
"Baik lah. Tadi aku pikir nya ingin memberikan bu Wahida kejutan, tapi ibu malah nggak mau nurutin permintaan aku. Itu pak Rehan tadi meneteskan Air mata sambil memanggil nama seseorang". Akhirnya Keysyah mengalah dan mengatakan yang sebenarnya pada bu Wahida.
"Apa?? Rehan nangis dan memanggil seseorang? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Keysyah ??". Teriak bu Wahida kesal.
"Aku mau beri kejutan bu. Tapi ibu malah nggak beri kerja sama. Masuk gih, aku nggak tega lihat pak Rehan sedih seperti itu". Imbuh Keysyah tidak terima di salah kan.
Bu Wahida segera bangkit dari duduk nyaman nya dan berlari masuk ke dalam kamar Rehan untuk memastikan kebenaran ucapan Keysyah. Ternyata kali ini Keysyah nggak sedang bercanda. Rehan benar -benar sedang meneteskan Air mata dengan deras sehingga membasahi bantal nya sambil menyebut nama seseorang.
"Aisyah!!". Lirih Rehan.
Bu Wahida menghampiri putranya dengan perasaan haru. Ia menggenggam tangan Rehan dan mengelus rambut pria itu dengan lembut supaya pria itu segera sadar.
"Bangun, nak! Ini ibu, kamu bangun yah". Lirih bu Wahida sambil meneteskan air mata.
Keysyah yang ngelihat itu pun merasa tersentuh dan ikut meneteskan air mata bahagia. Beberapa saat bu Wahida mencoba membangun Rehan dengan cara lembut tapi tetap tidak berkesan. Keysyah pun tidak bisa sabar dan membangun kan Rehan dengan cara nya.
Biurrrrr.....
Keysyah menyiramkan segelas air ke wajah Rehan. Bu Wahida yang melihat nya langsung syok dan kesal. "Apa yang kamu lakukan??!! Kalau dia kenapa - kenapa bagaimana? Kamu jangan memancing emosi aku Keysyah!!". Teriak bu Wahida kesal..
"Sabar buk, saya cuma membantu ibu untuk membangun kan Pak Rehan". Jawab Keysyah..
"Dia ini bukan sedang tidur, dia sedang koma!! Yang kamu bangun kan dia dengan cara begitu kenapa? Kamu ini seorang perawat atau bukan, hah". Bu Wahida semakin kesal sehingga mengungkit profesi Keysyah.
Keysyah tertunduk merasa bersalah, ia sadar dengan kemampuan nya tapi ia sering mengabaikan semua ilmu yang ia miliki sebagai perawat karena sukar mengendalikan diri. Ia lulus ujian saat kuliah keperawatan pun karena berhasil menggait hati dosen nya dengan menggunakan tubuh nya.
__ADS_1
Tapi cara Keysyah berhasil, Rehan perlahan membuka matanya dan menatap sekeliling dengan bingung.
"Alhamdulillah, nak. Akhirnya kamu sadar juga...". Bu Wahida memeluk Rehan dengan penuh haru.
"Ibu? Kita berada di mana sekarang?". Bingung Rehan.
Bu Wahida melepas pelukan nya dan menawarkan Rehan untuk makan sebagai pengalih pikiran agar Rehan tidak lagi bertanya soalan yang sama. "Kamu pasti lapar kan nak. Kita makan yah". Tawar bu Wahida.
"Iya bu. Aku lapar tapi di mana Aisyah? Kenapa dia nggak ada di sini?". Tanya Rehan tampak seperti orang linglung.
Bu Wahida dan Keysyah saling melempar tatapan khawatir. Keysyah menghampiri Rehan untuk memastikan keadaan Rehan.
"Maaf ya pak Rehan. Saya ingin bertanya sebuah pertanyaan untuk anda, tolong di jawab jujur yah". Imbuh Keysyah.
Keysyab mulai paham sesuatu, kemungkinan besar Rehan mengalami amnesia ringan. Ia melupakan memori beberapa waktu terakhir. Bisa di simpulkan jika ingatan Rehan kembali ke beberapa tahun lalu saat ia masih berstatus suami istri bersama Aisyah.
"Saya bukan siapa - siapa kok pak. Saya cuma pembantu di rumah inj yang memiliki kemampuan luar biasa. Semua bisa saya lalukan asal itu bisa membuat kalian berdua bahagia. Jadi saya tanya kembali. Ini tahun berapa?". Keysyah kembali mengulangi pertanyaan nya pada Rehan.
