Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 229 tinggal atau di pecat


__ADS_3

"Orang yang bernama Zack Purbalingga itu tiada di sini bahkan berkemungkinan besar sudah tiada di muka bumi ini. Jadi siapa yang akan mengambil alih posisi nya sebagai pewaris? Sudah tentu putra ku bukan. Tiada siapa pun yang layak menjadi penerus seterusnya selain putraku". Seru Rehan..


"Siapa bilang Zack Purbalingga udah nggak ada di muka bumi ini?".


Semua tertuju pada sumber suara termasuk Rehan. Ia sangat mengenali suara itu karena beberapa kali bersua semenjak Aisyah masih berstatus istrinya.


Pria gagah berpenampilan sempurna berjalan mendekati meja Meeting bersama beberapa pengawal mengiringinya. Aura nya sangat berkharisma sehingga yang melihatnya bisa kagum sekaligus iri.


"Selamat kembali tuan Zack". Sahut semua orang menyambut kedatangan Zack terkecuali Rehan dan Alena.


Wajah Rehan berubah pias, tapu otaknya tidak berhenti berpikir untuk mempertahankan kedudukannya di perusahaan. Ia tidak akan menyerah kan begitu saja hak yang seharusnya menjadi milik putranya. Hanya jika Albar yang menjadi pewaris akan menguntungkan dirinya sebagai ayah kandung nya.


"Apa kabar pak Rehan?". Sapa Zack dengan senyum sinis nya.


Rehan berusaha mengatur emosi nya melihat Zack yang menatapnya dengan tatapan merendahkan. Tangan nya mengepal dengan kuat menahan getaran di tubuhnya. Ia tidak menyangka jika Zack masih hidup dan menjadi perusak utama kebahagiaan nya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika Zack akan menjadi pewaris kekayaan keluarga angkat nya berkat surat wasiat dari Aisyah.


Rehan tidak membalas sapaan Zack. Ia sangat tidak senang dengan kehadiran pria itu si antara mereka merusak semua keangkuhannya. Menghina dirinya dengan menjadikan kan nya orang asing si kantor, semua perlakukan tidak hormat yang di berikan semua orang padanya adalah rencana Zack untuk menjatuhkan mentalnya.


"Maaf pak Rehan, kursi ini milik tuan kami. Sila anda bergeser ke kursi sebelah sana". Imbuh salah satu pengawal meminta Rehan pindah dari kursi paling hadapan ke kursi yang tidak tercantum dalam meja meeting ini. Kursi yang di maksud pengawal berada di kursi berdekatan pintu keluar.


"Apa maksud kamu ingin mengusirku dari posisi ku? Ini tempat saya kalian tidak bisa memintaku pindah dari kursi ini". Teriak Rehan tidak terima.


"Maaf pak Rehan. Detik ini pak Rehan resmi di turunkan dari posisi anda. Ini adalah surat resmi perusahaan menurunkan posisi anda". Ujar Direktur Manager perusahaan yang di tugaskan membuat surat penurunan jabatan untuk Rehan atas perintah Zack, CEO baru perusahaan.

__ADS_1


"Apa - apaan ini! Kalian semua mempermalukan ku dengan menghina ku seperti ini. Aku tidak terima dengan penghinaan ini. Aku akan menuntut kalian di pengadilan..". Ancam Rehan geram.


"Maaf pak Rehan, kami hanya menjalan kan tugas kami sebagai bawahan tuan Zack. Sila anda duduk di sana. Jika tidak berkenan anda boleh pergi. Karena jabatan anda sekarang di perusahaan ini hanya lah sebagai karyawan biasa tidak seharusnya berada di ruang meeting ini..". Ujar sang pengawal pribadi.


"Nggak perlu, dia bisa duduk di kursi itu untuk yang terakhir kali nya. Tidak mengapa asal dia tidak membuat keributan di sini selagi meeting kita belum selesai...". Kata Zack mengalah dan memilih duduk di kursi lain yang telah di sediakan oleh pengawal nya.


Sikap mengalah Zack bukannya membuat Rehan tenang tapi ia malah semakin geram. Sikap Zack itu sangat menghina dirinya, seolah di adalah anaknkcil yang harus di beri pengertian lebih. Zack menjatuhkan maruahnya sehingga ia tiada muka lagi berada di ruangan ini.


Rehan bangkit dan melangkah keluar dari ruangan. Tapi sebelum keluar dari pintu, Rehan kembali menoleh ke belakang.


"Ada yang tertinggal pak Rehan?". Tanya salah satu kolega yang duduk paling hujung.


"Ya, ada yang tertinggal, keikhlasan. Ha ha ha. Sadar pak Rehan semua ini memang bukan milik bapak. Ikhlaskan saja di ambil pada yang empunya". Sahut pak Gibran menggoda.


