Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 88 bertemu sahabat kecil


__ADS_3

Kini Aisyah sudah berada di ruang kerja pribadi milik Zack, ruangan yang cukup luas dan tersedia kamar untuk beristirahat bahkan baju kantor begitu banyak tersedia di sana.


Aisyah sampai kagum dengan desain ruang kerja itu, matanya tidan habis mengitari setiap sudut penuh takjub.


"Sudah kagumnya? Sebentar lagi ruangan ini akan menjadi milik mu tapi maaf untuk sementara waktu kita harus berkongsi sampai kamu bisa memimpin perusaahan ini sendiri dan aku akan....". Ucapan Zack terpotong.


Dengan tatapan kesal, Aisyah mencerca omongan Zack. "Akan apa? Nggak akan pernah itu terjadi, ruangan ini cukup untuk kita berdua, aku pun tidak mau menggunakan meja dan kursi kamu itu kamu dikit aku suka dengan barang bekas?". Tiada niat menyinggung, Aisyah cuma tidak suka jika Zack selalu membahas jika semua ini hanya miliknya sedangkan Zack hanya datang menumpang.


"Dengar yah! Meskipun kita lahir dari rahim yang berbeda tapi sekarang status kita sama. Sama - sama anak dari ibu Mega dan Ayah Panji yang kamu panggil Mommy dan daddy dari kecil. Meskipun semua aset mereka atas nama ku, tapi aku mengatakan nya lagi padamu yah, ini punya kita bersama bahkan chika Mawar sehat nanti akan aku letakkan di posisi yang cukup penting di perusahaan ini karena dia juga merupakan anak ibu dan ayah...". Ujar Aisyah menunjuk waja Zack dengan kesal.


Zack terkesiap dengan sikap Aisyah yang tiba - tiba berubah. Tapi perubahan itu yang ia suka, wanita yang cukup lembut dan baik hati itu berubah garang dan tegas untuk mempertahankan pendapatnya.


Dalam ruangan ini hanya ada mereka berdua itu sebabnya Aisyah leluasa melampiaskan kekesalan nya pada Zack. Sementara Panji pergi ke ruangan meeting dan meminta Zack untuk menemani Aisyah di ruangannya karena ia masih bisa mengatasi mengatasi nya seorang diri sebelum betul - betul pensiun dari urusan perkantoran dan menghabiskan waktu bersama sang istri.


Tok


Tok


Tok


Aisyah yang masih ingin mencerca Zack dengan omongannya terpaksa membuang punggungnya ke sofa dengan kesal.


"Masuk!". Sahut Zack.


Pintu di buka dan terlihat seorang wanita cantik bernama Clara menyandang sebagai sekertaris Zack.


"Maaf mengganggu tuan, nona! Saya di minta pak Panji untuk memanggil tuan Zack ke ruang meeting untuk mendiskusikan sesuatu perkara bersama kolega penting perusahaan". Imbuh Clara.

__ADS_1


"Baik saya akan ke sana, kamu di sini menemani nona Aisyah, layani dia dan tanya apa saja yang ia perlukan kamu paham kan?". Ujar Zack memperbaiki jas yang ia kenakan.


"Tapi tuan saya sekertaris anda, tugas saya bagaimana tuan?". Tolak Clara. Sebenarnya ia tidak ingin menemani Aisyah karena perasaan iri d hatinya membuatnya tidak suka menatap janda beranak satu itu.


Zack yang menyadari sesuatu pun setuju jika Clara tidak layak menemani Aisyah, takut wanita itu membuat Aisyah tidak nyaman dan akan semakin sulit di ajak kerja sama untuk memimpin perusahaan kedepannya.


"Baik, kamu panggil kan Alena aja ke sini untuk menemani dan melayani nona Aisyah". Pinta Zack.


Clara tersenyum tipis kemudian keluar lebih dulu untuk menghubungi OG bernama Alena untuk datang ke ruangan CEO untuk menemani Aisyah. Setelah selesai Zack pun keluar dari ruangnya melangkah menuju ruangan meeting. Dengan perasaan bangga Clara berjalan di samping Zack, ia belum menyadari jika ini adalah hari terakhir ia bekerja di gedung pencakar langit ini.


