
"Gampang kok syarat dari ku, tapi aku cuma mau ibu menerima aku jadi menantu ibu lagi. Jangan pernah mengungkit semua yang pernah terjadi di antara kita terutama di hadapan mas Rehan. Dan satu lagi, jika mas Rehan melakukan kekerasan pada ku maka aku nggak akan segan melapor kan nya ke kantor polisi, ingat buk desa ini adalah tempat kelahiran ku maka aku lebih mengerti. Apa lagi jika ibu lebih membela putra ibu yang berkelainan itu maka aku juga nggak akan segan dengan ibu. Aku nggak peduli dengan semua penderitaan yang kalian lalui, aku cuma ingin anak ku mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua nya". Jelas Desi panjang lebar.
Bu Wahida menelan slavina. Syarat yang di berikan Desi sekali gus ancaman untuk nya jika macam - macam pada wanita licik itu.. "Kamu memang wanita licik yah. .. Kamu nggak pikir kalau rencana ini tidak berjalan maka anak kamu juga yang akan kehilangan kasih sayang ayah kandung nya. Harus nya kamu bersyukur aku memberi kamu peluang untuk membuat anak kamu itu mendapat kasih sayang ayah nya". Ujar bu Wahida keberatan.
"Kamu malah memberi syarat berbentuk ancaman seperti ini, aku nggak akan pernah mendukung kamu kalau kamu ingin membuat hidup anakku semakin sengsara. Jika kamu keberatan merawat Rehan, maka kerja sama antara kita lebih baik nggak usah terjalin. Kamu sendiri tahu kalau Rehan mengidap gangguan mental jadi kamu harus menerima perlakukan nya yang selalu tiba - tiba berubah kasar terhadap kamu. Bukan malah ingin memenjarakan nya". Cerca bu Wahida keberatan..
"Hey mantan ibu mertua ku yang terhormat, siapa yang ingin di rugikan, hah. Ibu pikir aku mau di kasarin oleh siapa pun? Mau dia gila atau bagaimana sekali pun aku nggak peduli, aku juga ada orang tua yang juga sangat menyayangi ku. Kalau anak ibu gila, jadi rawat aja sendiri aku ogah ingin ikut campur. Aku pulang dulu". Desi pun tidak ingin ambil pusing. Ia tidak akan tinggal diam jika Rehan ingin menyakiti nya seperti dulu.
Bu Wahida tidak membiarkan Desi pergi begitu saja. Ia menahan tangan mantan menantu nya. "Kamu jangan pergi dulu! Urusan kita belum selesai".
"Lepaskan tangan ku, buk. Di antara kita nggak ada yang perlu di bicarakan lagi, ibu nggak setuju dengan syarat yang saya berikan maka jangan harap saya mau membantu ibu untuk menyembuhkan kan mas Rehan". Tolak Desi berusaha menarik tangan nya dari genggaman Bu Wahida tapi tenaga wanita tua itu lebih kuat dari nya.
"Baik, aku setuju. Aku akan membela mu kalau suatu hari nanti Rehan berlaku kasar pada mu. Tapi ku mohon jangan langsung lapor polisi, aku akan berusaha menolong mu tapi jika sikap Rehan sudah kelewatan batas maka ibu ikhlas kamu melaporkan putra ibu ke polisi". Imbuh bu Wahida akhirnya setuju.
Desi tersenyum senang. "Begitu dong, buk. Saya akan datang lagi besok untuk membawa perjanjian hitam di atas putih untuk kita tanda tani jadi tiada siapa pun yang berani melanggar perjanjian". Sahut Desi.
"Terserah kamu saja. Tapi besok kamu harus men bawa cucu ku ke rumah ini dan memulai sandiwara kita secepat nya". Kata bu Wahida.
"Ibu tenang saja, aku akan membicarakan semua ini dulu dengan kedua orang tua ku dan aku akan memastikan mereka akan setuju demi kebaikan cucu mereka. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, besok saya akan kembali lagi dengan membawa surat perjanjian di antara kita berdua". Pamit Desi dengan wajah sembringan.
"Em. Kamu tahu pintu keluar kan". Tutur bu Wahida ketus.
__ADS_1
"Tentu dong, buk. Rumah ini kan tak lama lagi juga akan menjadi tempat tinggal ku". Sahut Desi. Ia pun melangkah keluar menuju pagar rumah.