"Tahun 2020, seminggu yang lalu Aisyah baru saja melahirkan putra pertama kami, aku harus segera ke rumah sakit menemaninya menjaga buah hati kami. Tapi ini....". Rehan kembali bingung dengan keadaan kamar nya yang sangat sederhana berbanding sebelumnya.
Bu Wahida pun memahami kondisi putra nya itu. Ia meneteskan air mata sedih atas apa yang telah menimpa Rehan.
Keysyah menghela nafas berat. Ia menghampiri Rehan dan berusaha menenangkan pasien nya itu. "Pak Rehan lebih baik istirahat dulu, bapak baru saja sadar dan masih belum sepenuh nya sembuh. Jadi untuk memulihkan kembali tenaga bapak, anda harus kembali berbaring dan istirahat....". Ujar Keysyah memperbaiki bantal Rehan agar nyaman di pakai..
"Baru sadar? Emang apa yang sudah terjadi padaku sehingga harus istirahat, aku harus segera ke rumah sakit menemui Aisyah. Dia pasti kesepian dia sana menjaga putra pertama kami". Rehan menggeser Keysyah dari hadapannya, tapi tiba - tiba kepala nya berdenyut sakit. "Auchhh".. Lirih Rehan.
__ADS_1
"Sudah saya katakan pak. Istirahat lah, bapak jangan paksakan diri untuk bergerak dulu, istri anda pasti mengerti kondisi anda. Jadi jangan bimbang pada nya. Setelah anda istirahat saya akan menggatikan anda ke rumah sakit. Istirahat lah dulu". Ujar Keysyah membantu Rehan untuk kembali istirahat. Ia kemudian mengambil sesuatu dalam nakas berupa jarum suntik yang sudah terisi dan menyuntikkan nya ke Rehan..
Beberapa saat kemudian, obat itu langsung bekerja, Rehan menutup matanya dan tertidur pulas. Keysyah menghampiri bu Wahida yang berdiri di ambang pintu menyaksikan tingkah mereka berdua.
"Ibu harus nya senang karena pak Rehan sudah sadar bukan mala nangis seperti kematian seperti ini". Imbuh Keysyah.
"Bagaimana mau senang jika keadaan putra ku seperti itu. Ia hanya mengingat beberapa tahun yang lalu saat masih berstatus suami Aisyah, padahal sekarang ini mereka sudah seperti dua negara yang sedang berperang, saling menjatuhkan satu sama lain. Ia melupakan semua kejadian mengerikan dalam hidup kami...". Lirih bu Wahida.
"Pihak rumah sakit kan sudah menegaskan pada ibu kalau pak Rehan jika sadar hanya ada dua kemungkinan besar, jika tidak gila ya lupa ingatan. Dan beruntung nya pak Reham hanya mengalam lupa ingatan ringan. Hanya melupakan kejadian beberapa tahun terakhir. Jadi masih bisa di katakan beruntung". Ujar Keysyah menenangkan bu Wahida.
Bukan nya menjadi tetang, bu Wahida kembali meneteskan air mata dengan deras. Tidak bisa menerima semua yang menimpa anak nya selama ini..
"Dari pada ibu nangis di sini lebih baik kita ke dapur, masak. Kota harus membuat hidangan yang di sukai oleh pak Rehan sebagai bentuk syukur kita atas sadar nya ia. Mari bu kita pergi masak sekarang juga". Ajak Keysyah antusias.
Bu Wahida tidak bisa mengelak. Yang di katakan Keysyah memang benar, dari pada duduk di sini nangis nggak guna lebih bakik masak supaya saat Rehan bangun nanti ia bisa menikmati hidangan kesukaan nya dan bisa melupakan sejenak pada mantan istrinya.
"Tapi kita mau masak apa buk? Di dapur hanya tersedia bahan ini saja". Bingung Keysyah menatap bahan masakan di hadapannya. Terdapat ikan lele, tempe, kangkung dan beberapa jenis sayuran lain.
Bu Wahida turut bingung tapi ia teringat dulu saat masih menjadi ibu mertua kejam nya Aisyah, Rehan selalu lahap apa saja yang di masak oleh istrinya. Pada hakikat nya Rehan sebenarnya sangat mencintai Aisyah, tapi karena pengaruh buruk dari ibunya dan tergoda pada kecantikan dan kemolekan tubuh Desi, ia berubah dan tidak lagi mencintai Aisyah.
"Masak saja seadanya". Ujar bu Wahida dengan yakin.
"Apa ibu yakin?". Tanya Keysyah memastikan.
Bu Wahida menggangguk yakin dan mulai memotong - motong tempe..
__ADS_1