
Beberapa masa ruangan cukup sunyi, semua nya tiada yang membuka suara untuk sekadar menghilangkan keheningan. Pak Santo turut di bawa ke kantor polisi untuk di ambil kesaksiannya tentang kasus yang dilakukan oleh Anjas. Sedangkan Zack keluar untuk melakukan sesuatu entah apa.
Di ruangan hanya tinggal Panji, Mega, Aisyah dan bik Saras yang setiap menemani Aisyah di sampingnya.
Panji dan Mega sedang menatap dengan tatapan lembut tepat ke arah anak mereka yang masih terdiam di tempatnya yang juga menatap mereka dengan tatapan yang susah untuk di artikan.
Aisyah sangat ingin berlari memeluk kedua orang tuanya, tapi rasa bersalah menyeruak dalam dada hingga menahan nya untuk tidak bergerak. Sedari tadi matanya menghangat, memandang wajah kedua orang tuanya sungguh semakin membuatnya merasa bersalah. Air bening menetes ke pipi tanpa bisa di tahan lagi.
Bik Saras yang melihat ketegangan yang dirasakan oleh Aisyah pada pasangan itu pun kembali membantu Aisyah untuk sadar, bersikap seperti itu hanya akan menambah pedih di hatinya dan juga orang tuanya. "Pergilah, hampiri mereka, lihat lah betapa mereka masih merindukanmu. Selama ini mereka sudah mencarimu sampai ke seluruh pelosok dunia tapi tidak ketemu. Sekarang sudah berada di depan mata malah kamu yang menghindar dan tidak memeluk mereka. Beberapa hari ini mereka tahan karena takut kamu membenci mereka, semua sudah terungkap siapa yang salah telah menghalangi akses kamu ketemu orang tua kamu, jadi kamu salah jika bersikap seperti ini pada mereka". Bisik bik Saras di telinga Aisyah.
Bisikan itu seakan memberi semangat pada Aisyah, wanita muda itu berjalan perlahan dan semakin melaju yang akhirnya berlari menghampiri kedua orang tuanya, suasana berubah haru dan menyayat hati. Aisyah berlutut perlahan meraih tangan Mega yang selama ini pikirnya telah tega membuangnya seperti yang di ceritakan wanita yang telah membesarkannya, Fatimah.
"Maaf kan Aisyah ibu! Selama ini Aisyah begitu membenci kalian berdua setiap doaku tidak pernah terselit sekalipun tentang kalian, aku anak yang durhaka pantas di laknat tuhan atas kebodohan ku ini. Percaya begitu saja dengan ucapan ummi Fatimah, dia yang telah menyembunyikan ku selama ini hingga kalian tidak bisa menemui ku bahkan anak kalian ini sama sekali tidak ingin bertemu kalian lantaran rasa benci di hati, tapi sekarang Aisyah sudah tahu kenyataannya, Aisyah sunguh menyesal". Sesal Aisyah membajiri wajahnya dengan air mata penyesalan dan rasa bersalah.
"Sudah sayang, ini bukan salah kamu atau wanita itu. Mami, eh em ibu tetap bersyukur dan berterima kasih padanya karena telah membesarkanmu hingga menjadi wanita kuat seperti sekarang. Maaf kan ibu, jika baru sekarang ibu menemukanmu, sekarang kita hidup bahagia bersama yah". Imbuh Mega merasa terharu dengan sikap dan permohonan maaf Aisyah.
Mega menarik bahu Aisyah masuk kedalam pelukannya. Pelukan hangat yang sudah sekian lama ia nantikan. Sesal di hatinya karena tidak ada dalam masa pertumbuhan anak gadisnya, tapi ia tetap bersyukur karena kini anaknya telah berada dalam pelukannya.
"Ekhhm ekhhm". Panji berdeham membuat dua wanita yang sedang berpelukan itu sadar juga ada lelaki yang memerlukan pelukan kehangatan. "Ternyata kehadiran Daddy hanya sebagai bayangan yang tidak berarti". Panji ngambek. Tapi tetap tidak bisa menyembunyikan perasaan haru di wajahnya.
__ADS_1
Sontak Mega dan Aisyah tersenyum geli melihat tingkah lelaki itu, bahkan bik Saras yang masih berdiri di tempatnya yang tadi merasa haru kini ikut menutup mulutnya menahan gelak.
"Ayah kok manja gitu, kemarin - kemarin nggak". Ucap Aisyah menahan tawa wajahnya meskipun masih basa dengan air mata tapi bibirnya sudah mengukir senyuman.
Panji membulatkan matanya di panggil ayah oleh anak biologisnya.
"Entah kamu sayang, kini sudah ada anak kamu semakin terlihat sifat manja kamu itu nggak malu sama bik Saras di Sana menahan geli". Mega ikut menimpali sikap suaminya.