"Pak Rehan tidak bisa membawa nya pergi, dia tetap akan menjadi sekertaris CEO di sini. Bukan lagi sekertaris pribadi anda, dia sekarang sekertaris pribadi tuan Zack...". Ujar direktur Manager menegaskan kekeliruan Rehan.


"Tidak! Jika kalian ingin menurunkan jabatanku maka Alena juga harus ikut bersamaku". Imbub Rehan menolak untuk melepas tangan Alena.


"Itu terserah pada Alena saja, sama ada ingin nurut pada kata - kata atasannya atau di pecat dari perusaahaan tanpa pesongan. Ingat pak Rehan, anda sekarang hanya karyawan biasa tidak memerlukannl seorang sekertaris segala...". Ujar direktur Manager. Kemudian ia beralih menatap Alena. "Sekarang buat keputusan mu, Alena. Mau tetap menjadi sekretaris CEO Zack atau di pecat?". Tanya nya pada Alena..


Rehan menatap Alena tajam, ia tidak akan mengizinkan wanitanya tetap berkerja sebagai sekertaris CEO di sini. "Jangan mikir terlalu lama, Alena! Kamu nggak perlu berkerja lagi, aku akan membiayai hidup mu mulai sekarang. Jangan khawatir, aku juga akan berhenti bekerja dari perusahaan konyol ini. Tapi meskipun begitu hidup kita tetap akan terjamin kok. Kamu ingat kan, kalau aku adalah pemegang saham sebesar 40 persen di perusahaan ini...". Kata Rehan mengingatkan Alena jika ia juga tidak kalah kaya.


Alena tersenyum dengan ucapan Rehan. Kini rencana nya semakin berjalan dengan mulus. Sebentar lagi sebagian Harta milik Rehan akan jatuh ke tangan nya. Rehan akan menyerahkan nya tanpa melakukan pemaksaan atau penipuan terlebih dahulu seperti yang di lakukan oleh Desi.. (Eh, bagaiman kabar si pelakor yah? Sebenarnya dia salah satu pemeran utama dalam novel ini tapi kok jarang muncul dalam cerita yah?).

__ADS_1


"Aku pegang janji mu, mas. Aku rela melepas kerjaya ku demi membela mu. Aku akan selalu berada di sisi mu mendukung mu, membela mu dari semua orang yang ingin menjatuhkan mu. Aku tidak mau di kecewakan oleh mu, ya mas". Tutur Alena lembut membuat Rehan bernafas lega karena Alena tetap berada di pihak nya.


"Saya memilih keluar dari perusahaan aja pak". Sahut Alena pada direktur manager.


"Jika itu pilihan kamu, sila kemasi barang kamu dan keluar segera. Hari ini juga akan ada yang menggantikan posisi mu di meja itu". Balas direktur manager.


"Baik pak, saya pamit keluar dulu". Alena beralih menatap Zack dan berkata. "Saya turut berduka cita akan kematian Aisyah". Imbuh Alena sebelum menggandeng tangan Rehan keluar ruangan.


Rehan menatap Alena dengan penuh Cinta sepanjang langkahnya. Hanya Alena yang menuntun langkahnya ke mana saja Alena ingin kan.


"Kami kenapa menatapku seperti itu, mas?". Tanya Alena menyentuh bahu Rehan menyadarkan pria itu dari lamunan nya yang sangat jauh.


"Eh, nggak kok...". Rehan tersentak dan baru menyadari bahwa mereka berdua sekarang sudah berada di depan bekas tempat kerja mereka.


"Bagaimana kita mau masuk, mas? Ruangan itu kini di jaga ketata oleh dua orang pengawal". Bingung Alena.


Rehan menatap muak pada dua pengawal yang berdiri mematung di depan pintu itu. Rehan menghampiri mereka dan ingin langsung masuk tanpa permisi pada mereka berdua.


"Maaf pak. Anda berdua di larang masuk ke ruangan ini". Halang mereka meregangkan tangan menghadang Rehan untuk tidak masuk ke dalam.


"Di dalam masih ada barang milik kami, kami berhak mengambil barang milik kami yang masih ada di dalam ruangan ini. Kalian tidak bisa menghalangiku". Imbuh Rehan mencoba masuk dengan menyingkirkan tangan dua pengawal itu.


Tapi sayang, tenaga Rehan tidak sebanding dengan tenang yang di miliki mereka berdua.

__ADS_1


"Kami tidak melarang anda mengambil barang milik anda. Tapi tak perlu masuk, kami sudah meletakkan nya di sana". Sahut salah satu pengawal sambil menunjukkan ke arah tempat sampah.


__ADS_2