"Ternyata selama ini kamu gila mas Rehan. Kasihan sekali kamu, tapi lebih kasihan aku karena di jadikan pelampiasan dari semua kekesalan kamu selama ini. Siapa yang ingin di sakiti dalam pernikahan, kamu sudah ku buat bangkrut tapi nasip selalu memihak kepada mu dan tidak pernah beneran jatuh miskin. Sedangkan Aldo aku tinggal kan begitu saja tanpa kabar, dan beruntung pula dia sangat cerdik sehingga tidak mudah ku manfaat kan. Sekarang yang terpenting adalah nasib putri ku, urusan mas Rehan ingin mengulangi kesalahan yang sama akan aku pikir kan lagi nanti".
Desi terus bergumam sepanjang perjalanan pulang. Selama ini Putri nya yang di beri nama Hansi tidak pernah di perlakukan dengan baik oleh mana - mana pria. Aldo sangat cuek bahkan sering meminta nya untuk menitipkan Hansi di panti asuhan. Rehan ayah kandung nya sendiri pernah mengancam ingin membunuh nya jika terus mengusik hidup nya. Dan lebih parah nya lagi, kakek nya sampai saat ini belum pernah memegang Hansi.
Desi sangat sakit hati dengan semua perlakukan pria terhadap putri nya. "Suatu hari nanti aku akan membalaskan semua dendam ku. Untuk saat ini kebahagian Hansi yang utama".
*
*
Aisyah sudah berada dalam mobil mewah keluaran khusus untuk keluarga Purbalingga. Ia terlihat sangat tida sabar sampai ke mansion dan tidur di kasur empuk milik nya.
"Hah, nggak kok. Aku cuma nggak sabar untuk sampai ke mansion. Kita tunggu apa lagi, ayo jalan!". Seru Aisyah nggak sabar.
Zack tersenyum melihat tingkah Aisyah. "Sabar dulu, yah. Mbah Suryo belum kembali dari ruangan mami dan daddy. Kita tunggu mbah sebentar saja lagi, kamu yang sabar yah". Bujuk Zack.
Aisyah mengangguk pasrah. Mereka berdua baru saja kembali dari ruangan kedua orang tua mereka tapi mbah Suryo meminta mereka untuk keluar lebih dulu karena ada yang harus ia lakukan sebelum pulang. Saat mereka menunggu kedatangan mbah Suryo, tapi yang terlibat dari kejauhan hanya anak buah yang sedang berlari tergesa - gesa menuju mobil mereka.
"Apa yang terjadi?". Tanya Aisyah cemas.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini dulu, yah. Aku akan menemui nya sebentar". Pamit Zack pada Aisyah.
"Ngomong aja di sini Zack". Sahut Aisyah nggak ingin di tinggal.
"Sayang. Aku hanya sebentar aja kok. Kamu di sini dulu sebentar, yah. Aku janji akan segera kembali". Zack membelai pipi Aisyah untuk membujuk wanita itu.
Aisyah tidak menjawab, ia hanya menatap Zack lekat. Zack pun mengerti dan langsung menutup pintu mobil. "Ada apa? Kenapa kamu berlari seperti tadi? Mana mba Suryo?". Cerca Zack dengan merendahkan suaranya supaya Aisyah tidak curiga.
"Maaf tuan. Tapi ini bukan berita buruk melainkan berita gembira maka nya saya berlari sekuat tenaga untuk mengatakan nya". Jawab anak buah Zack itu.
"Katakan". Ketus Zack..
"Mbah Suryo meminta saya menyampaikan kabar bahwa tuan besar dan nyonya sudah sadar kan diri dari koma". Sahut anak buah itu dengan semangat empat lima.
"Apa!!". Zack tampak Kaget dan tak bisa menyembunyikan wajah bahagia nya mendengar berita gembira ini.
Zack segera membuka pintu mobil dan langsung memeluk tubuh Aisyah erat. "Terima kasih, sayang". Ujar Zack antusias.
Aisyah bingung, tapi ia juga turut bahagia melihat Zack bahagia meskipun belum mengetahui penyebab nya.
"Kita harus kembali ke dalam rumah sakit". Imbuh Zack menarik tangan Aisyah keluar mobil.
__ADS_1
"Tapi kenapa, Zack?". Tanya Aisyah sangat penasaran ..
"Nanti kamu juga pasti akan tahu. Sekarang ikut aku masuk lagi, yah. Kita tunda aja dulu pulang nya demi hal yang lebih penting ini". Sahut Zack.