Aisyah beralih menghampiri Panji dan memeluk lelaki itu dengan perasaan haru. "Maafkan Aisyah yah ayah, selama ini hati Aisyah begitu membenci ayah dan ibu Bahkan tidak segan berdoa kepada Allah agar tidak di pertemukan bersama kalian tapi ternyata Allah sama sekali tidak mengabulkan doa itu dan memilih mengabulkan doa kalian untuk bertemu, meskipun lambat tapi Aisyah bersyukur masih diberi kesempatan untuk memeluk dan menyayangi kalian berdua". Lirih Aisyah kembali sedih.
Tiada kata yang keluar dari mulut Panji walaupun sebenarnya begitu banyak yang ingin di ceritakan pada sang anak, waktu masih ada untuk itu kini dia hanya ingin menghayati pelukan Aisyah, pelukan yang selama ini ia impikan bersama istri tercinta. Ia meregangkan satu tanganya meminta Mega turut masuk dalam pelukannya.
Bik Saras mengabadikan momen mengharukan itu dalam semua foto di ponselnya. Matanya juga turut mengalirkan air bening sedari tadi merekam momen haru keluarga yang baru saja di pertemukan oleh sang pencipta.
*
Di tempat lain, Rehan uring - iringan tidak jelas di rumahnya. Sidang perceraiannya yang sempat tertunda besok akan kembali di proses. Ia bingung bagaimana untuk mempertahankan pernikahannya bersama Aisyah, tapi ibu dan istrinya selalu saja mendesak untuk melepaskan saja wanita itu.
"Kamu kenapa sih, mas? Dari semalam gelisah terus, ingat besok sidang perceraian kamu. Mas harus menepati janji, aku tidak mau tahu mas harus menceraikannya kalau tidak aku yang akan pergi dari hidup mas membawa anak kita jauh hingga mas tidak bisa menemukan kami lagi, cam ka itu". Ancam Desi penuh penekanan lalu berganjak dari hadapan suaminya.
__ADS_1
Rehan membuang nafas berat, ia kembali pusing meladeni sikap istri sirinya itu. Selang beberapa saat, Wahida menghampri Rehan dengan wajah kesal dan memukul bahu anaknya dengan sangat kuat.
"Kenapa istri kamu menangis lagi, hah?". Geram Wahida. "Ingat dia sedang mengandung, kamu mau anak kamu ikut nangis di perutnya! Ingat yah, ibu lebih memilih kehilangan kamu dari pada kehilangan menantu dan cucu kesayangan ibu!". Sambungnya.
"Ibu kok ngomong begitu? Ingat ibu, aku ini anak ibu satu - satunya. Tega ibu sama aku". Kata Rehan.
"Kamu itu aneh, sudah ada istri sempurna seperti Mulan, masih juga ingin mempertahankan perempuan pembawa si4l itu! Ingat yah, ibu tidak peduli kamu harus menceraikan Aisyah segera tak usah menunda lagi, ibu akan ikut kamu ke pengadilan besok untuk memastikan sikap kamu tidak mempermalukan ku sebagai ibumu". Tegas Wahida meninggalkan Rehan termenung sendiri.
Dua wanita di rumah ini hanya bisa selalu menyudutkannya, tidak seperti Aisyah dulu yang selalu berusaha mengalah untuk kebahagiannya. Jika dulu ia bisa adil antara dua wanita pasti sekarang ia menjadi lelaki beruntung karena memiliki dua istri dan pekerjaan yang mapan. Tapi kini semua itu hanya akan menjadi angan - angan saja, sikapnya yang lebih dominan pada Desi membuat Aisyah mundur dan meninggalkannya. Aisyah dan Desi adalah dua wanita yang membawa kebahagiaan sendiri dalam hidupnya.
Aisyah salah wanita yang telah mendapmpinginya dari masa terpuruknya dulu bahkan berkat ide dan kecerdasan nya membuat Rehan bangkit dan kembali memiliki pemasukan yang besar. Manakala Desi adalah cinta hatinya, meskipun dulu wanita itu salah sumber keterpurukannya tapi nama Desi Mulan Sari masih kekal terukir di hatinya, bukan itu saja jika di bandingkan kemahiran ranjang antara dua wanita itu, hanya Desi yang bisa memuaskannya selama ini.
*
Keesokan harinya, Rehan dan Wahida sudah berada di halaman gedung pengadilan agama. Mereka duduk sambil menunggu waktu untuk persidangannya.
Sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari tempat mereka duduk, keluar pria berjas rapi yang sangat Rehan kenal.
"Pak Panji Purbalingga?". Sahut Rehan bangkit menghampiri atasannya itu. Tapi belum sempat ia menyapa, keluar seorang wanita yang sangat membuatnya kaget dan bingung secara bersamaan.
__ADS_1