Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 177 pedesaan


__ADS_3

Keseokan hari nya Zack sudah bersiap ingin kepedesan sebelah sungai untuk beberapa urusan penting. Semalam mbah Suryo sudah membuatkan sebuah yang terbuat dar kayu untuk menyembunyikan jenazah ponsel miliknya. Ia khawatir jika ia ke warung dengan membawa ponsel miliknya tanpa balutan sedikit pun untuk menyamarkan ponselnya maka ia akan di tuduh mencuri.


Ponselnya merupakan keluaran terbaru bulan ini dari merek ponsel terkenal. Ia hanya membawa sebagian uang kes miliknya untuk berhemat. Sedangkan ATM miliknya di simpan saja di sebab ia tidak ingin menggunakan kartu itu supaya keberadaan nya tidak terendus oleh orang di kota.


"Kamu mau kemana berpenampilan kemas begini?". Tanya mboh Darmi.


"Saya mau ke seberang sungai mboh, ingin membeli sesuatu untuk keperluan dapur. Mboh mau nitip apa?". Jawab Zack balik bertanya..


Mboh Darmi menggelang kepala perlahan. "Mboh nggak mau nitip apa - apa, cukup kamu pulang aja ke sini mboh udah bersyukur kok". Tutur mboh Darmi sedikit bimbang jika Zack malah pergi dan tidak akan kembali lagi.


Zack bisa mengerti maksud mboh Darmi, ia segera menghampiri wanita tua itu dan memeluknya. "Ini bukan pelukan perpisahan kan, cu?". Gumam Mboh Darmi sedih.


Zack menggelengkan kepalanya perlahan. "Mboh masih ingat kan apa yang aku ucapkan saat baru sadar dulu. Aku akan tinggal di sini menjaga kalian dam saat aku pulang ke kota maka kalian harus ikut dengan ku juga. Aku tidak akan meninggalkan mboh Darmi dan mbah Suryo sendirian di gubuk ini. Jauh dari pemukiman warga bahkan sering kehabisan beras. Kalian tidak akan mengalami kesepian lagi, pegang kata - kata aku mboh!". Bujuk Zack menenangkan mboh Darmi yang sudah terisak dalam pelukannyan.


"Kamu itu dek. Zack itu ke seberang hanya untuk membeli garam dan bahan dapur lain nya untuk kita nikmati bersama juga. Yang kamu menangis seperti akan kehilangan itu kenapa?". Tiba - tiba mbah Suryo datang dan mencerca istrinya dengan gemas.


Mboh Darmi yang merasa malu pun segera melepas pelukannya lalu menghapus air matanya kasar. "Saya tidak bermaksud, say cuma takut kehilangan keluarga satu - satunya kita ini. Saya ingin terua bersama kalian berdua sampai ajal menjemput ku". Lirih mboh Darmi sedih.


"Mboh tenang saja, saja janji sebelum mentari terbenam maka saya sudah berada di sini bersama kalian... Saya pergi cuma sebentar kok". Ucap Zack menenangkan keduanya.


"Baik lah kalau kamu mau pergi, mboh akan setia menuggu kamu di pintu ini"./mbok Darmi akhirnya bisa melepas kepergian Zack dengan sedikit tenang.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit pergi dulu, doakan perjalanan aku ini lancar tanpa hambatan. Dan pulang dalam keadaan selamat". Pamit Zack sambil menyalami tangan mboh Darmi dan mbah Suryo bergantian.


"Iya, hati - hati di jalan ya, cu. Mbah tahu kamu lebih paham seluk beluk bermasyarakat jadi mbah nggak perlu mengingatkan apa - apa karena mbah sama sekali tidak berpengalaman untuk urusan bertemu orang asing". Kata Mbah Suryo.


"Iya, mbah nggak perlu khawatir, aku pasti bisa jaga diri. Kalian di rumah jaga diri yah juga. Aku pergi dulu. Assalamualaikum". Pamit Zack.


Mboh Darmi dan mbah Suryo melepas kepergian Zack menuju pedesaan.


Zack terus menyusuri kebun yang begitu luas sepanjang jalan ke jembatan. Kawasan ini merupakan kawasan perkebunan tapi mulai jarang di kunjungi oleh pemiliknya. Hanya tinggal mbah Suryo dan mboh Darmi yang belum berhijrah dari gubuk mereka karena sama sekali tidak memiliki alasan untuk pergi. Warga yang lain yang dulu nya sempat bertetangaan dengan mereka sudah pindah ikut dengan anak mereka hidup moderen di pedesaan sedangkan mbah Suryo dan mboh Darmi yang tidak memiliki anak hanya bisa tinggal termagu di kebun ini sendirian.


