit yang tertancap di hatinya akibat ulah seorang anak, ia sanggup memaafkan dan rela kehilangan segalanya untuk membahagiakan anak nya.
"Beruntung masih memiliki mu bu, aku tidak tahu bagaimana nasip ku saat ini jika tiada kamu disisi? Mungkin aku sudah berapa di liang lahat karena menyerah dengan kehidupan....". Gumam Rehan dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu lihat ibu kayak gitu?". Tanya Bu Wahida tampak ketakutan.