Dengan langkah tergesa - gesa OG yang di maksud Zack mengetuk pintu dengan nafas yang ngos - ngosan.


"Masuk!". Sahu Aisya dari dalam.


Dengan perasaan was - was Alena membuka pintu dan menghampiri Aisyah.


Aisyaj mendongak dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini.


"Nur". Gummanya berdiri dan melayangkan telunjuk nya ke waja Alena.


"Icha". Alena juga turut kaget hingga tak sadar menyebut nama panggilan manja Aisyah sewaktu kecil.


"Jadi yang di maksud Zack memanggil Alena itu adalah kamu toh Nur?". Tanya Aisyah mencari kepastian.


"Iya aku, jadi yang di maksud bu Clara itu kamu?". Alena turut melayangkan pertanyaan.


"Memang apa yang di ucapkan olehnya?". Aisyah balik bertanya.

__ADS_1


"Bu Clara bilang tamu penting, anak pak Panji pemilik perusahaan. Tadi memang dengar akan di adakan konferensi pers untuk memperkenalkan anak pemilik perusahaan yang sudah kama hilang, aku penasaran banget sih tapi kerja ajy banyak menumpuk hari ini jadi tidak ada waktu, pikirku akan bertanya pada teman nanti. Eh, tau - tau nya bertemu langsung dan wanita beruntung itu adalah kamu". Seru Alena antusias.


"He he he, aku juga nggak nyangka jika akan menjadi seperti sekarang bahkan bermimpi pu dulu aku tidak berhak. Tapi takdir tuhan yang maha kuasa kita tiada yang tahu kan. Ayo duduk! Kita ngobrol dulu, sudah lama kita nggak pernah ketemu semenjak kamu di adopsi". Aisyah menuntun Alena menuju Sofa untuk lanjut ngobrol dengan nyaman.


"Nggak Aisyah, eh maksud aku nona Aisyah! Sekarang kita tidak boleh seperti dulu lagi, duduk ngobrol bareng, aku merasa tidak layak, nona duduk aja biar aku berdiri". Tolak Alena halus.


"Kamu jangan sungkan sama aku Nur! Aku tetap teman kamu kok, sama seperti dulu terlepas dari pekerjaan dan status kita dimata masyarakat. Ayo duduk aja, anggap aja aku ini sahabat kamu seperti dulu, anggap aja ruangan ini adalah tempat kita bermain dulu di panti asuhan, boleh kan?". Aisyah kembali membujuk.


Alena pun setuju meskipun perasaanya sedikit segan pada Aisyah.


"Kamu kenapa sih? Duduk kayak gelisah gitu, ada apa sih?". Bingung Aisyah.


"Aku cuma nggak nyangka aja sekarang aku duduk dengan seorang wanita kaya raya tapi baik hati, ingin memeluk tapi aku segan banget, ups..". Alena menutup mulutnya segan.


"Kamu masih sama seperti dulu yah, selalu menahan keinginan tapu mulut kamu tidak bisa di ajak kerja sama untuk tetap diam, ha ha ha. Sini aku peluk". Aisyah pun hambruk memeluk Alena, sebenarnya ia dari tadi juga ingi memeluk tapi karena mengenal Alena dari dulu dan sudah tahu kebiasaanya ia ingin mengiji nya terlebih dahulu dan benar saja tetap sama.


Setelah berpelukan mereka dengan asik ngobrol mengerikan kehidupan masing - masing hingga Alena lupa dengan tugasnya untuk melayani kebutuhan Aisyah.


"Ukhh ukkh... ". Aisyah beberapa kali batuk menahan kering di lehernya karena asik ngobrol dengan sahabat kecilnya.


Alena menepuk jidatnya, ia merasa lupa diri da mengabaikan Aisyah yang seharusnya layani.


"Maaf kan aku Icha! Aku keluar dulu yah membuatkan kamu minuman, aku akan kembali dengan menetenga jus tegas dan cemilan untuk menemanimu bercerita". Pamitnya. Tanpa menunggu Aisyah setuju, Alena langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Aisyah sendiri.


Beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka.


"Cepat banget kamu ambil air nya? Kamu buat jus enak atau ambil air...". Tanya Aisyah terpotong saat melihat siapa sebenarnya yang membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2