Sering kali mantam tetangga mereka saat datang berkunjung ke kebun mereka juga menyempatkan diri menjenguk dan menyumbangkan beras dan beberapa keperluan dapur pada mboh Darmi dan suaminya. Mereka saja lah yang bisa di harapkan untuk bertahan hidup setelah berserah diri pada tuhan yang maha esa.


Setelah menyebrangi jembatan gantung sekitar 100 meter panjangnya, Zack melanjutkan lagi langkah nya menyusuri lorong semak - semak menuju pedesaan. Mbah Suryo sudah menceritakan sedikit detail jalan yang pernah mbah Suryo lewati semasa masih kuat dulu maka nya Zack sedikit faham arah jalannya. Masih sama hanya sedikit berbeda karena warga banyak yang sudah bercucuk tanam di sekita sungai berhampiran pemukiman warga.


"Kamu orang baru yah? Kok nggak pernah lihat sebelumnya di desa ini?". Tiba - tiba seorang pria paruh baya menyapa Zack dari teras rumah nya.


"Assalamualaikum pak. Iya saya baru di desa ini. Saya tinggal berhampiran sini dan masih belum tahu desa ini lagi. Ini saya lagi jalan - jalan mencari toko yang menjual bahan - bahan dapur di sebab kan di rumah kebetulan sudah habis". Jawab Zack.


"Wa alaikumsalam. Pantas dari tadi saya perhatikan kamu celingukan nggak jelas begitu. Kalau kamu mencari toko yang menjual bahan dapur ada di sana. Tidak jauh dari sini ada sebuah mini toko kecil bersebelahan kantor desa, di sana juga ada warung makan bakso kalau kamu lapar. Kebetulan warung itu milik anak saya. Kamu jalan aja terus beberapa rumah pasti akan ketemu". Ujar pria paruh baya itu menjelaskan pada Zack..


"Terima kasih banyak ya pak. Kalau begitu saya pamit melanjutkan perjalan dulu, assalamualaikum". Zack pamit pada pria itu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, jika kamu perlu pertolongan jangan segan datang ke sini, InsyaAllah saya akan tolong". Pria paruh baya itu pun lepas kepergian anak muda yang baru saja ia temui. Setelah Zack hilang dari penglihatan baru lah masuk ke dalam rumah nya.


"Ternyata orang tadi baik banget mudah - mudahan semua orang baik seperti dia". Gumam Zack berharap.


Sesampai di tempat yang di maksud pria paruh baa tadi. Zack bergegas masuk ke dalam toko. Bukan untuk membeli terlebih bahan dapur tapi untuk mengisi daya ponsel nya terlebih dahulu.


"Ada yang bisa saya bantu mas?". Sapa penjaga tokoh wanita yang sudah tidak lagi muda tapi bersikap genit pada Zack.


"Saya ingin mengecas ponsel saya ini boleh?". Kata Zack sambil menyodorkan ponsel miliknya pada penjaga toko itu.


"Bisa dong ganteng, sini ponsel nya saya lihat dulu bentuk changer nya". Wanita itu membalikkan ponsel itu untuk menemukan lubang changer nya.


"Aduh, kok punya kita berbeda yah. Tapi kamu tenang saja saya akan meminjamkan changer milik teman saya di sebelah, kayaknya miliknya cocok dengan ponsel milik kamu ini". Ujar wanita tua dengan sesekali mengedikan mata genit pada Zack.


Zack hanya bisa tersenyum tipis menanggap tingkah aneh wanita itu. "Kalau begitu terima kasih sudah mau menolong saya". Imbuh Zack.


"Joni! Oh Joni! Sini dulu kamu". Panggil wanita itu dengan suara nyaring tapi masih terdengar genit.


"Iya mak, ada apa?". Sahut anak lelaki yang masuk melalui pintu belakang toko kecil ini.


Wanita itu langsung menapok kepala anak lelaki itu hingga meringis kesakitan. "Berapa kali aku bilang jangan panggil aku mamak kalau di luar rumah?!!". Bisik wanita itu dengan suara kecil tapi masih bisa di dengar oleh Zack.

__ADS_1


"Maaf mak, eh kak. Saya tidak sengaja". Jawab anak kecil itu sambil memegang kepalanya.


__ADS_2